
Gue mempercepat sedikit langkah kaki supaya tidak ketinggalan barisan. Gue sekarang udah berada di bagian paling belakang dari barisan kelompok anak Cewek di kelas gue.
Kalau gue jalan terlalu santai, bisa-bisa nanti tertinggal lagi dan malah tercampur dengan kelas 11-B. Maka dari itu gue berusaha menyeimbangkan kecepatan jalannya dengan teman-teman kelas 11-A yang lain.
Kini barisan peserta lari maraton yang terdiri dari hampir semua siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 udah sampai di area taman. Menurut jalur yang sudah di tentukan oleh panitia, setelah melewati taman, kita semua akan diarahkan oleh orang - orang dari anggota OSIS yang di tugaskan di beberapa titik jalur.
Sebuah mobil truck pengangkut pasir melintas di dekat barisan, anak-anak yang semula berlari semaunya, segera merapat ke barisan untuk menepi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Barisan yang tadi sempat berantakan kini tertib lagi. Karena sudah memasuki area taman kota, jalannya jadi semakin ramai.
Di bandingkan area di sekitar sekolah tadi, di sini lebih banyak kendaraan besar yang melintas. Mereka sudah tiba di area pusat kota, dimana aktifitas pekerja labih padat.
Banyak kendaraan umum yang melintas, beberapa pekerja yang memakai helm proyek berwarna kuning pekerja yang memakai helm proyek berwarna kuning juga terlihat berjalan menuju tempat kerja mereka atau mungkin mereka pergi ke tempat makan karena ini sudah jam istirahat.
Tak ada banyak orang yang terlihat di taman di dekat situ,hanya ada tiga orang dewasa saja disana, duduk di bangku sambil bersua foto ria.
Taman kota terlihat cukup asri di pandang mata, ada banyak bunga dengan berbagai macam warna yang mengelilingi bagian tepi taman. Di tengahnya, di tanami rumput hias serta beberapa pohon berukuran lumayan besar tumbuh di antara rerumputan.
Di hari libur biasanya akan ada orang yang piknik di bawah naungan pohon-pohon itu.
Gue juga sering bersantai di situ bersama teman-temannya jika sedang luang. Selain itu, kalau gue sedang banyak pikiran, entah itu karena tugas sekolah atau karena hal yang lain, biasanya gue akan tiduran di bawah pohon yang rindang di taman itu sendirian, memejamkan mata menikmati suasana yang tenang. Kadang juga, dia datang bersama Bunga untuk sekedar main-main.
Berjarak beberapa meter dari taman, ada sebuah sumur dekat masjid, dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan dari kelas 10 ada yang penasaran dengan sumur itu. Mereka berempat pergi meninggalkan barisan untuk menengok ke dalam sumur tersebut sebentar.
"Katanya, dulu pernah ada orang yang bunuh diri disini lho!" Ucap salah satu anak perempuan dari kelas 10 saat menengok ke dalam sumur.
Ketiga temannya kemudian ikut-ikutan menengok ke dalam sumur misterius itu.
"lya, aku juga pernah denger gosip itu dari kakak kelas." Sahut seorang anak laki-laki diantara mereka berempat.
"Dia bunuh diri kenapa?" Tanya salah satu anak perempuan yang lain.
Teman yang ada di sebelahnya menggelengkan kepala, sambil melihat ke dalam sumur yang gelap itu "Enggak tahu, mungkin gantung diri." Lanjutnya, menjawab asal.
"Rumornya sih dia gagal lulus ujian nasional, trus sengaja lompat ke dalem sumur karena malu dan stress!" Ucap salah satu anak laki-laki diantara mereka.
"Jadii, dia masih anak SMA?!!" Ketiga temannya bertanya secara bersamaan, hampir enggak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Ya, begitu lah rumor yang aku denger." Kata anak yang tadi, sambil mengangkat kedua bahunya.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki berseragam OSIS meniup sebuah peluit dari atas sepedanya.. Dia adalah pengawas kegiatan lari maraton dari anggota OSIS yang sedang bertugas. Sama seperti Rehan yang tadi sudah melintas.
Sepertinya semua pengawas kegiatan ini di haruskan untuk naik sepeda agar bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih baik.
Tugas mereka adalah mencatat peserta yang sekiranya melakukan pelanggaran, atau melakukan laporan kepada pihak sekolah jika mungkin ada siswa yang sakit atau mengalami kecelakaan di tengah-tengah kegiatan lari marton.
"Hey!!! Kalian berempat!!" Teriak si pengawas pada keempat siswa kelas 10 yang ada di dekat sumur sebelah masjid.
