
Dibawah sinar matahari pagi yang menyehatkan, hampir seluruh siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 berlari dengan santai di tepi jalan raya utama. Dengan mengenakan seragam olahraga sekolah yang sudah di basahi keringat, mereka berlari sambil meniikmati pemandangan yang ada di sekeliling dan saling mengobrol.
Hari ini sekolah sedang mengadakan acara olahraga kecil-kecilan untuk mengisi waktu senggang. Kebetulan para guru hari ini banyak yang enggak bisa mengajar di kelas-kelas karena lagi ada rapat besar-besaran di sekolah.
Sebagai gantinya, kepala sekolah memutuskan untuk mengadakan acara lari marathon, yang dikuti oleh kelas 10 dan kelas 11. Sedangkan untuk kelas 12, mereka masih sibuk dengan latihan ujian (try out), jadi mereka enggak diikutsertakan dalam acara.
Pengumuman tentang acara olahraga kecil-kecilan ini udah di beritahukan kemarin sore. Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, seorang dari anggota 0SIS menyampaikan pengumuman tersebut melalui toak yang biasa di gunakan untuk menyampaikan informasi penting di sekolah.
"Pengumuman. Pengumuman. Di beritahukan kepada seluruh siswa kelas 10 dan kelas 11, besok akan ada rapat guru dan sebagian besar dari mereka mungkin tidak bisa hadir di kelas-kelas untuk mengajar, oleh sebab itu, sebagai gantinya, sekolah akan mengadakan kegiatan olahraga kecil-kecilan. Sekolah akan mengadakan acara lari marathon mengelilingi area sekitar sekolah. Diharapkan siswa-siswi yang tidak berhalangan atau tidak sedang sakit di wajibkan untuk ikut karena akan berpengaruh pada nilai penjaskes kalian. Jangan lupa untuk bawa seragam olahraga kalian ya!! Sekian"
Kira-kira begitu isi pengumumannya.
Ada sekitar seratusan lebih siswa yang mengikuti kegiatan lari marathon ini, mereka membentuk barisan yan berantakan di tepi jalan raya.
Kelompok anak laki-laki berbaris di bagian paling depan, sementara yang perempuan berbaris di belakang. Urutan barisannya juga di tentukan sesuai dengan kelas dan huruf abjad kelasnya. Mulai dari depan ke belakang, barisannya berurutan dari kelas 10-A sampai kelas 11E.
Dari ratusan siswa-siswi yang berlari itu diantara mereka pasti ada yang mengikutinya dengan berat hati, malas karena tidak suka olahraga, namun ada juga yang berlari dengan penuh semangat yang berapi-api.
Disaat semua siswa-siswi berlari santai dengan irama langkah kaki yang hampir sama, gue malah berjalan kaki karena udah merasa cukup kelelahan.
Diantara gerombolan siswa-siswi yang lain, gue terlihat tampil beda. Semua orang yang mengikuti lari marathon hari ini memakai seragam olahraga sekolah yang berwarna hijau, namun tidak dengan gue, hari ini gur malah memakai baju kaos warna hitam yang biasa gue pakai di rumah, gue padukan dengan celana sepak bola berwarna putih polos merk Nike. Ibu gue lupa mencuci seragam olahraga sekolah milik gue, jadi terpaksa memakai baju biasa.
Karena tidak mengikuti aturan, gue jadi kena hukuman push up dua puluh kali sebelum acara lari marathonnya di mulai.
Gue yang berjalan santai perlahan di susul oleh peserta yang ada di belakangnya. Enggak begitu peduli dengan hal itu,lagipula ini bukanlah sebuah perlombaan untuk mencari pemenang, ini hanya kegiatan olahraga biasa yang diadakan sekolah untuk mengisi waktu kosong di hari biasa, selama enggak ada pengawas kegiatan di sekitar, gue akan terus berjalan dengan santai hingga tiba di garis finish.
Jalan raya di samping kanan barisan siswa-siswi yang sedang berlari tampak ramai oleh kendaraan yang lewat, sementara di sisi kiri mereka berjajar toko-toko dan rumah orang-orang yang tinggal di sekitar situ.
Beberapa orang yang sedang bersantai di teras rumah kadang menyapa para siswa-siswi yang lewat di hadapan mereka, beberapa juga menyempatkan diri untuk bertanya tentang kegiatan lari marathon itu.
