
Gue menerima kertas tersebut sambil
tersenyum, penasaran sama hasilnya.
"Bagus, mirip banget." gue memandang
lepas ke arah danau, kemudian melihat kembali ke
arah gambar.
Selama duduk di tepi danau bersama gue,
ternyata Olivia sibuk menggambar danau yang ada
di hadapan mereka berdua, lengkap dengan
pemandangan di sekitarnya, mulai dari beberapa
angsa, tumbuhan enceng gondok yang mengapung
di tengah-tengah danau, serta semak-semak di
tepian. Gambarnya benar-benar bagus, setidaknya
menurut gue.
Setelah berlama-lama di tepi danau, rasa bosan pun menghampiri mereka. Olivia mulai merasa lapar karena ini sudah waktunya makan siang, begitu pula dengan gue, perutnya sudah mulai berbunyi,
seakan perut itu merengek minta diisi sesuatu.
Jam menunjukan pukul 11.30, gue
mengajak Olivia untuk kembali ke sekolah, karena
bertepatan dengan waktu istirahat. Walaupun
mereka bolos di jam pertama, jika diusahakan,
mungkin mereka bisa pergi ke kantin sekolah untuk
makan siang dan menyelinap masuk ke kelas untuk
mengikuti mata pelajaran setelah istirahat. Ya,
setidaknya mereka tidak bolos semua mata
pelajaran di hari itu, kira-kira begitu pikir
gue.
"Enggak ah, udah ku bilang kan, aku lagi enggak mood sekolah." Jawab Olivia.
gue, ia benar-benar malas untuk ke sekolah hari itu.
"Trus? Mau disini sampai sore, gitu?" Tanya
gue.
Olivia hanya diam. la tampak sedang
memikirkan sesuatu.
"Kita pergi ke foodcourt aja yuk!" Ajak Olivia
setelah diam beberapa saat.
gue kemudian terlihat canggung, ia
menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Mmm... sebenernya... aku lagi bokek, kemaren uang aku habis buat beli komik." Katanya.
"Aku traktir deh, asal kamu temenin aku
kemanapun hari ini." Ucap Olivia sambil
tersenyum.
Olivia lantas memegang tangan gue,
mengajaknya untuk berjalan bersama ke arah motor
milik gue yang terparkir di dekat situ. Mereka pun
pergi ke tempat makan yang di maksud Olivia.
Hari itu, sekitar 6 bulan yang lalu, Olivia dan
gue menghabiskan waktu bersama seharian.
Bolos sekolah dan pergi ke tempat-tempat favorit
mereka disaat masih awal-awal pacaran dulu. Usai
bersantai di danau, mereka mengunjungi tempat
makan, kebun binatang, mall, bermain di time zone, pergı Ke taman Kota, tOKO BuKu dan Kedai Kopi.
Semua tempat itu penuh kenangan bagi mereka berdua, kadang gue merasa sedang bernostalgia kala tiba di tempat yang sudah sangat lama tak mereka kunjungi.
__ADS_1
"Udah lama ya kita enggak kesini, rasanya kayak balik ke jaman awal-awal kita pacaran dulu" Kata gue saat mereka berada di kedai kopi.
"Kamu inget enggak dulu pas kita PDKT, kita
janjian ketemu disini." Olivia tersenyum sambil
memegangi cangkir kopinya.
"Emang iya?" gue bingung.
"lh gimana sih? Kan kamu yang ngajakin kesini duluan. Sampe pas udah jadian malah kamu ngajak kencannya kesini terus, sampe bosen akunya." Olivia cemberut.
"Oh iya ya... aku hampir lupa hehe..." Jawab
gue sambil tertawa sedikit. “Ya... abisanya aku
taunya tenmpat nongkrong cuman ini aja dulu:"
Lanjutnya.
"Iya, kamu kuper banget dulu, kalo enggak aku
ajak main-main ke tempat lain pasti kamu bakal
ngajak aku kesini terus sampe tua." Kata Olivia,
sedikit bercanda.
Mereka sangat menikmati hari itu, seakan
tak ada lagi hari esok. Ada kalanya mereka tertawa
terbahak-bahak di atas sepeda motor yang mereka
tunggangi saat jalannya sedang sepi. Kadang juga
berteriak seenaknya, sekedar melepas sedikit beban
di kepala. Keduanya benar-benar merasa bahagia
bersama, terutama Olivia. Dia sangat senang bisa
bersama dengan gue sepanjang hari.
Langit mulai gelap, gue dan Olivia
duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Cahaya
lampu taman yang ada di dekat mereka menerpa
wajah keduannya. Taman itu tampak sepi, tak ada
seorangpun yang ada di situ kecuali mereka berdua.
Olivia bercerita pada gue kalau dia
sangat senang bisa bersama dengan gue
sepanjang hari. la juga bilang ke gue kalau
sebenarnya saat itu ia sedang tak baik-baik saja,
terutama di bagian hati.
