Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 40 : Kira-Kira Setahun Yang Lalu


__ADS_3

Setahun Lalu.



Minggu malem, gue duduk di sebuah tempat nongkrong di kota Merica. Langitnya gelap banget, waktu gue jalan menuju ke tempat nongkrong, rintik-rintik hujan udah mulai berjatuhan.


Di tengah kepadatan kota yang ramah, gue duduk di temani kopi hitam favorit gue yang baru aja di anter sama mas-mas penjaga tempat nongkrong, dengan sabar menunggu kehadiran pacar gue yang masih dalam perjalanan.


Rasa gelisah kadang juga dateng seiringan dengan awan yang makin lama makin gelap.


Beberapa menit berlalu, akhirnya orang yang gue tunggu dateng.


Dengan setelan gaun gamis model terusan berwarna merah jambu dan hijab dengan warna yang serasi membuatnya keliatan anggun.


"Maaf ya, tadi mampir ke pameran dulu, liat-liat gitu." Kata Olivia.


Gue cuma tersenyum tulus kemudian menyeruput kopi yang udah mulai anget.


Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai turun. Semakin lama-semakin deras, mengguyur malam di kota Blora.


Gue ngeliat ke arah jalanan yang mulai basah, dia pun demikian. "Yah... ujan." Katanya, kemudian menatap kearah gue sambil senyum. "Enggak apa-apa deh, biar pulangnya bisa di ulur-ulur." Katanya lagi.


Kita abis berantem, saling  ngambekan gitu, terus baikan lagi dan lebih deket kayak gini baru kemaren. Jadi, masih ada rasa saling nggak enak satu sama lain gitu. Olivia berusaha mencoba nyari topik yang pas untuk saling ngobrol, sementara gue menunggu pertanyaan-pertanyaan yang harus gue jawab. Awkward banget.


"Gimana tadi tugas sekolah kamu? Lancar?" Dia mencoba bertanya.


"Ya, agak susah gitu tadi, materinya susah di cari." Jawab gue.


Dari saling basa-basi, seiring berjalanya waktu, kita mulai ngobrol dengan santai satu sama lain. Saling cerita tentang sekolah masing-masing, update tentang hidup masing-masing, atau ngomongin buku, film sampai komik favorit kita. Semuanya berjalan seperti yang gue harapkan.


Ngomong-ngomong, waktu itu udah satu tahun lebih pacaran sama Olivia, gue lumayan bahagia. Walaupun dia sering banget ngambek tapi gue enggak pernah kesel dan nerima dia apa adanya.



Ada moment dimana kita saling diem, menikmati suasana di sekitar. Dia ngelamun ngeliatin hujan sambil menopang dagu.


Sementara gue sibuk maen HP, nge-check WA atau nulis status alay.


Ketika gue selesai, gue memandangi dia yang saat itu masih ngelamun ngeliatin ujan dari jendela. Saat itu juga gue ngeliat air mata mengalir perlahan dari matanya.


"Kenapa nangis?" Gue nanya secara sepontan, tanpa mikir. (Karena emang nggak punya pikiran)


"Pengen aja. Yang jelas bukan karena kamu kok, santai." Katanya sambil tersenyum manis.


Gue senyumin balik dan nggak mau nanya lebih tentang air matanya yang tiba-tiba mengalir itu. Mungkin ada masalah pribadi yang nggak bisa ceritain ke gue.


Selesai kencan, gue langsung pulang dan memilih untuk nginep di rumah nenek. Disana gue bertanya ke nenek tentang apa yang gue pikirkan. "Nek, kenapa sih, cewek gampang banget nangis?"


Nenek gue langsung menjawab. "Karena dia punya air mata"

__ADS_1


"Ya emang sih. Semua orang juga tau nek. Yang jadi masalah. Kadang, tiba-tiba nangis tanpa sebab gitu." Kata gue.


Nenek mengelus-elus pundak gue, kemudian bicara panjang lebar kali tinggi dibagi dua. "Karena wanita itu istimewa, diciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, terus bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang lagi tidur.


