
Acara komedi yang gue tonton pun berakhir, kini gue terlihat sedang membuat sebuah catatan di handphone, catatan itu tentang beberapa adegan dan perkataan yang di peragakan oleh pelawak di acara yang tadi ia saksikan, yang nantinya akan gue cari tahu kenapa adegan itu
bisa lucu untuk kemudian gue jadikan refrensi pada cerita komedi yang mungkin bakal gue butuhkan nanti pas nulis komik sedang ia buat.
Suara mesin dari mixer di dapur sudah berhenti, suasana di rumah Bunga agak lumayan tenang sekarang, hanya ada suara televisi dan suara dari ibunya Bunga yang berbicara pada dirinya sendiri. Beliau tampak sedikit kebingungan sembariterus menyebutkan nama bahan-bahan resep dari makanan yang akan dia buat.
Sampai sekarang pun belum di ketahui apa yang akan di buat oleh ibunya Bunga, masih misterius.
Gue mencet tombol remote televisi berulang kali, memindah-mindah channel, mencoba menemukan acara yang menurutnya bagus. Sudah beberapa menit gue mengonta-ganti saluran televisinya dan enggak kunjung menemukan acara yang menarik.
Jaman sekarang emang jarang ada acara yang bagus dan mengedukasi di televisi. Acara yang di tampilkan di televisi hampir di dhiasi oleh sinetron aneh, acara gosip, reality show yang di lebih-lebihkan, serta talkshow dengan bintang tamu yang bisa di bilang tidak ada faedahnya untuk masyarakat.
Biasanya orang-orang yang di undang di talkshow tersebut adalah kalangan orang-orang yang viral di internet bukan karena nilai edukasi yang diberikan, namun karena hal-hal aneh yang mereka lakukan dan berhasil menarik perhatian para netizen.
Dengan kata lain, orang-orang yang bekerja di balik layar televisi sepertinya lebih mementingkan rating ketimbang nilai-nilai dari acara yang mereka suguhkan ke masyarakat.
Rasanya, memang tak ada hal lain yang patut di tonton di televisi kecuali siaran berita.
Karena tak kunjung menemukan acara televisi yang sesuai dengan keinginan hati, gue kemudian menyalakan PS4 yang ada di kolong meja, gue memutuskan untuk bermain game di PS 4 saja.
"Riyan, tante keluar dulu ya, kamu sama Bunga tolong jaga rumah bentar!" Kata ibunya Bunga sambil mengenakan jaket berwarna hijau tua, dia bersiap-siap akan pergi keluar.
“Emang tante mau kemana?" Tanya gue.
"Ke supermarket bentar, beli bahan-bahan, masih ada yang kurang ternyata."
lbunya Bunga lanjut berjalan menuju pintu depan setelah
mengatakan itu. tapi dia tiba-tiba aja berhenti melangkah dan lanjut bicara."Eh, nanti kalo ayahnya Bunga udah nyampe rumah, pohon natalnya suruh pajang di pojok situ ya!" lbunya Bunga menunjuk sudut ruangan, di dekat tangga yang digunakan untuk menuju kamarnya Bunga.
"Oke."
Ibunya Bunga langsung melangkah meninggalkan ruang keluarga setelah mendengar jawaban dari gue.
Beberpa saat kemudian terdengar suara pintu yang sedang di tutup.
Sekarang gue sendirian di rumah Bunga. Duduk dengan tenang bermain game bola dari konsol PS4 sambil menikmati keripik kentang yang tinggal sedikit.
Bunga belum juga kembal,ini sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak Bunga pergi ke rumah gue.
Entah kenapa ia bisa lama gitu, padahalkan tujuannya hanya untuk menyuruh ibu gue untuk datang ke rumahnya, kenapa lama banget. Gue lama-lama curiga, jangan-jangan Bunga malah asik ngobrol dengan ibu gue sampai lupa sama tujuannya?
Tiba-tiba, terdengar suara pohon yang diseret di damping rumah. Gue bingung saat mendengar suara itu, lalu menekan tombol pause di stick PS4- untuk menghentikan permainan sebentar.
Mencoba mendengar dengan seksama, suara itu malah berhenti. Lalu suara pohon yang di seret itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan kencang, gue makin bingung karena suaranya tepat berada di samping rumah Bunga, sedangkan di sekitar situ tak ada pohon sama sekali.
Enggak lama kemudian, seseorang membuka pintu samping. Perhatian gue langsung mengarah pada pintu itu.
"SURPRAIISSEEE!!" terdengar suara dari seseorang di luar sana, tepat di depan pintu samping, orang itu setengah berteriak berniat untuk memberi kejutan. Tapi tak ada satu pun orang rumah yang menyambut kejutannya itu.
