Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 47 : Si Cewek Muka Pucat


__ADS_3

Para anggota kelompok ekstrakurikuler atletik pada bersemangat melakukan pemanasan dengan lari mengelilingi sekolah. Pas gue jalan di taman, barisan mereka keliatan lagi lari ngelewati tepian taman. "Semangat! Semangat! Semangat!" Gitu kira-kira suara mereka. Menurut gue, sebaiknya mereka bikin yel-yel aja, deh, biar lebih bersemangat.



Terus jalan menyusuri jalan setapak di deket perpus, di sekitaran gue ada siswa-siswi yang lewat, beberapa ada yang berlarian dengan ceria, semangat untuk pulang. Gue jalan dengan santai berlawanan arah dengan para siswa yang pada mau pulang.



Maju dikit beberapa langkah, kaki gue turun perlahan dari lantai, melalui anak tangga kecil. Sampai lah gue di jalur menuju sudut sekolah. Kini gue berjalan di tepi lapangan sepak bola, melewati jalur semen berbentuk diagonal, gue lupa benda yang gue tapaki ini disebut apa.


Gue ketemu sama siswa-siswi dari kelompok ekstrakurikuler bola volly yang lagi pada ngumpul di tepi jalur yg gue lalui. Yang cewek-cewek beberapa pada ngerumpi sambil senderan pada dinding perpus. Sementara yang cowok pada semangat latihan di lapangan. Kayaknya semua anggotanya belum pada dateng.



"Permisi." Kata gue ketika jalan melewati mereka.



"Oh, iya silahkan." Jawab beberapa dari mereka.



Gue agak sungkan melewati mereka dan berasa lega, deh, pas udah lewat.



Ngeliat sekeliling sambil tersenyum, gue mengagumi semangat siswa-siswi disini dalam hal mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Gue hampir enggak pernah ngeliat suasana sekolah pas lagi pada berekstrakurikuler ria. Rasanya, gue juga ikut semangat, seakan energi dari mereka semua gue serap. Gue lanjut fokus pada perjalanan setelah mengagumi sekitar. Bentar lagi nyampe.



Oh, iya, tentang kertas tugas essay gue tadi, secara beruntung Jane mau gue titipin punya gue untuk diserahkan ke pak Mursit. Bukannya apa-apa, ya, gue cuman grogi dan gugup aja. Disamping itu juga gue khawatir telat ke ruang ekstrakurikuler menulis.



Enggak ada kesulitan bagi gue untuk nitipin kertas essay gue ke Jane. Gue pikir awalnya dia bakal nolak, ternyata gampang dan dengan senang hati dia mau gue titipin.



Kalau diliat-liat emang sebenernya si Jane tu orang baik, sih, cuman untuk orang yang pertama kali ketemu atau baru kenal, dia keliatan judes, mukanya enggak ramah atau susah dideketin. Tapi pas udah kenal, bakalan beda penilaian.



Gue terus berjalan santai menuju tujuan. saat ini gue udah sampai di depan deretan kelas 12, suasananya sepi. Gue yakin enggak nyasar karena gue udah pernah ke ruang ekstrakurikuler gamelan sebelumnya. Tapi, ketika gue melihat lurus ke depan, tepatnya ke arah bangunan yang terpisah dari deretan kelas 12, atau lebih tepatnya ruang ekstrakurikuler gamelan, di depan pintu masuk ruangan itu, ada seorang cewek lagi berdiri.



Gue berjalan mendekat ke arahnya sambil bertanya-tanya dalem kepala. Siapa dia?



Begitu sampai di depan pintu ruang ekstrakurikuler gamelan, dan otomatis juga di deket cewek tersebut, gue terdiam sambil menatap ke arah pintu kayu, pintu ruangan tersebut.



Gue curi-curi pandang ke arah cewek berambut panjang dan berponi itu. Kalau gue perhatiin, kulitnya putih sedikit pucat. Tingginya hampir sama kayak gue. Saat ini dia sibuk dengan hape-nya.



"Hai!"

__ADS_1



Gue mencoba menyapa tapi dia enggak ngasih respon sama sekali, tetep fokus sama hape-nya.



"Hai! lo ngapain berdiri disini?" Gue nyoba bertanya tentang hal yang pertama kali muncul di kepala gue. Tapi, dia tetep diem sambil utak-atik hape. Kayaknya dia emang sengaja nyuekin gue, deh.



