
Gue mencoba ngebuka pintunya meskipun gue tahu kalau pintunya terkunci atau terkunci entah oleh siapa, yang jelas pas gue masuk ke gudang ini tadi pintunya enggak dikunci sama sekali. Begitu gue masuk juga Jane udah ada di dalem.
Jelas kalau Jane enggak bawa kuncinya, kalau dia bawa kuncinya pasti dia enggak panik dan ngebuka pintunya dari tadi. Gue yakin dia juga bukan tipe orang yang mudah bercanda, karena cool banget, jadi enggak mungkin dia pura-pura terjebak di sini bareng gue. Lagian apa juga motif dia ngelakuin itu?kita enggak saling kenal, enggak mungkin iseng sejauh itu. Kita murni terjebak di dalem gudang sekolah tanpa unsur kesengajaan.
Jane melihat ke segala arah dengan wajah cemas, mengobservasi sekitar, lalu memperhatikan gue yang masih berusaha membuka pintu.
"Susah. Gue nyerah." Kata gue.
Kardus yang udah gue taro di samping kaki gue, gue geser ke kanan dikit pake kaki. Lalu gue duduk bersandar pada dinding sambil mikir gimana cara keluar dari sini.
Gue memperhatikan Jane yang sekarang terlihat meletakan kedua bola basket yang dia bawa pake jaring itu di deket sebuah lemari usang deket situ. Abis itu dia nggedor-gedor pintunya sambil teriak minta tolong.
"Tolongg… Tolong… Kita kekunci di dalem, tolongg…!!" Teriak Jane di depan pintu.
Teriakan Jane berisik banget, suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Gue menutup kedua telinga rapat-rapat selama Jane berteriak entah pada siapa.
Percuma aja teriak, lokasi gudang sekolah ini jauh dari keramaian enggak akan ada yang bisa denger suara kita yang teriak-teriak sekuat tenaga dari sini. Jadi, teriak minta tolong disaat seperti ini bukanlah ide yang bagus.
"Percuma teriak-teriak, enggak akan ada yang denger." Ucap gue.
Abis bilangin gitu dia duduk sambil nyender di lemari yang ada di deket situ, sebelahan sama bola basketnya.
"Lokasi kita terlalu jauh dari keramaian, agak susah menjangkau orang-orang." Kata gue lagi.
Jane garuk-garuk rambut, "Sial, mimpi apa gue semalem, bisa-bisanya ke kunci di gudang sekolah." Dia keliatan sedikit frustasi.
Hape yang dari tadi gue kantongin langsung gue keluarin, baru keinget kalau gue bawa hape, ya ampun, saking paniknya. Kalau lagi di situasi enggak jelas dan bikin panik kayak gini emang harus berusaha tenang, sih, agar otak bisa berfikir jernih.
"Kenapa enggak dari tadi tu hape lo pake?"
Gue canggung ngeliat tatapan Jane yang males ke gue, dia nanyanya datar banget.
Sambil canggung, gue cuman bisa bilang, "Hehe… baru kepikiran."
Nempelin hape di telinga, gue menunggu Bunga mengangkat telpon dari gue di seberang sana.
Beberapa puluh detik berlalu, gue yang berusaha menghubungi Bunga tak kunjung dapet sambutan, Bunga enggak ngangkat telponnya. Ketika nada sambung tut… tut… berhenti, gue mencobanya lagi. Sampai akhirnya gue menyerah dan berhenti nelpon, enggak diangkat.
"Enggak diangkat, padahal aktif," gue memasukan hape ke kantong, "Mungkin lagi sibuk." Lanjut gue.
__ADS_1
"Atau mungkin aja Bunga enggak bawa hape." Sahut Jane.
"Iya kah? tapi kayaknya kemungkinannya kecil kalo dia sampe enggak bawa hape. Jaman sekarang, emang ada gitu, remaja seumuran kita yang enggak bawa hape pas keluar rumah?" Kata gue.
Jane mengangkat tangannya perlahan dalam diam.
Hal tersebut bikin gue terdiam.
Ternyata ada juga, ya, yang enggak bawa hape pas keluar rumah.
Gue enggak tahu banyak tentang Jane, enggak begitu kenal. Tahu namanya doang dan enggak akrab, wajar sih kalau gue agak enggak heran dia enggak bawa hape. Tapi kalau Bunga, gue tahu dia selalu bawa hape kalau keluar rumah. Dia lumayan doyan foto-foto dan upload kegiatan sehari-hari di instagram sama WhatsApps.
Beberapa saat kemudian, Jane berpendapat. "Menurut gue, emang beneran di tinggal di rumah deh."
"Kenapa?"
"Gue jarang, tuh, liat Bunga sibuk main hape pas latian, bahkan pas istirahat latihan aja dia enggak main hape dan masih sibuk sama gitarnya."
"..." Gue diem sambil mikir.
"Kayaknya dia cinta banget sama musik, dan menurut gue dia enggak akan bawa hape pas latihan, biar lebih fokus aja." Lanjut Jane.
"Hmm, gitu ya."
