Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 31 : Razor19


__ADS_3

Suasana di sekitar berasa sunyi, posisi gue sekarang lagi duduk di pinggiran kasur di kamar Adit dengan perasaan harap-harap cemas. Gue menatap lantai dengan sedikit melamun, mikirin ide-ide selanjutnya. Yang dapat gue denger hanya suara tombol keyboard laptop dan jarum jam dinding di dinding yang ada di depan gue.


Saat ini, Adit lagi baca naskah komik yang gue tulis, wajahnya keliatan serius banget, dia bener-bener baca itu dengan seksama. Gue harap, dia langsung setuju dan mau pakai naskah itu biar gue langsung bisa nerusin nulis lanjutannya.


Entah kenapa gue ngerasa puas banget nulis naskah yang satu ini, seakan ini adalah naskah terbaik yang pernah gue tulis. Tiga hari lebih dalam proses pengerjaannya juga bisa gue nikmatin sepenuhnya. Nyaman banget nulis naskah kali ini.


Adit masih menatap fokus ke layar monitor, sementara gue sibuk dengan hape, nulis ide-ide yang bermuculan di kepala. Sesekali gue liat-liat status WA temen-temen. Beberapa dari mereka pada pamer foto-foto tempat wisata yang sedang mereka kunjungi untuk mengisi waktu liburan. Ada juga yang nolep dan nulis status galau, tiap hari ngepost gambar gelap dengan quotes-quotes keren (menurut dia), tapi menurut sebagian orang, termasuk gue, status kayak gitu cringe banget.


Keterusan nge gulir status WA orang-orang, gue jadi enggak sengaja ngeliat status WA-nya Nadia. Dia ngepost foto dia yang lagi liburan sama keluarganya. Di foto yang dia posting itu menunjukan dirinya yang lagi makan di tempat terbuka bareng sekelompok orang yang kayaknya adalah keluarganya. Umumnya emang gitu, kebanyalan dari temen-temen emang pada ngabisin liburan semester dengan liburan ke tempat-tempat wisata atau bersantai. Beda dengan gue dan Adit yang malah sibuk ngerjain komik di masa liburan. Tapi enggak masalah, justru rasanya menyenangkan bisa bekerja keras menulis naskah di kala yang lain bersenang-senang.


Gue jadi kepikiran Nadia. Semenjak gue menolak pernyataan cinta dari dia satu bulan yang lalu… kita jadi lumayan jarang bertegur sapa. Padahal sebelum penolakan itu terjadi kita berdua lumayan akrab, dia sering banget ngobrol sama gue, dan sedikit cerewet. Bisa dibilang, sebelum ada Olivia, Nadia adalah orang yang mengisi daftar temen akrab gue selain Bunga dan Adit, tapi Nadia sekarang malah cuek banget ke gue, kayak beda orang.


Ya, gue emang belum minta maaf ke dia meski gue selalu kepikiran dan punya keinginan untuk minta maaf tapi entah kenapa gue enggak pernah bisa. Selain karena gue enggak enak hati, dia nya sendiri juga sering menghindari ngomong sama gue. Tiap kali ketemu entah itu pertemuan sengaja atau enggak, Nadia pasti mengelak. Bahkan kalau ada pembagian kelompok belajar dan tugas, kalau dia kebetulan satu kelompok sama gue, Nadia pasti selalu minta pindah kelompok. Sebegitu kecewanya kah dia sama gue? Bukan, bukan itu pertanyaan yang bener, yang bener itu, Sesakit itu kah menerima penolakan?


Mungkin bagi dia emang ngrasain patah hati yang sesakit itu, mungkin dia beneran suka gue, jatuh cinta ke gue sampai terlalu dalem. Gue bukannya GR dan sok ganteng, tapi ya apa lagi coba alesannya? Pasti waktu itu, dia udah berharap terlalu tinggi ke gue, dan biasanya seseorang yang berharap terlalu tinggi, akan jatuh terlalu sakit. Entar deh, gue bakal minta maaf, semoga ada kesempatannya.


"Bagus, gue suka cerita ini." Kata Adit, dia kemudian nutup laptop gue dan di berikan ke gue lagi laptop itu. "Pembukaan cerita yang menarik, identitas misterius karakter utamanya bikin penasaran, keren. Gue enggak sabar baca lanjutannya." Lanjut Adit.


Adit tiba-tiba ngomong gitu, memecah keheningan.


"Oke, nanti gue lanjutin."


"Daripada cerita-cerita lo yang gue temuin di flashdisk kemaren, yang ini paling bagus." Adit memuji.


