
..."Jika manusia tengah berada didalam rasa penasaran maka ia akan mencari tahu. Tetapi ketika ia tahu sebuah rahasia yang menyakitkan, maka ia akan menyesali pilihannya." @dokterhoki_...
Mansion kedua milik keluarga Matler selalu mendapatkan pujian dari banyak pihak yang berkunjung ke mansion tersebut, nuansa perak dan taman hijau dengan bunga berwarna-warni menghiasi sekeliling bangunan itu. Selain itu kebersihan yang terjaga pun dapat dengan mudah mencuri perhatian banyak orang, ketika memasuki ruangan luas itu kita akan merasakan suasana bangunan dengan ruang tak terbatas.
Jangan lupakan berbagai perabotan mewah sederhana dan barang antik pencuci mata, ketika memasuki mansion itu sungguh semua orang akan mengira rumah itu adalah rumah yang terang bercahaya.
Tetapi tidak ada yang tahu jika tempat ini adalah yang terburuk bagiku. Aku sudah bertahan di tempat ini sekitar satu bulan setelah kabar kematian ayahku, kakakku dengan tegas menyuruhku pulang tetapi ia menghubungi Steven dan menyuruhnya untuk mengamankan diriku. Aku dikurung di tempat yang cahayanya hanya tertuju pada satu jendela berukuran besar, meskipun demikian rasanya masih gelap dan sunyi. Udara yang masuk membuatku ingin muntah, perutku terasa aneh seakan-akan berputar, aku ingin muntah di setiap detiknya.
(Tok tok tok)
Terdengar suara ketukan pintu dari Arista, pelayan pribadi yang melayaniku sebulan penuh sejak pertama kali aku memasuki mansion ini. Steven tidak membiarkan siapapun masuk kecuali Arista, kudengar ia adalah adik dari Steven yang merupakan seorang ahli pedang yang sedang berlibur. Arista bercerita bahwa ia sedang ingin menghabiskan hari liburnya dengan orang lain selain kakak dan teman-temannya, aku hanya bingung mengapa ia mau menghabiskan waktunya dengan orang yang bahkan tidak menjawab apapun dari curahan hatinya.
"Saya masuk Nona Amanda." Ucapnya dibalik pintu dengan ekspresi wajah penuh senyuman.
Ia adalah anak yang cantik, kulitnya putih dan matanya tajam berwarna biru. Tetapi tangannya kuat dan kasar, ia benar-benar memiliki tubuh yang bagus dibalik baju pelayan itu. Tangannya menyimpan begitu banyak otot terlatih, tetapi aku kagum karena ia masih bisa bersikap lembut dengan keadaannya yang seperti itu.
"Nona, hari ini ayo kita bermain di luar ruangan." Ungkapnya membuatku terkejut hingga tak mampu mengendalikan ekspresiku.
Aku hanya memandang matanya bingung, aku tidak percaya jika aku akan keluar dari ruangan ini. Dan ditengah pikiranku yang berada di luar galaksi, Arista menghampiri dan dengan tiba-tiba memegang tanganku. Wajahnya yang murah senyum itu seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tenang saja, aku tahu kalau selama ini kamu merasa terperangkap di dalam ruangan ini. Tapi apa yang membuatmu merasa demikian? Jangan anggap semua ini kurungan melainkan perlindungan oke? Sebentar lagi kamu akan keluar dari sini jadi tenang saja, aku akan selalu menjagamu." Ucap Arista dengan wajah penuh kesungguhan terukir, sepertinya itu mampu membuatku sedikit goyah.
__ADS_1
Dia bangkit dari duduknya dengan tangan yang menggandeng tanganku, ia terlihat sangat bersemangat. Akupun tanpa sadar menjadi senang, baru pertama kali aku keluar dari ruangan itu. Aku melihat banyak hal menakjubkan di luar sini seperti tanaman yang menghias sepanjang perjalanan, bunga-bunga yang menari-nari menyambut tiupan angin pagi. Cahaya matahari yang jernih membersihkan tampilan kolam ikan indah dengan bunga disekitarnya. Sungguh pemandangan yang tidak sempat kulihat dihari ayahku meninggal dunia, karena hari itu aku sampai pada saat malam hari.
