
Angin berhembus dari jendela ruang ekstrakurikuler gamelan yang kebuka dikit. Hembusan angin itu berasa lembut ketika menerpa wajah gue. Sesekali gue ngantuk karena ngerasa damai.
Saat ini gue sedang berada di ruang ekstrakurikuler gamelan, duduk di salah satu kursi yang ada di deket meja di tengah ruangan tempat kita, anggota ekstrakurikuler menulis biasa berkegiatan entah apapun itu. Sambil baca komik yang gue beli pas berangkat sekolah, gue mencoba menghabiskan waktu.
Di ruangan ini gue enggak sendirian, di seberang meja, tepatnya di hadapan gue, ada Nat yang juga lagi sibuk sama diri dia sendiri. Nat lagi sibuk ngerjain PR fisika yang bakal dikumpulkan besok. Sekarang udah setengah tiga, jadi kurang lebih, gue dan Nat udah hampir satu jam ada di ruang ekstrakurikuler gamelan dengan posisi kayak gini. Beberapa kali kita bercakap-cakap, cuma buat basa-basi aja dan saling diem karna sibuk.
Udah sekitar seminggu lebih sejak gue gabung sama kelompok ekstrakurikuler menulis, dan gue ngerasa nyaman aja sama mereka semua. Hampir tiap selesai semua mapel, gue langsung bergegas ke ruangan ini untuk menghabiskan waktu luang atau menulis sesuatu. Bisa dibilang, ruangan ekstrakurikuler gamelan ini jadi tempat bernaung gue di sekolah.
Selama seminggu lebih, gue rutin kesini. Kadang ada Jodi, kadang ada Nat, Kadang ada Jodi dan Nat, Kadang Evi, Kadang kita semua dateng, ya gitu, pokoknya nyaman-nyaman aja. Meski kelompok ekstrakurikuler kita enggak punya banyak kegiatan kayak kelompok ekstrakurikuler lain, kita tetap punya kegiatan rutin, kok, yaitu nulis apapun buat ngisi mading mingguan. Selain itu juga rapat mengenai apa yang akan kami lakuin buat berpartisipasi di acara ulang tahun sekolah yang sebentar lagi tiba.
Kita udah mantep bakalan jualan karya, meski sampai sekarang belum tahu sama sekali tentang karya macam apa yang bakal kita buat untuk dijual.
"Argghh… capeknya."
Nat tiba-tiba merenggangkan tulang belakangnya sambil bilang begitu.
"Hoamm…" Sedangkan gue menguap, makin ngantuk.
Gue membalik lembar komik untuk lanjut membaca lanjutan cerita komik yang lagi gue nikmati, kemudian bertanya, "udah selesai?"
"Belom, tinggal dikit." Jawabnya.
Suasana disini lumayan tenang, gue lumayan suka. Tapi akan beda kalau Jodi yang ada disini, dia lumayan berisik soalnya, ngajak ngobrol terus.
Saking tenangnya, gue sampai bisa ngedenger kelompok ekstrakurikuler lain yang lagi berkegiatan, padahal ruangan ini ada di sudut sekolah, agak jauh dari peradaban. Gue juga dapat mendengar samar-samar suara dari kelompok ekstrakurikuler atletik yang lagi latihan.
"Lama-lama ngebosenin, ya." Kata Nat.
"Apanya?" Tanya gue.
"Kegiatan kita hari ini."
"Bukannya tiap hari emang begini, ya?"
"Iya sih."
Entah selesai dengan PRnya apa belum, Nat menutup bukunya. Terus, dia ngebenerin rok OSISnya dikit, sebelum akhirnya nyender di kursi yang dia duduki sambil mikirin sesuatu.
"Udah semingguan lebih kita mikirin ini tapi sama sekali belum ada titik temu." Dia megangi dagu.
"Apa?" Kata gue, sambil membalik lembar komik.
"Karya tulis yang bakal kita buat, masa lo enggak ada ide sama sekali, sih, yan?"
"Ada, sih." Gue asal ngomong.
"Masa?"
__ADS_1
"Iya."
"Apa?" Nat kali ini bertanya lebih serius.
Oh, jadi dia se penasaran itu, ya? Padahal gue cuman kepikiran satu hal aja. Gue pikir ini enggak bakal diterima sama Nat dan yang lainnya karena mungkin ini bukan ide yang bagus bagi mereka. Gue juga enggak berharap lebih, sih, diterima ya syukur, enggak juga enggak apa-apa.
"Gimana kalau kita bikin kumpulan cerpen aja?"
Setelah mendengar Ide dari gue, seketika Nat langsung memasang wajah serius sambil megang dagu.
"Hmm…"
Nat menyentuh bagian tengah kacamatanya, dia memikirkannya dalam-dalam, suasana di sekitar menjadi hening.
