
"Meong…" Anak kucing pungutan mengeong ketika berada di gendongan Olivia.
Adit terlihat menari di tengah ruang tamu, seakan dia baru aja nyampe di sebuah tempat wisata yang udah lama enggak dia kunjungi, padahal ini rumah gue. "Udah berapa puluh tahun, ya gue enggak kesini." Katanya. Padahal kita kenal juga belum sampai puluhan tahun dan seinget gue terakhir kali Adit kesini itu sekitar tiga hari yang lalu, ngembaliin flashdisk yang dia pinjem. Gue yang menutup pintu depan memasang wajah datar mendengar ucapan Adit yang terdengar lebay.
Setelah menutup pintu, gue berjalan menghampiri yang lain, berniat untuk bergabung. Dalem hati rasanya enggak enak banget kala gue ngeliat ke arah Rangga dan Olivia yang tampak saling mengobrol dan menatap mesrah duduk bersebelahan bersila di lantai, di samping meja.
Gue kemudian berjalan ke arah mereka yang tampaknya sudah siap untuk bersenang-senang malem ini. Sampai di dekat situ, gue memilih untuk duduk di ujung meja persegi panjang, seakan memimpin sebuah rapat dengan posisi, Bunga di sisi kanan gue, sementara Rangga dan Olivia di sisi kiri. Gue memperhatikan Bunga yang kini tampak sibuk berusaha membuka tutup es krim yang kayaknya emang susah buat di buka. Dalam diam, gue segera membantunya dengan mengambil kotak es krim berukuran medium itu dan ngebuka tutupnya. Yang bener aja, tutupnya emang susah di buka. Gue agak kesulitan ngebuka, sampe mengerahkan seluruh tenaga, emang susah sih.
"Susah, kan, yan." Ucap Bunga yang daritadi memperhatikan.
Tahu kalau gue kesusahan juga ngebuka tutup es krim-nya, Rangga tiba-tiba aja menawarkan bantuan. "Sini, biar gue aja!" Rangga ngomong dengan cara yang keren.
Dengan sedikit rasa malu, gue menyerahkan kotak es krim merk "Woles" itu dengan perlahan, agak nunduk. Secara ajaib, tutup es krim yang susah dibuka itu dapat ia lepas dengan mudah di tangan Rangga. Mata Bunga tampak berbinar-binar.
"Wih, langsung bisa." Bunga seneng. "Makasih ya, ngga."
"Sama-sama." Rangga tersenyum.
Waktu berlalu, kita ssmua menikmati kebersamaan di rumah gue. Di samping gue, Bunga keliatan lagi bereksperimen dengan Es krim yang dia masukin ke dalem teko sirup marjan warna merah. Gue udah bilang ke dia kalo itu rasanya nanti enggak enak, tapi dia enggak mau dengerin. Toh, dia juga keliatan menikmatinya. "Ini enak kok," katanya. Secara mengejutkan emang bener, pas gue coba, rasanya beneran enak.
Sementara gue dan Bunga asik minum sirup campur es krim, tiga orang sisanya yaitu Olivia, Adit dan Rangga sedang asik ngobrolin sesuatu yang kayaknya enggak penting-penting amat.
"Emangnya kenapa kalo aku tadi nerobos lampu merah, malem-malem enggak ada polisi, enggak akan kena tilang kok." Ucap Rangga setelah di omeli pacarnya karena pas OTW kesini tadi dia nerobos lampu merah.
Dengan wajah cemberut yang imut, Olivia membalas, "Sekarang tuh, pake kamera, udah enggak ada yang jagain jalan."
__ADS_1
"Hehe… gitu, ya." Rangga keliatan canggung, ngegaruk bagian belakang kepalanya.
"Lagian harusnya kamu tertib berkendara bukan takut di tilang aja, tapi untuk keselamatan diri juga."
Perfeksionis, mungkin itu adalah salah satu kata yang tepat untuk ngegambarin karakteristik Olivia, selain nona paling baik hati. Dia kadang teliti banget sama kesalahan orang lain, kayak tadi, pekara nerobos lampu merah aja dia tegas gitu ke Rangga, padahal menurut gue… atau mungkin juga yang lainya, nerbos lampu merah itu hal biasa, (asalkan enggak ketahuan sama polisi.)
