
"Riyan!!"
Gue segera menoleh ke sumber suara.
Tampak Nat melangkah menghampiri gue dan Evi dengan ekspresi senyum semangat. Di belakangnya, ada si cowok kacamata yang mengikutinya dari belakang sambil tersenyum bahagia juga. Mereka berdua tuh kayak kelihatan seneng banget menyambut gue yang akan jadi bagian dari ekstrakurikuler mereka. Kecuali, si cewek pucet di sebelah gue ini.
"Maaf, ya, kalian jadi lama nunggu." Kata Nat yang sekarang udah ada di sebelah gue.
"Enggak lama-lama banget, kok, enggak masalah." Kata gue.
"Gue nunggu disini udah sejam lebih." Kata Evi dengan nada datar.
Sejam lebih? Dia pasti bohong. Soalnya jam pelajaran baru berakhir sekitar setengah jam yang lalu. Fiks, dia bohong.
"Hehe… maaf, deh, kak Evi. Gue enggak tahu kalau hari ini kak Evi bakal dateng. Lain kali bisa WA dulu kalau mau dateng." Kata Nat dengan gestur yang kaku.
Kak? Apa mungkin dia kakak kelas? Nat juga keliatan menghormati dia pas lagi ngomong, kayak ngomong sama senior.
"Jodi, kuncinya lo yang bawa kan? Buka pintunya." Perintah Nat.
Nah, iya namanya Jodi, gue hampir aja lupa. Si jodi lantas mengacungkan jempol dan berkata, "Okey." Sebelum akhirnya merogoh saku celana OSISnya untuk mengambil kunci.
Ceklek! Bunyi itu menandakan kalau pintu ruang ekstrakurikuler gamelan sudah bisa dibuka.
"Yuk, masuk!" Kata Jodi sambil membuka pintu.
Setelah Nat, Jodi dan Evi masuk, gue mengikuti mereka dari belakang bagaikan ekor.
Begitu masuk ke dalem, hidung gue langsung disambut sama pengharum ruangan beraroma jeruk yang wangi. Setelahnya, mata gue reflek ngeliat ke seluruh ruangan. Gue takjub melihat alat-alat musik gamelan yang banyak tertata rapi di tiap sudut ruangan.
Ada banyak banget alat musik gamelan di ruangan ini, gue enggak semuanya tahu apa aja namanya, banyak banget soalnya. Yang gue tahu cuman gong, yang bentuknya bulet besar, terus ada saron, terus gendang, sama mmm… kalau enggak salah namanya bonang. Ya itu aja yang gue tahu.
Alat musik gamelan jawanya banyak banget. Ditata dengan rapi tepian ruangan. Karena ruangannya sempit, jadi keliatannya kayak penuh banget gitu bagian sudut tepi ruangannya. Di Tengah ruangan ada sisa tempat kosong yang ada meja panjang serta enam buah kursi yang ditata mengelilingi meja nya.
"Banyak banget alat musiknya, ya." Gumam gue.
Gue kemudian lanjut bertanya, "Terus, kalian kalau berkegiatan dimana?"
Sambil jalan ke tengah ruangan, Nat menghampiri salah satu kursi di dekat meja panjang. "Disini lah, kita kan cuman nulis, jadi enggak ada masalah cuman dapet sedikit ruang."
"Kasian amat." Kata gue dalem hati.
"Kita disini cuman numpang, jadi mohon maklumi hehe…" Kata Jodi sambil duduk di salah satu kursi.
Meski penampilannya terkesan culun, tapi kepribadian Jodi berbanding terbalik, dia bukanlah pendiem seperti anak berkacamata yang gue pikirkan. Biasanya kan orang yang berkacamata tuh kalem, serius, fokus, nah si Jodi ini enggak gitu sama sekali. Dari kemaren pas di ruang musik gue perhatiin dia penuh semangat dan sedikit cerewet.
"Ya, kita numpang sampai setidaknya dapet tujuh orang anggota lagi. Kalau lo resmi bergabung, berarti sisa enam orang anggota." Evi si muka pucet ngomong sambil duduk di salah satu kursi.
Setelah Evi, Jodi, dan Nat duduk, gue juga ikutan duduk bersama mereka.
Kita berempat duduk mengelilingi meja panjang. Gue bersebelahan sama Jodi dan di hadapan kita, Evi dan Nat duduk bersebelahan menghadap ke arah kami.
"Jadi gimana? Gue nulis artikel tentang apa buat di tempel di mading minggu depan?" Evi tiba-tiba membuka pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Yang lagi trending di sosmed apa ya kak kira-kira?" Jawab Nat sambil megang dagu.
"Eh, Nat, kalau nulis yang lagi trending di internet tuh agak percuma tahu enggk? Pasti mereka udah liat di hape duluan ketimbang di mading." Sahut Jodi.
Nat terdiam. Mengiyakan pendapat Jodi.
"Bener kata Jodi, mending nulis yang lain." Evi keliatan berpikir serius.
Mereka terus membicarakan hal yang diluar pemahaman gue. Enggak tahu apa yang mereka bicarakan. Gue tahu kalau rencana mereka mau ngisi konten di mading sekolah tapi, gue ngerasa berada di luar lingkaran pembicaraan mereka.
Gue ngerasa asing berada di antara mereka sampai akhirnya mereka sampai pada kesimpulan diskusi.
"Okey, jadi udah diputuskan kalau minggu depan, Jodi giliran nulis cerpen, kak Evi nulis tips and trik yang bermanfaat, entah apapun itu, dan gue bikin poster perekrutan anggota." Nat menutup diskusi dengan penuh wibawa, khas seorang pemimpin kelompok.
