Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 32 : Tak Ada Salahnya Untuk Ikut


__ADS_3

Razor19, nama pena yang secara mengejutkan muncul sebagai saingan ketika gue dan Adit hendak memulai mengejar mimpi jadi penulis komik. Kita ngerasa, Razor19 udah mengejek kita, terutama Adit, sih. Bayangin aja, di umur 16 tahun dia udah masuk tiga besar dalam kompetisi komik bergengsi, sedangkan kita berdua yang seumurani baru mau mulai.


Gue belum tahu identitas Razor19 yang sebenarnya, tapi dari namanya sih, menurut gue dia cowok. Atau, bisa aja Razor 19 itu nama pena untuk dua orang, kayak gue dan Adit gini. Bisa juga dia cewek. Masih misterius.


Gue bangkit dari rebahan, berencana untuk pulang. Ketika gue menatap ke arah Adit dengan niatan untuk pamit pulang, gue ngeliat Adit tersenyum sembari menatap ke arah layar HP-nya.


"Sialan, Razor19,  dia seakan lagi mempermainkan kita. Tiba-tiba aja namanya muncul di daftar peserta ketika kita lagi ngomongin dia." Tangan kiri Adit tampak mengepal pas bilang gitu.


"Iya, seakan dia tau aja kalau kita lagi insecure karena dia." Gue masukin laptop ke dalam tas ransel. "Jadi gimana? Lanjut daftar atau berhenti?" Lanjut gue.


"Lo bego', ya?"


"..." Gue terdiam


Gue udah tahu kalau Adit bakal tetep percaya diri untuk tetap ikut kompetisi itu. Ngapain coba gue nanya gitu, udah pasti lah dia akan tetep daftarin diri.


"Baiklah, syarat untuk ikut seleksi itu kita harus ngirim sempel gambar karya kita, minimal satu gambar karakter."


"Gitu, ya?"


Dengan penuh semangat, Adit bilang, "Oke, entar malem gue bakal selesein gambarnya dan kita daftarin diri besok."


Setelah semua perbincangan selesai, gue memutuskan untuk langsung pulang aja. Kita berdua udah sepakat dengan apa yang akan kita buat. Adit setuju dengan naskah detektif gue, dia juga keliatan semangat dan enggak sabar buat nge gambar komiknya.


Syarat untuk mendaftar ke kompetisi komik itu adalah ngirim satu contoh karya dari masing-masing peserta, minimal gambar satu karakter. Adit udah punya gambaran mau bikin karakter apa buat daftar dan itu enggak jadi masalah baginya. Entar malem kalo udah jadi, dia pasti ngabarin gue sebelum di upload di website tersebut.


Gue mengayuh sepeda melintasi jalan raya, kaki gue menggowes dengan santai. Kalau diinget-inget bentar lagi bakal ada acara ulang tahun sekolah, gue yakin beberapa anggota komite OSIS lagi sibuk nyiapin ini itu.


SMA Brokoli bisa dibilang serius kalau ngurusin acara ulang tahun, enggak asal jadi kayak sekolah yang kekurangan dana. Meskipun sekolah swasta, tapi kalau soal dana anggaran sekolah, para staf bisa mengaturnya dengan baik. Di tambah, lagi penggalangan dana kegiatan yang dilakukan anggota OSIS tiap bulan biasanya bakal di sambut siswa yang gila akan kegiatan sekolah dengan penuh suka cita. Enggak heran kalau SMA Brokoli selalu bisa membuat acara ulang tahun sekolah dengan meriah.


Ngomong-ngomong, gue bukanlah orang yang aktif mengikuti kegiatan sekolah, gue beda jauh sama Adit yang suka ikut ekskul. Sebagai siswa tanpa kegiatan ekskul, gue enggak pernah ikut campur dalam persiapan acara sekolah. Tapi gue suka turut memeriahkan dengan hadir sebagai pengunjung biasa.

__ADS_1


Kayuhan sepeda gue semakin pelan karena lelah, padahal baru bentar. Angin dari kendaraan yang lewat di jalan raya dapat gue rasakan. Acara ulang tahun biasanya bakal diisi dengan kegiatan pameran atau bazar dan juga pertunjukan pentas seni dari siswi-siswi yang berminat unjuk unjuk gigi. Sebagai pengunjung, gue cukup bisa menikmati kok. Tahun lalu para anggota OSIS udah bekerja dengan baik dan berhasil membuat acaranya berjalan lancar, semuanya tertib, semoga tahun ini juga begitu.


