Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 53 : Riyan dan Ayu (Kisah Masa SMP)


__ADS_3

Ketika masih SMP, aku memiliki guru matematika yang tidak aku sukai. Meskipun aku tidak menyukainya, tapi beliau selalu ada dalam pikiranku selama ini.


Sebab, beliau lah yang mengajariku untuk bertanggung jawab atas kewajiban yang dimiliki. begini ceritanya...


Sekitar 3 tahun yang lalu ...


Aku menopang dagu, menatap datar kearah buku komik yang terbuka di tangan kiriku. Di seberang meja, tepat di hadapanku Ayu’ juga sibuk membaca buku pelajaran biologi untuk kelas 2 SMP yang ia letakan di atas meja, bukunya tebal. 


       Sudah lima belas menit berlalu sejak kami masuk ke perpustakaan dan duduk dengan posisi seperti ini. Dari tadi, kami tak saling bicara, sibuk dengan buku bacaan masing-masing. 


       Suasana di perpustakaan sekolah saat ini hening sekali, hanya ada aku, Ayu’ dan wanita parubaya penjaga perpustakaan yang juga sibuk dengan pekerjaanya. 


       Perpustakaan sepi bukan karena minat baca siswa di sini rendah, tapi karena saat ini jam pelajaran kedua sedang berlangsung, jadi wajar saja perpustakaannya sepi. 


       Aku dan Ayu’ memang sedang bolos pelajaran kedua lalu menyelinap ke perpustakaan. Aku memilih untuk membolos karena saat ini kelasku sedang ada pelajaran olahraga, aku tidak suka olahraga. Sementara Ayu’… entahlah aku tidak tahu kenapa dia membolos, kita beda kelas. Padahal, Ayu’ tahun lalu meraih peringkat pertama dalam hal akademik, bisa di bilang dia itu anak baik-baik. Jarang sekali ada siswa pintar yang bolos. 


       “Riyan?” Ayu’ tiba-tiba memanggilku, memecah keheningan. 


       “Hmm?” Jawabku singkat, sambil membalik lembar komik. 


       “Kamu kenapa bolos, lagi pelajaran matematika ya?” Tanya Ayu’. 


       Aku melirik ke arahnya. “Enggak sih, tapi olahraga. Kamu tau kan, aku nggak suka olahraga.” Ayu’ kira, aku hanya tidak suka pelajaran matematika, tapi dia salah. Menurutku, yang paling mengerikan adalah pelajaran olahraga. 


       “Oh..” Gumam Ayu’ sambil mengangguk. “Kalo di kelasku lagi jam kosong…” 


       “Nggak ada yang nanya.” Kataku dalam hati. 


       “Pak Nurdin lagi rapat. Di kelas anak-anak cowok pada ribut, jadi aku kesini deh.” Lanjutnya. 


       “Udah dibilang nggak ada yang nanya!” kataku lagi dalam hati. 


       Aku dan Ayu’ sudah berteman cukup lama. Kita mulai berteman setelah dua bulan masuk SMP. Setahun lalu, saat masih kelas 7 aku selalu sendirian karena sedikit kesulitan untuk mendapatkan teman akrab. Pada dasarnya aku sedikit pemalu dan tidak begitu peduli dengan orang-orang disekitar, tapi sebenarnya itu tidak bisa di jadikan alasan kenapa aku jarang mengobrol di kelas sih, mungkin alasan yang tepat mengapa aku sedikit kesulitan membangun pertemanan dengan teman- teman di kelasku adalah, karena aku tidak begitu mengerti topik pembicaraan mereka, jadi lebih baik diam daripada sok tau. Lagipula, aku juga tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan orang lain. 


       “Tapi, kenapa kamu bolos, bukanya…” 


       Belum sempat Ayu’selesai bicara, aku memotong. “Aku udah bilang kan, aku nggak suka olahraga!” 


       Ayu’ terlihat cemberut. “Apaan sih, main motong aja.” Katanya, kemudian melanjutkan. “Bukanya kelas 8B lagi penilaian lompat jauh ya, tuh!” Ayu’ kemudian menunjuk keluar jendela yang ada di samping kiri kami, mataku pun mengikuti arah telunjuk Ayu’ yang menuju ke arah lapangan olahraga. Terlihat teman-teman sekelasku sedang melakukan lompat jauh secara bergantian di bimbing oleh pak… aku lupa namanya, pokoknya guru olahraga. 


       Beliau terlihat mencatat sesuatu sembari memperhatikan lompatan murid-muridnya. Mereka sepertinya terbakar semangat. 


       “Kalo kamu nggak naik kelas gimana, nggak takut?” Ayu’menatap tajam kearahku, bertanya dengan tegas. 