Olivia sedang ada masalah di rumah, oleh
sebab itu hari ini ia sedikit berbeda. la mengajak
gue pergi ke tempat-tempat favoritnya
sepanjang hari hanya untuk mengalihkan pikiranya
dari masalah yang ada di rumah. Olivia tampak
murung saat menceritakannya.
"Kalau kamu mau cerita lebih lanjut
enggak papa kok. Tapi kalau emang enggak mau
juga enggak papa, itu hak kamu." Kata gue
setelah mendengar cerita Olivia.
Olivia berfikir sejenak sebelum akhirnya
berkata, "Kamu udah tahu kan, kalau orang tua aku
sering berantem..." Olivia berhenti bicara, air mata
terlihat perlahan mengalir di kedua pipi nya
“Mereka...berantem lagi ya?" gue bertanya dengan sangat hati-hati.
Olivia mengangguk, "bahkan lebih parah,
mereka udah resmi cerai kemarin." Katanya sambil
menahan kesediahan.
__ADS_1
"..." gue tak bisa mengatakan apapun
setelah mendengar perkataan Olivia itu. Sejujurnya,
ia ingin menyuruh Olivia untuk sabar, atau
memberikan sedikit semangat, namun gue
merasa kalau dirinya tak pantas berkata seperti itu
karena ia tak pernah tahu bagaimana rasanya
berada di posisi Olivia, jadi gue hanya memilih
untuk diam.
Dengan air mata berlinang di kedua pipi,
Olivia meletakan kepalanya di bahu gue dan
lanjut bercerita. "Sebenernya udah cukup lama sih
mereka mau cerai, tapi aku selalu bisa jadi penengah,
tapi lama-lama ayahku makin kasar."
gue tertunduk, hatinya terasa
sakit mendengar cerita pacarnya saat itu.
Malam itu hati Olivia terasa semakin berat
seiring dengan ia yang bercerita kepada gue, ia
tak mampu menahan kesedihannya lagi,
sampai-sampai ia tak sanggup lagi meneruskan
ceritanya.
Olivia hanya bisa menangis di pelukan
gue, menangis sekencang yang ia bisa.
Sementara gue hanya diam mendengarkan
tangisan Olivia, tak sepatah kata pun terucap dari mulut gue, ekspresinya pun datar.
Segera setelah tangisannya berakhir,
Olivia memberitahukan kepada gue bahwa
setelah orang tuannya bercerai, ia dan ibunya akan
tinggal di rumah neneknya yang ada di luar kota.
Mendengar hal tersebut, waktu itu gue
sudah bisa menerimanya, ia sudah bisa menerima
kenyataan pahit kalau dia akan berpisah dengan
Olivia.
Walaupun di awal hatinya sempat tak terima
dan ingin mencari solusi agar mereka tetap bersama,
tapi setelah gue pikir-pikir itu tak perlu di
lakukan. la kemudian memilih untuk membiarkan
semua mengalir seperti yang seharusnya.
"Tapi kita masih bisa LDR-an kok, tenang
aja!" Ucap Olivia.
Meskipun Olivia bilang kalau hubungan
mereka masih bisa di pertahankan dengan
hubungan jarak jauh, namun gue berpendapat
kalau sebaiknya di akhiri saja agar Olivia tak
terbebani dengan rasa rindu.
Di samping itu, gue
juga tak yakin kalau keduannya bisa saling menjaga
hati jika terpisahkan jarak. Usai melalui perdebatan yang tidak begitu panjang, hubungan mereka berakhir di malam itu dan Olivia pun benar-benar pindah di hari yang di rencanakan.
Suara rem angin dari bis yang di tumpangi gue terdengar nyaring, membuat gue tersadar dari lamunannya. Lagu-lagu dari band Peterpan masih terdengar melalu earphone yang menempel di telinga.
Bis yang gue tumpangi kini berhenti di sebuah halte, ia sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung perpustakaan umum sudah terlihat di luar jendela dekat tempat duduknya. Lokasi perpustakaan itu berada di seberang jalan.
Orang-orang yang ada di dalam bis mulai turun bergantian melewati gue yang duduk di bangku paling belakang, dekat pintu. la dengan sabar menunggu giliran turun agar tak saling berdesakan. Pria gendut berkaos pink, tampak tersenyum dan menyapa saat melewatinya, gue membalas sapaan tersebut dengan senyuman. Hingga tiba saatnya ia turun dari bis setelah hampir seluruh penumpang turun.
__ADS_1
Dari seberang jalan, gue memandang jelas ke arah perpustakaan, ia tersenyum. Dengan berakhirnya lagu berjudul Mungkin Nanti" dari Peterpan di earphone, gue belum bisa melepas bayang-bayang Olivia.
Bersambung...