
Di kamar gue, kesunyian menggantung di udara, Gue dan Adit yang baru aja nyampe kamar gue langsung mengambil posisi duduk bersebelahan di meja belajar gue. "Ada apa lo tiba-tiba ngajak gue kesini?" Gue bertanya pada Adit untuk membuka pembicaraan.
"Hehe…" Adit Ketawa.
Diletakannya kantong kecil yang ia bawa ke atas meja belajar, tangannya mulai merogoh masuk ke dalam kantong kain itu. Enggak lama kemudian, dia ngeluarin sebuah tablet dengan ukuran layar yang lumayan besar dan menyalakannya, "Bentar, gue mau nunjukin sesuatu."
Gue menyilangkan tangan di dada, nungguin dia mengutak-atik tablet nya. Adit tampak sibuk menyentuh dan menggeser layar tablet. Kalau dipikir-pikir, sih, kayaknya dia udah nyelesein adaptasi novel gue ke komik buatannya, dia bilangnya bakal selesai setelah tahun baru. Tapi ini kan belum selesai tahun baru, ya? Feeling aja sih, kalo dia bawa tablet ke sini, apalagi yang bakal dia lakuin kalo enggak diskusiin tentang komik yang bakal kita buat?
"Gue udah nyelesein sempel komiknya." Kata Adit, sambil nunjukin gambar komik di layar tabletnya.
"Anjir, bagus banget." Ucap gue.
Mata gue seketika menatap fokus ke arah gambar-gambar itu. Gambarnya udah beda lagi, rapi dan tone warnanya lebih cerah. Bagus banget, udah kayak pro. Bener-bener perkembangan yang cepet banget.
Gue meraih tablet yang dia pegang untuk ngeliatin komiknya lebih jelas lagi. Jari telunjuk gue terus menggulir-gulir, mengusal layar tabletnya untuk ngeliat karya Adit.
"Lo udah bikin lima lembar?" Tanya gue.
Adit mengangguk.
"Dan ini peningkatan yang signifikan banget, lho. Ini lebih bagus dari yang kemaren, jauh lebih bagus malah." Gue terkagum dan jadi sedikit norak. Karena emang bagus banget gambar Adit kali ini.
Warnanya keliatan lebih dalem, lebih idup. Efek shaddingnya juga bagus, dalem nan tajam. Bagusnya gambar ini seakan melambangkan latihan keras Adit serta kesungguhannya untuk menjadi penulis komik. Dia bener-bener serius dengan tujuannya.
"Gimana?"
"Gue enggak begitu mengerti soal digital art, sih, tapi kalo gue ngeliat ini dari sudut pandang orang awam sih ini udah bagus banget." "Sama yang kemaren-kemaren bagusan mana?" Tanya Adit, dengan ekspresi setengah berpikir.
Gue memegangi dagu, nempertimbangkan bentar sebelum menjawab. "Kalo menurut gue sih, semua gambar lo bagus…" Gue enggak berlebihan atau melebih-lebihkan, tapi emang gambar karya Adit bagus, gokil. "Tapi kalo dibandingkan yang kemaren, yang ini lebih enak dilihat, tetutama warnanya, lebih hidup, kayak anime." Lanjut gue.
"Hufft…" Adit menyenderkan punggungnya di bagian belakang kursi, "Gue lega lo bilang gitu."
"Lo seakan udah ngelakuin hal terbaik untuk jadi penulis komik." Gue ngomong kayak gitu udah kayak seorang editor aja hehe…
"Gue rasa, lo berlebihan deh, yan. Itu masih belum sempurna, goresannya masih terlalu kasar, gue mau nyoba upgrade peralatan gambar tapi skill gue masih kurang." Kata Adit.
