Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 36 : Sumber Dari Patah Hati


__ADS_3

[Beberapa Hari Yang Lalu, Di Rumah Adit.]


“Iya, kita bikin komik bareng,yuk?”


Gue masih terdiam mikirin ajakan Adit. Suara printer yang mencetak lembar terakhir dari naskah novel gue terdengar nyaring di ruangan kamar. Adit kemudian buru-buru mengambil hasil cetakan tiu. “Sip.” Katanya, kemudian meletakan lembaran tersebut di paling bawah dari tumpukan kertas naskah yang dia pegang.


“Enggak, ah.”


“Nolak, nih?” Adit meletakan tumpukan naskah di meja, sebelah laptop.


“Iya, gue nolak.” Kata gue.


Gue berjalan menuju ke kasur, kemudian duduk di tepi situ. Sambil menatap ke arah lantai kamar, gue lanjut berkata, “Jujur aja gue enggak nyangka lo bisa gambar sebagus itu. Dan, lo juga enggak pernah cerita tentang itu.”


Adit menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, “hehe... gue ngerasa belum jago...”


Gue ngeliat ke arah Adit. Entah kenapa gue jadi ngerasa tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya.


“Makanya gue enggak mau nunjukin ke orang-orang tentang ini. Bisa dibilang, gue masih malu-mau, sih.” Adit tersenyum dengan mengatakan sesuatu yang serius.


Gue paham. Gue ngerti apa yang Adit pikirkan dan rasakan terhadap hobinya. Kenapa begitu? Karena gue juga ngerasain hal yang sama. Padahal, hasil gambar Adit bener-bener bagus, tapi kenapa dia masih enggan nunjukin itu ke orang-orang.


Gue emang baru ngeliat hasil gambar Adit dari seketsa komik yang dia buat, sih, tapi dengan sketsa sebagus itu, gue yakin dia udah terlatih. Pasti dia udah punya koleksi gambar-gambar buatan dia sendiri yang dia simpen sebagai dokumen pribadi. Iya, dia itu sama seperti gue. Bibir gue tersenyum setelah menyadari itu.


“Lo pasti memendam hasil karya-karya lo sebagai dokumen pribadi, kan?” Gue mencoba memastikan.


“Iya, lo bener. Mau liat?”


Gue menggelengkan kepala. “Enggak, nanti aja, gue tahu kok pasti gambar lo juga bagus-bagus.”


Adit tertawa kecil. “Lo bilang gitu karena lo ngerasa gue juga ngalamin hal yang sama kayak lo, kan? Punya karya tapi enggak berani memamerkan, masih insecure.” Adit kemudian mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja belajar. Ia keliatan nyentuh-nyentuh layar HP-nya, enggak tahu lagi ngapain.


Karena Adit sibuk sama HP-nya, gue memilih untuk membuka cemilan yang tadi gue bawain buat dia. Gue memilih keripik citato rasa BBQ sebagai pilihan cemilan pertama. Gue makan cemilan sambil ngeliat sekeliling, memperhatikan isi ruang kamar Adit yang sedikit berantakan, beberapa buku dan kain ada di lantai, di sana-sini. Kalau di bandingin dengan kamar gue, kamar gue lebih rapi.


Beberpa saat kemudian, HP gue bergetar. Gue segera mengambilnya dari dalem kantong jaket dan  memeriksa notifikasi WhatsApps yang masuk. Begitu gue cek, ternyata itu dari nomer Adit. Gue langsung ngeliat dia dalam diam yang seakan mengatakan, “Lo ngirim apaan?”


Abis ngeliatin Adit, gue langsung membuka pesan WhatsApps tersebut. Mata gue langsung menajam menatap ke arah layar HP. Betapa terkesimanya gue ngeliat apa yang baru aja di kirim oleh Adit  melalui WhatsApps.


Dia ngirim puluhan gambar-gambar karakter dengan style anime yang bagus banget, setidaknya menurut gue itu bagus. Gue terus mengusap layar HP dengan jempol, mengarahkannya ke bawah, karena emang dia ngirim lumayan banyak.


“Gue udah liat karya-karya lo yang lo sembunyikan, dan lo juga udah ngeliat karya gue yang enggak pernah gue kasih liat ke siapapun.” Adit meletakan HP-nya di atas meja, “Kita impas.” Katanya.