"Apa Steven membiarkan kita keluar?" Tanyaku tanpa canggung pada gadis di depanku, ekspresi wajahnya setelah mendengar pertanyaanku bukanlah buatan. Apa ia sekaget itu mendengar pertanyaan dariku.
"Aaa~ ini pertama kali kamu berbicara sejak pertama kali kita bertemu~" Balas Arista tersenyum bahagia, ia menghentikan langkahnya yang membuatku ikut menghentikan langkahku.
'Sudah kuduga, aku tidak pandai berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuanku menurun drastis.' Batinku sedikit sedih.
"Tenang saja, kakak sudah mengizinkan nona keluar dari ruangan ini." Ucapnya tersenyum padaku, ia lagi-lagi bersikap aneh.
'Aneh sekali dia, bisa-bisanya ia memanggilku nona ketika dia memanggilku dengan sebutan non formal (Aku-Kamu). Kenapa seorang wanita cantik sepertinya berusaha keras untuk menjadi pelayan?' batinku kesal karena perubahan anak di hadapanku yang selalu berubah-ubah.
"Ahahah tau tidak kalau wajahmu menunjukkan segalanya? Hahahaha baiklah aku akan menyapamu dengan panggilan non formal mulai sekarang, karena masa cuti ku sudah mulai habis." Ucapnya yang kubalas dengan anggukan kecil yang lagi-lagi ia bereskpresi seolah melihat hantu.
"Bukankah ini berarti aku masih tetap di rumah ini, hanya saja pelayanannya yang berbeda?" Ungkapku disaat kamu berada di tengah padang rumput di belakang mansion.
"Hahahaha! Jangan bicara seperti itu, kakakku bukanlah orang yang tidak menepati janji. Ia akan segera membiarkanmu keluar setelah tamu kita sampai, tunggu saja nanti." Balas Arista, tangannya menyerahkan satu es-krim cokelat.
"Makan ini." Tawaran yang terdengar seperti paksaan.
"Terimakasih."
__ADS_1
Kami sudah banyak menghabiskan waktu bersama, tetapi aku memang tidak ingin banyak bicara. Bagiku Arista memang orang yang menyebalkan, tetapi ia adalah orang yang menghiburku dengan sepenuh hati di hari kematian ayahku. Bahkan ocehannya benar-benar membuatku sedikit terhibur meskipun terkadang aku merasa itu menyebalkan.
"Terimakasih Arista.." Ucapku tiba-tiba, ia terlihat tersentak namun ia meresponnya dengan senyuman.
"Aku tidak melakukan banyak hal untukmu, justru aku yang berterimakasih kepadamu. Karena sekarang aku mempunyai teman yang kuat, bahkan pengalamannya sangat kuat sehingga terlihat mengesankan bagiku." Ungkapnya membuatku sedikit heran.
"Apa yang spesial dariku? Aku hanyalah gadis lemah yang putus asa dan tidak punya harapan." Balasku diselingi helaan nafas panjang, aku benar-benar menikmati angin sejuk ini.
"Hihihi!" Suara tawanya kecil tetapi terdengar, mungkin seluruh mansion tahu betapa menyebalkannya Arista.
"Apa yang kamu tertawakan hah?" Tanyaku pada Arista yang terus menahan tawanya.
"Hahahaha, aku tidak kuat maaf.. hahahaha!.. Ekhem! Hihi!... Sebentar biarkan aku tertawa sendikit lagi.. hahahaha!"
'Menyebalkan.' Batinku sedikit mengutuk dirinya.
".. hehe, sudah lega. Amanda, sebenarnya kamu itu orang yang sangat spesial bagiku. Kamu tulus membagikan cintamu kepada orang lain, sehingga semua orang yang bertemu denganmu selalu merasa beruntung. Aku senang sifatmu yang baik dan lemah lembut meskipun sebenarnya kamu bisa saja membunuh satu kota dengan tanganmu, ah bahkan satu negara." Ungkapnya yang bagiku terkesan melebih-lebihkan.
"Jangan anggap aku gila, tapi dianggap gila juga tidak apa-apa sih. Tapi ingat ini.."
Perlahan ia mulai mendekatkan mulutnya di samping telingaku dan berbisik "Aku merestui kalian berdua.."
__ADS_1
'APA MAKSUD??'
Bersambung