Gue diem untuk beberapa saat, menatap ke arah pintu dan kemudian menatap ke cewek cuek yang ada di samping gue. 



Gue kemudian meraih gagang pintu. Mengarahkannya ke bawah untuk membuka pintunya tapi ternyata terkunci. Dan gue terus mencoba sampai beberapa kali, menimbulkan suara yang berisik.



"Pintunya di kunci."



Si cewek cuek itu beraksi, ngasih tahu gue kalau pintunya terkunci. 



Ketika gue ngeliat ke arah dia, tu cewek lagi ngelepas earphone yang nempel di kupingnya, yang dari tadi ketutupan rambut lurusnya yang lebat.



Saat itu juga gue tahu kenapa dia daritadi nyuekin gue. Ternyata dia pake earphone yang ketutupan rambut.




"Lo anggota baru yang mau gabung ekstrakurikuler menulis, ya?" Tanya si cewek cuek.



"Iya."



"Si Nat cerita kalo hari ini bakal ada cowok yang mau gabung dengan ekskul kita. Dan itu udah pasti lo."



"Hehe… iya."



Gue cuman bisa jawab gitu karena gue enggak tahu harus ngomong apa, soalnya apa yang dia omongin ke gue bener semua.



Gue mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. "Gue Riyan, dari kelas 11-A. Salam kenal."


__ADS_1


Si cewek pucet enggak menyambut jabat tangan dari gue. Lumayan kesel rasanya.



"Gue Evi, salken. Gue anggota ekskul menulis juga" Jawabnya dengan singkat.



Salken? unik juga namanya, gue.jarang nemui ada orang Indonesia dengan nama belakang salken.



"Evi salken??" Gue bertanya ulang untuk sekedar memastikan.



Si cewek pucat menatap gue dengan tatapan datar nan mengerikan. 



"Nama gue Evi, salken itu artinya salam kenal!" Jelas si muka pucet alias Evi dengan nada lumayan tinggi.



Evi segera menyumpal kedua telingannya menggunakan earphone lagi. Kayaknya dia agak kesel deh sama gue gara-gara gue ngira salken adalah nama belakangnya, ternyata salken adalah kependekan dari salam kenal.



Suasana menjadi hening dan kita berdiri berdiri bersebelahan. Evi sibuk sama hpnya,  gue pun demikian.



Gue  ngabarin Nat melalui WA kalau gue udah ada di depan ruang ekstrakurikuler gamelan sama seseorang bernama Evi. Dia nyuruh gue nunggu disini karena enggak lama lagi dia bakal dateng kesini. Dia 


menyarankan  gue untuk kenalan sama Evi, yang mana udah gue lakuin dan kayaknya tadi bukan perkenalan yang baik.


Nat lagi sibuk di kelasnya, dia lagi ngerjain tugas kelompok, itu yang dia bilang ke gue. Kunci ruang ekskulnya dia yang bawa, jadi gue dan Evi enggak bisa masuk ke dalem.



Mata gue arahkan  perlahan untuk ngelirik Evi yang ada di sebelah kanan gue.



Enggak tahu harus gimana. Gue udah terlanjur dapet kesan pertama yang aneh bagi Evi si muka pucet. Apakah kedepannya kita bisa saling akrab? Gue enggak begitu yakin, sih.



Kemaren pas di ruang musik Nat bilang kalau ekstrakurikuler menulis cuman punya tiga anggota termasuk dirinya. Jadi anggotanya tuh, Nat, si cowok kacamata yang gue lupa siapa namanya dan satu lagi Evi. Terus, kalau gue nanti resmi bergabung, gue akan jadi anggota keempat.



Semoga gue betah di kelompok ekstrakurikuler ini, dan mungkin aja gue bisa meningkatkan kemampuan menulis gue bareng mereka. Ngeliat cerpen yang ditulis Nat di mading tadi, sih, kayaknya dua orang sisanya juga punya kemampuan menulis yang bagus. Gue harus belajar dari mereka, biar gue enggak jadi penghambat bagi Adit dalam pembuatan komik kita nanti.



Gue dan Adit akan jadi penulis komik yang karyanya dapet serialisasi di majalah Aneka Komik. Ya, kita pasti bisa.


__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2