Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 67 : Bersantai Di Aula


__ADS_3

Seluruh siswa-siswi peserta lari maraton sudah tiba di sekolah mereka. Setelah memisahkan diri dari barisan, mereka berhamburan ke segala arah, mencari tempat istirahat.


Di depan kamar mandi, ada antrian siswa-siswi yang cukup panjang, mereka mengantri untuk buang air dan juga mandi, atau hanya sekedar ganti seragam. Ada tiga ruang kamar mandi di sekolah ini, jadi antriannya bisa kondusif serta tak perlu menunggu dalam waktu yang cukup lama.


Usai menjalani hukuman, gue langsung tiduran di aula sekolah. Nafas gue terengah-engah, otot-otot di kaki terasa kaku serta tenggorokan makin kering. Gue meletakan salah satu lengan di atas matanya yang terpejam.


Sebenarnya gue pengen cepet pergi ke kantin, tapi tubuh sudah telalu lelah, seakan melewati batasnya. Bagaimana tidak, setelah lari dan jalan selama hampir satu jam dengan jarak tempuh yang yang lumayan jauh, gue malah harus menjalani hukuman lari mengelilingi lapangan basket sebanyak dua puluh kali. Gue nyesel mengikuti anak laki-laki berkulit hitam yang lewat jalan pintas.


Di aula, ada banyak siswa-siswi yang juga beristirahat, sebagian sisanya ada yang sudah pergi ke kantin dan ke kelas masing-masing. Gue tiduran di tengah-tengah aula sekolah yang luas, mata gue terpejam dan tubuh gue lemas. Gue dapat mendengar siswa-siswi lain yang sedang mengobrol.


Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa sedikit rasa sejuk, siswa-siswi berlalu-lalang di sekitar Gue. Saat gue hanyut dalam suasana di aula sekolah dan hampir tertidur, tiba-tiba seseorang menempelkan kaleng minuman dingin ke pipi sebelah kiri gue. Hal tersebut membuat gue kaget, gue lantas membuka mata.


Begitu kedua matanya terbuka, hal pertama kali yang gue liat adalah wajah Bunga yang sedang tersenyum, yang tepat berada di atas wajah gue.


Gue memandangi Bunga sejenak, dia sudah wangi. Aroma bedak dapat tercium ketika Bunga memandangi.


Gue kemudian bangkit dari rebahan, dan menatap kearah Bunga yang sedang duduk jongkok di hadapan gue, cewek itu kini sudah mengenakan seragam OSIS dengan rapi, wajahnya tampak bersih serta dia juga wangi, sepertinya dia baru saja selesai mandi.


"Nih, minum dulu!" Bunga memberikan sekaleng coca-cola pada gue yang duduk di hadapannya.


Bunga membawa dua minuman kemasan kaleng, coca-cola dan fanta rasa stoberi. Bunga Memberikan coca-cola-nya ke Gue, sementara yang Fanta, untuk dirinya sendiri.


Gue membuka penutup botol kaleng coca-cola tersebut, lalu meminumnya dengan perlahan. Tenggorokan Gue yang kering seketika terasa sejuk setelah meminum minuman bersoda yang dingin, rasa lelah sedikit berkurang.


"Denger-denger lo tadi habis di hukum lari keliling lapangan basket ya? Haha.." Bunga tertawa jahat saat mengatakan itu pada gue.


Gue yang baru saja selesai meneguk coca-cola-nya langsung menatap Bunga dengan sinis.


"Emang lo kenapa sih bisa sampai di hukum? bodo' banget hahaha..." Bunga masih menertawakan


Gue, bahkan lebih keras. "lya, gara-gara gue ikut lewat jalan pintas bareng anak kelas 11-C" Jawab gue dengan kesal.


"Siapa?"


“Enggak sempet nanya namanya gue, yang jelas dia dari kelas 11-C." Jelas Gue.


"Ciri-cirinya?" Bunga malah tambah penasaran.