Keempat anak itu kemudian memandang kearah siswa berseragam OSIS itu.
"Lagi ngapain disitu? Cepet balik ke barisan kalian!!" Perintah si pengawas berseragam OSIS, ia sok-sok an menggertak.
__ADS_1
Keempat siswa-siswi dari kelas 10 itu kemudian pergi meninggalkan sumur yang membuat mereka penasaran dan kembali ke barisan mereka sesuai dengan perintah si pengawas.
Sementara itu, di belakang, tepatnya di barisan kelompok perempuan kelas 11-A, gue sudah mulai berlari santai. Tapi mungkin belum bisa di sebut lari, karena langkah kaki gue tidak terlalu lebar meskipun gerakannya seperti orang yang lebar meskipun gerakannya seperti orang yang sedang berlari. Gue enggak punya keinginan untuk lari lebih cepat lagi agar bisa sampai ke barisan anak laki-laki, dia terlalu malas untuk melakukan itu, apalagi mataharinya sudah naik lebih tinggi dari sebelumnya, hawa panasnya makin terasa.
Suara belalang dan kicauan burung saling bersahutan merdu, mengiringi siswa-siswi yang sedang berlari dengan santai. Sebenarnya, gue iri pada Bunga yang beruntung bisa mendapatkan tumpangan gratis dari pacarnya. Disaat yang lain harus berlari dengan jarak yang cukup jauh, Bunga malah bisa dengan santainya menikmati pemandangan sekitar sembari duduk di boncengan sepeda pacarnya, sungguh beruntung. Kalau misal ada orang yang dengan suka rela menawarkan tumpangan gratis kepada gue, gue bakal sangat senang.
Sambil berlari ditengah barisan anak-anak perempuan di kelas gue, gue berharap akan ada seseorang, entah siapapun itu yang mau menawarkan tumpangan kepadanya.
Meskipun pergelangan kaki gue kini sudah tidak nyeri lagi, setidaknya jika ada yang memberi tumpangan gratis, gue bisa menghemat tenaga dan tidak kelelahan.
Saat ini saja gue rasanya sudah mau pingsan, badannya lelah, tenggorokannya kering.
kring...kring.kring...
Terdengar suara lonceng sepeda dari arah sebelah kiri jalan. Suara lonceng sepeda itu terdengar berulang kali, dan semakin lama suaranya semakin jelas, seakan suara itu mendekat ke arah gue atau hanya sekedar terbawa angin.
kring...kring..kring...
Suara lonceng sepeda itu kini terdengar lebih kencang dari sebelumnya.
Awalnya gue tidak begitu peduli dengan suara lonceng sepeda yang cukup mengganggu tersebut, gue mengira kalau suara lonceng sepeda itu berasal dari orang yang kebetulan sedang lewat di jalan raya di sebelah kiri barisan.
Namun, akhirnya gue memberikan perhatiannya pada suara lonceng setelah si pemilik sepeda memanggil nama gue.
"Riyan!"
Gue pun menoleh ke arah sumber suara karena merasa terpanggil.
"Eh lo, vi, kirain siapa" Kata gue sambil tersenyum.
Mengenakan seragam 0SIS lengkap dengan sangat rapi, Evi tampak anggun di pandang mata.
Dia juga sangat wangi. Bahkan semerbak wanginya dapat tercium oleh gue yang sedang berlari santai di tengah-tengah barisan kelompok anak cewek kelas 11-A, padahal jarak antara Evi yang sedang bersepeda dengan gue yang sedang berlari santai, itu sekitar dua meter lebih.
Tak hanya gue aja yang terpaku melihat Evi, teman-teman sekelas pun terkagum-kagum melihat sosok anggun yang sedang bersepeda di samping kiri barisan mereka.
Hampir setiap pasang mata di barisan itu tertuju pada Evi, padahal mereka semua perempuan. Evi memang kharismatik.
"Lo kok ada di barisan cewek sih, yan?" Tanya Evi, sambil tertawa lemah. Dia berusaha menyeimbangkan laju sepedanya dengan tempo lari di barisan tersebut.
"Hehe... lya nih, tadi kaki gue sempet kram. Jadi gue tadi jalan untuk beberapa lama. Karena jalan terlalu santai, akhirnya gue jadi ketinggalan barisan..." Gue berhenti bicara sejenak untuk mengatur nafas. "Dan, disini lah gue berada, lari maraton di barisan cewek-cewek." Pungkas gue.
"Haha.." Evi tertawa, karena menurutnya gue lumayan lucu. "Ada-ada aja... Baju lo juga beda sendiri, pasti lo lupa bawa seragam olahraga ya?" Katanya lagi.
