
Gue tersenyum lepas sambil ngeliatin langit-langit ruang tamu setelah mengingat masa-masa itu. Anak kucing putih hasil gue mungut di jalan kini udah ada di pangkuan gue, dia mengeong.
Beberapa kali gue ngelus-ngelus tu kucing sambil senyum-senyum sendiri, gue malah baru sadar kalau keadaan sekitar udah lumayan gelap. Segera setelah menyadari itu, gue meletakan si kucing di sebelah gue dan beranjak dari sofa untuk kemudian nyalain lampu ruang tamu dan teras.
Mata gue reflek ngeliat ke arah jam dinding, waktu menunjukan pukul setengah tujuh malem. Ya ampun cepet banget waktu berlalu, padahal gue ngerasanya cuman duduk sebentar.
Enggak lama kemudian, hape gue yang ada di meja bergetar dalam waktu yang cukup lama, seseorang menelpon. Gue kembali ke tengah ruangan untuk mengangkat telpon yang ternyata dari Adit.
"Yan, ini gue sama temen-temen udah mau otw kesana." Adit, dari sambungan telpon, ia kedengeran semangat banget.
Suara Bunga, dan Olivia terdengar samar-samar di sana.
"Kedengeran rame banget Olivia sama Bunga lagi pada ngrumpi." Kata gue.
Adit ketawa dikit, "Hehe… iya lagi pada ngomongin kotak suara pemilihan ketua OSIS."
"Tiap ada pemilihan OSIS, pasti jadi bahan omongan yang menarik, ya. Bahkan, Olivia yang baru pindah di sekolah kita aja sampe tertarik ngomongin itu."
Adit terkekeh lagi, "Ya, begitulah…" Katanya. "Tapi tahun ini ada yang aneh dengan kotak suara pemilihan OSIS." Lanjutnya.
"Aneh kenapa?" Gue bertanya, penasaran.
"Nanti gue ceritain pas udah nyampe sana, ini kita otw sekitar jam tujuh."
Gue melihat sekeliling ruang tamu, memastikan kalau persiapanya udah cukup. Gue kemudian menjawab singkat, "oke deh, gue tungguin."
"Oke." Sebelum menutup sambungan telpon, Adit ngomong sesuatu, "ngomong-ngomong… nanti siapin hati lo ya, Olivia dateng sama pacarnya."
Adit langsung memutuskan sambungan telpon tepat setelah menyelesaikan apa yang dia katakan.
Entah kenapa badan gue jadi agak lemes setelah denger pesan terakhir Adit. Apakah gue masih cemburu? Ya, jelas banget gue masih cemburu, belum rela dia sama orang lain.
Untuk menepis semua kecemburuan yang beredar di kepala dan hati gue, gue segera menyiapkan hal lain untuk acara malem ini. Hampir aja lupa, gue sama sekali belum nyiapin minuman buat mereka nanti. Kayaknya, di kulkas masih ada sirup marjan dan di freezer juga masih ada es batu yang gue taruh di cetakan kubus.
Nyampe di dapur, gue segera menyiapkan teko plastik ukuran besar. Membuka kulkas, gue enggak salah duga, ternyata emang di dalem situ masih ada sirup marjan warna merah, rasa melon. Lanjut membuka frezer, gue agak cemberut. Sial, enggak ada es batu.
Gue menutup kulkas dan terdiam dalam waktu yang cukup lama. Kepikiran untuk keluar bentar dan beli es batu, sih. Tapi males banger rasanya. Mending gue WA Adit untuk nyuruh dia bawain es nya.
__ADS_1
Abis ngelamun bentar, gue langsung aja menuangkan sirup manis ke teko, secukupnya. Terus, gue kasih air dan gue aduk. Teko kini di penuhi cairan manis warna merah. Mending gue siapin sirupnya dulu lah, biar nanti kalau Adit dateng bawa es, tinggal masukin aja.
Gue berkacak pinggang di ruang tamu, nengamati apa aja yang udah gue sediain di meja tengah. Kripik, biskuit, buah, dan segala macam cemilan pedes manis yang gue beli tadi. Dan enggak lupa sirup Marjan tanpa es.
"Meeoong!" Anak kucing pungut mengeong.
Ngeliat ke bawah, si anak kucing pungut melingkari pergelangan kaki kanan gue sembari menggesek-gesekan pipi nya ke kaki gue, manja. Gue pun jongkok untuk ngelus-ngelus dia. Kayaknya dia juga siap menyambut malem pergantian tahun.
Masih pukul setengah tujuh, ada waktu dikit buat nyantai. Gue memutuskan untuk ke kamar ngambil buku, nglanjutin baca novel 'Hyouka' yang gue pinjem dari perpustakaan. Di temenin kucing pungut, gue baca novel di ruang tamu.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu kemudian terdengar setelah entah berapa lama gue membaca novel. Itu pasti temen-temen.
"Assalamualaikum." Suara Adit ngucapin salam.
