Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 51 : Di dalam bis kenangan (Bagian 2)


__ADS_3

Gue menerima kertas tersebut sambil


tersenyum, penasaran sama hasilnya.


"Bagus, mirip banget." gue memandang


lepas ke arah danau, kemudian melihat kembali ke


arah gambar.


Selama duduk di tepi danau bersama gue,


ternyata Olivia sibuk menggambar danau yang ada


di hadapan mereka berdua, lengkap dengan


pemandangan di sekitarnya, mulai dari beberapa


angsa, tumbuhan enceng gondok yang mengapung


di tengah-tengah danau, serta semak-semak di


tepian. Gambarnya benar-benar bagus, setidaknya


menurut gue.


Setelah berlama-lama di tepi danau, rasa bosan pun menghampiri mereka. Olivia mulai merasa lapar karena ini sudah waktunya makan siang, begitu pula dengan gue, perutnya sudah mulai berbunyi,


seakan perut itu merengek minta diisi sesuatu.


Jam menunjukan pukul 11.30, gue


mengajak Olivia untuk kembali ke sekolah, karena


bertepatan dengan waktu istirahat. Walaupun


mereka bolos di jam pertama, jika diusahakan,


mungkin mereka bisa pergi ke kantin sekolah untuk


makan siang dan menyelinap masuk ke kelas untuk


mengikuti mata pelajaran setelah istirahat. Ya,


setidaknya mereka tidak bolos semua mata


pelajaran di hari itu, kira-kira begitu pikir


gue.


"Enggak ah, udah ku bilang kan, aku lagi enggak mood sekolah." Jawab Olivia. 


  gue, ia benar-benar malas untuk ke sekolah hari itu.


"Trus? Mau disini sampai sore, gitu?" Tanya


gue.


Olivia hanya diam. la tampak sedang


memikirkan sesuatu.


"Kita pergi ke foodcourt aja yuk!" Ajak Olivia


setelah diam beberapa saat.


gue kemudian terlihat canggung, ia


menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"Mmm... sebenernya... aku lagi bokek, kemaren uang aku habis buat beli komik." Katanya.


"Aku traktir deh, asal kamu temenin aku


kemanapun hari ini." Ucap Olivia sambil


tersenyum.


Olivia lantas memegang tangan gue,


mengajaknya untuk berjalan bersama ke arah motor


milik gue yang terparkir di dekat situ. Mereka pun


pergi ke tempat makan yang di maksud Olivia.


Hari itu, sekitar 6 bulan yang lalu, Olivia dan


gue menghabiskan waktu bersama seharian.


Bolos sekolah dan pergi ke tempat-tempat favorit


mereka disaat masih awal-awal pacaran dulu. Usai


bersantai di danau, mereka mengunjungi tempat


makan, kebun binatang, mall, bermain di time zone, pergı Ke taman Kota, tOKO BuKu dan Kedai Kopi.


Semua tempat itu penuh kenangan bagi mereka berdua, kadang gue merasa sedang bernostalgia kala tiba di tempat yang sudah sangat lama tak mereka kunjungi.

__ADS_1


"Udah lama ya kita enggak kesini, rasanya kayak balik ke jaman awal-awal kita pacaran dulu" Kata gue saat mereka berada di kedai kopi.


"Kamu inget enggak dulu pas kita PDKT, kita


janjian ketemu disini." Olivia tersenyum sambil


memegangi cangkir kopinya.


"Emang iya?" gue bingung.


"lh gimana sih? Kan kamu yang ngajakin kesini duluan. Sampe pas udah jadian malah kamu ngajak kencannya kesini terus, sampe bosen akunya." Olivia  cemberut.


"Oh iya ya... aku hampir lupa hehe..." Jawab


gue sambil tertawa sedikit. “Ya... abisanya aku


taunya tenmpat nongkrong cuman ini aja dulu:"


Lanjutnya.


"Iya, kamu kuper banget dulu, kalo enggak aku


ajak main-main ke tempat lain pasti kamu bakal


ngajak aku kesini terus sampe tua." Kata Olivia,


sedikit bercanda.


Mereka sangat menikmati hari itu, seakan


tak ada lagi hari esok. Ada kalanya mereka tertawa


terbahak-bahak di atas sepeda motor yang mereka


tunggangi saat jalannya sedang sepi. Kadang juga


berteriak seenaknya, sekedar melepas sedikit beban


di kepala. Keduanya benar-benar merasa bahagia


bersama, terutama Olivia. Dia sangat senang bisa


bersama dengan gue sepanjang hari.


Langit mulai gelap, gue dan Olivia


duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Cahaya


lampu taman yang ada di dekat mereka menerpa


wajah keduannya. Taman itu tampak sepi, tak ada


seorangpun yang ada di situ kecuali mereka berdua.


Olivia bercerita pada gue kalau dia


sangat senang bisa bersama dengan gue


sepanjang hari. la juga bilang ke gue kalau


sebenarnya saat itu ia sedang tak baik-baik saja,


terutama di bagian hati.