"Lagi ada acara apa nih? Kok tumben olahraga rame banget?" Tanya seseorang yang sedang menyapu di halaman rumahnya.
"Enggak ada acara apa-apa kok..."
"Cuman lari maraton biasa aja, gurunya lagi rapat"
Jawab dua orang siswa secara bergantian.
Beberapa warga yang tinggal di tepi jalan raya itu ada yang antusias menyaksikan barisan ratusan siswa-siswi SMA Brokoli yang sedang lari maraton, ada juga yang biasa saja.
Mereka yang antusias, sebagian merekam dengan handphone untuk dijadikan status di WhatApps atau di posting di sosial media lainnya, yang jelas, melihat ratusan siswa SMA yang sedang lari adalah salah satu hal yang menarik bagi mereka.
Bisa dibilang, kegiatan lari maraton ini hampir mirip seperti parade hari kemerdekaan, tapi seluruh pesertanya hanya memakai kostum seragam olahraga sekolah.
Melihat ke depan, mata gue dapat menangkap jelas sebuah tanjakan jalan beraspal yang berjarak sekitar seratus meter dari tempat gue berjalan. Baru melihatnya aja udah bikin gue kelelahan, gue menyesal pagi ini berangkat sekolah.
Inginya sih, saat masih di rumah tadi gue pura-pura sakit biar gue bisa bolos sekolah, tapi gue sudah tahu kalau ibu tidak akan percaya begitu saja. Jadi, kalaupun gue berpura-pura sakit, itu bakal sia-sia karena akan langsung ketahuan, ujung-ujungnya dia pasti akan disuruh berangkat ke sekolah.
Gue merasakan rasa nyeri di bagian pergelangan kakinya, otot-ototnya juga kram karena tadi gue malas melakukan pemanasan sebelum mulai berlari. Padahal sekolah sempat mengadakan pemanasan bersama di lapangan, tapi gue malah pergi ke kantin dan langsung ikut barisan kelasnya saat barisan itu berlari melewati gerbang sekolah.
Langkah gue semakin pelan ketika gue menaiki tanjakan yang tadi gue liat dari jauh.
Tak lama kemudian seorang cewek melewati gue sambil berlari, kemudian di susul dengan gerombolan anak cewek yang lain. Gue bingung saat dilewati oleh gerombolan anak cewek secara beruntun.
Karena terlalu santai saat berjalan, gue akhirnya ketinggalan barisan kelompok anak laki-laki, gue malah kini berada di barisan anak perempuan kelas 11-A.
"Riyan, lari! Kamu udah ketinggalan barisan anak cowok lho!" Kata seorang anak cewek yang mengenakan hijab, dia sambil berlari dengan semangat.
"Enggak bisa lari, kaki gue kram, tadi lupa enggak ikut pemanasan." Jawab gue.
"Oh, yaudah. Kamu ada di barisan cewek-cewek Iho, kamu cowok sendiri" kata anak perempuan berhijab itu lagi.
__ADS_1
"..." gue terdiam mendengar perkataan itu.
Gue mulai merasa berada dalam situasi yang lumayan memalukan.
Tiba-tiba Bunga ikut masuk dalam pembicaraan gue dan anak perempuan berhijab itu.
"Sukurin, yang lain pada pemanasan, lo malah enak-enakan makan di kantin. Kram kan lo jadinya, sukurin" Kata Bunga yang saat ini sedang berlari di belakang gue.
"Berisik." Kata gue
Gue bisa bernafas agak lega setelah tiba di bagian atas tanjakan jalan beraspal. Bunga sedikit mempercepat larinya, dan berjalan bersama gue.
Bunga keliatan sangat berkeringat, jika di bandingkan dengan peserta lari maraton yang lain, mungkin dia adalah yang paling berkeringat dan paling kelelahan. Bunga meletakan lengan sebelah kananya di salah satu pundak gue.
"Hufftt...Huff... Capek!" Ucap Bunga yang kelelahan.
Gue memandangi sahabat baru gue itu dengan ekspresi datar. Kening Bunga yang di basahi keringat tampak mengkilap saat terkena sinar matahari, beberapa helai rambutnya menempel di keningnya yang basah.
