
Apalagi gue baru aja bolos dari sekolah, kayaknya nggak bakal punya harapan untuk masa depan yang cerah.
Dapet pertanyaan "Kalo udah lulus mau ngapain?" Bikin gue sadar, hidup harus punya tujuan.
"Meskipun udah punya tujuan dan tahu gimana cara mewujudkanya, itu aja nggak cukup, liv. Gue masih belum yakin bakalan bisa jadi penulis." Kata gue.
"Selama kamu punya tekad yang kuat, sekeras apapun dinding yang harus kamu lewati pasti bisa kamu ancurin kok." Olivia tersenyum manis.
"Tekad yang bikin kita terus maju kedepan. Walaupun di tengah kesulitan, kesedihan dan kesusahan, selama masih punya tekad untuk meraih apa yang kamu inginkan, pasti bisa kok." Lanjutnya
Sambil jalan, gue nggak bisa berhenti memandangi Olivia. Bagaikan ngeliat bidadari yang turun dari langit dengan perlahan, gue terkagum-kagum.
Di mata gue, dia keliatan kayak punya sepasang sayap yang indah, turun perlahan dari atas langit dengan biasan cahaya putih bersinar diiringi nyanyian seriosa opening film Mr. Bean.
Gue ngeliat jam tangan, waktu mununjukan pukul 14:30, setengah tiga sore.
Kita udah muter kemana-kemana nyariin Sofi dan belum membuahkan hasil. Mulai dari nyari di lapangan, taman bermain, ke sekolahnya Sofi, ke salah satu rumah temenya Sofi tapi tak menemukan titik terang.
Olivia juga sempet neraktir gue makan bakso di pinggir jalan. Gue capek, padahal rencananya abis dari toko buku tadi mau langsung pulang dan mager-mageran di rumah.
Gara-gara bantuin Olivia, gue jadi punya hari yang panjang.
Karena udah lama banget nyari-nyari tapi nggak ada hasilnya, Olivia pun memutuskan untuk nelpon orang rumah.
Selesai menelpon, Olivia berkata. "Yan, ternyata dari tadi Sofi udah ada di rumah." Dia cengar-cengir ke arah gue. "Kalau aja tadi aku ngikutin saran kamu dan nelpon orang rumah lebih awal, mungkin kita nggak perlu nyari-nyari sampe sore. Bego' banget sih aku." Katanya.
"APA!?" Gue kaget. "Lo gila ya?" Gue agak nggak percaya.
"Rumah aku nggak terlalu jauh dari toko buku tadi, mungkin Sofi pulang sendiri. Sorry ya, ngerepotin. aku enggak tau, yan." Olivia masang muka melas.
"Yaudah deh, gue pulang aja, capek banget." Tanpa basa-basi, gue langsung pamit, ninggalin Olivia gitu aja.
__ADS_1
Saat itu jujur aja gue ngerasa sedikit emosi. Gimana nggak kesel, waktu emas gue untuk bermalas-malasan ria kebuang percuma gitu aja. Dia pikir jalan kaki muter-muter setengah kota nggak capek apa.
Begitu ada angkot berhenti, gue langsung naik, nggak terlalu peduli sama Olivia. Sepanjang perjalanan pulang, perasaan kesel masih ada di hati gue.
Malem harinya, sekitar pukul sebelas, di dalem kamar yang tenang, gue ngelamun sambil menatap langit-langit kamar yang tampak usang. Maklum, dari gue kecil sampe remaja, rumah nenek gue jarang di renovasi.
Malam itu, gue nggak bisa tidur, tiap kali mencoba untuk tidur biar besok nggak telat bolos sekolah, gue ngerasa resah. Senyum manis Olivia tiba-tiba muncul di dalem kepala tiap kali gue memejamkan mata. Aneh.
Di atas kasur gue nggak bisa tenang, kadang gue tiduran miring ngadep ke kiri, miring ngadep ke kanan, guling-guling kayak cacing besar Alaska. Kadang juga kayang dan sikap lilin.
Pikiran gue gelisah mikirin Olivia, tapi nggak tahu kenapa rasanya nyaman aja tiap kali ngebayangin dia yang lagi senyum. Gue bener-bener ngerasa aneh.
