Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
20. Jeritan seorang wanita


__ADS_3

"Kisah cintaku selalu terlihat layaknya kain sobek."


Dulu aku selalu membayangkan rajutan cinta akan selalu memberikan kekuatan yang luar biasa, pernikahan yang akan selalu terlihat indah dengan anak-anak sebagai wujud kasih sayang. Aku berfikir jika kekerasan rumah tangga adalah lelucon nyata yang tidak perlu diperhatikan, aku merasa dapat memilih laki-laki terbaik di masa depan.


Nyatanya ini tidak seindah fantasiku yang selalu melayang-layang di malam hari, dalam waktu singkat bahkan tak sampai dua tahun suamiku ternyata sudah berselingkuh. Kami hidup tidak seperti pasangan pada umumnya yang tidur di tempat yang sama, tapi kami sudah terpisah sejak awal. Kepulangannya selalu menjadi mimpi bagiku, selama sepekan ia hanya bisa pulang satu sampai dua hari. Padahal pada saat kami masih pada fase pendekatan tidaklah seburuk ini.


Anak perempuan pertama yang lahir membuatku memilih untuk berhenti bekerja sebagai perawat, lalu aku kembali bekerja disaat ia berumur dua tahun. Satu tahun terlewati, akhirnya aku memiliki anak kedua kembar.


Belum cukup suamiku menyakitiku dengan berselingkuh di tahun-tahun emas pernikahan kita, ia ternyata sudah bermain lagi di belakangku. Pada saat itu kehamilanku tengah menginjak usia tiga bulan, pada masa itu aku dikejutkan dengan segerombolan orang dengan satu orang wanita yang hampir menamparku.


Wanita itu marah padaku dan mengaku jika dia adalah istri tak resmi dari suamiku, aku dengan tegas mengatakan jika aku adalah istri resminya. Yang membuatku kesal dan jengkel adalah kenyataan jika ia sudah memiliki anak dari suamiku, padahal ia sudah mempunyai suami tapi tetap bermain dengan suami orang.


Air mataku tidak berhenti mengalir dan layaknya seseorang yang bodoh aku tetap mencintai suamiku, segala penghianatannya tak membuatku marah melainkan membuat hatiku berharap akan perubahannya menjadi lebih baik. Istri tak sah yang disembunyikan dariku ternyata tidak membuatnya menyesal, dia masih suka bermain bersama teman-teman wanitanya.


11 Maret 2011_ Aku keguguran, tepat saat usia kandunganku menginjak yang keempat bulan. Anak keduaku meninggalkan dunia bahkan sebelum melihatnya, disitu hidup kami menjadi sulit bahkan anakku yang pertama kuajak untuk berjualan di siang hari untuk makan. Aku kira suamiku juga tidak makan, kukira ia sedang berjuang di jalan yang benar, kukira ia sedang bekerja keras demi perbaikan ekonomi, kukira dia peduli padaku. Ternyata tidak.

__ADS_1


Dia bermain dengan wanita yang menjadi istri tak sahnya, kukira ia melarangku bekerja sebagai perawat karena ia ingin bertanggung jawab. Tapi dia ternyata sengaja menghancurkanku karena tidak ingin disaingi oleh wanita yang dihancurkannya, ia menghancurkanku separuh umurku hanya demi seorang wanita yang tidak bertanggung jawab.


Aku menumpahkan segalanya pada anakku yang masih berusia tiga tahun, aku menangis padanya dan mencurahkan isi hatiku padanya. Hubungan keluarga yang kuimpikan hancur begitu saja, suamiku mengajari anak perempuanku dengan keras. Anakku selalu mendapatkan memar bahkan hampir di seluruh bagian tubuhnya, jika ia tidak menurut maka tangannya akan dipukul dengan batang sapu. Punggungnya penuh dengan luka akibat cambukan sabuk yang keras, wajahnya pun dipenuhi memar.


Aku tidak kuat melihatnya selalu dianiaya, pada akhirnya aku selalu berusaha melindunginya. Meskipun aku terkena pukulan asalkan anakku tidak terluka, maka itu baik-baik saja. Setiap kali suamiku pulang dia akan marah, setiap kali ia melihat ponsel dia akan marah, setiap kali dia lapar dia akan marah, setiap kali kami tidak menurut dia akan marah. Apapun yang kami lakukan, tangannya akan melayang untuk kami. Aku dibawa jauh dari keluargaku, jauh dari teman-temanku, jauh dari wilayah tempat tinggalku.


