
Pas gue mau ke ruang ekstrakurikuler menulis, gue ketemu sama Bunga di aula sekolah.
"Gue pindah rumah dan kita tetanggaan, yan!"
Bunga berkata demikian dengan penuh semangat.
Gue menatap datar ke arah Bunga yang saat ini tepat berada di hadapan.
"Serius orang pindahan di sebelah rumah gue itu keluarga lo?"
"Iya, ayah gue beli disitu pas begitu denger rumah itu dijual agak murah. Aji mumpung, buat investasi." Katanya.
Jadi semalem, tetangga yang rumahnya tepat di samping rumah nenek gue itu berisik banget. Pas gue keluar untuk ngeliat, ternyata ada orang pindahan. Dan gue enggak nyangka, sih, kalau itu keluarga Bunga.
Pemilik rumah sebelumnya adalah seorang janda tua umur 67an. Suaminya meninggal dua bulan yang lalu, kemudian janda itu menyusul dua minggu yang lalu.
Anak dari pemilik rumah itu kemudian menjual rumahnya. Tapi, gue enggak nyangka, sih, kalau yang bakal beli rumah itu adalah keluarga Bunga. Kita jadi tetangga deket. Kebetulan tu rumah letaknya tepat di sebelah rumah gue.
Waktu pindahan malem-malem itu juga Bunga dan keluarganya nyempetin diri untuk berkunjung ke tempat gue untung nganterin roti bolu.
Gue dan Bunga enggak sempet ngobrol karena mereka buru-buru. Gue mikirnya malah yang pindah ke tempat dia tu saudaranya, eh, ternyata malah keluarganya ya.
Berhari-hari setelahnya…
Udara terasa sedikit lebih dingin dari biasanya,
karena tadi beberapa daerah di kota Merica ini di
guyur hujan yang lumayan deres, termasuk di
daerah tempat gue tinggal.
Gue mengenakan jaket yang tebal untuk menghalau dinginnya malam sambil berjalan dengan santai dan memakan cemilan keripik kentang berukuran jumbo.
Malam ini gue sedang menuju ke rumah Bunga yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah gue. Setelah tiba disana, gue masuk lewat pintu samping dan langsung bertemu ruang dapur yang berada dalam satu area dengan ruang keluarga serta ruang makan, gue langsung disambut oleh suara berisik dari mixer yang berputar ketika membuka pintu.
Di ruang dapur itu, ada ibunya Bunga sedang mengaduk sebuah adonan tepung terigu yang mungkin juga udah di campur dengan bahan lainnya dan di aduk menggunakan mixer, agak berisik emang.
Ruang dapur di rumah Bunga cukup sederhana namun tampak elegan, enggak begitu luas, kira-kira ukurannya hampir sama dengan tempat barista meracik kopi di kafe. Hanya ada sedikit perlengkapan dapur aja yang tersedia di situ.
"Eh, ada Riyan, masuk-masuk!" Sambil sibuk mengaduk adonan dengan mixer, ibunya Bunga mempersilahkan gue untuk masuk ke dalem.
"Tante lagi bikin apa?" Tanya gue, kemudian memakan keripik kentang.
"Biasa, lagi nyoba-nyoba resep di internet, pasti hasilnya bakalan enak." Jawabnya dengan penuh percaya diri.
Gue memasang ekspresi aneh sambil ngeliat ibunya Bunga yang terlihat bersemangat saat mengaduk adonan.
"Yakin bakalan enak?" Gue ragu-ragu. lbunya Bunga mematikan mesin mixer-nya sebentar, lalu memiringkan kepala sambil berfikir.
__ADS_1
Kayaknya dia mencoba mengingat-ingat kembali bahan-bahan yang tadi sudah dicampurkan ke dalam adonan di baskom yang di pegangnya.
"Kayaknya sih bakal enak, tante udah bener kok ngikutin tutorialnya." Kemudian ibunya Bungamenyalakan mesin mixer-nya lagi, lanjut mengaduk.
"Semoga enak beneran deh." Kata gue dengan perasaan ragu.
