Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
1² Halo Tetangga


__ADS_3

Matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai kamarku, saat aku membuka jendela betapa banyaknya angin dingin dari luar yang masuk tanpa permisi. Rumahku berada di bukit sehingga angin musim dingin hari ini bukanlah hal yang asing bagiku, hembusan nafas berasap putih membuktikan betapa dinginnya udara pagi ini.


"Meoww~"


Suara lembut dari kucingku Heli membuatku sedikit bersemangat untuk menjalani hari, bagaimana caranya tuhan membuat kucing yang indah dengan wujudnya yang cantik. Meskipun terkadang ada yang terlantar hingga hilang bulu matanya, tetapi mereka tetaplah mahluk hidup yang cantik.


Disaat ia mulai bermanja-manjaan dengan memainkan kaki dan mengeluskan bagian punggungnya disitulah aku menuangkan makanan untuknya. Sangat menyenangkan melihat mulut itu mengunyah hasil kerja paruh waktu yang kulakukan setiap pulang sekolah hingga malam hari.


Aku menyeduh kopi dan memanggang dua roti dengan selai kacang sisa kemarin malam, menikmati makanan di pagi hari terasa sangat menyenangkan. Ditengah perasaan senang pasti ada sesuatu yang menunggumu di luar sana, entah masalah atau keberuntungan.


Sesaat kemudian setelah aku memikirkannya, betul saja tetanggaku yang berisik mulai berulah dengan putrinya.


"Papa~ aku tidak mau pergi sekolah! Aku gak mau mandi~! Aku malas ke sekolah!! Tidak mau sekolah!" Teriak bocah kecil yang tinggal bersama tetanggaku sekaligus temanku.


Segera kulahap habis roti dan segelas kopi hangat, aku memakai switer lengan panjang dan celana panjang juga hijab untuk menutupi baju tidurku. Saat aku membuka pintu rumah, tentu saja suara bocah kecil milik tetanggaku cukup keras.


"Ini akan menjadi hari yang lumayan.." Gumamku sesaat menghirup udara pagi.


Aku berjalan menuju depan rumah tetanggaku lalu mengetuk pintu rumahnya. Terdengar suara serak khas dari laki-laki yang ada di rumah itu, tentu aku paham orang seumurannya pasti lelah menjaga anak kecil dari pagi sampai malam.


"Siapa itu?" Tanyanya dari balik pintu.


"Ini aku, tetangga sebelah.." Balasku tersenyum lebar.


Ia membukakan pintu, berapa kali pun aku melihat wajahnya tetap membuatku terkejut. 'Anak muda sepertinya sudah mempunyai anak?' Pikirku asal melihat usianya yang masih seumuran denganku, mungkin siswa SMA.


"Ada apa?" Tanyanya dengan nada dingin.


"Oh, putri anda.."

__ADS_1


Omonganku langsung dipotong olehnya, wajahnya tampak begitu lelah tapi kupikir ia benar-benar menjaga putrinya.


"Maafkan aku, dia memang sulit diajak untuk berangkat ke sekolah. Aku membujuknya yang merajuk karena tidak dituruti keinginannya, padahal aku hanya tidak ingin dia berlebihan makan makanan manis... Maafkan aku atas ketidaknyamanan ini, kumohon jangan laporkan kami." Ucapan beruntun yang keluar dari mulutnya membuatku sedikit merasa bersalah.


"Tidak kok, aku hanya ingin tahu putrimu. Lagipula aku baru pindah bulan lalu dan belum sempat bertegur sapa denganmu, perkenalkan namaku Nikle Amanda atau kamu boleh panggil aku Misako. Maaf, aku tidak bawa makanan.. mungkin nanti." Ucapku sambil tersenyum, meskipun ia terlihat terkejut, kurasa ini bukan hal yang buruk.


Disaat ia masih mematung, mataku tertuju pada gadis kecil yang bersembunyi di belakang kakinya. Ia terlihat cantik dan imut, mungkin jika ia dewasa akan menjadi lebih cantik.


"Hallo gadis kecil, namaku Misako.. Siapa namamu?" Tanyaku tanpa sadar begitu melihat wajah bocah itu.


Aku tidak mendapatkan respon darinya, sebenarnya sudah dapat dipastikan ia tidak akan menjawab karena aku orang asing baginya.


"A-ahh maaf, aku biasanya sering bermain dengan anak-anak jadi lumayan sok akrab dengan anakmu.. maaf ya." Ungkapku menunduk.


