
Kelompok siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 berbaris memanjang di tepi jalan raya. Mereka berlari di dalam garis putih yang di khususkan untuk pejalan kaki.
Para siswa-siswi yang jumlahnya hampir seratusan itu berlari dengan tertib sesuai komando dari salah satu pengawas kegiatan lari maraton dari anggota OSIS.
Beberapa meter di depan mereka, terlihat empat orang siswa yang juga mengenakan seragam OSIS, membawa sebuah kardus air mineral, di dekat mereka juga masih ada beberapa kardus lagi. mereka berdiri di depan sebuah pertigaan jalan, dimana salah satu dari jalur di pertigaan itu jalannya tidak begitu lebar dan mengarah ke area persawahan.
Empat siswa pengawas berseragam OSIS itu membagikan air mineral kemasan botol kepada setiap siswa-siswi yang melintas di hadapan mereka, beberapa juga ada yang mengambil air mineralnya sendiri-sendiri. Karena jumlah mereka sangat banyak, barisannya jadi sedikit kacau ketika ada beberapa anak yang tidak sabaran saling berebut giliran mengambil jatah air mineral mereka.
Salah satu pengawas segera meniup peluit yang ia bawa, di bantu oleh dua orang temannya, si pengawas yang bertugas di situ berusaha menertibkan antrian.
Dari pertigaan itu, barisan para peserta lari marathon di arahkan untuk menuju ke jalur yang marathon di arahkan untuk menuju ke jalur yang yang jalanannya tidak begitu lebar, yaitu jalur yang mengarah ke area persawahan. Mereka berbelok dengan rapi setelah mengantri air mineral.
Sebuah gunung tampak membiru, terlihat samar-samar di ujung pandangan mata. Di sebelah kanan dan kiri dari jalanan beraspal tempat barisan siswa-siswi berlari, terbentang petak-petak sawah yang berwarna hijau, sebagian sudah menguning, terasa sejuk serta menentramkan hati ketika di pandang.
Beberapa petani terlihat sibuk menanam padi. Ada juga yang sedang mengusir burung pipit pemakan padi dengan menggunakan alat buatan sendiri, yang terbuat dari seutas tali, bambu, serta beberapa kaleng. Alat pengusir burung pipit itu membentang di satu petak. Alat itu akan berbunyi jika talinya di goyang-goyangkan, mirip seperti lonceng. Fungsinya, untuk menakut-nakuti burung pipit yang hendak memakan padi-padi. Ada juga yang sedang beristirahat di sebuah gubuk di tengahsawah.
Seorang anak kecil terlihat berlari di pematang sawah, mengejar seekor belalang, bajunya tampak kotor terkena lumpur. Ada juga seorang wanita yang datang membawa bekal makan siang untuk suaminya yang sedang memacul sawah.
Di sekitar situ banyak aktifitas pertanian seperti biasa yang terasa menyenagkan. Karena banyak pepohonan dan tanaman padi di sebelah kanan dan kiri, maka angin yang berhembus terasa lebih sejuk, setidaknya dapat mengurangi rasa gerah di tubuh meski hanya sedikit.
Siswa-siswi terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka. Beberapa ada yang saling mengobrol tentang pertanian, tentang hewan, tentang proses memanen, dan masih banyak lagi. Sambil berlari santai, mereka saling bertukar informasi. Siswa yang tidak tahu bertanya pada temanya yang paham tentang apa yang membuat mereka bertanya-tanya terkait hal-hal mengenai pertanian.
Secara tidak langsung, selain berolahraga, mereka juga belajar tentang ilmu pertanian melalui diskusi sederhana.
Gue yang masih berada di barisan kelompok anak perempuan kelas 11-A masih enggan mempercepat langkah, memilih berjalan santai sambil menikmati pemandangan di sekeliling, membiarkan dirinya di terpa angin segar area persawahan.
Berkat air mineral yang ia dapat dari para pengawas kegiatan di pertigaan jalan, tenaganya kini sedikit pulih, tenggorokannya sudah tak kering lagi, lega.
Sambil berjalan, gue menundukkan kepala, kemudian mengguyurnya dengan air mineral kemasan botol yang ia bawa, baju gue sedikit basah di beberapa bagian.
Mataharinya terasa lebih panas sekarang, karena sudah berada di tepat di atas kepala.
Berolahraga saat matahari sedang panas-panasnya bukanlah hal yang menyenangkan bagi semua orang. Apalagi, jarak untuk kembali ke sekolah masih lumayan jauh, rasanya benar-benar menyiksa diri.