Kukira setelah aku mengikutinya tinggal di tempat yang jauh, aku akan melihat perubahan dari sifat egois suamiku. Lalu kami akan berjuang bersama-sama. Ternyata kenyataan lebih pahit dibawah ekspektasi.


"Sebenarnya apa salahku? Kenapa kau selalu memukulku?" Tanyaku lirih tak kuat dengan perlakuan suamiku.


"KAMU ITU GAK BECUS JADI ISTRI! ANAK GAK DIDIDIK YANG BENAR! LIHATLAH ANAKMU YANH BAHKAN TIDAK MENJAWAB PERTANYAANKU!" Teriaknya menyalahkan anakku.


Sedikit nada kesal dariku membuatnya marah dan akhirnya menamparku, jujur aku hanya kasihan pada anakku yang melihat dengan mata yang kosong. Luka-luka yang ada di tubuhnya tidak dihiraukannya, ia hanya diam tak bertenaga karena belum makan.


Aku yang bodoh masih saja bertahan dengannya karena alasan cinta, anakku yang selalu mendengarkan curahan hatiku tampak seperti boneka tak bernyawa. Ia diam sembari memandang langit-langit kamar, aku yang menangis pun diterimanya dengan senang hati.

__ADS_1


Bertahun-tahun aku hidup seperti orang bodoh yang terbuai dengan kata-kata manis yang mungkin bertahan satu sampai tiga hari, begitu moodnya buruk, suamiku pasti akan memarahiku dan memukuli anakku. Anakku yang sekarang berusia enam tahun tampak selalu menyendiri, tidak pernah mendapatkan uang saku, dan selalu dibully teman-temannya. Meskipun aku melihatnya seperti itu, aku masih saja buta dengan cinta.


Sampai suatu hari aku mendengar jika ia memukul temannya hingga memar. Dia yang terlibat pertengkaran membuatku kesal dan akhirnya akupun memukulinya, dia memandangku dengan tatapan kosong. Ia menangis tersedu-sedu di pojok ruangan, dan akhirnya ia tertidur disitu.


Sedari dulu aku merasa tidak hidup bahagia, ibuku adalah ibu tiri yang selalu menyakitiku sedari aku bayi. Ayahku selalu merantau jauh sehingga jarang ada di rumah, aku selalu ditindas dan diperlakukan seperti pembantu. Sehingga aku berpikir untuk belajar semaksimal mungkin agar tidak bernasib buruk di masa depan, tetapi ternyata semua itu membuatku lemah saat mengetahui nasibku lebih buruk dari masa kecilku.


Aku yang menyadari telah menyakiti anakku membuatku merasa tak berbeda dari suamiku, setelah beberapa bulan suamiku tidak pulang. Aku mendapati suamiku menikah lagi dengan istri yang semula tidak sah menjadi istri sah kedua, entah karena terlalu lama disakiti hari itu aku tidak menangis. Aku merasa menerima segalanya, dan anak perempuanku satu-satunya tak mempermasalahkan hal itu. Terkadang aku merasa ia lebih cepat dewasa dari teman-teman sebayanya.


Aku menjalani hidupku dengan bekerja dan terus mencari uang untuk makan anakku dan sebagai tambahan uang sekolah, selebihnya ditanggung oleh suamiku. Dia tumbuh menjadi anak yang pendiam namun di sekolah ia seringkali terlibat dalam pertengkaran, akupun hanya memberitahu apa yang benar dan apa yang salah sehingga ia dapat memilah sendiri.


Kehidupan keras yang selama ini dia alami membuatku percaya jika ia lebih dewasa dari yang aku kira, penderitaan yang ia rasakan bukan lagi menjadi hambatan untuk terus berkembang. Ia mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan mengarang mulai dari lagu dan cerita, kukira itu ada hobi yang akan berguna di masa depannya.


Sampai pada akhirnya aku harus meninggalkan dunia selamanya karena kecelakaan di usianya yang masih menginjak 10 tahun. Sebagai seorang ibu yang sudah berjuang untuk bertahan hingga titik dimana aku harus menutup mata, aku hanya berharap dirinya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dariku. Aku juga berdoa dengan sepenuh hati, mengharapkan dia mendapatkan orang tua yang lebih dariku meskipun kali ini seakan tidak ada yang dapat diharapkan.


"Jeon.. tolong jaga anakku. Kumohon, maaf selalu merepotkanmu hiks.. aku benar-benar memohon padamu Jeon, berjanjilah kau akan menemaninya meskipun dari kejauhan, kumohon jagalah dia seperti anakmu.. kumohon.."

__ADS_1


"Ya.. aku berjanji akan menjaganya.. sahabatku.."


END


__ADS_2