"Oh dia bukan anakku, dia hanya keponakanku. Kebiasaannya memanggilku papa membuatku sedikit kerepotan tapi aku sudah biasa.. Hikari, ayo jangan abaikan kakak ini.. sapa seperti yang papa ajarkan.." Tutur katanya yang berubah saat berucap padaku, membuktikan jika ia sangat lembut pada putrinya.


"... Aku..."


Aku yang menantikan responnya pun senang mendapatkannya, ia mulai berani menatapku dengan menampakkan seluruh wajahnya. Dia sangat imut, begitulah pikirku.


".. Hikari Raiden, namaku H-hikari.. kau pacar kakak?" Tanyanya membuatku terbungkam seribu bahasa seakan-akan mulutku baru saja dijahit benang tak kasat mata.


"Bukan~ kakak tidak pacaran.. kakak hanya tinggal dengan seekor kucing yang cantik, kamu mau lihat?" Balasku bertanya balik padanya.


"Wahh~ kakak punya kucing? Aku mau! Aku mau ke rumah kakak saja~"


Disaat ia berkata seperti itu, kulihat sekilas wajah laki-laki yang terdiam sesaat lalu mengangguk paham.


"Baiklah, tapi kamu harus mandi dan berangkat ke sekolah ya? Nanti kita main lagi dengan kucing kakak, bagaimana?" Tanyaku padanya yang dibalas anggukan penuh semangat darinya.

__ADS_1


Setelah saling menyapa dengan benar, aku diizinkan untuk masuk ke rumah tetanggaku. Namanya Ryu Raiden, aku jadi penasaran mengapa namanya sangat keren. Aku terpaksa sarapan lagi karena Ryu memasak makanan untukku juga saat menyiapkan sarapan Hikari, tak kusangka ia pandai memasak. Kami berbicara ringan mengenai sekolah dan urusan rumah.


"Misako, apa itu nama aslimu?" Tanya Ryu disela-sela obrolan kami.


"Oh, tidak. Nama asliku Nikle Amanda, tetapi karena suatu alasan aku dipanggil Misako oleh teman-temanku. Aku juga penasaran denganmu, katanya tadi kamu masih sekolah tapi sudah disuruh mengurus anak dari kakak iparmu?"


"Ini keponakanku, kebetulan kakak iparku memang suka menitipkan anaknya padaku. Karena biasa bersamaku, akhirnya  Hikari memanggilku papa." Jelasnya yang sulit dicerna oleh otak baru sepertiku.


"Oh, aku mengerti.." Balasku sedikit ragu.


Aku mengerti jika ia adalah seorang anak remaja yang masih bersekolah, melihat tampang muda penuh semangat itu diawal pertemuan. Kurasa istrinya akan bangga dengan prestasinya dalam mengurus anak.


'Pasti dia sulit belajar karena disibukan dengan anak kecil, kurasa aku harus membantunya.' Begitulah apa yang aku pikirkan, kami akhirnya menghabiskan waktu untuk mengobrol.


Setelah merayu Hikari untuk mandi dan bersiap sekolah, akhirnya kami memutuskan untuk mengantarnya sampai gerbang taman kanak-kanak. Untuk usianya yang masih empat tahun Hikari cukup cerdas dalam menilai keadaan, ia bahkan menggunakan bahasa yang formal saat bersamaku. Meskipun jarak antara kami masih jauh, aku merasa hubungan ini sedikit dekat karena kucingku.


'.. Terimakasih Mia, kamu yang terbaik..' Batinku lega anak itu mau bermain dan dibujuk dengan baik.


Kulihat sekilas bangunan megah itu terlalu besar untuk sekedar taman kanak-kanak, kurasa itu seperti sekolah elit.


"Terimakasih banyak Misako, kamu banyak membantuku hari ini. Untung ada kamu, kalau tidak mungkin aku akan dicap tidak becus oleh kakakku." Dia terdengar tulus mengucapkannya, sehingga aku hanya tersenyum.


"Iya..." Jawabku santai.


Semenjak saat itu kami menjadi tetangga yang dekat dan sering bertukar makanan atau berkumpul untuk makan bersama, terlebih Hikari sudah mulai akrab denganku sehingga tidak ada kata kesepian setelah kepergiannya.


Bersambung...


[Spoiler Chapter Selanjutnya : *Aku tidak menyangka dia meninggal karena kue ulang tahunku.*]

__ADS_1


__ADS_2