
..."Kehidupan adalah keajaiban yang singkat, jadi nikmati saja waktumu dengan caramu." ...
Setelah bel pulang berbunyi, seluruh siswa berjalan keluar seperti segerombolan semut. Misako hari itu banyak mendapat perhatian karena penampilan yang tidak biasa. Misako memang merasa dirinya aneh, namun Liam menyuruhnya untuk tidak pergi ke sekolah kalau tidak menuruti keinginannya. Sekarang Misako memakai masker hitam, jaket besar tebal, celana panjang layaknya anak laki-laki. Sebenarnya guru-guru dibuat lemah dengan kehadiran Liam yang tiba-tiba meminta izin penuh hormat kepada mereka, pada akhirnya Misako lulus dari tartib dengan cara Liam.
"Kak tunggu~!" Teriak seorang gadis menghadang jalan Misako.
Misako bingung, apa aku membuat masalah hari ini? Beberapa prasangka menjalar pikirannya.
Anak itu memandang Misako yang lebih tinggi darinya, dengan gugup ia menyodorkan ponselnya. "A-aku... Sebenarnya a-aku tertarik sama k-kakak! B-boleh aku minta nomor kakak?"
Mendengar ungkapan itu membuat Misako lebih gugup dibandingkan gadis di depannya, dia salah target atau aku memang kaya cowok? Misako tetap tenang, ia berpikir kesalahpahaman seperti ini hal yang umum. "Boleh, tapi untuk apa? Apa yang membuatmu tertarik?" Seketika siswi di depannya membeku, Misako menghela nafas.
"Maaf, apa kamu kira aku laki-laki?" Tanya Misako sedikit sedih.
Siswi itu malu, pipinya memerah hingga telinganya. "A-aku... Maafkan aku Hua!" Siswi itu berlari meninggalkan Misako yang terkejut.
Misako tersenyum setengah tertawa, ia tidak menyangka akan disukai seseorang lagi. "Hidup ini rumit..."
Misako melanjutkan langkahnya, semua mata memandangnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Sebagian mungkin tahu jika itu dirinya namun sebagian besar benar-benar tertipu.
"Misako sayang~!" Teriak seseorang dari pintu gerbang.
K-kakak! Dia bodoh atau apa?!
Misako berjalan dengan santai, ia menanggapi kakaknya dengan tatapan tajam. Tangan Liam melambai-lambai mengambil perhatian banyak, seorang pria tampan banyak tingkah sepertinya memang sulit ditebak.
Baru kemarin dia menangis, tubuhnya bergetar, sangat imut tapi kasihan. Sungguh! Sekarang aku ingin membuatnya benjol karena bogem ku! Batin Misako kesal. "Misako sayang~ ayo cep-(hup!)"
Misako menutup mulut kakaknya dengan sapu tangan. "Kak, tolong jangan permalukan aku!"
__ADS_1
Mata Liam menyipit seakan tersenyum. "Mhhh! Mph mphnnn mphnn!" Misako dengan kasar melepas sapu tangan miliknya. "Lihat kuah ini iuhh.." Ungkap Misako sebal.
Liam tertawa renyah, ia mengelus kepala adiknya. "Makanya jangan sumpal mulut kakakmu yang tampan ini... Selamat datang adikku, aku datang menjemputmu."
"Aku pulang..." Balas Misako pasrah.
Liam menggandeng tangan adiknya, mendudukkannya di dalam mobil, memakaikan sabuk pengaman, melepas masker Misako, dan menyumpalnya dengan permen obat masuk angin rasa mint. Misako diam menerima perlakuan itu, disamping itu ia memang sering menerima perlakuan seperti ini saat kecil terlebih waktu sakit. Padahal aku hanya flu ringan, kenapa jadi gini? Batin Misako. "Kak, kita mau kemana?"
Liam diam tak menjawab, wajahnya serius memandang jalan. Misako yang kesal pun ingin sedikit menggodanya. "Apa jalanan itu lebih cantik daripada aku? Atau kakak memang ingin bersikap dingin padaku?"
Liam masih diam, matanya tak bergeming. Misako berdecih kesal. "Apa aku turun saja?"
"Duduk." Titah Liam serius melihat Misako yang hendak melepas sabuk pengamannya.
Misako terkejut melihat perubahan kakaknya yang tiba-tiba, padahal sebelumnya ia seperti orang gila. "Oke terserah." Jawab singkat Misako karena malas ribut.
Misako masih diam memanyunkan bibirnya yang dibalas tawa kecil Liam, mengetahui trik kecilnya berhasil membuat adiknya marah. "Jangan ketawa deh!"