Enggak begitu paham sama apa yang Adit katakan, yang gue tahu, dia bukan tipe orang yang mudah di puji. Hampir mirip sama Olivia yang perfeksionis, tapi kalo dibandingin, Olivia lebih perfeksionis ketimbang Adit. Adit hanya serius kalo itu tentang skill gambar atau komik, kayak passionate banget gitu di komik. Sementara Olivia… hmm… enggak salah kali ya kalau dia itu "si paling perfeksionis" dalam segala hal.
Mata gue dapat ngeliat beberapa jari Adit tampak lecet dan kasar pada bagian pernukaan kulit telapaknya. Dengan gambar sebagus ini, dan tangan lecetnya itu, membuat gue berpikir kalau Adit benar-benar calon penulis komik hebat. Gue berhak bangga kali, ya karena dia udah milih gue sebagai patner.
"Oh iya, gue mau ngasih tahu sesuatu."
__ADS_1
Selesai bilang gitu, Adit ngambil tabletnya dari tangan gue.
"Apa? lo masih ada gambar lain yang mau lo tunjukin ke gue?"
Adit menggelengkan kepala.
"Trus?" Gue bingung.
Untuk beberapa detik, Adit terdiam sambil ngusap-ngusap layar tabletnya.
"Lo mau apa enggak, kalo kita coba daftarin karya komik kita ini ke lomba ini." Kata Adit sambil nyerahin tabletnya ke gue lagi.
Gue memperhatikan apa yang ditampilkan di layar tablet yang saat ini dipegang Adit, yang menghadap ke gue. Sebuah halaman website platform komik online tertampil di situ. Sesaat setelah memandanginya, gue mengambil tablet itu lagi. Mengusap, menggeser layarnya sembari membaca dengan seksama, gue memasang ekspresi wajah serius. Ini kesempatan yang bagus.
Di halaman website komik online tersebut tertulis sebuah pengumuman tentang perlombaan menulis komik bagi amatiran dengan syarat tertentu. Berapa detik, gue selesai baca syarat dan peraturannya. Mata gue terhenti, sedikit membesar pas ngeliat total hadiah yang bakal di dapetin oleh pemenang lomba itu. Juara ke tiga, dapet 2 juta. Juara kedua dapet 3 juta, dan juara pertama…
"Sepuluh jutaaa!!!??" Gue kaget.
"Iya, lumayan, kan?"
"Lumayan pala lo, itu banyak banget." Ya bagi gue yang lahir di keluarga pas-pasan, sepuluh juta itu gede banget. Mungkin bagi Adit itu enggak seberapa, karena dia lahir di keluarga yang lumayan kaya.
Gue ngucek-ngucek mata, terus ngeliat ke layar tablet lagi. Ya, gue enggak salah baca, dan kayaknya apa yang tertulis di website itu juga enggak enggak mungkin typo. Platform komik paling populer sedunia mana mungkin melakukan kesalahan sepele.
"Gue juga mikir gitu, sih, dit." Gue ngembaliin tabletnya ke Adit sebelum akhirnya berkata, "Kenapa juara satu dapet hadiah yang banyak banget, lebih dari dua kali lipatnya juara kedua. Kenapa?"
"Hemm, gue juga awalnya bingung…" Kata Adit.
Suara temen-temen yang lagi ngobrol di ruang tamu kedenger samar-samar dari kamar gue.
"Tapi setelah gue pikir-pikir, itu adalah cara tu platform nyari penulis komik yang hebat." Lanjut Adit.
"Maksud lo?" Gue mengangkat sebelah alis, bingung.
"Kalo hadianya untuk juara jauh lebih besar dari peringkat bawahnya, mungkin saja bakalan ngebuat para peserta bekerja lebih keras, melakukan yang terbaik untuk berusaha meraih peringkat pertama?" Tanya Adit.
"Masuk akal." Gue megang dagu.
"Nah, adalah hal yang mungkin nanti kualitas komik juara pertama bakal jauh lebih bagus dari juara dua dan tiga. Ya, kan?"
Gue mengangguk. Mulai memahami semuanya. Untuk platform komik online semacam itu, sih, uang sepuluh juta enggak ada artinya.