Gue kemudian menengok ke arah ruang keluarga. Disitu, ada Bunga yang lagi sibuk menulis sesuatu di buku catatan, dengan posisi tengkurap di lantai, di belakang sofa. Sementara televisi yang ada di depan sofa itu dibiarkan menyala, menayangkan siaran berita langsung.
"Dia lagi ngapain tante? Dingin-dingin begini malah tiduran di lantai." Gue sedikit berbisik-bisik pada ibunya Bunga, sambil melirik ke arahBunga.
"Enggak tau, padahal tadi udah tante suruh pindah ke sofa biar enggak masuk angin, tapi dianya ngeyel. Katanya sih, lagi nyari inspirasi." Jawab ibunya Bunga sambil lanjut mengaduk adonan. Gue lalu melangkah menuju ke ruang
keluarga sembari asik memakan keripik kentang. Gue berjalan melewati Bunga yang tengkurap dilantai ruangan itu, lalu duduk di sofa yang berada tepat di samping Bunga, di depan televisi yang masih menyala. Bunga sepertinya enggak sadar kalau gue baru saja melihatnya, dia tampak masih sibuk menulis di buku catatannya.
Sesekali Bunga berhenti nulis untuk berpikir, lalu menulis lagi. Wajahnya terlihat sangat serius. Gue meletakan kepala di bagian atas sandaran sofa untuk memperhatikan kesibukan Bunga, gue penasaran dengan apa yang sedang Bunga kerjakan.
"Lagi ngerjain apa?" Tanya gue Pada Bunga.
"Ssstt... diem, jangan gangguin gue." Bunga terus menulis sambil menjawab.
"Yaudah." gue kemudian, memalingkan pandangannya dari Bunga dan memilih untuk menonton televisi.
Gue menonton televisi dengan santai di ruang keluarga milik keluarga Bunga. Sementara tuan rumahnya sibuk dengan urusan masing-masing. Suasana semacam ini sudah biasa terjadi belakangan ini, tepatnya, semingguan ini.
Saking dekatnya hubungan antara gue dan keluarga Bunga, gue bisa sampai sesantai ini saat berkunjung. Begitu pun sebaliknya, Bunga juga sering berkunjung ke rumah gue dan bersikap sangat santai seperti di rumah sendiri.
Kadang, Bunga datang ke rumah gue hanya untuk meminjam barang, entah itu perlengkapan sekolah dan barang-barang lain seperti komik, charger handphone, hair dryer punya kakak perempuan gue atau yang lain.
Bahkan saking santainya hubungan antara kita, kadang gue dan kakak perempuan gue sengaja membiarkan barang-barang yang dipinjam oleh Bunga maupun ibunya Bunga tetap berada di rumah keluarga Bunga. Contohnya konsol PS4 yang ada di kolong meja tempat dimana televisi di letakan. Ya, disitu ada konsol PS4 lengkap dengan kedua stick-nya, dan itu adalah milik gue yang dipinjem sama Bunga dari tiga hari yang lalu.
PS4 milik gue masih ada di situ bukan karena Bunga enggak mau mengembalikannya, tapi karena gue terlalu malas untuk mencabuti
kabel-kabel yang masih tersambung ke televisi, gue
"Ibukk...!! Bisa enggak kalau suara mixer-nya dikecilin sedikit?!! ganggu banget deh, aku enggak bisa konsentrasi nih!!" Bunga sedikit berteriak kepadaibunya, karena suara mixer yang mengganggu.
Dapur dan ruang keluarga di rumah ini berada dalam satu ruangan, tanpa di pisahkan oleh dinding atau apapun, jadi suara mixer yang sedang digunakan oleh ibunya Bunga dapat terdengar jelas di ruang keluarga.
"Kamu itu aneh-aneh aja, suara mixer mana bisa di kecilin," Sahut ibunya Bunga.
"Yaudah kalau gitu muter mixer-nya pelan-pelan aja!" Perintah Bunga.
"Nanti enggak rata, nak adonannya!!"
Bunga terdiam.
"Lagian kamu dari tadi ibu suruh ngerjain di kamar nggak mau, salah sendiri lah." Lanjut Ibunya Bunga.
