
Suara kicauan burung dari luar jendela yang lebih jelas tidak seperti biasanya, hangatnya sinar mentari dengan aroma strawberry yang kuat. Misako membuka perlahan matanya menerima gambaran di pagi hari, selimut berwarna pink yang asing, bajunya yang dipakai kemarin, dan hijab yang tidak dilepas padahal ia biasa melepaskannya ketika tidur. Saat ia teringat masih berada di rumah temannya, barulah ia bangun dari tidurnya melihat sekeliling dan benar saja jika itu adalah kamar Hikari.
Ia memandang Hikari yang masih nyaman tidur di sampingnya sambil memeluk tangannya, sesaat ia melihat gorden kamar yang sudah terbuka pertanda ada orang lain di rumah ini selain mereka berdua. Misako perlahan bangun agar tidak menggangu Hikari.
"Astaghfirullah aku kesiangan.." Ucapnya sembari menepuk keningnya.
Misako membuka pintu kamar, tercium bau panekuk dari arah dapur. Ia menebak jika Ryu yang sedang memasak, tanpa ragu ia menuju arah dapur. Ryu yang melihat Misako pun menyapa ramah.
"Selamat pagi nona pemalas." Goda Ryu yang membuat Misako sedikit kesal.
"Hmm, kenapa ga bangunin aku tadi? Kan jadi kesiangan kan." Balas Misako yang dibalas tawa kecil dari Ryu.
"Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus kulakukan saat kau tidur seperti orang pingsan, bahkan aku memasang alarm dan memanggilmu berulang-ulang tapi kamu tidak bergeming. Kau kan tau aku tidak boleh menendangmu apalagi menyentuh jadi maafkan aku ini." Jelas Ryu sambil memasak panekuk.
Misako hanya membalas dengan helaan nafas kesal, ia mengambil segelas air putih lalu duduk di samping Ryu memasak.
"Kau masak apa?" Tanya Misako sedikit penasaran meskipun tahu itu masakan manis.
"Aku membuat makanan kesukaan Hikari, panekuk pisang. Aku juga tau kau suka pisang jadi kubuat lebih untukmu."
"Beneran? Sangkyu~! Makasih banyak loh."
Ryu adalah juru masak makanan manis tetapi ia tidak pernah menang melawan Misako dalam kategori makanan asin.
"Aku mau pulang sebentar lagi, banyak yang harus kukerjakan. Dan kau tau kalau akhir-akhir ini kerja kelompok sangat merepotkan? Huh aku lelah, andaikan ada Ryu yang bisa kuandalkan.." Ucap Misako yang dibalas tawa renyah dari Ryu.
"Hahahaha! Kau ini, yasudah mandi dulu. Nanti kita berangkat bersama-sama sekalian Hikari." Ajak Ryu yang dibalas anggukan kecil dari Misako.
"Oke, aku izin mandi di sini ya.."
"No problem." Balas Ryu santai dengan kebiasaan Misako.
__ADS_1
Disaat mereka sedang mengobrol tiba-tiba Misako teringat sesuatu yang penting. Sesaat ia langsung berlari meninggalkan dapur, mengambil tas dan baju seragamnya yang tertinggal di atas meja belajar Hikari. Misako pergi ke kamar mandi Ryu dan menyikat giginya lalu pergi mengemas bekal yang disiapkan Ryu.
"Ah! Aku ada sesuatu yang harus kulakukan! Waaaah aku akan telat!! Aku pergi dulu ya. Nanti kujelaskan~ kyaa aku telat!! Jam berapa ini??" Ucapnya disepanjang kegiatannya lalu meninggalkan rumah Ryu.
Ryu tidak heran dengan sikapnya yang selalu berantakan saat bangun siang, alasannya tidak pernah marah karena pasti Misako habis melakukan hal diluar batas kemampuan tubuhnya. Menurutnya Misako bisa saja tidur seharian tetapi ia tidak melakukannya meskipun matanya menjadi seperti panda, berbeda dengan banyak gadis yang memusingkan penampilan, Misako bahkan tidak terlalu lama di kamar mandi dan tidak memiliki meja rias di kamarnya. Padahal banyak gadis akan repot ketika matanya terlihat seperti panda, tetapi Misako malah sengaja bangun pagi untuk beribadah.
'Perempuan aneh..' Gumam Ryu terus memasak makanannya.