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Adit mengulurkan tangannya, ngajak salaman.
"Mari kita daftarin karya pertama kita kesini sebelum ke majalah Aneka Komik."
Gue berpikir sejenak sebelum akhirnya meraih tangan Adit, "Gue setuju, itung-itung, kita jadiin event platform itu sebagai batu loncatan untuk menjadi penulis komik nomor satu." Kata gue penuh semangat.
Terdengar suara kembang api yang kenceng banget.
Gue dan Adit yang salaman terheran dengan suara itu. Udah ganti tahun, kah? Cepet amat.
"Masih jam sepuluh." Kata gue meski enggak ditanya.
Adit segera berjalan menuju ke arah jendela. Kayaknya di udah tahu apa yang terjadi. Tepat saat Adit ngebuka jendela, kembang api meluncur ke udara dan meledak, memancarkan cahaya merah, gue bisa ngeliat itu dari meja belajar.
Adit keliatan ngejulurin kepalanya keluar jendela sambil agak teriak ke orang yang nyalain kembang api di luar. "Wei, Bunga, ngapain lo nyalain sekarang sih, belum jam dua belas lewat, belum waktunya!"
Ternyata Bunga yang maen kembang api. Seenaknya aja itu anak. Gue sempet mikir ini udah ganti tahun gara-gara suara kembang api. Beberapa saat kemudian, gue dapat mendengar samar-samar suara Bunga yang membalas peringatan Adit. "Bodo amat, masih banyak kembang apinya. Mending lo turun sini, temenin gue!!!"
"Ogah!" Jawab Adit.
Kemudian kembang api meluncur dan meledak di udara lagi.
Gue menghela nafas, memaklumi kelakuan Bunga yang seenaknya. Tiba-tiba aja perut gue jadi mules, pengen buang hajat. Mending gue buru-buru ke kamar mandi deh, daripada terjadi sesuatu yang enggak di inginkan.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi gue untuk buang hajat. Lumayan lama, perut gue mules banget, terlalu banyak daging yang gue makan kayaknya. Aji mumpung, jarang-jarang gue makan enak kayak tadi, saking banyaknya yang keluar, gue jadi khawatir nutrisi dalam tubuh gue ikut kebuang.
Ketika gue balik ke ruang tamu untuk bersantai dan ngobrol sama siapa yang ada di situ, gue secara enggak sengaja ngeliat sesuatu yang membuat hati gue terasa teramat berat. Membuat jantung gue memompa darah lebih cepat, dan badan gue lumayan lemes karena apa yang gue liat.
Di ruang tamu, gue ngeliat… Rangga dan Oliva yang hampir ci*m*n, tapi keduanya segera membatalkanya saat menyadari kehadiran gue yang abis dari dapur.
"Upss… sorry ganggu." Kata gue sambil jalan ke pintu depan, gue berusaha tersenyum biasa aja, padahal dalem dada gue ancur.
Begitu di luar, gue jalan perlahan menghampiri Bunga yang lagi asik main kembang api. Sebuah kembang api meluncur ke atas dan meledak di langit.
"Mo main kembang api?" Tanya Bunga dengan semangat.
Tanpa ngasih jawaban apapun, gue jalan dan berhenti, berdiri di samping Bunga, menatap langit menatap kembang api.yang meledak-ledak.
Adit terus memperingati Bunga yang enggak mau berhenti maen kembang api. Dia nyalain lagi kembang api yang dia ambil dari tas Adit, yang udah ada di samping kakinya. Jujur, gue menikmatinya, kembang api yang di nyalain Bunga.
"Riyan… lo kenapa nangis?" Tanya Bunga.
__ADS_1
Gue menatap datar ke arah langit malam yang dihiasi oleh ledakan kembang api. Meski wajah gue datar, entah kenapa air mata mengalir ke bawah lewat kedua pipi gue.
Bersambung …