"Kulitnya item." Jawab Gue dengan singkat,

__ADS_1


Gue enggak tahu harus bagaimana mendeskripsikan anak itu, yang muncul pertama kali di kepalanya adalah anak itu berkulit hitam.


"So racist" Canda Bunga.


Gue menatap datar, “Siapa yang rasis,cuman itu yang bisa gue jelaskan."


"Makanya, jangan suka ngikut-ngikut orang yang enggak lo kenal."


"Lagian siapa yang tahu kalau akan ada pengawas yang sembunyi di semak-semak deket halaman belakang situ." Gue meminum coca-cola setelah mengatakan itu.


"Lo pasti tadi lewat jalan pintas di sawah yang jalurnya tembus ke bagian belakang sekolah itu ya?" Bunga bertanya untuk memastikan.


"lya. Kok lo tahu?" Gue bingung kenapa Bunga bisa tahu, padahal itu adalah jalan rahasia yang tak banyak di ketahui orang.


"Ya taulah." Bunga membersihkan rok abu-abunya yang terkena tetesan fanta. "Sebenernya, tadi gue juga sempet mikir mau lewat jalan pintas itu pas udah nyampe area persawahan... tapi malah pacar gue dateng ngasih tumpangan gratis, hoki banget gue hehehe.." Lanjutnya.


Bunga tahu tentang jalan pintas itu karena dia memang sering datang ke halaman belakang sekolah untuk sekedar main-main dengan teman-temannya sambil menikmati pemandangan area persawahan yang menyejukkan mata.


Biasanya kalau Bunga bolos jam pelajaran, dia akan kalau Bunga bolos jam pelajaran, dia akan menyelinap ke halaman belakang sekolah, melewati pagar pembatas, kemudian berjalan menyusuri jalan setapak di persawahan untuk kemudian pergi ke jalan raya. Karena dia sering memakai seragam celana panjang dan jarang mengenakan seragam rok, jadi menaiki pagar pembatas sekolah bukanlah hal yang sulit bagi Bunga. Kira-kira gitu yang dia ceritain.


"Untung gue enggak jadi, kalau gue tadi beneran lewat jalan pintas... pasti gue juga bakal kena hukuman hehe..." Kata Bunga lagi.


Siswa-siswi yang beristirahat di sekitar aula jumlahnya sudah mulai berkurang, beberapa dari mereka ada yang sudah pergi mandi dan mengganti seragam olahraga mereka dengan seragam OSIS, serta pergi ke kantin.


Gue dan Bunga masih mengobrol di aula, mengobrol tentang apa saja yang kita mau.


Karena tiba-tiba saja perutnya kelaparan, Bunga dengan sedikit memaksa, mengajak gue untuk pergi ke kantin, tapi gue menolak ajakan Bunga karena ingin beristirahat di aula untuk waktu yang lebih lama lagi. Gue pun kembali tiduran dekat Bunga yang sedang duduk setelah menghabiskan coca-cola.


Tiduran di aula sekolah memang membuat gue merasa nyaman, hingga enggan beranjak. Kalau bisa, mungkin kapan-kapan gue akan membawa kasur lipat lengkap dengan bantal dan guling agar bisa merasakan kenyamanan yang lebih saat tiduran di aula.


"Ngomong-ngomong, pacar lo mana?" Tanya gue.


"Udah pulang dia, sibuk katanya." Bunga bergeser sedikit, kemudian tangan kanannya meraih kaleng minuman gue yang sudah kosong.


"Tumben lo nanya begitu, biasanya lo cuek dan enggak peduli sama urusan orang." Kata Bunga lagi sambil memasukan kaleng kosong milik gue ke dalam plastik yang ia bawa.


"Ya... gue pikir akan lebih menyenangkan kalau kita bertiga ngobrol bareng gitu."


"lya sih." Bunga kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya. “Riyan, menurut lo, wajar enggak sih kalau gue menaruh perasaan curiga ke Rehan?"

