Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu

Bukan Tidur Yang Bikin Aku Mimpi, Tapi Kamu
Chapter 25 : Sup Daging


__ADS_3

Satu per satu dari mereka mengeluarkan barang bawaan yang mereka maksud. Bunga mengluarkan beberapa bungkusan makanan mentah yang dikemas dengan wadah sterofom yang di balut dengan pelastik tipis. Gue enggak tahu model kemasan kayak gitu disebut apa, pokoknya kalau beli sayuran, buah, atau daging dan yang lainya di supermarket atau minimarket biasanya bakal nemu model kemasan kayak gitu.


"Gue bawa ini." Bunga meletakannya di atas meja satu-satu.


Bunga bawa sosis yang ukurannya besar, jumlahnya ada tiga kemasan, per kemasan berisi lima buah sosis, berati total ada lima belas sosis. Trus, Adit bawa daging dengan berbagai macam irisan, ada yg diiris tipis ada yang di iris persegi, ada yang di iris pipih persegi panjang dan lain sebagainya. Sementara Olivia ngeluarin berbagai macam sayur mayur dari sebuah kantong plastik warna putih yang dari tadi ia bawa, Olivia bawa macem-macem, ada selada, tomat, kol, toge, brokoli, kacang panjang dan lain-lain. Gue terdiam untuk beberapa saat, nyadar kalo emang persiapan mereka untuk malem ini ternyata lebih mateng dari gue.


"Kalian niat banget, sampe bawa-bawa begituan kerumah."  Kata gue.


"Jangan bilang 'begituan' dong,  Riyan!" Olivia tiba-tiba memperingati gue. "Ini semua bahan makanan yang belum di olah." Lanjutnya dengan wajah cemberut.


"Tadinya gue sama Bunga enggak ada niatan buat bakar-bakar daging dan nunggu pergantian tahun dengan biasa aja, sih." Adit keliatan ngelirik ke arah Olivia dan gue mengikuti lirikan Adit.


Oh, jadi si nona paling baik hati itu ya yang merencanakan acara makan-makan malam ini. Semua bahan makanan yang akan mereka olah juga tampak mewah, gue yakin semua hasil dari patungan dari uang mereka. Gue enggak ikut patungan karena gue enggak di kasih tahu, dan itu bukan berarti gue harus ikut bayar uang patungan sekarang, kalau pun di suruh juga gue enggak mau. Tapi, gue juga punya hak untuk ikut menikmati makan-makan nanti meski enggak ikut patungan, karena gue udah nyediain tempatnya, jadi untuk gue gratis aja. Gue yakin, yang paling banyak ngasih uang patungan buat beli semuanya adalah Olivia.


Enggak lama kemudian, Rangga juga mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik di sebelahnya. Dia ngeluarin sebungkus jamur warna putih yang bisa dimasak dan memiliki rasa yang enak, gue lupa nama jamur itu apa, pokoknya itu jamur biasa di sayur sama di buat menu krispi. Rangga juga ngeluarin bahan yang lain seperti bumbu rempah instan dan yang lain.


"Udah semua, kan?" Tanya Olivia yang membuat semua mengangguk kecuali gue.


Gue menatap semua hal yang ada di atas meja panjang ruang tamu di hadapan kami berlima. Ini benar-benar diluar dugaan. Gimana ya? Sebenernya dibilang seneng karena temen-temen ngadain beginian di rumah gue… enggak juga. Karena menurut gue acara masak-masak sekala besar kayak gini itu pasti repot banget, males. Dibilang benci juga enggak, karena gue bisa makan enak gratis malem ini, repot dikit karena bantu masak enggak masalah deh, karena toh pada akhirnya gue bakal nikmatin hasinya juga, jarang-jarang nih, makan daging kualitas bagus, itung-itung perbaikan gizi.


"Ah, iya, seinget gue, lo punya kompor listrik portable kan, yan?"


"???" Gue terdiam tertimbun tanda tanya di kepala pas Adit bilang gitu. Dia tahu hal itu darimana?


Emang bener sih, di rumah ini ada kompor listrik potable. Itu kompor punya kakak gue, hadiah ulang tahun dari temennya dia. Seinget gue, baik kakak gue maupun gue sendiri belum pernah gunain tu kompor buat masak, malahan, kompornya aja masih terbungkus dengan rapi di dalem lemari kaca yang ada di dapur.


"Tahu darimana kalo gue punya kompor listrik portable?" Gue menatap Adit. "Mencurigakan."


Bukannya ngerasa tersudut karena gue curigai, malah dengan bangga dia berkata, "hehe… keren kan gue bisa tahu."

__ADS_1


"Tahu darimana?" Tanya gue dengan santai. Gue penasaran, setahu gue dia enggak pernah main ke dapur kalo berkunjung kesini.