__ADS_1


Gue mendengar apa yang Adit katakan barusan, namun gue yang fokus ngeliat-liat kiriman file gambar dari dia, enggak begitu memperduliakan.


Saking  kagumnya, gue enggak bisa berhenti memperhatikan gambar-gambar karya Adit. Untuk orang awam seperti gue, beneran, gambar karya Adit keren banget, gue bahkan belum bisa percaya kalau ini Adit yang gambar. Beberapa di antarnya, ada fanart anime seperti, Goku dari anime Dragon Ball, Naruto dari anime  Naruto, Luffy dari Anime One Piece, Ichigo dari anime Bleach dan masih banyak lagi. Gue bisa menikmati gambar-gambar ini.


Enggak kerasa gue ternyata tersenyum, gue bangga punya temen kreatif kayak Adit, soalnya gue adalah orang yang menyukai seni. Gue suka baca novel, nonton film, gue juga suka menikmati musik. Untuk gambar digital semacam ini, gue masih lumayan awam karena gue enggak begitu sering baca komik, lebih suka nonton anime-nya. Gue tahu, untuk ngebuat gambar digital kayak yang Adit lakukan itu susahnya minta ampun, pasti butuh waktu dan latihan yang lama. Sekali lagi, gue salut sama Adit.


“Ini bag...” Gue segera memotong sebelum sepenuhnya memuntahkan perkataan.


“Hmm?” Adit keliatan bingung.


Tunggu dulu, kalau gue bilang ‘bagus’ pasti dia bakal merendah dan enggak mau mengakuinya. Dia juga bisa aja malu-malu dengan pujian yang gue berikan. Gue tahu ini bagus, tapi mungkin bagi Adit, gambar karya dia, yang dia kirim ke gue ini bagi dia masih banyak kekurangan dan jelek. Oleh sebab itulah dia memilih untuk enggak memamerkan karyanya atau memberitahu karyanya ke orang-orang. Status WhatsApps dia juga enggak pernah tentang gambar digital, enggak pernah dia memposting kegiatan menggambarnya di media sosial manapun yang ia punya. Dia emang orang ceria dan sering bikin status di sosial media,sih, tapi dia tertutup soal bakat menggambarnya. Bahkan sebagai teman deketnya, temen sebangkunya, baru malem ini gue tahu kalau Adit bisa ngegambar.


“Ternyata orang kayak lo punya rahasia semacam ini juga, ya?” Gue menggigit satu keripik citatos.


“Gue enggak bermaksud nyembunyiin tentang hobi menggambar gue,sih...” Membiarkan laptopnya menyala, dengan tampilan layar masih sketsa komik yang dia buat, Adit melangkah ke tengah ruangan kamar, berdiri di depan gue, dia berkata, “Tapi gue udah menyerah sejak kelas 1 SMA.”


Gue diem terus bertanya, “Menyerah maksudnya?”


“Gue boleh cerita sesuatu?” Adit memasang wajah serius. Dia mengambil satu bungkus keripik kentang di atas kasur, di dalam kantung plastik yang ada di samping gue.


“Boleh, cerita aja.” Gue siap menyimak. Penasaran dia mau cerita apa.


Setelah ngambil cemilan, dia duduk kembali di meja belajarnya. Adit membuka bungkus cemilannya, memakan satu keping keripik, lantas mengetik sesuatu di laptop, kemudian dia nunjukin sebuah gambar yang kayaknya itu adalah karyanya dia.


Gue mendekat untuk melihat lebih jelas gambar di dalam layar laptop Adit. Gue berdiri di samping Adit yang duduk di kursi belajarnya. Yang satu ini emang beda banget, warnanya lebih tajam dan sempurna. Baju kotak-kotak si gadis sama rambutnya keliatan bagus banget. Pasti Adit ngegambar ini dengan usaha keras dan ketulusan hati. Kayaknya gue udah bisa bilang kalau dia adalah seorang seniman.


“Anjir, keren banget yang ini.” Gue berdecak kagum, enggak bisa nahan lagi buat muji dia, mata gue masih tertuju ke arah laptop Adit. Lalu Gue menatap ke arah Adit, “Ini beneran lo yang gambar?”


Adit mengangguk. “Iya, hampir makan waktu tiga bulan.”


“Untuk satu gambar ini doang butuh waktu tiga bulan?” Gue menelan ludah, enggak nyangka.


