
"Menurut gue sih, lo jangan terlalu berharap!"
"Entahlah, walaupun lo bilang begitu, hati gue masih tetep ada di dia, gue belum bisa nyabut perasaan gue ke dia." Kata gue sembari terus melangkahkan kaki.
"Kalo lo terus begini, enggak bisa move on, lo bakal ke siksa dengan perasaan cemburu saat liat dia sama pacarnya."
"..." Gue terdiam. Perkataan Adit barusan emang bener. Tapi enggak ada salahnya juga kalau gue masih ngarep untuk bisa balikan sama Olivia meski tahu akan resiko perasaan cemburu kalau ngeliat dia sama pacarnya. Biarin ah, gue enggak masalah walau hidup jatuh cinta pada Oliva dan ngerasain cemburu terus kayak gini. Kita emang enggak bisa milih untuk jatuh cinta ke siapa, tapi kalau pekara move on, itu pilihan. Dan gue rasa enggak masalah gue begini, Adit aja yang enggak tahu indahnya jatuh cinta ke Olivia, makanya dia bilang gitu.
Kaki gue nginjek genangan air di atas aspal, kecepak air sedikit terdengar, airnya nyiprat ke segala arah.
Saat ini gue dan Adit lagi dalam perjalanan pulang menuju rumah masing-masing. Tadi, beberapa saat setelah ujan reda, gue langsung keluar dari perpustakaan untuk langsung pulang. Pas nyampe gerbang sekolah kita ketemu dan akhirnya pulang bareng.
Kita sempet ngeliat Oliva di jemput sama Rangga, pacarnya. Dan saat itu Adit menyadari kalau gue cemburu, dia tahu dari wajah gue yang murung. Walaupun gue enggak bilang kalau gue cemburu, tapi dia tahu. Peka, karena kita udah lumayan deket.
Saat ini Adit masih pake seragam olahraga dan gue pake seragam OSIS. Harusnya sih emang pake OSIS, karena setelah acara lari marathon tadi masih ada pelajaran di jam terakhir, sebelum masuk jam pelajaran terakhir juga ada jam istirahat yang harusnya bisa digunakan buat mandi dan ganti seragam. Tapi Adit malah enggak ganti seragam, dia pake seragam olahraga pas pelajaran terakhir. Sempet di tegur guru sih tadi, tapi ya Adit santai aja. Dia emang tipikal orang yang santai dalam segala situasi.
"Terus, karena perasaan lo ke dia, lo jadi gampang ngrasain sakit hati, bahkan lo aja sampe nangis di malem tahun baru. Dan itu bikin lo enggak ada di antara kami kan pas nyalain kembang api bareng?" Adit lanjut nanya kayak gitu.
"Lo tau darimana kalo gue na… "
Gue terdiam, enggak menyelesaikan perkataan gue setelah menyadari sesuatu. Hmm… pasti Bunga cerita ke Adit. Bunga sempet menyadari kalau gue nangis pas gue berdiri di samping dia. Dasar Bunga ember, pasti dia cerita ke Adit dan mereka berdua pasti banyak ngomongin gue. Gue harap Adit enggak cerita terlalu banyak tentang hubungan gue dan Olivia ke Bunga. Ya, meskipun itu mungkin harapan yang mustahil.
Bener kata Adit, pas malem tahun baru gue enggak ada di antara mereka berempat buat nyalain kembang api, menyambut pergantian tahun. Waktu itu, ketika Bunga nanya kenapa gue nangis, gue jawab kalau gue enggak papa, berusaha tegar meski abis ngerasain rasa cemburu yang begitu dalem abis ngeliat orang yang gue suka hampir ciuman sama cowok lain. Sumpah rasanya enggak enak banget.
Abis itu, beberapa saat kemudian Adit dan yang lainnya dateng, ikut gabung sama gue dan Bunga di halaman depan rumah. Terus, gue memutuskan untuk ke kamar ninggalin mereka, tujuannya untuk nenangin diri karena gue lagi patah hati.