       Aku menelan ludah karena khawatir. Sial, karena aku jarang masuk pelajaran olahraga, aku jadi tidak tahu agenda kegiatanya sama sekali. Padahal, semalam setelah sholat isya’ aku sudah berdoa, meminta kepada Allah dengan sepenuh hati, meminta agar hari ini turun hujan dan pelajaran olahraga di tiadakan agar aku tidak perlu bolos. 


       Tapi, hari ini malah cerah sekali, mataharinya terasa hangat. Allah lagi sibuk apa sih? Sampai-sampai doa ku tidak di dengar. 


       Aku menutup buku komik dan berkata. “Gini Ay, tadi setelah pelajaran pertama awanya keliatan mendung, mau hujan. Ya biasanya kan kalo ujan pelajaran olahraga di tiadakan, jadi aku kesini deh, eh nggak taunya malah cerah gini.” 


       “Boong.” Ayu’ membalas cepat. “Dari tadi pagi awannya cerah-cerah aja kok.” Lanjutnya. 


       Terdengar cuitan burung-burung, mendandakan kalau hari ini benar-benar cerah. 


       “Hari ini tu cerah tau’. Hari yang menenangkan, dimana kehidupan berjalan seperti biasa, anak-anak pergi sekolah dan bermain, orang-orang dewasa sibuk bekerja, berangkat ke kantor dengan wajah tersenyum, ibu-ibu rumah tangga mengurus rumah dengan sepenuh hati. Mataharinya juga hangat, burung-burung nggak berhenti bercuit, merdu. Kamu harus bersyukur.” Tiba-tiba Ayu’ menasehatiku. 


       Sungguh nasehat yang berguna. Tapi entah kenapa hatiku malah berkata “Lebay.” 


       Bodohnya aku berharap dengan beralasan seperti itu akan membuat Ayu’ berkata. “Oh gitu ya. Lanjutin baca komiknya gih.” Tapi kenyataanya dia malah menasehatiku. Walaupun rasa keingintahuan Ayu’kadang membuatnya terlihat polos, tapi sebenarnya dia punya sifat yang dewasa. 


        Dia benar, seharusnya aku lebih bersyukur, bukanya merasa kecewa hanya karena hari ini tak turun hujan. Bisa saja kalau hari ini hujan lebat, aku mungkin akan pulang dengan keadaan basah dan jatuh sakit karena hari ini aku tidak bawa payung. Alhamdulilah, hari ini cerah. 


       Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki berkaca mata usianya sekitar 50 tahunan. Aku yang menyadari kehadiranya, langsung mengarahkan pandanganku ke arah pintu perpustakaan. Si penjaga perpustakaan menyambutnya dengan tersenyum, kemudian mereka besalaman. Pria itu adalah guru matematika di kelasku, namanya Pak Dalyadi. 

__ADS_1


       Pak Dalyadi kemudian melihat sekeliling. Pandangan kita saling bertemu, bukanya memarahiku karena bolos jam pelajaran, tapi dia malah tersenyum. Tak seperti biasanya, diamana beliau akan menjewerku dan membawaku ke ruang BK saat menemukanku bolos di kantin atau di perpustakaan seperti ini. Aneh. 


       Sedangkan Ayu’ terlihat menundukan kepalanya sembari berpura-pura membaca buku, takut ketahuan bolos, karena Pak Dalyadi juga kebetulan mengajar pelajaran matematika di kelasnya.Sesekali Pak Dalyadi mengusap matanya yang tampak sedikit memerah. Melepas kacamata, mengusap mata, dan memakai kacamatanya kembali, gerakan itu beberapa kali diulangi oleh Pak Dalyadi. Matanya mudah sekali kemasukan debu. 


       “Riyan, ada pak Dalyadi tuh!” Bisik Ayu’ kepadaku. 


       “Hmm…” Jawabku singkat. 


       “Kamu kok kayak nggak takut gitu sih?” 


       “Justru ngerasa aneh, kenapa dia nggak marah, padahal biasanya dia bakalan marah kalau liat aku lagi bolos jam pelajaran begini.” Kataku sambil memperhatikan pak Dalyadi yang saat ini terlihat sedang asik mengobrol dengan petugas perpustakaan. 


       Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku masih ada remidial matematika dari ulangan harian seminggu yang lalu, dan pak Dalyadi memberiku kebebasan untuk melakukan remidial kapan saja, yang jelas kalau aku tidak ikut remidial, nilai matematikaku akan sangat buruk dan terancam tidak naik kelas. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mengikuti remidial secepatnya. Aku segera membuka tasku, mengambil kertas hasil ulanganku dan melangkah mendekati pak Dalyadi. 


       “Pak, saya mau minta remidial nanti sore bisa nggak pak, waktu anak-anak pada ekskul, bisa kan pak?” kataku pada pak Dalyadi. 