Jadi, misal ide gue disetujui, konsepnya akan jadi antologi cerpen. Karena anggota ekstrakurikuler menulis cuma empat orang, jadi kita harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan buku yang tidak tipis. Yang jelas, tiap orang kebagian nulis lebih dari satu judul cerpen, untuk kemudian dikumpulkan menjadi satu buku dan dicetak.
"Maksud lo antologi?" Tanya Nat.
"Kurang lebih begitu. Gimana?"
"Ide bagus, tuh, yan!" Nat kelihatan sedikit lebih bersemangat dari yang tadi.
ia kemudian ngomong lagi, "Kalau begitu, karena anggota kelompok kita cuman empat orang, masing-masing dari kita berati mau enggak mau harus nulis lebih dari satu judul, yan?"
Gue mengangguk, mengiyakan kata Nat karena kenyataannya emang kayak gitu.
"Merepotkan banget." Kata gue.
Setelah kami berdua sepakat dengan ide itu, Nat langsung ngasih tahu Evi dan Jodi melalui grup WA kita. Mereka berdua setuju-setuju aja dan langsung ngajak rapat kalau ada waktu.
Hari ini Jodi lagi sibuk sama kelompok ekstrakurikuler Musik, dia lagi latihan sama Bunga dan yang lainnya. Sementara Evi lagi enggak masuk karena diserang demam, kasian.
"Akhirnya kelompok ekskul kita punya tujuan juga." Nat berbicara dengan perasaan lega.
"Iya, alhamdulilah." Kata gue.
Setelah itu, gue memilih untuk lanjut baca komik lagi karena emang enggak ada yang perlu kita omongin lagi.
Sementara Nat yang kayaknya mulai bosen ada dalem satu ruangan sama gue, dia tampak beranjak dari tempat duduknya, berkeliling ruangan liat-liat alat-alat musik gamelan yang ada disitu. Sesekali dia iseng ngebunyiin alat musik yang pengen dia coba. Jujur, kegiatannya itu agak ngeganggu gue yang sedang menikmati baca komik.
Suara pukulan bola kasti yang dipukul pake kayu kedengeran dari tempat gue berada. Dari jendela ruangan yang terbuka, gue ngeliat ke arah depan dan langsung ngeliat ke arah lapangan sepak bola. Gue ngeliat ada anak kelas 10 lagi maen kasti, kayaknya seru. Gue tau mereka kelas 10 karena baju olahraga yang mereka pake.
"Nat!" Gue tiba-tiba manggil Nat.
Dia enggak ngerespon. Pas gue ngeliat kearah dia, Nat lagi asik megang-megan gong.
"Nat!" Gue manggil lagi.
__ADS_1
"Apa?" Kali ini dia denger.
"Lo pernah main kasti, enggak?" Tanya gue.
"Pernah, gue kalo dirumah kadang masih maen sih sama anak-anak tetangga." Nat berdiri setelah mengatakan itu, kemudian dia melanjutkan, "Emang kenapa?"
"Ada yang maen kasti, kayaknya seru."
"Mana?"
Nat berjalan menghampiri jendela setelahnya. Dia ngeliat keluar jendela, lebih tepatnya ke arah enam orang anak kelas sepuluh yang lagi main kasti.
"Wah… pada main kasti." Kata Nat dengan penuh semangat.
"He em." Kata gue sambil menutup buku komik.
"Lo bisa main kasti?" Tanya Nat sambil terus melihat keluar jendela.
"Enggak pernah. Tapi gue tahu cara mainya."
"Sama sekali?"
"Iya, gue enggak pernah main kasti sama sekali."
Nat kemudian menatap gue dalam-dalam. "Beneran lo enggak pernah main kasti?" Tanyanya.
"Gue jarang olahraga, pelajaran olahraga juga sering bolos. Jadi, cukup masuk akal kalau gue enggak pernah main kasti." Gue menjelaskan.
"Mau nyoba?" Nat bertanya.
"Penasaran, sih, tapi…"
Belum sempat gue selesai bicara, tiba-tiba aja Nat, si cewek kacamata, berambut pendek dan berwajah manis itu tiba-tiba sedikit berteriak keluar jendela, tepatnya ke arah anak-anak kelas 10 yang sedang bermain kasti.
"WEII, BOLEHH IKUTT MAINN ENGGAK?!!"
Gue enggak nyangka dengan apa yang dia lakuin. Tiba-tiba aja dia mau ikut maen.
"Ngapain, sih? gabut banget lo." kata gue.
Dia menatap gue sebentar, terus ngeliat keluar jendela lagi dan teriak, "KITA DUA ORANG, BOLEHH KANN?!!"
Gue terdiam bingung.
"Iya, gue mau ikut main. Sama lo juga." Kata Nat sambil tersenyum ke arah gue.
"Haa??"
__ADS_1
Bersambung….