"Inget nggak, sekitar dua minggu yang lalu gue pas main kesini, gue ke kamar mandi bentar?"


Gue mengangguk dengerin Adit.


"Nah, waktu itu gue pas lewat dapur ngeliat ada kompor listrik satu tungku masih belum di buka."


Jeli juga dia padahal gue naruh itu dengan posisi tertumpuk oleh barang yang lain yang tersusun rapi secara vertikal, jadi dia udah pasti cuman bisa liat sisi samping kotaknya dari luar lemari perabot kaca.


Adit teliti banget ternyata, gue yakin orang lain enggak akan tahu kalau benda yang ada di dalam kotak itu adalah kompor listrik jika dia ngeliatnya dari samping seperti yang Adit lakukan, gambar kompornya cuman ada di baguan atas kotak, sementara di setiap sudut tersebut hanya warna putih polos. Hebat banget sih Adit bisa tahu kalau yang ada di dalem kotak itu kompor.


"Gue ijin ambil tu kompor ke dapur enggak masalah, kan?"


"Silahkan, tapi hati-hati ya."


Adit beranjak dari posisi duduknya untuk kemudian berjalan menuju dapur.


Bunga menyalakan TV yang menyiarkan acara konser musik di ibukota, yang nantinya juga acara itu akan menampilkan hitung mundur pergantian tahun. Acara klise dan khas tahun baru. Hampir tiap tahun pasti stasiun televisi bakal ngadain acara konser musik dan hitung mundur, terus kembang api, demi rating.


Kami berlima menikmati sup daging dan jamur krispi dengan lahap. Sesekali Adit mengambil nasi dari magic jar yang gue pindah dari dapur, ke ruang tamu. Asap tipis keluar dari dalem magic jar menandakan kalau nasinya masih anget. Makan sup daging di temani sirup dan es krim bareng temen-temen berasa menyenangkan dan menghangatkan hati meski ada rasa cemburu ngeliat mantan sama pacarnya.


Selesai makan, Adit bersendawa karena kekenyangan. Diantara kami kayaknya dia yang paling banyak makan.


"Alhamdulilah…" Ucap Adit sambil megang perutnya.


"Enak, kan, dit?" Tanya Olivia pada Adit.


"Iya, enyak, bwngeyt luivv… nyam nyam." Sahut Bunga sambil mengunyah.

__ADS_1


"Telen dulu baru ngomong!" Gue menasehati.


Kemudian Olivia lanjut bicara, "Syukur deh kalo kalian suka menu dari aku." Olivia tersenyum senang.


Tapi beneran, masakan buatan kami enak banget. Ini semua berkat panduan resep dari Olivia. Gue tahu dari pas masih pacaran sih kalau dia suka masak, tapi gue enggak nyangka bakal seenak tadi.


Gue memandangi panci berisi sop daging, di atas kompor listrik uang masih memunculkan asap tipis. Jujur aja, ini baru pertama kalinya gue makan makanan yang resepnya dari mantan gue. Dari dulu pas masih pacaran gue enggak pernah ngerasain masakan dia karena separuh hubungan kita itu LDR, soalnya beda sekolah. Eh, enggak taunya keturutan bisa ngrasain masakan dia pas udah sama yang lain. Meski enak, tapi ada hambarnya dikit, mungkin kecampur cemburu dikit.


"Yan?"


"Hemm?" Gue menjawab singkat panggilan Adit.


"Ada yang mau gue obrolin bentar." Kata Adit.


"Ngomong aja." Gue menopang dagu, siap menyimak.


Olivia dan Rangga yang masih makan sejenak menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan gue dan Adit, seakan menunggu adegan romantis dari sepasang homo romantis. (YANG JELAS GUE BUKAN HOMO, KALO ADIT NEMBAK GUE, BERARTI ITU BENCANA BAGI GUE, SUMPAH GUE NORMAL.)


"Enggak bisa disini, kita ke kamar lo aja." Balas Adit.


"Om jangan om." Gue mencoba becanda.


Olivia dan Rangga makin ngeliatin kita dengan tatapan mencurigakan.


Adit berdiri sambil bawa tas ranselnya. Ia mulai melangkah menuju ke kamar gue. Kayaknya ada hal serius yang pengen dia omongin.


Sialnya, Rangga sama Olivia malah ngeliatin gue dan Adit dengan mata yang serius, seakan mengira gue dan Adit beneran pasangan homo. Sialan.


Gue.enggak tahu ya apa yang Adit pengen omongin. Gue rasa ini tentang komik. Karena cuman itu.yang bakal Adit tanggapi dengan serius. YANG JELAS GUE BUKAN HOMO, GUE NORMAL. KALO ADIT EMANG BELOK GUE SALAH MILIH TEMEN DAN SAAT INI GUE DALEM BAHAYA!

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2