Gue menghela nafas lega setelah mendengarnya.  "Bagus, deh, kalau lo suka."


"Nanti gue selesein desain karakternya, kalau udah selesai baru gue tunjukin ke lo, yan."

__ADS_1


"Oke deh." Kata gue.


Adit kemudian ngasih balik laptopnya ke gue sambil membuka topik obrolan baru.


"Ngomong-ngomong, lo baca daftar tiga besar pemenang lomba komik yang di adain sama majalah Aneka Komik nggk?" Tanya Adit.


"Iya, gue tahu tentang itu."     "Dan lo pasti juga tau kan yang juara ketiga.."


Gue terdiam sebentar sebelum menjawab, "Iya, dia pake nama pena Razor19, dan dia masih umur enam belas tahun, seumuran dengan kita."


"Jarang banget ada orang umur segitu bisa jadi juara tiga. Untuk kompetisi komik sebesar itu, jadi juara tiga aja udah luar biasa banget, pasti dia sangat bebakat."


Kesunyian menggantung di ruangan. Gue dan Adit mulai masuk ke pembahasan serius.


"Menurut lo gimana gambar dia?" Tanya gue.


Adit yang jago gambar aja sampe bilang gitu, apalagi gue yang awam. Tapi beneran, gambarnya bagus banget, style-nya manga banget. Pokoknya bagus, seakan mustahil kalau itu di gambar oleh remaja berumur 16 tahun. Meskipun bisa aja terjadi, sih,  tapi itu kemungkinan yang langka.


"Tapi, dia lemah di ceritanya. Gue bingung arahnya kemana. Genrenya masuk action, dialognya dikit, enggak jelas." Gue berpendapat.


"Iya, padahal yang peringkat di bawah dia pada bagus-bagus ceritanya, bahkan ada yang sampe gue baca berulang kali. Tapi, walopun cerita nya bagus, tetep aja kalah sama si razor19." Adit menyilangkan tangan, ia tampak seperti orang yang lagi mikirin sesuatu.


"Iya, seakan, Razor 19 berhasil juara tiga karena modal gambar bagus doang." Kata gue.


"Sependapat. Gue yakin yang lain juga terima aja kalau dia masuk tiga besar, dengan gambar sebagus itu, akan susah kalau mau di protes. Karena ini kompetisi komik, bisa dinilai dari dua hal, gambar dan cerita. Kalaupun ceritanya enggak jelas tapi gambarnya bagus, sah-sah aja kalo menang."


Kayaknya Adit mulai ngerasa kalau dia punya rival, jalan kita untuk jadi penulis komik itu tidak mudah kalau begitu.

__ADS_1


Toh, mungkin di luar sana ada orang lain yang seumuran kita juga punya mimpi yang sama, salah satunya Razor19, kita enggak bisa bersantai terlalu lama kalau emang mau serius ngejar mimpi jadi komikus nomor satu.     Gue enggak tahu apakah kita harus seneng atau gimana, punya saingan emang ngeselin, tapi juga menyenangkan, ngerasa tertantang. Adit nau mati-matian berlatih menggambar lebih bagus juga mungkin karena kemunculan Razor19 ini.


Ngomong-ngomong, gue jadi kepikiran sesuatu.


"Dit?"


Adit yang lagi masang wajah serius mengalihkan pandangannya ke gue, "Apa?" Ucapnya.


"Kira-kira Razor19 bakal ikut kompetisi yang sama kayak kita nggk?" Tanya gue dengan perasaan sedikit panik.


"Kemaren gue cek di website sih yang terdaftar ada 50an peserta, dan enggak ada nama pena Razor19 diantara 50 peserta itu."


Gue ngerasa lega dengernya     Eh, kemaren ya. "Hari ini, lo udah cek website lagi?" Tanya gue lagi.


"Belum sih," Adit ngambil HP nya di meja, kemudian memeriksa website resmi dari platfor komik online tersebut.


"Coba cek."


Ekspresi wajah Adit seketika langsung berubah jadi tegang setelah beberapa detik memeriksa HP.


"Ada, yan." Adit menatap gue sebelum melanjutkan. " Nama pena Razor19, dia juga ikut lomba ini. Disini tertulis kalau baru registrasi dua menit yang lalu."


"Baru banget berarti." Gue lemes.


"Iya, kayaknya dia sadar deh kita ghibahin."


Gue menjatuhkan tubuh gue ke kasur dan berkata, "Sial,  kita belum registrasi karena belum PD."

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2