"Kak.." Seorang gadis kecil yang membuat Ryu tersenyum.
"Hikari, selamat pagi."
"Se (Hoamm!) Selamat pagi.."
Hikari langsung minum air putih dari gelas bekas Misako dan menuju kamar mandi dan menggosok giginya, setelahnya Hikari duduk memakan bagian panekuknya. Ryu yang selesai membersihkan dapur pun ikut sarapan bersama Hikari.
Di sela waktu makan mereka, Hikari akhirnya memutuskan untuk berbicara. "Kak, apa kakak ada rasa pada kakak Misako?"
Hikari terdiam sejenak, lalu ia menghela nafas panjang. "Kak, kemarin ayah kakak menelponku. Katanya kakak harus menghadapnya besok pagi untuk membicarakan tentang perjodohan."
"Hah? Itu lagi! Lagipula gimana caranya kamu tau kalau ayah membicarakan masalah perjodohan."
"Kemarin paman bilang..."
"Selamat sore Ryu, ayah mau bertemu denganmu besok untuk membahas masalah perjodohan. Jika kamu tidak datang aku akan memukul kepalamu dengan tongkat bisbol kesukaanku sampai kau masuk UGD . Ingat itu!"
"Lalu aku bilang, maaf kakak Ryu sedang pergi. Ini aku Raiden Hikari, paman tenang saja karena aku akan menyampaikannya dengan baik kepada kakak. Lalu paman terdiam dan aku berkata Halo? Sebanyak dua kali karena paman diam saja." Jelas Hikari dengan tatapan polosnya.
Ryu lagi-lagi menghela nafas berat. "Lalu dia bilang apa?"
"Paman bilang..."
__ADS_1
"Yasudah, Hikari tolong sampaikan pada kakak agar membawamu juga ya. Maaf aku berteriak terlalu keras tadi, yasudah selamat sore.."
"Aku menjawab baik selamat sore lalu kututup karena sudah tidak ada yang akan dibicarakan."
"Oh begitu.."
Setelah itu Ryu dan Hikari tidak banyak bicara, mereka melakukan hal yang tidak biasanya mereka lakukan sejak ada Misako. Biasanya barang mereka akan disiapkan oleh Misako tetapi kali ini mereka menyiapkan barang masing-masing, Ryu hanya bertanya apa saja yang biasanya disiapkan Misako tetapi Hikari tidak ingin dicampur tangan anak laki-laki.
"Kakak tenang saja, meskipun aku sering disiapkan barangnya oleh kak Misako tapi aku sebenarnya sudah bisa mempraktekkannya meskipun rasanya tetap ada yang kurang. Lagipula kak Misako lebih rapih dibandingkan kakak, kak Ryu urus barang kakak saja ya." Jawab Hikari mengacuhkan kakaknya.
Ryu hanya mengangguk lalu mempersiapkan barangnya, mengecek buku dan membersihkan meja belajarnya. Dalam hatinya terasa sepi karena Misaki yang biasanya ramai pagi ini sepi padahal baru satu bulan mereka berinteraksi bersama-sama, rasanya seolah sudah bertahun-tahun.
"Kak sudah siap?" Tanya Hikari mengejutkan Ryu yang terdiam di depan meja belajar.
"Sudah, ayo berangkat." Balas Ryu.
Mereka berangkat dengan sepeda pribadi, Ryu mengayuh sepedanya dengan cepat. Setelah menurunkan Hikari di depan gerbang taman kanak-kanak ia langsung buru-buru menuju sekolahnya, ia yang tidak pernah merasakan waktu terlambat pun memilih untuk tidak pernah merasakannya.
'Ayolah, aku butuh waktu sekitar 10 menit untuk memarkir sepeda..' Batin Ryu.
Setelah melewati beberapa belokan akhirnya ia sampai di tempat parkir khusus siswa. Ia memarkir sesuai garis lalu berlari menuju gerbang utama.
"Fyuh untung belum terlambat.." Gumamnya lega.
Melihat petugas ketertiban ia pun menunjukkan jika atributnya lengkap.
"Loh Ryu.." Terdengar suara yang tak asing membuat Ryu refleks menoleh pada gadis di depannya.
"M-misako.."
"Kita satu sekolah?!" Ucap mereka serentak.
__ADS_1
Bersambung...