
Bangku di dalam bis terasa hangat saat Gue mendudukinya. Gue duduk di bangku pojok kiri paling belakang, tepat di samping jendela. Tak ada satu orang pun yang duduk di sampingnya. Suasana di bis cukup sepi, hanya ada sekitar 15 orang di dalam bis yang berkapasitas sekitar 30 orang itu.
Bagian dalam bis terasa legang, pengharum ruangannya masih sangat wangi, tanda baru di ganti. Seorang kenek berdiri di tepi pintu bis yang ada di dekat situ, sibuk menghitung uang hasil kerjanya.
Gue membuka kunci layar di HP, lantas membuka sebuah aplikasi pemutar musik, kemudian memilih daftar lagu favoritnya dan memutar salah satu lagu di daftar itu. Lagu berjudul “Yang Terdalam” dari Peterpan terdengar di earphone yang sudah menempel pada telinga Gue. Sambil menikmati lagu dari HP, Gue duduk dengan nyaman di bangku bis yang empuk.
Sepertinya perjalanan selama 1 jam kedepan akan bisa di nikmati Gue dengan penuh suka cita dan damai.
Di dalam bis yang akan mengantarnya ke perpustakaan umum, Gue menopang dagu sambil melihat keluar jendela yang ada tepat di sebelah kirinya.
Ketika duduk di dekat jendela bis yang sedang melaju dengan perlahan sambil mendengarkan lagu, pikiran Gue pergi kemana-mana, rasanya nyaman dan seakan beban di kepala lepas secara perlahan. Pasti semua orang merasakan hal yang sama jika berada pada situasi yang demikian.
Gue menikmati pemandangan di luar jendela. Langit biru membentang di atas sana, pepohonan di tepian seakan berjalan ke arah sebaliknya, rumah warga yang berbaris di tepian terlihat asri di pandang mata.
Terjebak dalam suasana yang nyaman, membuatnya melamun sambil terus melihat ke luar jendela. Pikirannya melayang jauh melintasi waktu, atau lebih tepatnya kembali ke sekitar 6 bulan yang lalu, sehari sebelum hubungan gue dan Olivia, mantan pacar, berakhir.
Semenjak Bunga membicarakan Olivia saat di toko musik beberapa bulan lalu, Gue jadi sering ingat tentang Olivia, mantan pacar sekaligus cinta pertamanya. Pintu kenangan saat masih pacaran dengan Olivia seakan perlahan terbuka sejak saat itu, membuat gue terjebak dalam nostalgia.
Waktu itu sekitar satu tahun yang lalu, gue dan Olivia sengaja bolos sekolah, keduannya duduk di tepi danau yang biasa mereka kunjungi saat kencan.
“Sorry ya, aku jadi ngajakin kamu bolos jam pertama.” Ucap Olivia. Mereka duduk bersebelahan dengan posisi Olivia yang sedang bersandar pada bahu Gue sambil menggambar di atas buku gambarnya.
“Emang kenapa sih tiba-tiba ngajakin aku ke danau pas jam pelajaran sekolah gini? Enggak biasanya.” Tanya Gue pada Olivia. gue merasa kalau hari itu Olivia tak seperti biasanya. gue merasa ada sesuatu yang sedang di pendam oleh Olivia di dalam hati.
Olivia menggelengkan kepala saat mendengar pertanyaan dari Gue.
“Enggak papa kok, aku lagi enggak mood masuk sekolah aja hari ini.” Olivia memeluk erat lengan Gue. “Rasanya pengen sama kamu terus sepanjang hari.” Kata Olivia, suaranya terdengar manja.
__ADS_1
“Kalau gue enggak mau sama kamu sepanjang hari, gimana?” Kata Gue.
Olivia mengalihkan perhatiannya dari kertas gambarnya, ke wajah Gue dengan ekspresi cemberut.
“Jahat, pliss lah untuk hari ini aja temenin aku seharian.” Olivia memohon.
Gue tersenyum pada Olivia.
“gue maunya sama lo sepanjang hidup.” Kata Gue.
Olivia membalas senyum Gue. Hatinya benar-benar bahagia mendengar perkataan dari cowok pujaannya itu.