"Lo kenapa bisa keringetan sebanyak itu sih? Baru juga mulai." Tanya gue
Bunga enggak menjawab, ia masih terengah-engah mencoba mengatur nafas. Setelah nafasnya stabil lagi, dia baru menjawab "Gue lari terlalu cepat." la berhenti bicara untuk mengatur nafas lagi. "Gue lagi balapan sama Lidya, yang kalah harus traktir di kantin, gue sama Lidya udah lari kenceng dari depan gerbang sekolah. Gue udah sampe sini, dia udah enggak keliatan. Dia pasti tepar, dan gue pemenangnya."
Gue heran dengan Bunga, bisa-bisanya dia malah balapan lari disaat matahari sedang terik begini. Udaranya juga sangat panas, pasti akan sangat menyiksa diri jika harus berlari sekuat tenaga.
Berlari santai aja udah cukup melelahkan, apalagi berlari cepat.
"Tenggorokan gue kering banget!! Pengen minum, mana warung masih jauh lagi." Bunga menggerutu kepada gue sambil memegangi tenggorokannya.
"Sukurin, orang-orang pada lari santai, lo malah lomba lari, sukurin." Kata gue, seolah sedang membalas ejekan Bunga yang tadi.
Bunga terdiam, menyadari kebodohannya.
"Coba lo liat sekeliling lo, yang keringetnya banyak cuman lo doang," gue sambil melihat ke sekeliling.
Sekarang giliran gue yang terdiam.
"ldih, enggak punya malu, cowok tu harusnya di barisan depan." Lanjut Bunga.
Gue lalu menjitak pelan kepala Bunga sekali dan Bunga pun membalasnya dengan menjitak kepala gue, tapi ia melakukannya dua kali.
Kemudian kita berdua lanjut berdebat serta saling ejek sambil berjalan menuruni tanjakan.
Setelah melewati jalan yang menanjak, gue merasa sangat lega. Bagaimanapun juga, hal yang bagi gue sangat merepotkan telah berhasil gue lewati.
Bunga terlihat berlari pelan mendahului gue, namun dia berhenti karena kehabisan tenaga. la kembali merangkul gue ketika tiba di dekatnya
"Capek gue, enggak kuat lari, lagi, Nyesel gue balap lari sama Lidya" Sesal Bunga.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ban sepeda yang bergesekan dengan aspal. Suaranya makin terdengar jelas, lalu di susul dengan suara rantai sepeda dari sebelah kiri barisan.
"Sayang!?" Kata seseorang dari sebelah kiri barisan.
Bunga dan gue, serta beberapa siswa-siswi yang ada di sekitar situ pun langsung menoleh ke arah sumber suara karena penasaran dengan sosok pemilik suara itu.
Ketika menoleh ke arah sumber suara Bunga langsung tersenyum sumringah, ternyata orang itu adalah Rehan, pacar Bunga yang saat ini terlihat berseragam OSIS dan menunggangi sepeda gunung dengan penuh gaya.
"Eh, ternyata kamu..." ucap Bunga malu-malu.
Melihat pemandangan yang sedikit romantis itu, membuat beberapa peserta lari maraton di barisan dekat situ merasa iri, sisanya dengan kompak berkata "Ciieee-.. “Hampir secara bersamaan.
Hal itu membuat Bunga makin malu-malu, pipinya seakan me merah. Suasana di sekitar situ cukup riuh untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Mampus, malu kan lo sekarang hehe.." Bisik gue kepada Bunga, merasa puas.
"Apaan sih..."
Rehan mengayuh sepeda gunungnya secara perlahan, menyesuaikan tempo langkah kaki Bunga dan gue. Terlihat sebuah buku catatan kecil di saku baju OSIS-nya, mungkin buku kecil itu berisi catatan nama orang yang curang dalam lomba lari ini beserta kelasnya.
"Kamu enggak try out apa? Kok tiba-tiba disini?" Tanya Bunga pada Rehan.
"Jadwalku besok..." Rehan bicara sambil mengayuh pelan sepedanya "Harusnya aku hari ini libur sih, tapi berhubung ada acara lari maraton, aku masuk aja untuk bantu-bantuin anggota OSIS yang lain, daripada bosen di rumah, ya kan?"