Bangkit dari tidur, gue duduk bersandar pada dinding yang mepet sama ranjang. Kemudian nyalain musik klasik dari HP, judulnya ,lagunya Air Supply. Karena lagunya lembut dan merdu banget, otak gue jadi ngerasa rileks sehingga terpicu untuk menciptakan imajinasi yang tampak cukup nyata, kayak jurus ilusi di komik Naruto.
Khayalan yang muncul di otak gue sepenuhnya tentang Olivia.
Gue berimajinasi menjadi seorang superhero yang harus bertarung mati-matian agar bisa menyelamatkan Olivia dari monster jahat.
Kadang juga gue berimajinasi menjadi seorang pemain basket yang populer di sekolah dan berhasil menarik perhatian cewek-cewek, terutama Olivia. Gue juga berimajinasi seakan-akan gue bisa jadian sama Olivia di kemudian hari.
Makin malem, gue makin gelisah. Nggak tahu kenapa gue tiba-tiba mikirin saat-saat diamana gue ngabisin waktu bareng Olivia.
Nyari-nyari adeknya yang ilang, ketawa bareng sambil minum es jeruk, berjalan dibawah pepohonan yang rindang, ngobrol-ngobrol tentang masa depan, semuanya begitu menyenangkan untuk di ingat.
Ya, walaupun akhirnya gue agak sedikit kecewa karena kebodohanya dia, tapi gue mulai bisa mengesampingkan hal itu. Gue nggak bisa berhenti mikirin Olivia, berharap bisa ketemu dia malam itu juga walau sedetik.
Gue kangen dia.
Tiba-tiba HP bergetar, membuat alunan lagunya berhenti untuk beberapa detik. Gue yang lagi terhanyut mikirin Olivia pun terseret ke dunia nyata lagi. Ketika gue liat, ternyata itu SMS dari nomer nggak dikenal, cuman nomer aja, nggak ada namanya.
__ADS_1
Isi pesanya "Heh?" doang. Kemudian gue bales pesannya dengan "?" aja. Gue nggak begitu suka ngeladenin orang yang nggak gue kenal, jadi gue nggak mau tahu lebih banyak tentang pengguna nomer tak dikenal itu.
Nggak lama kemudian, dia nelpon. Gue menunggu dengan sabar sampe nada dering di HP gue berhenti, bener-bener nggak mau ngangkat karena gue nggak tahu dia siapa.
Setelah HP berhenti berdering, beberapa saat kemudian dia ngirim WA lagi, isinya "ANGKAT'!!" dan dia nelpon lagi. Dengan satu tarikan nafas gue mengangkat telpon.
"Halo... Siapa ya?" Gue bertanya pada seseorang di sambungan telpon.
Dia nanya balik dengan nada suara yang tinggi. "Aku Olivia, yan!!" Jawabnya.
Olivia? Seketika jantung gue langsung berdetak lebih cepat dari biasanya, bibir gue langsung tersenyum. Hati gue berasa nyaman, nggak gelisah kayak tadi.
"Emang sejak kapan kita tukeran nomer sih?" Gue sedikit bingung.
Seinget gue ketika kita ngabisin waktu bareng, kita nggak pernah sama sekali tukeran nomer telpon.
"Ya ampun. Bukanya pas acara MOS senior nyuruh kita buat nyimpen nomer masing-masing anggota ya?" Olivia yang ada di seberang sana terdengar menghela nafas. "Kamu nggak save nomer aku, ya?"
"Enggak." Gue menjawab singkat.
"Dingin banget sih jadi orang." Dia agak ngambek.
Dulu gue jarang banget saling balas-membalas pesan lewat WA kayak anak remaja lain. Alesanya sederhana, karena gue nggak punya banyak temen. Di HP hanya ada sekitar 7 nomer teman yang gue simpen. Rasanya dulu gue males banget ngurusin orang lain, gue cuma nyaman sama temen-temen lama.
Kalo nggak lagi ngapa-ngapain, dulu gue lebih sering dengerin musik sambil baca novel atau nulis diary ketimbang main HP.
"Yan, maaf ya soal tadi siang. Kamu udah nggak marah kan?" Kata Olivia.
"Nggak marah kok. Nggak perlu minta maaf kali, lo kan nggak tahu juga kalo adek lo ternyata udah ada di rumah. Santai aja." Balas gue.
"Aku boleh jujur nggak, yan?"
__ADS_1
"Soal apa?" Gue menelan ludah.
Bersambung ...