Gue udah tahu orang itu siapa, dan dia memilih untuk enggak begitu peduli, memilih melanjutkan permainan PS.
Gue menghela nafas lega karena itu bukan maling, gue sempat menyangka kalau suara-suara tadi adalah maling yang sedang beraksi.
Orang itu adalah ayahnya Bunga yang baru saja pulang kerja, ia pulang sambil membawa sebuah pohon yang ukurannya lumayan besar jika di jadikan sebuah pohon natal.
Tingginya mungkin sekitar dua kali ukuran tubuh ayahnya Bunga dan daunnya masih lumayan lebat. Meskipun cukup tinggi, tapi lumayan ringan hingga bisa di seret dengan mudah.
__ADS_1
Jadi ceritanya pas acara natal, ayahnya Bunga enggak dapet jatah libur, kasian amat. Karena dia ngelewatin hari natalnya enggak sama keluarga, dia mutusin untuk ngerayain natal lagi. Suka-suka dia ajalah.
Ayahnya Bunga adalah tipe orang yang di penuhi keceriaan, punya selera humor yang bagus, serta baik hati, tapi juga absurd. Entah apa yang ayahnya Bunga pikirkan sampai-sampai dia membawa pulang pohon cemara asli yang lumayan besar untuk di jadikan pohon natal di dalam rumah.
Ayahnya Bunga masuk ke dalam rumah, membiarkan pohonnya di luar. Dia melihat ke segala penjuru ruangan dan bingung karena enggak menemukan satu orang pun di dalam situ kecuali gue yang sedang bermain PS di ruang keluarga. "Loh... orang-orang pada kemana,ngga? Kok sepi?" Tarnyanya dari dapur.
"Bunga maen ke rumahku, trus tante lagi belanja bahan-bahan buat bikin sesuatu." Jawab gue sambil terus main PS.
Ekspresi ayahnya Bunga langsung berubah setelah mendengar jawaban gue.
"Lagi bikin apa dia?" Ayah Bunga bertanya lagi.
Gue menekan tombol pause lagi untuk menghentikan permainannya, lalu berbalik badan, melihat ke arah ayahnya Bunga. "Enggak tahu, coba cek deh om, di situ ada adonan di dalam baskom,kan?"
Ayahnya Bunga melihat ke arah baskom yang gue maksud terletak di atas meja danur tepat di sebelah mixer.
"lya..."
"Nah, kira-kira itu adonan buat bikin apa?"
Ayahnya Bunga mengangkat baskom berisi adonan itu, lalu di dekatkan ke wajahnya, untuk meneliti.
Setelah mengamati sejenak, dia berkata, "kayaknya ini dia bikin bolu lagi!" Kemudian memasang wajah masam.
"Gawat nih!" Kata gue.
"Bener-bener gawat." Kata ayahnya Bunga lagi.
"Tapi Bunga tadi udah pergi ke rumah aku buat nyuruh ibu dateng kesini,sih."
Setelah mengatakan itu, ayahnya Bunga lantas keluar lagi, kemudian berjalann mundur sambil membungkuk menyeret pohon yang tadi di bawanya . Dia menyeret pohon itu ke dalam rumah.
Pria kurus berwajah oriental itu terus menyeret pohonnya hingga sepenuhnya masuk ke dalam dapur, ia kemudian berhenti sejenak untuk dapur, ia kemudian berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga, lalu lanjut menyeretnya lagi.
Dia bertujuan untuk meletakan pohon itu di ruang keluarga. Dia menyeret pohon tanpa memperhatikan sekeliling, hingga tak sengaja menginjak buku catatatan milik Bunga yang masih ada di lantai ruang keluarga.
Ayahmya Bunga menyeret pohon tersebut sampai dirinya tiba di ujung ruangan, sementara gue hanya mengamatinya dengan tatapan aneh.
Selesai dengan pekerjaannya, ayahnya Bunga sedikit kelelahan, ia menegakkan punggungnya sambil mengusap kening dengan lengan.
Kini, diruang keluarga itu ada sebuah pohon cemara yang panjang serta berdaun lebat membentang dari ujurng sisi ruangan ke sisi yang lainya. Benar-benar pemandangan yang aneh untuk sebuah ruang keluarga.
“Menurut kamu, kalo udah jadi pohon natal, ini nanti bagusnya di taruh di mana, ngga?" Tanya Ayahnya Bunga pada gue.
Gue menatap pohon cemara itu dari pucuk, sampai ujung batangnya, kemudian beralih menatap ke sudut ruangan di bawah tangga.