"Dan, Riyan."
Gue yang sedikit ngelamun karena kelamaan dengerin mereka ngobrol, agak kaget dikit ketika nama gue di dipanggil sama Nat.
"Apa?"
"Lo udah ngisi formulir yang gue kasih kan, yan?" Tanya Nat.
"Oh, gue masih di anggep ada di ruangan ini, ya." Kata gue dalem hati.
Dalam diam, gue merogoh saku seragam OSIS. Gue merasakan ada nya kertas di dalem situ dan langsung mengambilnya.
Gue mengulurkan kertas formulir ekstrakurikuler menulis yang udah gue isi lengkap sesuai apa yang ditanyakan. Enggak terlalu banyak kok yang harus gue isi, cuman nama, nomor hape, akun Sosmed, hobi, sama kelas.
"Lo enggak punya IG atau FB?"
Gue menggelengkan kepala ketika ditanya demikian.
"Cuman punya kontak WA." Jawab gue.
"Kenapa? Padahal asik lho punya FB atau IG. dan mudah aja kalo misal mau menghubungi lo." Kata Jodi.
"Gue punya WA."
"Eh, di IG muter video dan ngepost foto, tau' sayang banget kalau enggak punya."
"..." Gue terdiam.
Jodi seakan menganggap gue sebagai orang yang sama sekali enggak tahu sosmed. Gue tahu apa itu dan bagaimana Instagram berfungsi, tapi gue males aja bikinnya.
"Coba lo bikin IG, deh, yan. Biar lo bisa nge post karya lo disitu. Kayak bikin quotes sederhana gitu sambil ngasah skill nulis." Saran Nat.
"Mungkin ntar bisa gue pertimbangkan." Jawab gue.
Sepanjang gue ngobrol sama Nat dan Jodi, kayaknya Evi enggak begitu peduli, deh. Dia malah sibuk baca buku yang seukuran saku.
Formulir gue diterima tanpa ada tes atau pertanyaan atau ujian lainnya, ya emang pada umumnya gitu sih, karena ini kelompok ekstrakurikuler. Bisa bergabung dengan cara yang paling sederhana. Disamping itu, mereka juga butuh anggota, jadi enggak heran kalau gue diterima dengan senang hati.
__ADS_1
Atau bisa aja kalau misal gue memutuskan untuk batal gabung dan keluar dari ruangan, mungkin mereka bertiga akan megangin salah satu kaki gue, nangis-nangis sambil memohon gue untuk tetap jadi anggota mereka.
Tapi, kayaknya enggak sedramatis itu, deh. Gue cuman kebanyakan nghayal aja.
"Terus, lo pernah nulis sesuatu, nggak? Novel atau cerpen, gitu?" Nat lanjut nanya ke gue.
"Pernah."
Entah kenapa, Evi si cewek pucet yang daritadi kayak enggak peduli tiba-tiba aja menghentikan aktifitas bacanya dan ngeliat ke arah gue.
"Dimana?" Tanya Nat lagi.
Gue ngambil flashdisk yang ada di dalem tas. Terus menunjukkannya pada mereka bertiga sambil bilang "Disini."
"Boleh gue baca?"
"Silahkan." Gue menyerahkan Flashdisk gue ke Nat.
Nat membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan laptop merk Acer.
"Lo taruh karya lo di folder apa? Gue takut salah buka malah jadi nggk enak nantinya." Kata Nat sambil membuka laptop.
Pertanyaannya itu lho. Emang gue nyimpen apaan di flashdisk itu? dia malah ngiranya begitu. Padahal ga semua anak cowok suka nyimpen begituan di flashdisk, termasuk gue. Gue enggak pernah nyimpen begituan di flashdisk, minimal di hape lah, eh, kok…
"Flasdisk itu isinya cuman karya tulisan gue aja. Enggak ada folder apapun kok. Langsung aja, Nat."
Dari semalem gue udah siap kalau mereka bakal minta liat tulisan gue. Kali ini gue mencoba untuk merelakan karya gue dibaca orang. Entah apapun kritikan atau caci maki yang yang bakal gue terima, gue siap karena gue gabung disini emang berniat untuk berkembang.
"Oke." Jawabnya.
Ketika laptopnya telah siap, Nat menancapkan Flashdisknya ke port USB, hingga menimbulkan bunyi.
"Mau liat, ah, gue jadi penasaran." Jodi berdiri dan berjalan setelah mengatakan itu.
Jodi kini berdiri di belakang tempat duduk Nat dan menatap ke arah yang sama dengan apa yang di liat Nat, yaitu layar laptop.
Evi yang sibuk baca buku kemudian memutuskan untuk menutup bukunya dan ikut-ikutan Ngeliat layar laptop.
Mereka tampak antusias banget dengan karya tulis. Gue yakin mereka emang bener-bener suka menulis.
Beberapa puluh detik kemudian…
"Gilaaa'!!! Ada dua ratus dua puluh file dokumen." Nat keliatan kaget dikit
"Ini tulisan lo semua??" Kata Jodi, dia juga terheran-heran.
"Iya, itu adalah karya-karya gue, entah itu cerpen ataupun novel."
"Hebat, bisa sebanyak ini!" Jodi masih keliatan terkagum.
"Gue nulis, gue kirim ke penerbit, terus di tolak. Gue mencobanya lagi dan lagi tanpa sadar udah sebanyak itu yang gue tulis." Jawab gue.
Bersambung…
__ADS_1