Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
11. Temanku Tidak Melihat Apapun


__ADS_3

..."Air laut dengan luas tak terbatas akan terkalahkan dengan cucuran air mata seseorang yang kecewa denganmu." @dokterhoki_...


Aliya Sachi Glendales, sebut saja Glen adalah teman setia Amanda sejak pertama kali mereka bertemu. Sekarang Glen tengah menikmati makan malam bersama pamannya sendiri, tangannya dengan lihai mengatur peralatan makan dengan sopan santun yang terjaga.


"Glen, bagaimana sekolahmu?" Tanya paman Glen tiba-tiba sembari menikmati makanannya.


"Baik, aku mempunyai teman yang mau mendengarkan aku. Dia anak yang baik bahkan dia mengetahui hampir semua tentangku." Balas Glen santai, ia terus menyuap makanannya hingga habis.


"Siapa dia? Boleh aku tahu namanya?" Tanya paman Glen yang membuatnya sedikit heran.


"Nikle Amanda, boleh aku minta makanan penutup milikku?" Ungkap Glen membuat pelayan tergerak untuk mengambilkan makanan penutup miliknya.


"Oh.." Respon sang paman membuat Glen mengangkat bahunya.


"Kenapa paman tiba-tiba menanyakan temanku? Biasanya paman bahkan tidak pernah menanyakan kabarku." Ungkap Glen sedikit tertawa.


Disela-sela obrolan mereka berdua, datanglah seorang pria besar menghampiri paman Glen dan membisikkan sesuatu padanya.


"Huh, baiklah. Atur jadwal untuk bertemu dengannya." Ucap paman Glen dengan nada tegas mengiringi suaranya.


"Ada apa paman?" Tanya Glen heran melihat ekspresi wajah pamannya.


"Aku harus mengatur jadwal untuk besok, ada pertemuan penting." Balas paman Glen yang direspon anggukan kecil dari Glen.


"Maaf-"


"Pesanan anda sudah datang, selamat menikmati." Ucap pelayan dengan sajian makanan penutup berupa es-krim cokelat dilapisi karamel gula.


"Terimakasih."


Glen memandang tak sabar dan langsung menyuapkan sesendok es dengan gembira, betapa senangnya ia merasakan sensasi lembut dan lengket dari karamel gula yang kental.


"Enak?" Tanya paman Glen memandang senang.


"Hmm, manis dan segar. Ini adalah makanan yang paling dinanti-nantikan. Oh iya, omong-omong paman tadi mau bilang apa?" Ungkap Glen sedikit penasaran.

__ADS_1


"Itu aku mau minta maaf, besok aku tidak bisa menemanimu berlibur." Ucap paman Glen.


"Tidak apa-apa paman, tapi aku mau meminta tolong sesuatu." Ucap Glen yang membuat pamannya sedikit terkejut, pasalnya ia jarang sekali meminta sesuatu.


"Apapun untukmu." Balas paman Glen singkat namun berbobot.


"Aku ingin bermain dengan temanku, aku ingin mengajaknya jalan, mengajaknya makan hingga berbelanja. Tapi aku butuh.." Penjelasan Glen langsung dipotong sang paman.


"Oke, pakai kartu kredit ini. Gunakan sepuasnya bersama temanmu, dan beli barang-barang tanpa peduli pada harganya." Ucap paman Glen menyerahkan kartu kredit di samping Glen.


"Hehe, paman seharusnya tau jika aku bukan anak seperti itu." Balas Glen santai.


Glen tetap tenang menyantap makanannya, bahkan hingga titik terakhir.


"Omong-omong apa temanmu tidak mempermasalahkan apapun bahkan kekurangan-kekurangan yang mungkin kamu miliki?" Tanya paman Glen yang disambut dengan senyuman manis penuh makna, seketika hati paman Glen bergetar.


"Hehe, ia bahkan tidak takut melihat luka-luka atau bekas tato di punggungku.." Santai Glen tersenyum bangga.


"Hah? Benarkah? I-itu mustahil!" Teriak paman Glen tidak percaya.


Di tengah perjalanan mereka masih saja membahas Amanda hingga lupa waktu, di ruang tamu Glen masih asik membicarakan tentang kisah kebersamaannya yang berhasil dibangun hanya dalam waktu singkat. Sifat paman Glen yang netral memang membuat Glen nyaman banyak berbicara.


"Hahahaha aku setuju jika Steven melindungi Amanda." Ceplosnya tiba-tiba, yang membuat paman Glen memukul meja tamu.