"Tadi tante nitip pesen katanya kalau om pulang, pohonnya disuruh naruh di pojok situ..." Ucap gue sambil menunjuk tempat yang ia maksud.
"Tapi kavaknva enggak bakalan muat deh om, pohonnya kebesaran." Lanjut gue.
"Hmm... gitu ya?" Ayahnya Bunga memegangi dagunya.
"Lagian kenapa harus bawa pohon asli sih om? Kenapa enggak beli aja di toko online?" Gue bertanya.
"lbunya Bunga mintanya pohon asli, bukan plastik kayak tahun lalu, biar natural katanya."
"Oh... gitu."
__ADS_1
Gue melanjutkan permainan PS. Kini gue ada di menit-menit terakhir pertandingan.
Tim gue tertinggal dua skor dari tim lawan, gue hampir kalah. gue enggak begitu mahir dalam game sepak bola, gue lebih suka game dengan genre RPG Action, atau game yang memiliki jalan cerita bagus.
Di dalam PS4 gue kebetulan masih terpasang kaset Pro Evolution Soccer 2020 dan gue malas untuk menggantinya, jadi gue lebih memilih untuk bermain dengan kaset seadanya saja.
Tim gue pun di kalahkan oleh musuh dengan skor 4-2.
"Cupu kamu, ngga. Masak kalah." Ucap ayahnya Bunga yang ternyata masih beridiri di tempatnya sambil menyaksikan permainan gue.
"Aku emang enggak bisa maen om kalo game bola." Kata gue.
Layar di televisi menampilkan layar menu utama game Pro Evolution Soccer 2020.
Ketika gue hendak memilih tim lagi untuk melakukan pertandingan selanjutnya, ayahnya Bunga tiba-tiba mencegah. "Et..et...et... tahan dulu, jangan milih tim dulu"
Gue menoleh ke belakang, menatap ayahnya Bunga.
"Kenapa om?" Tanya gue.
"Kita tanding." Ayahnya Bunga menantang.
"Oke, siapa takut." Gue percaya diri.
Meskipun kemampuan bermain game sepak bola enggak seberapa, tapi gue yakin akan menang melawan ayahnya Bunga.
"Tunggu bentar, om mau mandi dulu. Tunggu."
Ayahnya Bunga bergegas menuju ke arah belakang, ke kamar mandi.
Pertandingan game sepak bola antara ayahnya Bunga dan gue terjadi hampir setiap malem semenjak mereka pindah. Biasanya abis gue belajar dan luang, ayahnya Bunga nantangin main PS.
Kadang pertandingan di menangkan oleh gue, kadang juga di menangkan oleh Ayahnya Bunga. Tapi jika di akumulasi siapa yang paling banyak menang di beberapa bulan terkahir, maka ayahnya Bunga lah yang akan jadi pemenangnya, karena memang sedari muda ayahnya Bunga adalah orang yang lumayan gila bola, maka tak heran kalau dia juga lumayan ahli bermain game sepak bola.
Sementara gue enggak begitu tertarik menonton pertandingan maupun memainkan game-nya seringkali ia memilih tim yang lemah karena tak punya wawasan sama sekali tentang dunia sepak bola.
Tapi malam ini akan berbeda, dan mungkin juga akan jadi mimpi buruk bagi ayahnya gue, karena gue udah latihan, gue juga sudah membaca artikel sepak bola di internet. gue benar-benar siap untuk menang.
Setelah sekitar lima menit berlalu, ayahnya Bunga kembali dengan mengenakan kaos jersey Manchester United, tim bola favoritnya. Lengkap dengan syal berlogo MU,dan sebuah setiker logo MU juga menempel di salah satu pipinya.
Pria kurus berwajah oriental itu berjalan dengan penuh gaya. la agak sedikit melebarkan langkahnya ketika melewati pohon cemara yang terbentang di tengah ruangan, dan lagi-lagi tanpa sengaja dia menginjak buku catatan anak perempuannya yang masih ada di lantai, tertindih dedaunan pohon.
Gue cuman bisa bengong ngeliat rentetan peristiwa itu
Ayahnya Bunga duduk di sofa, tepat di sebelah gue, lalu mengambil stick PS dan berkata dengan keren "Kita mulai pertandingannya!"
Gue hanya memberikan tatapan aneh kala menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
Bunga dan ibu gue pun akhirnya tiba di rumah keluarga Bunga.
"Astagfirullah halazimm...!!
"Ya ampunn!!"
Bunga dan Ibu gue setengah berteriak hampir bersamaan ketika melihat sebuah pohon cemara yang berukuran lumayan besar tergeletak di tengah-tengah ruang keluarga.
Bersambung...
__ADS_1