"Wanita punya kekuatan buat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, kadang juga berulangkali menerima caci maki dan emosi dari anaknya. Wanita punya keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.


"Wanita juga, punya kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, nggak pernah sambat.


"Wanita punya perasaan peka dan kasih sayang, buat anak-anaknya, dalam kondisi apapun, dan situasi apapun.


"Walau, kadang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan itu juga yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan tidur. Anak-anak itu pasti meresakan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.


"Wanita punya kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Bukanya, tulang rusukyang melindungi setiap hati dan jantung biar nggak terkoyak? Wanita juga punya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.


"Walau, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.


"Dan, akhirnya, Wanita punya air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang nenek maksud, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan. Jadi, jangan sekali-kali ngebantah perkataan Ibu mu ya!"



Setelah mendengar perkataan nenek, gue hanya bisa menatap datar ke arahnya. "Ngomong apa'an sih nek?" Tanya gue, kemudian segera tidur karena besok harus bangun pagi dan ngelanjutin rutinitas sekolah.



Dua tahun lalu, setelah gue bolos sekolah bareng Olivia, gue langsung jujur bilang ke orang rumah tentang hal itu. Langsung deh gue kena marah abis-abisan.




Misal gue dulu harus pindah kota, gue enggak bakal mau karena gue enggak bakal sanggup LDR-an sama Olivia, pacar gue.



Oh iya, ngomong-ngomong, soal penampilan Olivia yang berubah drastis dibandingkan dua tahun lalu itu ada sebabnya.



Itu karena gue iseng aja ngajak dia menikah setelah kita dah cukup umur ya mungkin lima atau tujuh taun dari sekarang.



Iya, beneran, gue ngajak dia nikah secara serius. Gue yakin dengan tujuan itu karena selama kita pacaran, kita enggak pernah berantem. Adem ayem aman sentosa. Kayak bisa bahagia terus gitu. Ya meski dia kadang badmood dan ngambekan, tapi gue enggak pernah ada masalah dengan itu, gue selalu intropeksi dan minta maaf, terus balik lagi seperti sedia kala hubungannya.



Sama sekali enggak pernah saling bentak atau apa, enggak pernah mementingkan ego masing-masing dan saling memaklumi, seperti itulah hubungan kita.


__ADS_1


Waktu itu, pas kita lagi jalan di taman sepulang sekolah, gue bilang ke dia. "Kita nikah aja yuk!"



Dia kaget waktu itu, tapi gue lanjutin bilang.



"Ya, gue serius, aku ngerasa, aku udah ngerasa bahagia sama lo, dan mungkin akan bisa begini selamanya. Jadi, nikah aja yuk!"



Ya, sesimpel itu gue ngajak nikah Olivia.


Awalnya, dia enggak percaya dan nganggep gue cuman bercanda aja. Tapi setelah gue meyakinkan puluhan kali, akhirnya dia nanya, "Kapan?"



Dan gue jawab, "Mungkin setelah gue kuliah atau jadi penulis. Jadi, kurang lebih sektar tujuh sampai delapan tahun lagi."



"Serius?" Tanya dia lagi waktu itu.



"Ya, serius banget."



"Oke deal."



Ya, cuman gitu. Kita waktu itu sepakat untuk menikah di masa depan. Bahagia bersama selamanya pada waktunya. Menikah untuk tidak bercerai.



Setelah sadar akan pernikahan di masa depan bareng gue, Olivia perlahan mulai memperbaiki diri. Beberapa bulan kemudian, dia mulai sempet mengenakan hijab dan berusaha istiqomah begitu, tapi beda dengan sekarang, Olivia enggak pake hijabnya lagi.



Dulu gue seneng karena ngerasa udah nemu jodoh di usia muda. Gue dan Olivia udah punya komitmen untuk ke pelaminan ketika waktunya tiba.  Waktu itu gue selalu berharap semoga kita bisa bertahan sampai hari pernikahan.



Ya, itu kan dulu. Lain dulu lain sekarang. Pada akhirnya kita malah putus dan dia udah sama yang lain, sementara gue masih berusaha untuk ngajak dia balikan.


__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2