"Ya, begitulah"
Seharusnya, Evi saat ini juga ikut latihan ujian sama seperti anak kelas 12 yang lainnya. Tapi karena dia juga salah satu anggota OSIS, dan selesai latihan UAS kemaren maka dia bisa bantu-bantu OSIS mengawasi jalannya kegiatan lari maraton bersama dengan anggota 0SIS yang lain. Itu tadi sempet kita bahas di grup whatsApps ekskul menulis.
Di saku Evi terlihat sebuah buku catatan kecil, serta sebuah kertas yang terlipat. Kertas dan buku catatan itu mungkin berisi daftar nama peserta lari marathon yang sedang ia awasi.
Kalau dilihat-lihat, dari tadi ada beberapa pengawas dari anggota OSIS yang mondar-mandir mengawasi para peserta, mungkin setiap dari mereka masing-masing di tugaskan untuk mengawasi satu sampai dua kelompok barisan. Mulai dari kelas 10 A-E dan kelas 11 A-E masing-masing barisan di beri satu pengawas dari anggota OSIS.
__ADS_1
"Ini masih jauh enggak, vi, jaraknya?" gue yang sudah bosan berlari bertanya demikian.
"Masih, ini nanti kan ada belokan ke areacpersawahan. Nah nanti muter lewat situ..." Evi berbicara sambil menyeimbangkan laju sepedanya. "
Kenapa? Lo udah capek ya?"
“Banget." kata gue.
"Lo mau enggak gue boncengin?" Evi menghentikan kayuhan pedalnya.
Pertanyaan yang keluar dari mulut Evi itu langsung membuat gue berhenti melangkah.
Gue memandangi tempat boncengan yang berada tepat di belakang sadel. Gue sedang membayangkan apa yang akan terjadi jika dia menerima tawaran Evi.
Jika gue duduk di tempat boncengan sepeda itu, pasti sepanjang perjalanan dia akan merasa canggung. gue malu jika harus duduk di belakang Evi.
Lalu, gue mencoba membayangkan kalau dia yang berada di depan, memegang kendali sepeda, dan Evi yang duduk di tempat boncengan itu. Karena Evi saat ini memakai rok OSIS, pasti dia akan menghadap samping ketika duduk di tempat boncengan, jika ia memaksa menghadap ke depan, pasti rok yang dia pakai akan robek.
Kalau Evi membonceng menghadap samping, dia akan sedikit kesulitan menjaga keseimbangan dan akan jatuh saat gue menggowes sepedanya terlalu kencang, mau tidak mau, pasti Evi akan merangkul pinggang gue untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.
Gue menyetir sepeda kumbang dan Evi duduk di belakang sambil melingkarkan kedua duduk di belakang sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang gue... baru membayangkannya saja sudah membuat gue malu, pipi sedikit memerah.
"Enggak usah vi, gue masih kuat jalan kok."
Gue dengan terpaksa menolak tawaran Evi.
"Katanya tadi capek?" Kata Evi.
Gue masih berdiri di tengah barisan, membiarkan siswa-siswi yang lain melewatinya.
"lya sih.." gue menggaruk-garuk rambut.
"Yaudah, ayuk gue boncengin." Evi melirik tempat boncengan di sepedanya.
"Enggak usah, enggak papa vi." Gue masih menolak.
"Lo malu ya di boncengin anak cewek?" Evi tersenyum, seakan mengejek.
"Eng... enggak kok, biasa aja.."
"Kalo lo malu, lo yang nyetir, gue yang ngebonceng di belakang, gimana?" Tawar Evi lagi.
Justru itu yang gue hindari, tapi Evi malah menawarkannya.
"Gue hargai, niat baik lo, tapi enggak usah vi, beneran." Gue tersenyum saat menjawab.
"Yaudah kalo enggak mau..." Evi mengangkat bahunya, pasrah. "Semangat ya,... perjalanan masih jauh hehe... gue duluan ya."
Setelah mengatakan itu, dia melaju dengan sepedanya ke arah depan mengikuti jalur di tepi barisan. gue terdiam sejenak. gue pikir, menolak tawaran Evi adalah pilihan yang tepat.
Memang, gue tadi sempat berharap akan ada yang menawarinya tumpangan gratis, tapi kalau yang menawarkan tumpangan adalah Evi yang sangat berkharisma, maka akan lebih baik jika gue menolaknya saja, canggung.
__ADS_1
Tapi kalau boleh jujur, gue haus banget nih.
Bersambung...