Duduk bersama dengan seseorang yang ia cintai kayaknya membuat Olivia merasa sangat nyaman meski mungkin kala itu ada hal lain yang membuat hatinya galau. Saat itu, detik itu juga perasaanya seakan lebih hangat dari mentari pagi, lebih sejuk dibanding air di danau. Di hatinya hanya ada gue seorang, yang memenuhi ruang hati, hingga mampu menyapu bersih perasaan tak tenang di dalamnya, yang tersisa hanya perasaan senang dan bahagia.
Di peluknya lengan Gue erat-erat seperti tak ada yang boleh melakukan hal itu selain dirinya. Seakan lengan itu hanya miliknya seorang.
Olivia lalu lanjut bercerita tentang banyak hal, mulai dari tentang acara TV kesukaan-nya, tentang apa yang dia alami di sekolah beberapa hari yang lalu, tentang hewan peliharaannya yang sedang sakit, tentang salah satu sahabatnya yang jail dan lain sebagainya.
“Iya, aku doain deh semoga mimpi lo terwujud. Tapi menurutku jadi ilustrator itu pekerjaan yang membutuhkan ketahanan mental, kerjannya sendirian, jarang ketemu orang. Pasti lo bakal kesepian.” Kata Gue setelah mendengar cerita Olivia.
“Enggak masalah kok, selama ngejalanin hobi dan seneng, perasaan sepi bisa teralihkan kok.”
Gue tersenyum, lalu lanjut bertanya. “Emang mau jadi ilustrator yang kayak gimana sih kamu?”
“Mungkin aku bisa mulai dari bikin ilustrasi untuk buku anak-anak, yang bentuk gambarnya imut-imut gitu hehe...” Jawab Olivia.
“Ngomong-ngomong, aku jarang liat kamu ikut acara-acara lomba gambar gitu, liv. Padahal gambar lo mayan bagus lho.”
__ADS_1
“Makasih... kamu udah sering bilang gitu.” Olivia tersenyum mendapat pujian dari Gue.
“Kayaknya kemaren di mading aku liat ada pamflet event gambar, hadiahnya lumayan.” Gue melanjutkan.
“Oh... iya aku tahu kok.” Kata Olivia.
“Enggak mau coba daftar?” Tanya Gue.
Gue tak melanjutkan topiknya lagi, ia tahu kalau Olivia tak akan mau ikut lomba meski terus di rayu.
Olivia memang punya hobi menggambar sejak kecil, sebagian besar waktu luangnya di gunakan untuk menggambar apa yang dia inginnkan.
Karena sering di asah, kemampuan menggambar Olivia pun semakin berkembang dan hasil gambarnya cukup bagus. Siapapun yang awam tentang hal menggambar akan kagum melihat hasil gambar Olivia.
Namun, sayangnya, Olivia tak punya kepercayaan diri yang lebih untuk memamerkan karyanya ke banyak orang. Dia merasa kalau gambarnya masih jelek. Oleh sebab itulah ia jarang ikut kegiatan lomba menggambar, masih malu-malu jika gambarnya di lihat banyak orang.
Tapi Gue adalah sebuah pengecualian bagi Olivia. Ia justru senang memamerkan karya-karyanya pada Gue, ia senang di puji Gue setelah selesai menggambar dan memamerkannya pada Gue, seakan ia melakukan itu hanya untuk Gue.
Bahkan dia sering memberikan hasil gambarnya pada Gue dengan senang hati.dan Gue juga senang akan hal itu.
Di beberapa bagian dinding kamar Gue banyak tertempel gambar-gambar hasil goresan tangan Olivia, ia menggunakannya sebagai hiasan dinding kamarnya, karena memang menurut Gue yang tak pandai menggambar, itu adalah karya yang bagus.
Matahari perlahan meninggi. Udara yang tadi terasa hangat, perlahan berubah menjadi sedikit panas. Tangan Olivia bergerak semakin cepat di atas kertas, menggoreskan garis demi garis dari pensilnya, ia hampir selesai menggambar.
“Wah... udah mau jadi ya? Liat dong.” Kata Gue yang melirik ke arah lembar gambar Olivia.
“Bentar, kurang dikit.” Kata Olivia sambil meneruskan gambarnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Olivia akhirnya menyelesaikan gambarnya, ia bergeser sedikit dari Gue, kemudian menunjukan hasil gambarnya pada Gue.
Bersambung…