
Abis nyeberang, gue dan Adit sekarang lagi jalan di atas trotoar. Rasanya lumayan sepi ketika ngelewatin lampu merah di perempatan jalan, siswa-siswi lain yang tadi jalan di antara kita juga udah pada nyebar ke arah yang beda dengan kita. Hujan udah berhenti sepenuhnya, dan suasana senja sepulang sekolah terasa damai.
"Jadi, gimana menurut lo?" Adit menyambung pembicaraan, topiknya masih yang tadi, tentang misteri kotak suara pemilihan ketua OSIS yang isinya malah melebihi jumlah keseluruhan siswa yang memilih.
Kalau Adit mikirnya ada orang yang diem-diem nambahin isinya biar pemungutan suara di ulang, tapi gue punya pendapat lain, menurut gue…
"Ehem," gue berdehem, kemudian lanjut menjawab, "Menurut gue, ini terjadi murni karena kesalahan seseorang."
Adit mengerenyitkan dahinya, mengangkat salah satu alisnya. "Maksud lo?"
Suara kicauan burung dan kendaraan-kendaraan yang lewat di jalan raya di samping mengiringi perjalanan pulang kami, seperti biasa.
"Ya, menurut gue mungkin ada panitia yang nglakuin kesalahan pas menyiapkan bilik pengambilan suara." Gue diem.
Sambil jalan ngikutin irama langkah kaki gue, Adit dengan wajah serius nungguin penjelasan lebih lanjut dari gue. Jujur, gue agak kebingungan untuk jelasinnya, tapi gue akan berusaha supaya tersampaikan dengan baik dan dapat di pahami Adit. Mungkin gue akan coba ajukan pertanyaan yang akan mengarah pada kesimpulan di otak gue, biar mudah bagi Adit menerka apa yang gue maksud.
"Waktu itu kan kalo enggak salah ada tiga bilik pengambilan suara dan dua kotak tempat penampungan kertas suara. Ya kan?"
Adit menganggung, "Iya, bener. Terus?"
"Nah, kenapa harus ada dua kotak penampungan kertas suara? kenapa enggak satu aja? Toh, siswa-siswi yang ikut nyoblos enggak nyampe seribuan atau enggak semua siswa di seluruh sekolah nyoblos. Pasti ada yang golput, terus yang enggak masuk hari itu juga ada, belum lagi siswa kelas 12 yang udah enggak punya hak milih karena udah mau lulus."
Adit sambil megang dagu, menjelaskan, "Itu karena satu kotak suara yang dibuat anak ekskul kerajinan masih belum cukup nampung banyaknya jumlah surat suara yang masuk."
Hemm, jawaban Adit enggak sesuai prediksi gue, pasti ada alesan tertentu kenapa sampai butuh dua kotak penampungan surat suara. Tapi gue enggak nyangka sih kalau penyebabnya karena enggak muat nampung. Gue mikirnya malah untuk mempercepat proses pemungutan suara, biar siswa-siswi yang milih enggak ngantri panjang kalau di sediain dua kotak. Ternyata karena enggak muat.
__ADS_1
"Emang kotak buatan anak ekskul kerajinan tangan muat berapa?" Tanya gue.
"Tiga ratus kertas suara, itu udah penuh banget, sampe enggak bisa dimasukin kertas lagi." Jawab Adit.
"Total keseluruhan jumlah kertas suara yang masuk berapa?" Tanya gue lagi.
"Tujuh ratus lima puluh kertas warna atau kertas suara." Adit diam sebentar sebelum melanjutkan, "Padahal menurut anggota OSIS yang bertugas, catetan daftar hadir siswa-siswi yang ikut berpartisipasi nyumbang suara itu ada tujuh ratus orang, lho."
"Berarti kelebihan lima puluh ya?" Tanya gue.
"Yeps, dan gue yakin enggak ada kesalahan dalam pencatatan kehadiran dan identitas siswa-siswi yang nyoblos, soalnya kita sebagai OSIS emang teliti banget." Jelas Adit.
Percaya sih gue kalau pengawas proses pemilihan ketua OSIS ketat banget, udah kayak pemilu presiden beneran, jadi kemunginan kesalahan pencatatan nama itu hampir mustahil, mungkin aja terjadi, tapi gue yakin kemungkianannya sedikit. Karena emang ketat banget.