Dia enggak cuma tegas ke orang lain aja, sih, ke diri dia sendiri juga. Dari dulu, pas kita masih pacaran, dia sering banget ngasih tahu gue nilai dia yang bagus-bagus, entah itu secara langsung maupun ketikan. Pas udah pindah ke SMA Brokoli akhir-akhir ini juga dia dengan secara mengejutkan menggeser posisi murid-murid pintar dan jadi salah satu murid kesayangan guru. Heran, bisa begitu ya? kenapa ada orang yang segan belajar lama-lama dan bisa dapet nilai bagus. Gue enggak bisa, tuh, menemukan kesenangan dalam kegiatan yang di sebut belajar.
"Hemm, kayaknya, lo orang yang sangat disiplin dalam hal apapun ya, Liv?" Tanya Adit pada Olivia.
"Bisa dibilang begitu. Aku ngerasa enggak nyaman kalau melanggar suatu aturan."
"Hufft…" Adit menghela nafas. "Bener-bener tipe 'anak baik-baik' lu ya." Adit terheran, kemudian mengambil cemilan di meja.
Setelah meneguk sirup yang udah dia campuri es krim, Bunga berkata, "pasti pas tengah malem, ketika lampu lalu lintas yang nyala merah, meskipun lo satu-satunya orang yang ada di situ, lo pasti akan tetap berhenti. iya, kan?"
"Gue sih lanjut jalan aja." Bunga membalas dengan cepat.
"Kalo Riyan gimana?" Olivia ngeliat ke arah gue yang lagi ngelamun dikit, dia nanya gitu.
"Apanya?" Tanya gue dengan wajah tanpa ekspresi.
"Pas tengah malem, kalo kamu sendirian di lampu lalu lintas, ketika lampu merahnya lagi nyala, kamu bakal berhenti, apa lanjut jalan?"
Kenapa dia malah nanya ke gue? Lagian kenapa kita malah ngobrolin hal kayak gini di malem tahun baru, sih? enggak ada topik lain apa? kayak, tentang harapan tahun depan atau sesuatu yang apa yang di dapet di tahun depan misal. Kalo ada yang ngebahas itu gue pasti semangat.
__ADS_1
Setelah gue menghela nafas karena bosen, gue menjawab pertanyaan Olivia tadi dengan, "gue adalah tipe orang yang males naik motor tengah malem, jadi mungkin enggak akan ngalamin momen kayak gitu."
Tiba-tiba pacar Olivia ketawa sedikit ngakak. "Haha…, jawaban yang bagus."
"Receh banget nih orang." Kata gue dalem hati.
Olivia keliatan cemberut dikit, nyesel nanya ke gue.
Kita larut dalam percakapan apapun, dan tentu aja enggak berbobot. Lama-lama, Gue, Bunga dan Adit jadi terbiasa dengan keberadaan Rangga yang notabenya adalah orang asing di antara kita, dia juga beda sekolah. Ternyata dia tipe orang yang mudah bergaul, cakap dalam komunikasi dengan siapa aja, pasti dia punya banyak temen, punya banyak kenalan. Sama kayak Olivia, meskipun dia pemalu, tapi mudah banget dapet kenalan. Pantes aja bisa jadian, salah satu sifat mereka sama.
Si anak kucing warna putih hasil gue mungut keliatan ketiduran di atas sofa.
Gue menatap jam dinding, udah hampir jam sembilan, tiga jam menuju pergantian tahun, enggak kerasa udah ngabisin waktu buat ngobrol-ngobrol. Cemilan di meja udah tinggal sedikit, bungkus kosongnya keliatan di depan masing-masing dari kita yang duduk lesehan mengitari meja panjang di ruang tamu rumah gue.
Kita sama sekali enggak ada agenda apapun selain makan cemilan dan nyalain petasan nanti. Gue tahu yang di dalem tas Adit itu petasan, tahun lalu juga gitu soalnya, bawa petasan di dalem tas.
"Wah, enggak kerasa udah jam segini, saatnya makan-makan." Bunga keliatan sumeringah sambil merogoh isi tasnya, hendak ngeluarin sesuatu.
Gue bingung.
"Oh, iya hampir lupa." Olivia juga merogoh tas ranselnya.
"Ah, udah waktunya ya?" Adit juga gitu, mau ngambil sesuatu dari tasnya.
Gue bingung. Entah apa yang mereka rencanakan.
__ADS_1
Bersambung…