“Iya, tapi bagus, kan?”


“Keren, parah.”


Gue kemudian berkacak pinggang, keinget dengan apa yang beberapa detik yang lalu Adit katakan. “Tadi lo bilang kalo lo menyerah sama bakat lo, kan? Maksudny apa?”


Adit menghela nafas, memakan keripik kentang lagi. kesunyian menggantung di ruangan untuk beberapa detik. “Lo tahu, cewek yang gue gambar  itu ada di dunia nyata.”


“Iya, kah?” Gue memperhatikan gambar itu lagi. Kali ini mata gue lebih teliti untuk mencari tahu siapa gerangan orang yang di maksud Adit. Makin lama mengamati, gue makin menyadari sesuatu. Perlahan, otak gue mengolah ingatan yang ada, hingga mencapai pada kesimpulan yang mengantar gue pada sosok itu.

__ADS_1


“Jane, anak cewek ekskul musik yang tadi main keyboard, yang lo incer itu?”


Adit mengangguk.


Adit menuangkan seluruh perasaannya ke gambar ini pasti. Detail dan pewarnaanya berasa tulus banget, gue bisa ngerasain itu. Gue kemudian terpikir sesuatu.


“Coba, deh, lo tunjukin gambar ini ke dia. Pasti dia langsung kelepek-kelepek. Soalnya ini bagus banget!”


“...”


Adit malah tertunduk diem. Gue jadi ngerasa  salah ngomong. Apa mungkin selama ini dia malu nunjukin gambar itu ke Jane dan hanya nyimpen itu sebagai dokumen pribadi? Sama seperti gue yang menyimpan naskah-naskah gue dan enggak mau ngirim lagi ke penerbit karena berulang kali mengalami penolakan dan ngebuat gue nyerah.


Adit ngeliat ke arah layar laptop dengan senyuman. Dia kayak mengagumi gambarnya, gitu. Terus dia bilang, “Gue udah nunjukin ini ke dia, kok.”


Oh, udah ternyata.


“Udah lama gue ngasih liatnya.”


“Kapan, dit?”


Adit makan satu keping keripiknya lagi. “Udah lama banget,yan. Dari kelas satu.”


“Dari kelas satu?!” Udah lumayan lama, ya. “Jadi lo gambar ini pas masih kelas satu?” Gue lanjut ngomong.


Dia mengangguk dengan seksama.


Adit memandangi mahakarya yang dibuatnya, tersenyum. Dia seakan nginget masa lalu. Mungkin dia inget saat-saat pas dia nge gambar itu, atau mungkin aja dia inget ketika dia ngasih liat karya yang ia dedikasikan buat Jane, ke orangnya langsung. Entah apa yang Adit pikirin, tapi dia nanya ke gue, “Lo tahu nggak, gue cetak, trus gue bingkai yang cantik sebelum gue tunjukin ke dia.” Adit diem sebentar sebelum akhirnya nanya. “Lo tahu, dia bilang apa pas gue kasih liat ini?”


Gue menggelengkan kepala.


“Dia bilang, ‘Bagus, sih, tapi buat apa lo repot-repot gambar gue?’ gitu.” Adit tersenyum, “Trus malah di buang ke tempat sampah, padahal, gue berharap itu bakal jadi pajangan di kamar dia.” Lanjut Adit. Dia keliatan menyembunyikan kesedihan.


“Gilak, dingin amat tu cewek.”


Gue tahu, Adit pasti ngerasa nge-down banget waktu itu. Karya yang dia buat dengan sepenuh hati enggak di hargai sebagai mana mestinya, padahal dia cuman mau dapet perhatian dan pujian dari cewek idamannya.


Sebentar, apa bener dia kemudian menyerah pada menggambar cuman gara-gara enggak di hargai sama Jane? Iya,sih, perlakuan Jane pada Adit emang lumayan nyakitin, tapi masa iya gitu aja Adit nyerah cuman gara-gara itu, dia enggak mungkin menyerah segampang itu.


“Trus, lo nyerah, gamau gambar lagi gara-gara itu?” Gue bertanya, “Atau ada hal lain?”


“Bisa di bilang iya, sih, gue nyerah karena itu. Lo boleh bilang gue lembek atau semacamnya, ini masalah hati. Aneh banget emang, tapi rasanya semangat gue untuk menggambar tiba-tiba runtuh sejak saat itu.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2