Setelah beberapa meter berlari di area persawahan, ada dua-tiga warung sederhana yang berjajar di samping kanan dan kiri jalan, tepat di sebelah sawah yang lebar, di tepi jalan.
Di depan warung itu ada beberapa petani yang sedang duduk-duduk di bangku panjang yang di sediakan, mengobrol sembari menikmati kopi. ada juga yang sedang makan, serta ada juga yang merokok.
Beberpa siswa-siswi kemudian menepi, saling berdesakan untuk datang ke warung-warung itu, membeli minuman dingin atau jajanan yang di jual di situ, sampai-sampai penjualnya terlihat kerepotan.
Sebenarnya, mereka tidak dijinkan untuk berhenti seenaknya, harusnya mereka tetap berlari di barisan masing-masing agar tak memakan waktu lebih lama lagi dan bisa tiba di sekolah dengan tepat lebih lama lagi dan bisa tiba di sekolah dengan tepat waktu. Tapi mau bagaimana lagi, air mineral yang di bagikan oleh para pengawas di pertigan jalan tad tak cukup mampu untuk meredakan kehausan mereka, jadi ya wajar saja kalau mereka lebih memilih untuk jajan di warung.
__ADS_1
Namun, jika dibandingkan dengan mereka yang jajan di warung, jumlah siswa-siswi yang tertib masih lebih banyak, mereka ingin segera sampai di sekolah lagi, dan mengakhiri kegiatan lari maraton yang melelahkan ini.
Gue adalah salah satu dari mereka yang tertib dan tidak menepi untuk jajan. Itu bukan karena gue siswa yang baik, yang berusaha mengikuti aturan kegiatan. Gue tidak menepi ke warung karena uang saku gue ketinggalan di kelas.
Kalau saja gue tidak lupa membawa uang saku, mungkin juga akan menepi dan membeli jajan di warung-warung itu.
Gue lanjut berlari dengan pelan, perlahan ia menjauh dari warung-warung tersebut, hatinya sedikit menyesal karena meninggalkan uang sakunya di tas.
Beberapa meter tak jauh dari warung-warung itu, ada sebuah jalan setapak yang lebih lebar dari jalan setapak yang lain. Beberapa anak laki-laki yang sepertinya sudah sangat paham dengan area persawahan terlihat berbelok, memisahkan diri dari barisan, menuju ke jalan setapak tersebut.
"Mending kita lewat sini aja, jalan pintas. Biar cepet sampai ke sekolah." Kata seorang anak laki-laki berkulit hitam, dia bicara kepada teman perempuannya yang ada di barisan.
Sepertinya mereka tinggal di daerah sini, sampai-sampai mereka tahu kalau ada jalan pintas.
"Heh, enggak boleh curang ya! Nanti kalau ketahuan pengawas kalian bisa kena hukuman." Jawab anak perempuan yang di ajak bicara.
"lya, lebih parahnya lagi bisa-bisa nilai penjaskes kalian nanti di kurangi" Sahut salah satu dari mereka.
"Alah... enggak bakal ketahuan..."
Anak laki-laki berkulit hitam itu kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitar, apakah adapengawas atau tidak.
Setelah dirasa cukup aman dia lanjut berkata, "Lagian, enggak ada pengawasnya."
Kawan-kawannya pun kemudian mengikuti dari belakang. Barisan kelompok anak perempuan yang tadi sempat bicara dengan anak laki-laki yang lewat jalan pintas itu kemudian lanjut berlari dengan tertib.
Melihat dan mendengar obrolan merek dari jauh, membuat gue tertarik untuk ikut lewat jalan pintas seperti yang di lakukan anak laki-laki berkulit hitam dan kawan-kawannya.
Gue menengok ke arah kiri dan kanan untuk memastikan situasi, lalu berbelok menuju ke jalan setapak, mengikuti kawanan anak berkulit hitam tersebut.
Gue tak mengenal siapa anak laki-laki yang tahu jalan pintas itu. Sepertinya gue sudah ketinggalan jauh dari kelompok kelas gue, dan gue tercampur dengan barisan kelas lain. Karena gue mulai melihat wajah-wajah asing di sekitar.
Gue kemudian menyapa anak laki-laki berkulit hitam beserta kawannya. Ternyata mereka adalah murid-murid dari kelas 11-C. Gue memasang wajah datar saat mengetahui hal itu, gue tertinggal lumayan jauh dari berisan kelas sendiri.