"Kalau kotak penampungan yang satunya dari eksul kerajinan tangan, yang satunya lagi darimana?" Gue bertanya lagi, kita udah hampir sampai pada kesimpulan atau opini gue.
"Kotaknya sih dari gudang sekolah, yan."
"Udah gue duga pasti dari situ."
Gue tahu itu karena, itu kotak terbuat dari seng, sedangkan yang buatan anak ekskul kerajinan tangan terbuat dari kayu triplek.
Ukurannya pun beda, buatan anak ekskul kerajainan tangan ukurannya lebih kecil, sedangkan yang di ambil dari gudang itu ukurannya agak besar, hampir dua kali lipatnya. Selain itu juga, kotak yang terbuat dari seng itu sangat berdebu dan ada sarang laba-labanya dikit, makanya gue menduga kalo itu dari gudang dan udah enggak di jamah dalam waktu yang cukup lama, soalnya itu adalah kotak pemungutan surat suara pemilihan OSIS yang di pake tahun-tahun lalu.
"Tahu darimana lo kalau itu kotak dari gudang sekolah?" Tanya Adit.
__ADS_1
"Berdebu banget, ada sarang laba-labanya juga, bahkan gue sampe sedikit batuk-batuk pas masukin kotak suaranya ke situ. Dari situ gue mikir itu kotak pasti dari gudang sekolah dan enggak pernah di apa-apain sampe berdebu banget gitu." Gue menghela nafas terus nanya ke Adit, "Lagian kenapa enggak di bersihin dulu sih sebelum di pake?"
"Enggak keburu, yan. Soalnya kita juga enggak nyangka, kirain kotak dari ekskul kerajinan tangan muat, ternyata enggak, akhirnya ya gue buru-buru ngambil itu dari gudang." Balasnya.
Oh, jadi.yang ngambil kotak itu dari gudang justru dia ya, pantes.
Setelah ngobrol sambil jalan, akhirnya kita berdua nyampe di depan rumah gue. Kita memutuskan untuk berhenti dan melepas sepatu untuk kemudian duduk di bangku teras rumah gue, menyelesaikan obrolan yang belum selesai.
"Jadi, menurut lo kenapa bisa terjadi penambahan jumlah kertas suara yang masuk. Yang harusnya tujuh ratus kertas, malah jadi tujuh ratus lima puluh, apakah ada kaitannya sama kotak penampungan kertas suara yang gue ambil dari gudang?" Tanya Adit sambil duduk.di sebelah gue, nyenderin punggungnya ke bagian belakang bangku panjang yang kita duduki.
"Ya jelas ada."
"Kok bisa? gimana?'
"Kertas suarannya kecampur sama yang ada di dalem kotak seng." Gue ngeliat Adit, kemudian melanjutkan, "Bukankah, tahun-tahun sebelumnya pemilihan ketua OSIS juga pake cara yang sama, pke kertas tiga warna dengan warna yang sama pula?"
"Iya sih,." Adit langsung bengong, entah itu karena shock karena menyadari kesalahannya, atau malah masih enggak ngerti apa yang gue jelasin?
Setelah diam beberapa saat, Adit ngomong lagi, "Jadi, kotak seng itu dulunya juga di pake buat tempat pemilihan OSIS, terus ternyata di dalem kotak itu ternyata masih ada sisa kertas warna dari tahun-tahun sebelumnya yang kebetulan jumlahnya lima puluh, terus kemaren pas orang-orang pada nyoblos, kertas itu kecampur dan malah masuk hitungan."
"Yep, kecampur, lagian bentuk, ukuran dan warna kertasnya sama kayak yang dulu-dulu, kalo kecampur mana bisa bedain."
"Yaelah,yan, gue kasih tahu, sekolah kita agak pelit, susah dapetin bantuan dana kegiatan. Untuk menghemat budget, ya ngakalinya gitu, pake kertas warna, dari dulu juga gitu."
Adit sadar kalo itu kesalahanya yang kurang teliti pas ngambil kotak itu di gudang. Dia berencana untuk minta maaf nanti pas rapat OSIS.
__ADS_1
Bersambung…