__ADS_1


"Kenapa lagi?" Gue menjawab malas-malas sambil tetap menatap ke arah langi-langit aula.


Bunga menghela nafas. "Keluhan gue masih sama kayak curhatan gue di toko musik dulu, dia masih sering ilang-ilangan, tadi aja dia langsung pulang. Padahal dulu-dulu tuh kita sering ngabisin waktu bareng. Dia kan hari ini libur, seharusnya dia bisa dong lama-lama di sekolah, duduk-duduk di sini bareng gue, ngobrol bareng kita kayak yang lo bilang tadi."


Bunga kemudian mengeluarkan handphone-nya dari saku rok OSIS, dia menelpon Rehan, danmenunjukan tampilan layar handpone-nya ke gue agar gue tahu apa yang akan terjadi ketika Bunga mencoba menghubungi Rehan.


Handphone Bunga sedang berusaha terhubung dengan nomor telepon Rehan. Handphone milik Rehan aktif namun, tak ada respon darinya, malah di tolak.


"Di tolak tuh." Ucap gue sambil menatap layar handphone Bunga yang di tunjukan kepada gue


"Lo liat sendiri kan? Dia selalu nolak telepon dari gue." Kata Bunga yang masih curiga, dia sedikit kesal.


Bunga kemudian ikut berbaring di aula, lebih tepatnya, ia berbaring di sebelah gue. la kemudian bingung, karena ternyata tiduran di aula sekolah benar-benar membuatnya nyaman, lantainya terasa sejuk, apalagi saat angin berhembus, rasanya benar benar menyenangkan.


Kita berdua tiduran dengan posisi yang berlawanan. Kepala Bunga menghadap ke utara, sementara kepala gue menghadap ke sebelah selatan. Kepala Bunga tepat berada di sebelah kiri pinggang gue, dan kepala gue tepat berada di sebelah kanan pinggang Bunga. Jadi, jika Gue menghadap ke samping kanan, gue akan menatap pinggang Bunga dan jika Bunga menghadap ke kanan dia akan menatap pinggang gue.


Sungguh pemandangan yang aneh...atau malah sedikit romantis?


Melihat Bunga dan Gue tiduran bersebelahan seperti ini, sebagian orang mungkin akan mengira kalau kita berdua pacaran, tapi bagi orang-orang yang sudah mengenal Gue dan Bunga, melihat kita sangat akrab seperti ini adalah hal yang wajar, tak ada romantisnya, mereka tak akan berkata, "Cieee~" seperti saat Rehan memberi tumpangan pada Bunga tadi.


Ya, karena sebagian mereka tahu kita sekarang bertetangga dan berteman sangat akrab. Saking akrabnya, sampai-sampai beberapa anak di kelas mereka ada yang beranggapan kalau mereka adalah saudara, kaka-beradik.


Baru saja Bunga membaringkan tubuhnya di lantai aula sekolah untuk mengikuti apa yang di lakukan oleh gue, gue malah bangkit dari posisi tidur, sengaja, kemudian menatap lurus ke arah dinding yang ada di hadapan, gue setengah melamun. Gue sedang mengumpulkan tenaga serta niat untuk pergi ke kantin.


"Ke kantin yuk." Kata Gue, kemudian berdiri tegak dan berjalan menuju kantin begitu saja, tanpa memperdulikan Bunga yang masih tiduran.


Bunga celingukan, bingung. Sambil tiduran, dia menengadahkan kepalanya dengan susah payah, berusaha melihat ke arah gue.


"Woy, gue kan baru aja rebahan, ngikutin lo, lo nya malah maen berdiri aja." Bunga kesal.


Gue berusaha menahan tawa saat melangkah meninggalkan Bunga.


"Cepet, katanya tadi ngajak ke kantin." Kata gue, setelah berhenti dan menoleh ke belakang untuk memandang Bunga.


"Sialan lo, baru aja mau tiduran." Setelah


mengatakan itu, Bunga bangun dari rebahannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2