Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 38 : Nat


__ADS_3

Gue lanjut jalan sendirian setelah berpisah dengan Nadia di aula sekolah, dia mau pulang. Kayaknya dia tadi nembak gue cuman iseng aja, sih, soalnya kayak biasa aja gitu, enggak ada sedih-sedihnya pas gue tolak. Malah, dia ketawa dikit. Pas pamitan ke gue juga dia biasa aja, gue seakan kembali akrab seperti sedia kala setelah beberapa hari ngerasa saling canggung. Oh iya, lupa, gue belum minta maaf ke dia.


Hufft… kalau dipikir-pikir, lumayan sial juga gue hari ini. Berawal nerima ajakan Bunga ke sekolah karena banyak waktu luang, terus rela jadi babu anak-anak ekskul musik biar ada kegiatan, gue malah berakhir dengan terjebak di dalem gudang sekolah bareng Jane. Lagi apes, kira-kira di kalender jawa, ini hari apa sih? biar gue bakal tandain sebagai hari sial gue.



"LO KENAPA LAMA BANGET SIH, SAMPE SORE GINI KEMANA AJA?!!"



Bunga berdiri di tengah pintu ruang ekskul musik sambil berkacak pinggang, urat mukanya terlihat jelas, matanya melotot ke arah gue. Ya, gue kena marah gara-gara terlalu lama di gudang.



Wajar dia sampe sebegitu marahnya, dia enggak tahu apa yang gue alami dan gue pergi selama berjam-jam tanpa kabar. Kalau gue jadi dia mungkin gue bakal marahin gue juga, tapi mungkin enggak se mengerikan Bunga sih kalau marah.



"Gue tadi…"



Belum sempet gue ngomong, Bunga udah memotong dengan nada suara yang tinggi.



"APA?!" Gertak Bunga.



Temen-temennya yang pada duduk di lesehan di belakang Bunga cuman bisa diem membisu, beberapa ada yang pura-pura enggak tahu, gue ngelihat juga ngeliat si ketua ekskul disitu. Gue yakin, yang seorang ketua ekskul pun pasti pernah dimarahin sama Bunga.


Dia seakan paham dengan situasi yang sedang gue hadapi, dan memilih untuk bungkam demi cari aman. Dasar.



"PADAHAL GUE CUMA NYURUH NGAMBILIN HIASAN RUANGAN AJA TAPI LO LAMA BANGET, KALO PUN NYASAR JUGA ENGGA SELAMA INI…"



"Anu… gue tadi…" Gue mencoba ngejelasin tapi…



"DENGERIN DULU KALAU GUE LAGI NGOMONG, TADI KAN GUE SURUH AMBIL BARANG DI GUDANG TERUS BALIK LAGI…"



Bunga memotong perkataan gue yang belum selesai.



Tiap kali gue mau ngebantah, dia terus aja memotong omongan gue sambil marah-marah. Emang cewek, kalau lagi ngomel petir zeus pun mungkin balik nyamber dewa zeus kali, ya.



Selama Bunga marah, gue cuman bisa diem. Karena udah tahu kalau misal gue mau menjelaskan apa penyebab dari lamanya gue di gudang ke Bunga, dia pasti bakal motong sebelum gue berhasil menjelaskan.



Sampai pada akhirnya…



"Sst… udah, udah, nga, jangan marah terus ih!"



Suara Jane tiba-tiba terdengar dari arah belakang gue.



"KITA NUNGGUIN DISINI AGAK–



Bagaikan api yang kesiram air, seketika amarah Bunga lenyap kala menyadari kehadiran Jane yang berada tepat di belakang gue.



"Jane, udah selesai sama ekskul basketnya?" Tanya Bunga pada Jane. Kali ini nada bicaranya biasa aja, udah enggak marah lagi.



Jane kemudian menjawab, "Udah kok, enggak ada latihan hari ini, cuman nyiapin perlengkapan buat besok."



Kemudian Jane memasuki ruang ekstrakulikuler musik dengan melewati gue dan Jane yang masih berdiri berhadapan di tengah pintu. Emang posisi gue yang dimarahin Bunga ngalangin jalan.

__ADS_1



"Enggak sabar pengen liat anak basket pada latihan. " Kata Bunga.



"Pengen liat pacar lo ya? Si rehan?" Tanya Jane yang kini berdiri di samping Bunga.



"Iya, hehe…" Bunga keliatan malu-malu.



Gue dari tadi masih diem aja di hadapan Bunga, gue enggak tahu apakah dia masih marah ke gue apa enggak. Jadi, gue mending diem aja sambil memantau situasi.


"Lo tahu enggak, kenapa dia bisa telat lama banget?"



"..." Bunga diem aja setelah Jane nanya gitu sambil megang pundak Bunga.



"Itu karena dia kekunci di dalem gudang sekolah bareng gue."



Bunga langsung menatap gue dengan pandangan setengah kaget, enggak nyangka.