"Ada apa paman?" Reflek Glen bertanya setelah melihat ekspresi pamannya.


"S-sebaiknya kamu sekarang t-tidur.. sudah malam, tidak baik karena besok kamu mau banyak beraktivitas benar?" Ungkap paman Glen mencoba untuk tetap tenang tanpa membuat keributan.


"Ahh, baiklah. Aku harus mempersiapkan banyak energi, paman juga tidur ya. Aku duluan." Ucap Glen meninggalkan tempat.


Paman Glen hanya meneguk ludah mendengar nama anak bos besar di kantornya, bahkan ia sendiri tidak sanggup mengucapkan namanya. Gelar yang ada di atas nama cucu dari CEO perusahaan UNA itu bukanlah marga yang ringan, setiap keturunan dari situ akan dididik keras untuk melanjutkan jiwa kebangsawanan dari kekeluargaan tersebut. Entah dalam bentuk kehidupan keras di dalam masyarakat biasa atau kehidupan masyarakat kelas atas, mereka dituntut dengan sumpah setia untuk menghidupi anak-anaknya layaknya anak yang berkecukupan.


Matler Andrew, marga berat yang memiliki bobot. Di waktu remaja besar berusia 18 tahun mereka diberitahu sumpah yang akan mereka lakukan, jika mereka menolak maka mereka akan memutuskan tali persaudaraan dan terpisah dari kekeluargaan.


Tapi jika mereka setuju dan melakukan sumpah, maka mereka akan memberitahu cita-cita mereka yang diawasi dan harus terwujud sebelum mereka meninggal dunia. Jika anak dan istri mereka ditinggalkan maka keluarga Matler Andrew akan senantiasa memberikan bantuan hingga mereka dewasa. Keadaan inilah yang membuat kekeluargaan itu disegani layaknya seseorang yang dihormati.

__ADS_1


"Duh, apa-apaan ini?" Gumam paman Glen memijat keningnya.


_______


Minggu_ Ini adalah hari yang spesial bagiku karena temanku mengajakku jalan-jalan, jarang sekali ada teman yang mengajakku bermain di hari minggu.


"Amanda ~!" Suara teriakan khas yang dihafalkan telingaku, ini benar-benar membuatku senang.


"Glen.."


(Bruk!)


Suara berpelukan di tempat umum ini memang tidak pernah membuat seseorang hilang dari rasa malu, tetapi rasanya menyenangkan melepaskan rindu secara langsung seperti ini. Tangannya yang hangat memelukku erat seakan-akan kami tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama, aku juga merindukan teman cerewet yang tidak pernah berhenti mengoceh terlebih saat mengenalku lebih dalam.


"Aku suka bersamamu, jadi jangan tinggalkan aku." Ucap Glen tiba-tiba, matanya itu seakan-akan menatap mataku dengan ekspresi memelas.


"Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti itu, kapan aku bilang akan pergi hm?" Balasku diselingi dengan pertanyaan, harapanku dia tidak memikirkan banyak hal aneh di kepalanya.


"Aku bermimpi kalau kamu akan meninggalkan aku untuk kembali ke rumah, entahlah tapi mimpi itu terasa nyata. Mengapa rasanya aku tidak tenang ya?" Ungkap Glen sembari mengelus tanganku.


Dengan cepat aku menggenggam tangannya lalu mengajaknya berjalan-jalan.


"Tidak~ meskipun aku pergi kamu juga tidak akan kesepian. Tapi aku pasti akan kembali padamu secepatnya." Balasku santai, seakan-akan tidak tahu ingin membalas apa.


'Jadi kamu akan pergi?' Batin Glen sedih.


"Bagaimana kamu bisa yakin jika aku tidak akan sendiri? Jelas-jelas aku terlantar tanpamu." Ucap Glen sedih, poninya yang sudah turun pun bertambah turun.


"Jangan sedih ah! Aku kan tidak tahu apakah mimpimu itu sebuah pertanda atau hanya setan lewat Hahaha! Jangan dibawa sedih oke? Atau nanti aku akan memilih mati daripada pergi mau?"


"Tidak! Amanda harus tetap hidup! Aku tidak mau sendirian di dunia ini!"


"Baiklah-baiklah~ sekarang makan yuk, aku lapar nih." Ucapku membuatnya mengangguk dengan mudah.


Bagaimanapun ia tetap seorang bocah di mataku, bahkan tahun ini aku masih bisa menjinakkan seorang anak remaja. Ini sungguh luar biasa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2