Gue masih dengan santai menonton televisi, enggak peduli dengan perdebatan ibu dan anak yang sedang berlangsung di belakang gue, udah biasa. Kini saluran televisinya udah gue pindah yang semula siaran langsung berita, gue pindah menjadi acara komedi. Gue menyempatkan diri mencari inspirasi untuk naskah komik yang sedang gue kerjain bareng Adit.
Sedang asik-asiknya menonton televisi sambil bersandar di sofa, tiba-tiba aja kepala Bunga muncul tepat di sebelah kiri kepala gue, Bunga meletakan dagunya di bagian atas sandaran sofa.
"Sst.., Riyan." Bunga memanggil gue dengan setengah berbisik.
"Apa?" Tanya gue.
"Tolong dong, suruh ibu gue berenti!" Bunga memohon, masih dengan suara yang pelan, khawatir kalau suaranya di dengar oleh sang ibu.
"Alah.. emang kenapa sih? Biarin aja, entar juga suara mixer-nya berhenti kalau dia udah selesai ngaduk adonan." Gue menoleh ke arah wajah Bunga yang menatap ke depan, ke arah televisi.
Wajah kita saling berdekatan sekarang, namunkita ya biasa saja, enggak ada getaran apapun di hati masing-masing, seakan kita berdua adalah saudara kandung.
"Lagian, lo kan bisa pindah ke kamar." gue melanjutkan.
Bunga menepuk pundak gue sedikit lebih keras.
__ADS_1
"Enggak bisa, ini ruang inspirasi gue!" Tegas Bunga.
"Ruang inspirasi?" Kata gue dalem hati.
"Ngerjain apa sih? PR tuh enggak perlu nyari-nyari inspirasi segala, tapi harus baca buku." Gue mengusap-usap pundak yang tadi ditepuk oleh Bunga.
"Gue enggak lagi ngerjain PR, tapi lagi nyari kata-kata yang pas untuk gue jadiin lirik di bagian intro dari lagu lo kemaren!" Kata Bunga.
Setelah mengatakan itu dia lantas berdiri, kemudian berjalan ke samping sofa, lalu duduk di sebelah gue.
"Bukan masalah suara mixer-nya, tapı apa yang ibu bikin." Bunga memandang ibunya yang masih sibuk dengan adonan, lalu melihat ke arah gue lagi dan berkata, "Lo masih inget enggak, ibu dulu pernah bawa kue bolu ke rumah lo?" Bunga bertanya sambil berbisik pelan.
Tiba-tiba pikiran gue melayang ke suatu malam pas mereka baru pindahan.
Malam itu saat gue dan kakak gue lagi bersantai di ruang tamu, tiba-tiba aja ibunya Bunga datang membawa sepiring roti bolu dengan ukura yang lumayan besar. Tanpa sepengetahuan ibunya Bunga, ternyata dia diikuti dua orang secara diam-diam. Dua orang itu adalah Bunga dan ayahnya.
Awalnya mereka berdua cuman sekedar mengawasi dari jauh, namun kemudian ikut masuk ke dalam rumah. Berdiri di belakang ibunya Bunga, Bunga dan ayahnya berusaha memberi sebuah isyarat dengan mengacungkan ibu jari mereka pada gue dan kakak tanpa sepengetahuan ibunya Bunga. Mereka berdua mengacungkan jempol sembari menggerakan bibir mereka, seakan sedang berusaha memberitahu seseuatu yang tak boleh di ketahui oleh ibunya Bunga.
Gue dan kakak gue sempat ngerasa aneh dengan kelakuan Bunga dan Ayahnya. Kenapa mereka bertingkah seperti itu? Kira-kira begitu yang kakak gue pikirin saat melihat Bunga dan Ayahnya bertingkah aneh membelakangi ibunya Bunga.
Namun, gue dan kakak akhirnya memahami maksud dari isyarat Bunga dan ayahnya tersebut setelah mencicipi roti bolu yang di bawa oleh ibunya Bunga.
Roti bolu itu benar-benar enggak enak, rasanya mengerikan, sampai-sampai gue ingin muntah di tempat.
Tapi kita berdua terpaksa berbohong. Gue dan kakak perempuan gue sepakat bilang kalau roti bolu itu enak saat si pembawa roti bolu mengerikan itu bertanya tentang pendapat kita. gue dan kakak gue melakukan itu karena mulai mengerti isyarat dari Bunga dan Ayahnya.
