Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
13² Perasaan Yang Tersembunyi


__ADS_3

Jalanan yang ramai dengan orang padahal waktu sudah menunjukkan waktu malam, tangannya yang hangat menggandengku seakan-akan tidak ingin kehilanganku. Kupikir orang ini seharusnya tahu jika aku adalah orang asing, mengapa dia bersikap lembut padaku yang bahkan tidak ingin dia seperti ini. Tatapan matanya yang tajam melembut setiap kali bertatapan denganku, tanpa kusadari dibalik itu ia menyimpan begitu banyak paku.


Padahal kalau aku menghitung umurku dengannya aku akan lebih tua darinya, terhitung dari kehidupanku dulu. Tetapi aku tetap merasa kecil saat berada di sampingnya, bahkan sentuhannya yang tulus membuatku merasakan kehangatan. Hatiku pada akhirnya pasrah dan mengatakan jika hanya dia yang aku punya, anggota keluargaku satu-satunya.


"Misako, kamu lagi mikir apa? Kenapa dari tadi melamun, setidaknya fokus." Ucap Liam mengeratkan genggaman tangannya.


"Iya kak."  Aku menundukkan kepalaku.


Terkadang aku merasa dia menyembunyikan banyak hal dariku mulai dari kesedihan hingga kesenangannya, ia selalu fokus melindungi, bekerja, dan menggunakan tubuhnya layaknya robot. Melihat tatapan yang hanya melihatku membuat hatiku sakit, terkadang aku mengharapkan kebahagiaan untuknya juga. Dibalik bentakan kasar dan omongan tajam ku terdapat harapan agar dia muak dan pergi meskipun aku tidak rela, aku hanya ingin dia menikmati hidupnya sendiri.


Aku menghela nafas panjang ditengah perjalanan kami. 'Aku bodoh jika disuruh memikirkan hal seperti ini...'


"Apa yang kamu pikirkan? Jangan terlalu terbebani, nanti kamu gila." Ungkap Liam memandang mataku lembut.


"Aku hanya memikirkan banyak hal sampai-sampai mau meledak." Mendengar jawabanku, Liam semakin mengeratkan genggamannya lalu mengangkatnya di depan dadanya.


"Mau bagaimanapun juga kau yang sekarang adalah adikku, jadi lakukan saja apa yang ingin kau lakukan lalu keluarkan keluhanmu padaku. Aku akan berusaha yang terbaik untukmu."


Ucapan tulusnya itu semakin membuat perasaanku campur aduk, aku merasa Liam akhir-akhir ini banyak pikiran tapi masih menutupinya dariku.


"Kak kenapa kamu kelihatan lelah? Apa pekerjaanmu sangat berat?" Tanyaku, sebenarnya aku sudah lama ingin bertanya tapi aku juga paham Liam tidak suka mengeluh di depan orang lain terlebih di depan paman Jeon.


"Aku tidak apa-apa... Ini hanya karena pekerjaan... Tidak papa..." Ungkapnya tetap menjaga wajahnya terlihat bahagia meskipun masih terlihat menyedihkan.


"Menyedihkan..." Gumamku sebal.


Liam yang mendengarnya pun langsung tertawa. "Apa hehe... Aku baik-baik saja... Kakak siapa dong yang tidak pernah terpuruk ini..."

__ADS_1


Aku berhenti berjalan, tentu itu sedikit menyentaknya. Aku menatap matanya dengan tatapan serius namun lembut. "Kebohongan kakak menyedihkan, aku malas bicara dengan kakak. Kapanpun kakak merasa hancur atau mengalami mimpi buruk. Ceritakan padaku, bilang semuannya sedang tidak baik-baik saja dan biarkan aku membantu meskipun hanya sedikit. Karena orang yang sekarang ada di hadapanku ini adalah kakakku dan aku adalah adikmu yang sudah dewasa." Ungkapku lalu meninggalkannya yang masih membeku di tempatnya.


Aku berjalan tanpa melihat belakang, rasanya ia masih membututiku meskipun tak dekat denganku. Aku berhenti di sebuah toserba untuk membeli beberapa makanan, rasa bersalah sebenarnya sudah menggerogoti hatiku namun melihat kakakku yang selalu menyembunyikan segalanya membuatku kesal. Aku berpikir ini akan baik-baik saja meskipun akan sedikit lama.


Sosis dada ayam kesukaanku dan sosis daging kesukaannya sudah dibeli, aku melanjutkan langkahku kearah toko sayuran lalu membeli beberapa sayuran. Sekilas Liam melihatku tapi saat aku berbalik ia akan mengalihkan pandangannya, aku yang merasa sedikit jengkel akhirnya mengabaikannya.