__ADS_1
Waktu itu, di kamar, gue cuman tiduran aja madep langit-langit. Kadang nutupin mata pake lengan tangan berusaha menghentikan aliran air mata yang mengalir perlahan padahal gue enggak mengkehendaki hal itu. Gue enggak mau ngluarin air mata, tapi air mata gue keluar secara otomatis. Gue cemburu banget, hati gue berat, perasaan enggak enak. Di kamar yang gelap, gue berbaring sendiri menikmati sakit hati. Di malam itu, gue sukses menjadi remaja patah hati.
Demi tuhan gue enggak meratapi kegalauan sepanjang malem, gue enggak nangis pilu sepanjang malem, cuman bentar doang, sisanya gue ketiduran dan kebangun lagi sekitar jam dua malem, dan acara main kembang apinya udah selesai. Sial bener gue melewatkan agenda utama di malem tahun baru. Temen-temen enggak ada yang bangunin gue karena mereka keasyikan main dan lupa kalo ada gue, kampret emang, baru nyadar kalau gue enggak ada pas kembang apinya abis. Gue melewatkan malem tahun baru dengan ketiduran di kamar.
"Bunga yang ngomong ke gue." Kata Adit.
"Iya, gue udah menduga." Gue menatap Adit yang melangkah beriringan dengan gue, "Jangan pikir gue nangis di kamar sepanjang malem ya, gue cuman nangis sebentar, sisanya ketiduran."
"Haha…" Adit ketawa ngakak. Siswa-siswi yang juga berjalan pulang, yang berada di antara kami beberapa ada yang memperhatikan kami, karena Adit yang tiba-tiba ketawa enggak jelas.
"Berisik, diliatin orang enggak malu apa?"
Adit perlahan berhenti ketawa, "Lagian lucu aja ngebayangin lo nangis gara-gara cemburu." Adit ketawa dikit, "Cowok yang jarang ngomong dan terkesan cool kayak lo, nangis gara-gara cinta itu kampret banget, sih haha…" Lanjutnya.
Udahlah, enggak usah di bahas, waktu itu berasa sakit hati banget, wajar aja kalau gue sampai ngerasa se sakit dan selemes waktu itu.
"Ngomong-ngomong… soal kotak suara pemilihan ketua OSIS, menurut lo gimana?" Tiba-tiba Adit mindah topik.
"Apanya?" Tanya gue sambil ngelirik.
"Tadi itu lho yang kita bahas pas lari marathon."
Kita berhenti di depan area penyebrangan, menunggu lampu merah.
"Menurut lo gimana?" Gue malah nanya balik.
__ADS_1
"Hemm, gue punya dugaan…" Adit memegangi dagunya terlihat berfikir keras, "Pasti ada orang yang diem-diem nambah isi kotak suaranya."
"Siapa?" Tanya gue.
"Enggak tahu, gue enggak mau asal nuduh."
Ternyata kita punya pemikiran yang beda terkait kasus ini. Emang ada kemungkinan itu terjadi sih, tapi apa tujuannya? kalau untuk memenangkan salah satu calon kan lebih mudah dengan di kurangin, kenapa di tambah?
"Kenapa di tambah jumlah surat suaranya? bukannya kalo mo curang lebih mudah di kurangin? biar enggak ada yang curiga?"
"Tujuannya bukan untuk menangin kandidat, tapi biar ada pemilihan suara ulang." Jawab Adit.
Masuk akal.
"Bisa ceritain detailnya?" Gue penasaran.
"Gue bakal jelasin setelah lo nyampein opini lo, pasti lo udah punya dugaan sementara."
"Iya sih," Gue menjawab singkat.
"Jelasin coba!" Adit memerintah.
Matahari senja mulai terlihat, menyingkirkan awan yang mendung. Gue ngeliat katas, kearah cahaya senja yang menyeruak menembus awan mendung. Lampu lalu lintas menyala di bagian warna merah, kendaraan berhenti seketika, kita mulai lanjut melangkah.
Bersambung…
__ADS_1