Olivia sedang ada masalah di rumah, oleh


sebab itu hari ini ia sedikit berbeda. la mengajak


gue pergi ke tempat-tempat favoritnya


sepanjang hari hanya untuk mengalihkan pikiranya


dari masalah yang ada di rumah. Olivia tampak


murung saat menceritakannya.


"Kalau kamu mau cerita lebih lanjut


enggak papa kok. Tapi kalau emang enggak mau


juga enggak papa, itu hak kamu." Kata gue


setelah mendengar cerita Olivia.


Olivia berfikir sejenak sebelum akhirnya


berkata, "Kamu udah tahu kan, kalau orang tua aku


sering berantem..." Olivia berhenti bicara, air mata


terlihat perlahan mengalir di kedua pipi nya


“Mereka...berantem lagi ya?" gue bertanya dengan sangat hati-hati.


Olivia mengangguk, "bahkan lebih parah,


mereka udah resmi cerai kemarin." Katanya sambil


menahan kesediahan.

__ADS_1


"..." gue tak bisa mengatakan apapun


setelah mendengar perkataan Olivia itu. Sejujurnya,


ia ingin menyuruh Olivia untuk sabar, atau


memberikan sedikit semangat, namun gue


merasa kalau dirinya tak pantas berkata seperti itu


karena ia tak pernah tahu bagaimana rasanya


berada di posisi Olivia, jadi gue hanya memilih


untuk diam.


Dengan air mata berlinang di kedua pipi,


Olivia meletakan kepalanya di bahu gue dan


lanjut bercerita. "Sebenernya udah cukup lama sih


mereka mau cerai, tapi aku selalu bisa jadi penengah,


tapi lama-lama ayahku makin kasar."


gue tertunduk, hatinya terasa


sakit mendengar cerita pacarnya saat itu.


Malam itu hati Olivia terasa semakin berat


seiring dengan ia yang bercerita kepada gue, ia


tak mampu menahan kesedihannya lagi,


sampai-sampai ia tak sanggup lagi meneruskan


ceritanya.


Olivia hanya bisa menangis di pelukan


gue, menangis sekencang yang ia bisa.


Sementara gue hanya diam mendengarkan


tangisan Olivia, tak sepatah kata pun terucap dari mulut gue, ekspresinya pun datar.


Segera setelah tangisannya berakhir,


Olivia memberitahukan kepada gue bahwa


setelah orang tuannya bercerai, ia dan ibunya akan


tinggal di rumah neneknya yang ada di luar kota.


Mendengar hal tersebut, waktu itu gue


sudah bisa menerimanya, ia sudah bisa menerima


kenyataan pahit kalau dia akan berpisah dengan


Olivia.


Walaupun di awal hatinya sempat tak terima


dan ingin mencari solusi agar mereka tetap bersama,


tapi setelah gue pikir-pikir itu tak perlu di


lakukan. la kemudian memilih untuk membiarkan


semua mengalir seperti yang seharusnya.


"Tapi kita masih bisa LDR-an kok, tenang


aja!" Ucap Olivia.


Meskipun Olivia bilang kalau hubungan


mereka masih bisa di pertahankan dengan


hubungan jarak jauh, namun gue berpendapat


kalau sebaiknya di akhiri saja agar Olivia tak


terbebani dengan rasa rindu.


Di samping itu, gue


juga tak yakin kalau keduannya bisa saling menjaga


hati jika terpisahkan jarak. Usai melalui perdebatan yang tidak begitu panjang, hubungan mereka berakhir di malam itu dan Olivia pun benar-benar pindah di hari yang di rencanakan.


Suara rem angin dari bis yang di tumpangi gue terdengar nyaring, membuat gue tersadar dari lamunannya. Lagu-lagu dari band Peterpan masih terdengar melalu earphone yang menempel di telinga.


Bis yang gue tumpangi kini berhenti di sebuah halte, ia sudah tiba di tempat tujuan. Sebuah gedung perpustakaan umum sudah terlihat di luar jendela dekat tempat duduknya. Lokasi perpustakaan itu berada di seberang jalan.


Orang-orang yang ada di dalam bis mulai turun bergantian melewati gue yang duduk di bangku paling belakang, dekat pintu. la dengan sabar menunggu giliran turun agar tak saling berdesakan. Pria gendut berkaos pink, tampak tersenyum dan menyapa saat melewatinya, gue membalas sapaan tersebut dengan senyuman. Hingga tiba saatnya ia turun dari bis setelah hampir seluruh penumpang turun.

__ADS_1


Dari seberang jalan, gue memandang jelas ke arah perpustakaan, ia tersenyum. Dengan berakhirnya lagu berjudul Mungkin Nanti" dari Peterpan di earphone, gue belum bisa melepas bayang-bayang Olivia.


Bersambung...


__ADS_2