       Dia menengok jam tanganya dan berkata. “Bisa-bisa, tumben kamu minta remidial, biasanya kabur-kaburan.” Pak Dalyadi memegang pundakku. “Emang kamu ulangan kemaren dapat nilai berapa? “ Beliau lanjut bertanya. Aku segera menyerahkan kertas hasil ulanganku dan pak Dalyadi hanya menggelengkan kepalanya. 


       “Nanti sore ke kantor saya.” Ucapnya. 


       “Iya pak, makasih.” Balasku. 


       Aku kembali ke tempat duduku, Ayu’ memandangku dangan wajah penuh heran. 


       “Gimana, yan? Dibolehin.” Tanya Ayu’ 


       “Yep, nanti sore aku disuruh ngerjain remidial di kantornya.” Jawabku. 


       “Emang, ulangan kemaren kamu dapet nilai berapa sih, yan?” 


       Aku segera memberikan kertas yang ada di genggaman tangan kiriku kepada Ayu’. Wajah ayu’ langsung terlihat berseri-seri, matanya seakan bercahaya. Ia tak henti-hentinya melihat ke arah kertas ulanganku. Dia benar-benar terlihat terkagum-kagum. 


       “Kenapa ngeliatinya kayak gitu sih?” Tanyaku datar. 


       “Sini, balikin.” Pintaku. 


       Pukul empat sore. 


       Aku menunduk kaku sembari mengerjakan remidial di ruang guru, tepatnya di ruangan pak Dalyadi. Saat ini, pak Dalyadi duduk tepat di hadapanku, mengawasiku sembari membaca buku. Ada sepuluh soal yang harus aku kerjakan, dan aku merasa grogi. Rasanya ingin cepat-cepat selesai dan pulang ke rumah. 


       Di saat bolos di perpustakaan tadi, aku menyuruh Ayu’ membantuku belajar untuk menghadapi remidial. Dia benar-benar mengajariku sepenuh hati. Aku juga belajar dengan serius, tidak seperti biasanya, pokoknya aku harus dapat nilai lebih dari nol, setinggi-tingginya lima puluh. Aku benar-benar kagum pada Ayu’ yang mampu mengajariku dan bertahan dengan kebodohanku. 


       Pak Dalyadi mengusap matanya yang kemasukan debu sambil menatap langit senja dari jendela kantornya. 


       “Yan, kamu udah punya rencana untuk masa depanmu? Kamu punya cita-cita?” Tanya pak Dalyadi padaku. 


       “Nggak tau’ pak. Nilai jelek semua, olahraga nggak bisa. Nggak tau mau jadi apa” Keluhku. 


       “Kamu nggak perlu punya bakat khusus, yang penting, hidupmu harus punya tujuan. Biar te arah.” Balas pak Dalyadi. 


       Aku sudah sampai setengah jalan mengerjakan remidialku. Aura kebodohan mulai bermunculan dari pori-pori tubuhku. Aku benar-benar kesulitan mengerjakan soal-soalnya. Aku menyerah… 


       “Ah, capeknya…” Aku meregangkan tubuhku sembari melangkah melewati pintu. 


Keluar dari kantor pak Dalyadi, aku di sambut oleh senyum Ayu’ yang menungguku di teras kantor. Kukira dia sudah pulang. 


       “Gimana, bisa kan ngerjainya?” Tanya Ayu’ sembari mengikutiku yang mulai melangkah menyusuri lorong sekolah. 


       “Tau deh.” Jawabku singkat. 


       “Pasti jawabnya ngarang?!” Ayu’ cemberut. “Padahal aku udah capek-capek ngajarin kamu lho!” Lanjutnya. 


       Aku hanya tersenyum kearahnya.

__ADS_1


       Sampailah kami di depan gerbang sekolah. Aku dan Ayu’ lanjut berjalan di tepi jalan raya yang tenang, di bawah langit senja yang terlihat damai. 


       “Riyan, aku boleh nanya sesuatu nggak?” Ayu’ bertanya padaku sambil berjalan. 


       “Apa’an?” 


       Setelah diam beberapa saat, Ayu’ lanjut bertanya. “Kenapa sih, hari ini kamu mau belajar matematika?” 


       Aku menghela nafas. “Memangnya salah kalau aku belajar matematika?” Balasku. 


       “Iya, aneh aja. Kamu nggak seperti biasanya.” Jawab Ayu’ 


       Iya juga sih, aku sendiri juga bingung kenapa. “Iya sih, biasanya aku anti sama pelajaran matematika. Kadang juga kabur kalo disuruh remedial.” Jelasku. 


       Ayu’ malah menggelengkan kepala dan berkata. “Bukan itu maksudku!” 


       “Trus apa?” Kataku dalam hati. 