"Serius?!" Kata Bunga.



Gue mengangguk.



Bunga menatap gue dan Jane secara bergantian.



"Kok bisa? Siapa yang ngunci kalian? Gimana ceritanya?"




Sepertinya penjelasan Jane menarik perhatian orang-orang di dalem ruang ekskul musik, kini semua perhatian tertuju pada kita bertiga yang berdiri di tengah pintu masuk ruang ekskul musik.



Kita semua, termasuk anak-anak ekskul musik yang ada di dalem berkumpul di tengah ruangan duduk dengan posisi membentuk lingkaran. Beberapa yang masih sibuk sama kerjaannya juga ninggalin itu dan malah ikut nimbrung.



Jane pun cerita semuanya, tentang kemalangan yang menimpa kita berdua mulai dari awal sampai akhir. Cerita Jane membawa suasana tegang dan lucu. Lucu karena situasi yang dialaminya bersama gue itu emang agak ngeri, bisa aja enggak akan ada orang yang dateng selama beberapa hari, dan lucu karena… gue yang ketakutan ketika di dalem. Kampret emang, Jane malah cerita tentang itu.



Karena hari udah makin larut, beberapa diantara kita ada yang memutuskan untuk bergegas pulang, seakan mereka lupa waktu akibat keasikan mengobrol bersama. Satu orang pergi, yang lainya menyusul.



Di ruang musik, tinggalah gue, Bunga dan dua orang lain yang enggak gue kenal, satunya cewek dan satunya lagi cowok. Kita berempat saling membantu membuat dan memasang hiasan di ruang musik.



Bunga nglipet-lipet kertas untuk dijadiin angsa kertas, si cowok menata posisi peralatan, sementara gue dan si cewek berambut pendek nempel hiasan dinding. Kita berbagi tugas dengan baik.



Gue sebenernya agak males sih ngelakuin hal ini, tapi gue udah terlanjur terbawa arus. Entah kenapa gue malah enggak pulang pas yang lain pada pulang, padahal bisa aja gue ngikut keluar dan pulang, toh Bunga juga mungkin enggak masalah, tapi gue malah diem aja dan manut-manut aja ketika disuruh bantu-bantu.



"Oi, jangan ngelamun!"



Cewek rambut pendek yang bantuin gue masang hiasan tiba-tiba ngagetin.



"Hehe… maaf." Kata gue sambil masang hiasan.


__ADS_1


"Lo lagi mikirin sesuatu, ya?" Tanyanya.



Gue menggeleng.



Kemudian tu cewek melanjutkan pekerjaannya nempel-nempel hiasan.


Semua hiasan pita bertema ulang tahun yang dia pasang tampak begitu rapi, beda sama hasil tempelan gue yang tampak amburadul, ya walau enggak parah-parah amat, sih.



Ditengah kesibukan kita yang lagi nempel hiasan, cewek berambut pendek di sebelah gue bilang, "Oh iya, kata Bunga, lo jago nulis ya?"



Gue diem sejenak sebelum menjawab, "Bisa, tapi enggak jago."



"Tapi lo bisa nulis lirik lagu, itu udah bisa dibilang jago."



Mendengar ucapanya barusan, gue jadi menghentikan tangan gue yang sedang memberikan lem ke kertas. Gue menoleh ke arah dia yang tepat berada disamping gue.



"Lo tau dari man-..." Kata-kata gue terhenti sebelum selesai nanya.



Ah, gue baru inget kalau gue pernah nulisin lirik lagu buat Bunga. Pasti ni cewek tahu hal itu dari Bunga.



"Apa?" Kata cewek itu sambil miringin kepalanya dikit karna gue tiba-tiba berhenti bicara.



"Lo pasti tahu dari Bunga ya kalo gue bisa nulis."



Dia mengangguk dengan semangat.



Kita sementara menghentikan kegiatan tempel-menempel hiasan karena teralihkan oleh obrolan yang enggak begitu penting ini.



"Gue udah baca lirik lo, kok."



"..." Gue diem karena heran ada yang suka sama tulisan lirik gue yang ngasal.



"Makanya gue bilang lo itu jago hehe."



"Iya deh, terserah. Tapi gue enggak ngerasa jago sih." Kata gue. Sebenernya gue agak malu-malu gimana gitu abis dipuji, biasa lah.



Cewek berambut pendek itu ngulurin tangannya ke gue, kayak ngajak salaman.



"Kenalin, gue Natasya, panggil aja Nat. Dan gue adalah ketua ekskul menulis. Lo mau enggak gabung sama ekskul kita?"



Cewek bernama Natasya itu mengulurkan tangannya ke gue sambil tersenyum manis, menawarkan gue untuk masuk ekskul menulis.


Serius, gue baru tahu kalau di SMA Brokoli ada kelompok ekskul menulis.



"Hah? Emang ada ekskul nulis di sekolah ini?" Kata gue seperti mendengar kemustahilan yang menjadi kenyataan.



Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2