Seraya gue mengayuh sepeda, di kejauhan gue melihat Bunga sedang mengayuh sepeda menuju ke arah gue, kita berdua saling melaju ke arah yang saling berlawanan dan sepertinya akan berpapasan.


Makin lama, jarak kita makin deket dan gue dapat melihat wajah Bunga yang tersenyum sumeringah menyadari keberadaan gue. Karena kita pada akhirnya saling berpapasan, gue memutuskan untuk berhenti.


Alis gue ngangkat sebelah saat ngeliat Bunga terus menggowes sepedanya tanpa mengurangi kecepatannya, dia ngarahin sepedanya ke arah gue sambil meneriakan, "Tabrakan mauutt!!"


Roda bagian depan sepeda kami saling bertubrukan. Tangan gue segera menahan efek tabrakan itu dan kedua kaki gue berusaha menjaga keseimbangan. Apa coba?


"Apaan sih?" Gue menggerutu.


"Hehe…" Bunga malah cengengesan.


Oke, anggep aja tabrakan tadi adalah sebuah sambutan  yang dia berikan untuk gue, walaupun agak kasar sih.


"Hai, yan, lo dari mana?" Tanya Bunga sambil tersenyum senang.


Sial, dia malah bersikap biasa aja seakan enggak ngerasa bersalah abis nabrak gue.


"Mau balik lagi ke sekolah."


"Balik lagi?" Gue bingung.


"Iya." Bunga menarik tas gitarnya yang kedodoran. "Gue hari ini lumayan sibuk ngurusin  band, sampe harus bolak balik."


Dengan ekspresi datar, gue kembali menanyakan hal yang sama. "Kenapa pakai seragam olahraga?"


"Oh, ini ya." Dia ngeliat ke arah baju yang dia kenakan, "Gue mau ikut lomba volly cewek pas acara ultah sekolah nanti. Pake ini karena nanti gue mau latihan."


"Oh, gitu ya."

__ADS_1


Bener-bener Adit versi cewek. Udah ngikut sama band nya, ikut lomba volly juga, enggak punya rasa capek kayaknya. Dia juga keliatan semangat banget, seneng banget kayaknya mau berangkat latihan. Gue sih kalau disuruh pergi ikut serta kegiatan olahraga pasti bakal ngejalaninya dengan penuh kemalasan, kalau bisa ngumpet ya mending ngumpet deh. Adit sama Bunga itu seakan adalah spesies yang beda sama gue.


"Lo sibuk, enggak?"


Gue menggelngkan kepala ketika di tanya, kemudian lanjut berkata, "Nganggur gue, paling sampe rumah gue bakal rebahan sambil main game."


"Mau ikut ke sekolahan nggk?"


"Ngapain?"


"Bantuin gue dan temen gue bikin stand buat di acara pameran nanti. Kita kekurangan orang, nih."


Enteng banget ngomong gitu, seakan udah yakin kalau gue bakalan bersedia bantuin dia dan temennya. Iya, tahu, sadar kalau gue adalah salah satu siswa paling nganggur di SMA Brokoli disaat sebagian besar dari mereka lagi pada sibuk nyiapin acara hari jadi SMA tercinta, tapi kenapa seenaknya minta bantuan, gini amat nganggur.


"Kenapa nawarin gue?"


"Karena lo nganggur."


Gue terdiam beberapa detik.


"Mau enggak?" Tanya Bunga lagi. "Buat orang yang enggak terlalu pandai bergaul kayak lo, ini kesempatan yang bagus untuk mengakrabkan diri dengan siswa-siswi dari kelas lain."


"Enggak ah, gue langsung pulang aja."


Gue menginjak pedal sepeda, dan mulai menggowes, berniat meninggalkan Bunga untuk kemudian langsung pulang ke rumah.


Beberapa detik gue mengayuh sepeda, berjarak beberapa meter meninggalkan Bunga, tiba-tiba aja Bunga bilang ke gue. "Nanti gue traktir makan di kantin sepuasnya deh, beneran."


Seketika insting pemburu traktiran gue aktif, membuat gue memutar balik arah sepeda gue.


"Yuk, gas, ke sekolah." Kata gue ketika ngelewatin Bunga.

__ADS_1


Enggak ada salahnya kali ya gue sekali-sekali ngerasain semangat siswa-siswi SMA Brokoli bersiap-siap untuk acara ulang tahun sekolah. Lagipula, gue nganggur dan hampir enggak pernah ikut acara beginian. Sekali-sekali ngrasain deh.


Bersambung…


__ADS_2