Gue menjawab salam tersebut, kemudian menutup buku bacaan gue. Sebelum berdiri dari sofa, gue menghembuskan nafas lumayan panjang, menyiapkan diri untuk menyambut orang-orang yang ada di balik pintu depan.
Ketika gue mulai melangkah, si kucing pungut langsung melompat mengikuti gue dari belakang. Dia mengeong ketika gue ngelirik ke arahnya, seakan bersiap menyambut tamu. Gue dia sejenak ketika berada di dekat pintu. Suara Olivia, Bunga, Adit terdengar saling mengobrol tipis dengan suara pelan. Kemudian, ada suara orang yang enggak gue kenal ikut ngobrol, itu pasti pacarnya Olivia.
Karena gue kelamaan enggak buka pintu, Adit ngetuk pintu lagi dan ngucapin salam untuk kedua kalinya.
Gue menjawab salam sembari ngebuka pintu dengan memasang ekspresi datar. Semua orang yang ada di depan pintu keliatan senyum semua di hadapan gue. Dengan cepat, mata gue langsung tertuju pada cowok dengan rambut lumayan gondong yang mengenakan jaket Dilan. Akhirnya gue bisa ngeliat wajah dia dengan jelas setelah beberapa lama gue cuman ngeliat dia samar-samar pas jemput mant… maksud gue Olivia. Lumayan ganteng, beneran lebih ganteng dari gue.
"Lama amat buka pintunya."
"Lagi ngapain, sih?"
"Kamu lama buka pintunya."
Adit, Olivia, dan Bunga ngomong saling bergantian. Gue hanya menanggapinya dengan santai, "maaf, tadi dari WC."
"Wah, lucunya, kucing siapa ini?" Olivia jongkok, ngelus si anak kucing. Kemudian berdiri lagi sambil nggendong kucingnya.
"Gue baru tau lo punya kucing." Kata Adit.
"Baru mungut di jalan. Tadi gue kasian ngeliat dia terlantar, ya gue bawa aja."
__ADS_1
"Baik banget, sihh!" Bunga mengacak-acak rambut gue dengan gemas.
Adit ngebawa barang bawaan yang lumayan banyak. Entah apapun itu, di dalem kantong plastik yang dia bawa itu pasti ada makanan. Dan juga, dia bawa tas ransel, enggak tau deh isinya apa, yang jelas dia keliatan semangat banget.
Adit nyelonong masuk gitu aja ke dalem rumah sebelum gue mempersilahkan masuk. Terus Bunga juga ikutan masuk.
"Wei, gue belum nyuruh masuk!" Gue memperingati mereka berdua, tapi Adit dan Bunga malah enggak peduli. Dasar, mentang-mentang deket, enggak ada sopan santunya mereka.
"Maaf ya, mereka seenaknya." Olivia meminta maaf dengan sopan.
"Kenapa dia yang minta maaf dah?" Kata gue dalem hati.
Pacarnya Olivia mengulurkan tangan kanannya ke gue, ngajak salaman. Gue pun menyambutnya sambil senyum kepaksa.
"Kenalin, gue Rangga, pacarnya Olivia…" Katanya, sambil tersenyum ramah. "Salam kenal." Lanjutnya.
Abis ngomong gitu, Rangga masuk ke dalem, bergabung dengan Adit dan Bunga.
Setelah si Rangga agak jauh dari jarak gue dan Olivia, Olivia nepuk pundak gue, lalu ngomong dengan suara pelan." Riyan, jangan bilang dia ya kalau kamu itu mantan aku, aku belom ngasih tau soalnya, kalau dia tau pasti dia enggak mau dateng kesini dan marah. Aku juga udah ngasih tau Adit dan Bunga biar enggak ngasih tahu ke Rangga kalau kamu itu mantan aku."
"Iya, iya, gue enggak akan bilang, santai aja."
"Makasih, Riyan." Olivia tersenyum manis dan kemudian masuk ke dalem.
Ya, begitulah. Gue paham kok. Mungkin aja pacar dia yang sekarang itu cemburuan banget, jadi dia bakal cemburu dan marah kalau tau pacarnya masih deket sama mantanya. Entahlah, enggak begitu peduli, pokoknya tujuan gue tetep sama, pengen balikan sama sosok anggun yang gue perhatikan, Olivia.
"Eh, dit, lo bawain Es batu titipan gue kan? Langsung masukin aja ke dalem teko Marjan." Gue berpesan pada Adit.
"He em, nih, enggak ada es batunya, enggak dingin." Kata Bunga. Dia malah udah menikmati sirupnya dengan santai di sofa.
Adit keliatan bingung. Dia keliatan garuk-garuk rambut sambil berkata, "Lo suruh gue bawa es batu, ya?"
"Iya, emang kenapa?" Gue bingung.
"Sorry, yan, gue malah beli es krim."
"Anjir." Gue menatap Adit dengan datar.
__ADS_1
Bersambung …