"Oh, gitu" Bunga tersenyum manis
"Ngomong-ngomong, Riyan, kenapa lo ada di barisan anak-anak perempuan." Tanya Rehan pada gue dengan wajah bingung.
Gue terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Agung.
Tapi Bunga malah menjawab. “Dia kan aslinya cewek, cuman tampilan luarnya aja cowok. Kamu kalau liat dia kencing pasti bakalan tahu identitas Riyan yang sebenarnya, dia pipisnya jongkok."
Canda Bunga pada gue dan Rehan, membuat beberapa siswa-siswi di sekitar tertawa.
"Sialan lo." Ucap gue sambil mendaratkan sebuah jitakan di bagian atas kepala Bunga.
Rehan adalah senior di OSIS, dia dulu pernah menjabat sebagai ketua OSIS, tapi karena makin sibuk dengan kegiatan lomba dan latian ujian nasional, ia terpaksa mengundurkan diri agar lebih fokus dengan hal-hal akademik di sekolah, lagipula sebentar lagi dia akan lulus, jadi memang sudah waktunya berhenti menjadi ketua OSIS.
"Mau aku boncengin enggak?" Rehan tiba-tiba menawarkan tumpangan pada Bunga.
"Enggak papa nih?" Tanya Bunga.
"Enggak papa, kamu duduk di depan sini" Kata Rehan sembari memegangi bagian top tube (bagian atas dari frame sepeda, tepat di depan sedel) sepedanya.
"Yaudah deh, kebetulan, aku lagi capek banget" Kata Bunga pada Rehan.
Sebelum pergi bersama pacarnya, Bunga berpesan kepada gue. Kalau ketemu Lidya, gue harus bilang pada Lidya kalau Bunga berlari sangat kencang hingga di barisan paling depan.
Bunga berjanji akan membagi dua hasil traktiran Lidya jika gue menuruti perkataan Bunga. Gue pun setuju.
Setelah berpesan, Bunga kemudian mengangkat tangannya dari bahu gue dan berjalan ke arah pacarnya. Rehan berhenti mengayuh sepeda, bersiap memberi tumpangan pada Bunga.
Setelah Bunga naik di atas top tube dari sepeda yang di tunggangi Rehan, keduanya melakukan persiapan sebelum sepeda mulai bergerak.
"Udah siap?" Kata Rehan.
Bunga hanya mengangguk dan Riyan mulai mengayuh. Melajunya Bunga dan Rehan di atas sepeda diiringi dengan teriakan "Cieee~" dari barisan siswa-siswi yang mereka lewati
Tak lama setelah Bunga dan Rehan pergi, Lidya yang jadi saingan balap lari Bunga pun akhirnya sampai di barisan kelompok anak perempuan kelas 11-A, dimana gue berjalan di antara mereka.
Karena gue tampil beda dan lebih mencolok dari yang siswa-siswi yang lain, maka orang akan lebih cepat mengenalinya. Begitu juga dengan Lidya, saat melihat anak laki-laki yang mengenakan kaos warna hitam, dia langsung tahu kalau itu adalah gue.
"Heh, Riyan, lo kok ada di barisan cewek sih?" Tanya Lidya setelah menepuk pundak gue.
"Gue terlalu santai jalannya, eh malah ketinggalan barisan cowok. Mau ngejar lagi, males"
"Cupu lo" Kata Lidya setelah mendengar jawaban gue "Ngomong-ngomong, lo liat Bunga enggak?" Lidya lanjut bertanya sembari melihat sekeliling, mencari rivalnya.
"Dia lari kenceng banget tadi, kayaknya udah nyampe sekolah lagi deh." Gue bicara sesuai perintah dari Bunga, dia berbohong.
"Mustahil sih, kalau dia udah sampai di sekolah lagi, jaraknya kan jauh banget, masa' dia bisa lari secepat itu sih?" Lidya merasa tersaingi oleh Bunga.
gue menggerakkan bahunya keatas sedikit.
"Thanks ya!" Setelah mengatakan itu, Lidya lantas berlari kencang, sekuat tenaga melewati barisan yang ada di depannya, berharap bisa menyusul Bunga. Sepertinya, Lidya benar-benar mempercayai perkataan gue.
__ADS_1
Bersambung...