Anak laki-laki berkulit hitam sepertinya memang tinggal di area dekat sini. Dia menjelaskan kepada teman-temanya, termasuk kepada gue tentang jalan-jalan setapak yang ada di situ.
Ternyata jalan-jalan itu terhubung dengan tempat-tempat area perkotaan. Dia tahu mana jalan pintas untuk menuju supermarket, mana jalan pintas yang mengarah ke taman kota, dan lain-lain termasuk jalan yang terhubung ke sekolah.
"Nah, kalau jalan setapak yang ukurannya paling besar ini nanti tembus nya ke belakang sekolah. Tempat pak somat biasa buang sampah." Jelas anak laki-laki berkulit hitam itu.
"Oh... gitu~" Ucap gue dan yang lain secara bersamaan.
__ADS_1
"Lo yakin kan, kita enggak bakal ketahuan?" Tanya salah satu dari mereka.
Sepertinya dia masih ragu dengan ide jalan pintas ini, dia takut ketahuan.
"Tenang aja, enggak bakal ketahuan kok, kalo ada pengawas yang liat kita, pasti dari tadi dia udah niup peluit!"
"lya juga sih..." Katanya, agak tenang.
Mengikuti arahan dari anak laki-laki berkulit hitam, gue dan yang lainya berjalan lurus sambil menikmati pemandangan di sekitar mereka.
Jalan pintas yang sedang mereka lalui ini memang akan membuat perjalanan lari maraton kita terasa lebih cepat dan ringan. Jika gue dan yang lainnya tetap tertib dan lari mengikuti barisan, maka mereka akan lari cukup jauh untuk memutar setelah lewat area persawahan ini.
Kita juga harus lewat area perumahan lagi, butuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit untuk sampai di sekolah jika mereka mengikuti jalur yang di tetapkan oleh panitia.
Tapi jika lewat jalan pintas maka mereka hanya perlu berjalan lurus mengikuti jalan setapak dan akan tiba di sekolah hanya dalam waktu sekitar lima belas menit saja.
Bagian halaman belakang sekolah mulai terlihat di pandangan gue setelah lima belas menit berjalan menapaki jalan setapak.
Senyuman kemenangan gue ukir di wajah gue dan yang lainya pun begitu, mereka hampir sampai di garis akhir.
Mereka kemudian berlari bahagia, mempercepat langkah, agar segera sampai di tujuan kita. Di kepala gue, sudah terbayang segarnya Es teh manis buatan ibu-ibu kantin.
Rencanannya dia akan segera menuju ke kantin sekolah setelah tiba di sekolah. gue juga akan langsung tiduran di kelas, tubuhnya sudah sangat kelelahan, rasa haus juga mulai menyerang kembali.
"Priittt..Priiittt...priit.."
Tiba-tiba terdengar suara peluit dari arah depan. gue, anak laki-laki berkulit hitam beserta kawan-kawannya berhenti dari larinya.
Di dekat semak-semak di halaman belakang sekolah, seorang laki-laki yang mengenakan seragam OSIS tiba-tiba muncul dari persembunyiannya, kita ketahuan oleh pengawas.
Dengan tatapan tegas si pengawas menatap gue dan yang lainya, tegas si pengawas menatap gue dan yang lainya, sementara gue dan yang lainnya terkejut bukan main.
"Haha... ketahuan kalian!" Kata si pengawas itu.
"Gawatt, kita ketahuan!!" Seru gue.
Karena ketahuan olah pengawas, gue, anak laki-laki berkulit hitam dan kawananya harus menerima hukuman berlari mengelilingi lapangan basket dua puluh kali.
Bayangan tentang segarnya Es teh manis seketika hancur dari imajinasi di kepala gue.
Kesenangan itu harus tertunda terlebih dahulu karena perbuatan curang nya. Padahal, dia berniat untuk mengakhiri penderitaan lari marathonnya, tapi malah harus ketambahan beban karena dia harus lari mengelilingi lapangan basket sebanyak dua puluh kali.
__ADS_1
Panas matahari semakin menyengat, suara kicauan burung terdengar merdu di telinga, para peserta lari maraton pun akhirnya tiba di sekolah dengan barisan yang masih rapi, kemudian berhamburan setelah tiba di gerbang sekolah, mereka langsung berlarian ke kelas-kelas dan pergi ke kantin, sementara gue dan anak laki-laki berkulit hitam beserta kawan-kawannya masih harus berlari mengelilingi lapangan basket.
Bersambung...