Gue dan kakak gue berbohong tentang rasa dari roti bolu tersebut karena roti bolu itu buatan ibunya Bunga sendiri.
Kalau gue dan kakak sampai bilang kalau roti bolu buatan ibunya Bunga enggak enak, maka yang akan terjadi adalah, ibunya Bunga akan membuat ulang roti bolu yang resepnya dia ambil dari internet itu. Lalu menyuruh orang-orang untuk mencicipinya lagi, dan sudah di pastikan rasa dari roti bolunya akan tidak beda jauh dari sebelumnya yaitu, mengerikan, hingga enggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Hari itu, ibunya Bunga sudah beberapa kali membuat ulang roti bolunya karena Bunga dan ayahnya bilang tidak enak, dan baru berhenti mencoba membuat lagi setelah Bunga dan ayahnya berbohong dengan mengatakan kalau roti bolunya sudah enak. Tapi sialnya, ibunya Bunga malah pergike rumah gue untuk menawarkan roti bolu buatanya dengan penuh percaya diri. ltulah sebabnya Bunga dan ayahnya ikut ke rumah gue untuk memberi peringatan.
Bisa dibilang, mereka berdua sedikit trauma mencicipi roti bolu buatan ibunya Bunga yang mengerikan itu.
Gue kembali dengan kesadaran gue setelah mengingat hal itu, gue menelan ludah setelah mendengar pertanyaan dari Bunga. gue mengangguk ketakutan sambil berkata, "lya, gue inget."
"Lo nggak mau kan makan roti bolu buatan ibu gue lagi?" Bunga menakut-nakuti.
Gue hanya menggelengkan kepala. Benar-benar enggak mau mencicipi roti bolu buatan ibunya Bunga lagi, membayangkannya aja udah membuat perut mual.
"Nah, makanya, lo coba mikir sesuatu deh, yan. Lo bilang apa kek gitu, biar ibu gue berhenti bikin bolu." Bunga memohon sekali lagi.
Gue berpikir sejenak. Tentu saja enggak mungkin blak-blakan menyuruh ibunya Bunga untuk berhenti dari kesibukanya begitu saja.
Meskipun gue tahu kalau gue enggak akan kena marah karena ibunya Bunga adalah orang baik, tapi tetap saja dia masih ada perasaan tak enak hati untuk menyuruh ibunya Bunga berhenti. Apalagi, sebenarnya niat dari ibunya Bunga itu baik, dia hanya ingin membuat roti bolu yang enak untuk keluarganya, tapi sayangnya ia gagal berulang kali.
"Satu-satunya jalan adalah, nungguin ibu gue dateng kesini. Dia pasti akan bantuin ibu lo, ibu gue kan jago masak, pasti kalo bikin bolunya di bantuin ibu gue hasilnya bakalan enak." gue sambil memegangi dagu saat mengatakan itu.
Oh iya, ibu gue sekarang lagi libur dengan pekerjaannya. Dia sekarang lagi dirumah. Ibu gue jago masak, cuman dia penyelamat kita.
"lya, ibu lo emang pinter bikin makanan. Gue kemaren udah makan brownis buatan ibu lo, sumpah enak banget" Kata Bunga.
Dengan penuh semangat, Bunga beranjak dari sofa.
"Bentar, gue mau ke rumah lo dan nyuruh ibu lo buat dateng ke sini. Gue tahu lo pasti mager kalo gue suruh."
Bunga kemudian berjalan menuju pintu samping yang ada di dapur.
"Mau kemana Bunga?" Tanya ibunya ketika Bunga melewati dapur.
"Ke rumah Riyan bentar" Jawab Bunga sambil membuka pintu.
"Riyan ada di sini kok, kamu malah mau maen kerumahnya, mau tukeran rumah apa gimana?" Ibunya Bunga mencoba bercanda.
"Ngambil pensil aku, ketinggalan" Bunga menjawab sambil berjalan melewati jalan setapak yang mengarah langsung ke rumah gue.
Bersambung...
__ADS_1