       “Aku ngerasa… hari ini kamu kayak lebih peduli dengan orang lain, khususnya pada Pak Dalyadi.” Kata Ayu’ sambil tersenyum  padaku. “Kamu minta remidial lebih awal seakan kamu ngerasa menyesal gitu, atau… mungkin kamu hanya ingin bertrimakasih padanya, tapi kamu tidak tahu gimana caranya.” Ayu’ tersenyum lagi padaku. 


       “Peka!” Kataku dalam hati lagi. 


       Yah, ketahuan. Ayu’ benar. Dimata pak Dalyadi, mungkin aku bukanlah murid yang baik. Sering sering bolos, tertidur saat dia mengajar, tidak pernah dapat nilai bagus, dan kabur saat  disuruh remidial. Jelas, aku bukanlah murid yang baik bagi guru matematikaku, dan aku mulai menyesali itu. Rasanya aku ingin berterimakasih pada Pak Dalyadi yang selalu sabar membimbingku, tapi aku sedikit kesulitan. 


       “Ay’, kamu tahu nggak?” Tanyaku. 


       “Soal apa?” Ayu’ terlihat bingung. 


       Kami berhenti melangkah ketika tiba di sebuah perempatan. 


       “Saat di perpustakaan tadi… pak Dalyadi menangis.” 


       “Eh… masa’, aku nggak liat tuh?!” Ayu’ makin kebingungan. 


       “Daritadi, dia terus mengusap matanya yang merah.” Jelasku. 


       “Ah, dia tu nggak nangis, tapi matanya kemasukan debu mungkin.” Ayu’ mencoba bercanda. 


       “Awalnya, aku juga berfikir begitu, tapi aku yakin dia sedang menangis.” 


       Angin berhembus diantara kami, membawa hawa sejuk bersama hangatnya sore. Aku dan Ayu’ sama-sama terdiam di perempatan jalan, hanya suara kendaraan di jalan yang meramaikan keadaan. 


       “Kalo emang dia nangis, kira-kira kenapa, yan?” Ayu’ mulai penasaran. 


       “Entahlah, mungkin besok dia akan pensiun, dan dia sedang menikmati hari terkhirnya di sekolah, sekaligus mengenang semuanya. Lagipula, Pak Dalyadi udah ngajar puluhan tahun kan?” 


       Aku berhenti sebentar dan melanjutkan. “Karena Pak Dalyadi tidak memarahiku saat di perpustakaan tadi, perasaanku  jadi tidak enak. Aku merasa, kalau aku tidak akan bertemu dengan beliau lagi, makanya aku tiba-tiba ingin remidial. Kalo remidial matematika sama capeknya dengan pelajaran olahraga… aku juga tidak mau melakukanya, lagipula, kamu juga bantuin aku belajar. Kalo emang dugaanku benar pak Dalyadi akan pensiun, mungkin aku juga harus hati-hati.” Aku menjelaskan semuanya. 


       Ayu’ tersenyum lagi dan bertanya. “Hati-hati kenapa?” 


       “Ya, bisa aja setelah pergi meninggalkan sekolah, dia akan menganggapku sebagai murid yang nakal seumur hidupnya. Jadi aku merasa bersalah.” Kataku. 


       “Jadi… kamu belajar mati-matian hanya untuk berterimakasih ya?” Tanya Ayu’ sambil mengangguk. 


       “Yep, lagipula… besok kan hari guru.” Aku tersenyum tulus pada Ayu’ 


       Keesokan harinya, semua murid disekolah berkumpul di lapangan upacara untuk mengucapkan selamat tinggal dan terimakasih pada Pak Dalyadi, hari ini beliau resmi pensiun. Tepat seperti dugaanku. 


       Semalam kabar mengenai pak Dalyadi yang akan pensiun tersebar cepat melalu grup Whatsapps kelas, jadi semua murid sudah menyiapkan hadiah kenang-kenangan masing-masing. Disaat yang lain memberikan semua murid memberikan benda-benda yang bagus, atau benda favorit pak Dalyadi, aku hanya memberikan pak Dalyadi kertas hasil remidialku yang dapat nilai seratus. Aku benar-benar berusaha keras untuk itu, dan beliau juga menerimanya dengan senang hati dan sedikit merasa terharu. Ini pertama kalinya aku dapat nilai seratus dalam pelajaran matematika. 


       Dengan itu, mungkin pak Dalyadi akan memandangku sebagai murid yang baik, dan begitulah caraku berterimakasih padanya. Aku mungkin akan mengingat semua nasehat pak Dalyadi. “Hidup harus punya tujuan.” Katanya. Ada saatnya dimana semua hal akan berubah menjadi kenangan. 


       “Sampai ketemu lagi pak, selamat hari guru.” Ucapku dalam hati kala melihat beliau melangkah keluar dari gerbang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2