Setelah mereka menghabiskan waktu konsultasi di rumah sakit, membeli beberapa obat dan makanan. Gelapnya malam tidak membuat Liam menyerah, ia mengajak adiknya nonton di bioskop. Dilanjutkan dengan berbelanja beberapa kebutuhan sehari-hari, Misako merasa mereka sedang berkencan. Kencan antara adik dan kakak, tidak buruk juga, batinnya senang.
"Misako, ada yang kau butuhkan lagi?" Tanya Liam memerhatikan adiknya yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.
Misako tersentak, ia tersenyum. "Tidak ada lagi kak. Oh apa aku boleh makan es-krim?"
Liam menggelengkan kepalanya, tangannya mengusap lembut kepala sang adik. "Tidak, dokter bilang kamu sakit karena kurang tidur. Tadinya aku ingin kau beristirahat di rumah, tapi aku juga ingin jalan-jalan dengan adikku. Inilah yang disebut kencan..."
Misako menyerngitkan dahinya. "Kencan? Bukannya itu dilakukan sepasang kekasih?"
Liam tersenyum. "Bagiku itu adalah hal terbaik yang dilakukan seorang laki-laki dan perempuan, aku ingin hal menyenangkan atas dasar itu dilakukan denganmu. Heh, ayah pernah berniat mengajakmu jalan berdua, katanya kencan. Tapi sekarang aku menggantikannya, aku ingin menjadi kakak terbaik untukmu."
__ADS_1
Misako memeluk lengan kakaknya yang penuh dengan tas belanja, wajahnya tampak bahagia. "Kau kakak terbaik, meskipun sering meninggalkan aku tapi berkatmu aku jadi mandiri. Nanti kakak juga akan menemukan belahan jiwa kakak dan hidup bahagia, begitupun aku. Saat itu tiba, kita harus berjanji tidak boleh melupakan satu sama lain ya..."
Liam mengangguk paham. Mereka terus berbicara banyak hal, orang-orang yang melihatnya hanya dapat berprasangka. Setelah berbelanja, mereka makan di restoran ramen dan berhenti di beberapa pedagang kaki lima.
Di dalam perjalanan pulang, Misako melirik kakaknya yang wajahnya segar. "Kak, kenapa kakak mengajakku jalan hari ini?"
"Huh? Tidak, aku ingin sekali-kali. Dua hari lagi aku akan ke Korea, kau mungkin akan menyusul setelah lulus. Tapi kalau kamu mau melanjutkannya di Jepang, aku akan menanti dengan sabar. Lagipula kita masih bisa Videocall atau sekedar bertanya lewat KakaoTalk bukan?"
Misako menopang dagunya, memandang luar jendela. "Aku tidak apa-apa asalkan kakak baik-baik saja, setelah lulus aku akan ke Korea. Hanya waktu yang menentukan kapan aku akan pergi, sementara sekarang aku sudah kelas tiga. Aku akan merindukan kakak..."
Liam merasa berat hati meninggalkan adiknya. "Nanti saat kau kuliah, aku mungkin akan jarang bertemu denganmu. Disamping itu pasti banyak kesibukan, kuharap kau mengurus hidupmu dengan baik ya. Kalau ada apa-apa, lapor!"
Misako mengacungkan jempol, wajahnya tersenyum memamerkan deretan giginya. "Baik! Kakak juga jangan menanggung semuanya sendiri oke?"
"Baiklah-baiklah nyonya besar."
"Oh ngomong-ngomong, bagaimana dengan teman-temanmu?" Misako yang mendengar pertanyaan itu langsung memikirkan banyak hal.
"Bagaimana ya kak, aku mungkin akan mengucapkan salam perpisahan, sementara kita masih tetap berhubungan lewat grub chat. Sesekali aku juga ingin ke Indonesia, teman-temanku juga banyak yang tertinggal di sana."
"Kau belum menghubungi mereka semenjak kejadian itu?"
Misako tersentak, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya. "... Ya mungkin mereka akan mengerti kenapa aku seperti ini... Aku masih belum bisa menatap wajah mereka, bahkan sekedar chatting..."
Liam melirik adiknya khawatir. "Jangan begitu, cobalah berbicara sedikit dengan mereka. Mereka bukan dukun yang bisa mengetahui perasaanmu secara instan, bahkan dukun tidak selalu bisa. Kau dengar?"
"... Ya kak... Akan aku coba..."
Bersambung...
__ADS_1