'Apa-apaan dia? Berusaha menghindariku meskipun tidak akan bisa?' Batinku kesal.


"Ayo pulang..." Ajakku lalu meninggalkannya.


Dia masih mengikutiku layaknya penjaga pribadi, suasana canggung itu membuatku kesal. Aku akhirnya berbalik badan dan mengatakan apa yang kurasakan.


"Kenapa kau mengikutiku? Kenapa kau diam saja? Apa nyaman seperti ini? Kakak sepertinya sudah tidak suka denganku ya? Kakak kenapa?" Suaraku sedikit meninggi di waktu kesal sempat membuatnya terkejut.


Matanya memandang wajahku bingung, mulutnya berat seakan menahan sesuatu. "A-aku.. minta maaf Misako.."


"Minta maaf untuk apa?"


"Kakak masih meragukanku ya... Baiklah aku memaafkanmu kak, tapi izinkan aku untuk sendiri. Untuk malam ini ayo ke rumah, tapi tidak untuk esok." Tegasku meninggalkannya.


Entah apa yang ada di dalam hatiku, namun aku merasa masih ada yang mengganjal. Meskipun aku telah berkata kejam pada Liam, ia masih mengikutiku dari belakang. Aku merasa bersalah, karena terlalu kasar padanya.


"... Maaf..." Ucapku tiba-tiba.


"Aku terlalu mencampuri urusan hidupmu, mau bagaimanapun aku selalu ingin terbuka meskipun ada saatnya aku bersikap kasar layaknya anak kecil. Sekarang terserah kau saja, aku memang bukan siapa-siapa jadi lakukan apa yang mau kau inginkan dan lepaskan aku jika rasanya memuakkan. Pokoknya aku minta maaf karena membuatmu tertekan padahal aku tidak ada kaitannya." Ucapku sambil tersenyum lebar.


"Ayo makan malam bersama temanku juga, aku akan membuatkan makanan kesukaan kakak~"

__ADS_1


Aku menggapai tangannya, hatiku berkata untuk bersiap menerima penolakan tetapi alih-alih menolak ia malah menggenggam erat tanganku. Ia tersenyum meski tidak mengatakan apapun, aku sebisa mungkin mengabaikan kenyataan jika dia sedang mengalami masalah.


'Biarlah, kalau tidak ingin bicara itu keputusanmu sendiri sebagai orang yang berperan sebagai kakakku.' Batinku sedikit meringis.


Aku menyuruh Liam untuk ikut menyambut Ryu dan Hikari, kuyakin baru pertama kali setelah sekian lama Liam makan beramai-ramai. Sebenarnya aku mendapat banyak saran dari sekertarisnya Liam agar dia makan dengan baik, karena Liam selaku terpaku pada pekerjaan dan terlihat kesepian. Aku merasa sakit ketika mendengar dia tidak pernah mengikuti kegiatan kekeluargaan yang diadakan di kantornya, tidak pernah berpesta, atau ikut kencan buta untuk mencari teman. Padahal ia sering mengabariku lalu menanyakan kabarku, tidak kusangka ia ternyata kesepian di kantornya.


Saat aku bertanya mengapa Liam seperti itu, sekertarisnya diam tidak menjawab apapun seakan-akan tau alasannya namun tak dapat mengatakannya. Kali ini aku senang melihatnya makan bersama kami, bahkan bermain bersama Hikari dan sedikit tertawa dengan candaan-candaan kecil dari Ryu.


"Ini sup jamur kesukaan kakak."


"Terimakasih, ini pasti enak karena Misako yang membuatnya." Ucap Liam yang disahut senang Hikari.


"Benar, seumur hidup aku tidak pernah suka jamur tapi kalau kak Misako masak rasanya sangat enak. Hatiku tidak mampu membencinya, ini sangat menyebalkan." Celoteh Hikari sembari memakan sup buatanku.


"Aku juga bukan pecinta jamur, tapi makanan ini menjadi favoritku karena Misako." Timpal Ryu senang.


"... Iya, masakannya bikin nostalgia masakan ibu... Aku senang menikmati ini..." Ungkap Liam sedikit tertawa.


"Sudahlah makan, aku akan menyiapkan garlic bread kesukaan Hikari dulu ya."


"Aku akan langsung bekerja besok, jadi kuharap hari ini kita bisa bersama sampai pagi."


Aku tersentak saat Liam mengucapkannya. "Ya terserah, besok kan akhir pekan jadi aku ada banyak waktu malam ini.. kalian mau ikut Ryu, Hikari?"


"Ya, kalau boleh."


"Aku ikut kakak~"

__ADS_1


"Tentu, kita bisa menghabiskan malam bersama-sama.." Ungkap Liam senang.


Bersambung...


__ADS_2