Udara di dalem sini berasa pengap, panas. Gue kegerahan, keringet yang membasahi badan juga membasahi baju gue. Sesekali gue menyeka kening untuk mengusap keringat.
Kemudian gue berinisiatif untuk menyobek bagian atas kardus tempat hiasan dinding. Terus, gue menggunakan bagian kardus yang gue sobek itu sebagai kipas.
Jane sepertinya juga ngerasain hal yang sama, dia juga kegerahan karena suhu udara yang lumayan panas, bikin gerah.
Jendela enggak ada, sirkulasi udara dari luar masuk ke dalem juga enggak begitu lancar. Belum lagi debu yang beterbangan, di tambah aroma barang-barang kuno yang memenuhi ruangan. Rasanya enggak nyaman banget ada di dalem sini.
Udah sekitar lima belas menit sejak gue dan Jane terkurung di gudang sekolah, kita berdua ngerasa bosen. Gue milih untuk main game di hape, sementar Jane iseng jalan-jalan ke sekitar, liat-liat barang yang ada di sini. Sesekali juga gue nyari benda yang sekiranya bisa kita gunakan untuk ngebuka pintu, tapi enggak nemuin satu pun. Gue berharap ada linggis sih.Dalam situasi begini, sepertinya enggak masalah ngerusak fasilitas sekolah, apalagi cuman pintu gudang.
Bener-bener enggak ada hal yang bisa kita lakuin selain berharap keajaiban, ada seseorang yang dateng ke gudang untuk ngambil sesuatu. Nelpon temen yang ada di sekolah sebenernya adalah solusi terbaik, tapi kalau Bunga enggak bisa di hubungi sama sekali, gue bisa apa? Ya, emang untuk sementara kita harus pasrah dulu sampai nemuin ide atau pertolongan orang dari luar.
Hari semakin sore, pukul 16.15. Bentar lagi senja dan lalu gelap. Gue yang capek dan kehausan memilih untuk enggk banyak gerak. Gue duduk sambil iseng mainin pita hias.
Sesekali gue ngelirik Jane yang saat ini terlihat lagi baca buku usang yang dia dapet dari salah satu lemari. Dengan setelan kemeja kotak-kotak dan celana lepis, ia tampak sangat tidak feminim, apalagi dia duduknya bersila, auranya cowok banget.
"Hufft…" Jane menghela nafas.
__ADS_1
Ia mengarahkan pandangannya ke sudut atas ruangan, lebih tepatnya ke arah kaca ventilasi yang ada di atas salah satu lemari. "Langitnya udah jingga, hari makin sore."
"Hampir setengah lima sore." Kata gue, singkat.
"Terus, mau sampai kapan kita disini?" Tanya Jane yang tampak lesu.
Pertanyaan Jane penuh dengan kepasrahan. Gue bingung jawabnya.
Gue geleng-geleng. "Sampai ada yang nolongin kita." Kata gue.
Kemudian tiba-tiba aja Jane menutup bukunya, lantas berdiri dengan tegap. Gue cuman ngeliatin dia yang tiba-tiba berdiri sambil bertanya-tanya. Ia kemudian mendekatkan dirinya dengan pintu. Jane menabrakan bagian samping dirinya ke pintu dengan sekuat tenaga. Dia berusaha mendobrak pintu.
Setelah beberapa kali nglakuin itu, Jane berhenti karena sadar kalau apa yang dia lakuin enggak ada gunanya, enggak membuat pintunya terbuka sedikit pun.
Ngeliat apa yang apa yang Jane lakuin bikin gue tertarik untuk melakukan hal yang sama, tapi gue punya ide yang lebih bagus.
Gue berdiri, lalu jalan lurus membelakangi pintu. Gue mengambil jarak yang pas untuk ancang-ancang. Setelah gue rasa jarak yang gue ambil cukup, gue langsung balik badan.
"Awas, menepi dikit!" Perintah gue pada Jane.
Si pemain keyboard itu keliatan bingung sambil menepi, wajahnya menatap gue.
Setelah itu, gue langsung lari lumayan kenceng ke arah pintu, lalu ketika udah deket dengan pintu gue melompar pendek sambil mengarahkan bagian kanan badan gue ke arah pintu. Gue mendobrak pintu dengan gaya.
Badan gue kerasa lumayan sakit ketika menubruk pintu dengan lumayan keras, tapi masih bisa gue tahan karena enggak sakit-sakit amat.
Gue nglakuin itu lagi, dan lagi. Sampai pada akhirnya membuat Jane tergerak untuk nglakuin hal yang sama. Dan akhirnya, kita mendobrak pintu secara bergantian.
Sampai kita kelelahan, pintu gudang yang kuno nan keras itu enggak bisa kebuka.
"Huufft… hufft, capek … pintunya enggak bisa di dobrak, keras ternyata."
"Hufft… iyah… setidaknya kita udah berusa..ha…"
Kita mendobrak pintu sampai kelelahan. Gue dan Jane duduk bersebelahan sambil bersandar pada pintu.
"Kayaknya, kita bakal disini sampe besok, deh." Kata Jane, pasrah.
Gue cuman diem.
__ADS_1
Bersambung …