Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
9¹ Tanaka Hanji II


__ADS_3

Matahari terbenam berwarna jingga pertanda hari hampir gelap, sekolah sudah selesai meskipun demikian banyak siswa yang masih dalam perjalanan pulang. Terkadang mereka bekerja atau bermain bersama teman-temannya. Hanji Tanaka, seorang siswa teladan yang sedang membantu mengangkat barang berat. Keringat mengucur deras membasahi wajahnya, tangan lemah yang terus berusaha mengangkat kotak yang lebih besar dari tubuhnya. Para orang tua yang melihat keseriusannya dalam bekerja hanya dapat menggelengkan kepalanya, ada perasaan iba namun juga perasaan tak dapat membantu karena mereka juga mengalami masalah yang sama.


"Oy, Tanaka. Tak ingin istirahat?" Tanya seorang pria tua yang sering mendekati Hanji.


Tanaka hanya tersenyum dan tetap mengangkat kotak berukuran besar. "Tidak paman, aku.. akan berusaha.."


"Huh andaikan punggungku masih sekuat itu.."


Tanaka hanya tertawa mendengar ucapan pak tua di depannya. Ia menghabiskan waktunya untuk bekerja, pikirannya yang kalut seketika menjadi bersemangat karena adanya orang-orang yang menyukai kepribadiannya.


"Eh, pak bos datang!"


Terdengar suara bisik-bisik dari para pelayan dan beberapa pengangkut barang.


"Selamat datang pak bos!" Sapa mereka secara serentak.


Sontak Tanaka yang terkejut langsung bertanya kepada para pelayan. "Dia bos nya?"


"Oh I-iya, Pak Liam. Beliau yang membangun toko roti ini dan mempekerjakan orang-orang yang menganggur seperti kami, dia pahlawan meskipun bos besarnya bukan dia hehe. Dia kadang-kadang kemari untuk bertemu adik perempuannya yang tinggal di sini, adiknya cantik sekali." Jelas seorang pelayan kepada Tanaka.


"Oh, andai ibuku bisa membangun toko seperti ini.."


Tanaka tidak tertarik saat mendengar penjelasan itu, baginya tidak ada hal yang spesial. Tetapi saat itu juga ia dikejutkan dengan anak perempuan yang dikatakan cantik itu, anak itu memakai setelan seragam sekolah dengan jaket diikat mengitari pinggangnya. Ia masuk ke toko dengan santai, tangannya memegang buku dan pena.


"Kak, kok lama banget? Aku sudah menunggu sangat lama~"


'Dia berbicara menggunakan bahasa Inggris?'


"Maaf, aku sudah lama tidak melihatmu adikku. Tadi aku ditelepon pak Jeon untuk mengurus beberapa pekerjaan, oh apa kau sudah makan?"


"Aku diet! Oh habis ini aku mau pergi, kakak lelah kan? Lebih baik kakak pergi ke rumah duluan, aku ada urusan."


"Loh kenapa gak bilang adikku yang manis? Aku kan sudah susah-susah kemari!"


"Kakak kan seminggu di Jepang, jadi aku mau batalkan jadwalku rasanya sayang. Besok aku janji akan melakukan apapun untuk kakak."


"Hmmm, apa kakak tidak penting? Yasudah, aku pulang. Besok turuti apa yang aku mau! Awas saja."


"Baiklah, sana pulang!"

__ADS_1


Liam meninggalkan toko setelah mendapati adiknya yang terus menolaknya.


"Baiklah semuanya, maaf karena kakak pasti mengejutkan kalian. Aku pergi dulu~" Ucap anak itu meninggal toko.


Tanpa sadar Tanaka memandangi tubuhnya hingga menghilang, setelah itu dirinya kembali sadar lalu melakukan pekerjaannya. Ia tidak menyangka jika anak yang ditemuinya tadi adalah adik kelas itu. Ia melanjutkan pekerjaannya hingga kotak terakhir ditaruhnya.


Ia menerima gajinya yang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkannya, bahkan seorang pedagang kaki lima lebih beruntung. Meskipun keluhan seperti akan meledak-ledak, ia tetaplah bersyukur dan berterimakasih atas upah itu. Sesaat ia melihat seorang pelayan hendak membuang beberapa bungkus roti.


"... Maaf, kenapa dibuang?" Tanya Tanaka dengan nada tidak rela.


"Kami membuangnya jika sudah tidak fresh, lagipula sebentar lagi roti ini akan tumbuh jamur."


"Karena akan dibuang, apakah boleh roti ini untuk saya saja? Saya mohon."


"B-baiklah.. tapi roti ini.."


"Tolong.."


Tanaka senang membawa satu kantung roti, ia berniat menghabiskannya sebelum tumbuh jamur di rumah bersama adik dan ibunya.


"Habis ini aku harus ke mini market, apa aku pulang dulu ya?" Gumam Tanaka senang.


"Baiklah aku akan pulang sambil memikirkannya." Gumam Tanaka.


Tanaka pulang setelah 15 menit berjalan, ia membuka pintu toko dengan tebakan tidak ada pengunjung.


"Aku pulang... Eh.."


Pada saat Tanaka masuk, ia melihat ibunya tengah memasak bersama adik-adiknya juga seorang perempuan. Mereka tertawa bahagia seakan tak ada masalah, perempuan yang membuatnya terpana sejak awal terus berdatangan entah itu takdir atau kebetulan semata.


"Kakak!" Sambut kedua adik Tanaka.


"Eh, Tanaka~ selamat datang. Ayo masuk bersama Misako-chan, dia sangat pintar memasak kue bahkan kami menantimu pulang untuk makan masakannya bersama-sama."


Misako mengintip Tanaka yang kebingungan, dengan cepat Misako mengedipkan matanya sembari memberi aba-aba untuk menerimanya.


"O-oke.." Balas Tanaka mengikuti ibu dan adiknya.


"Ayo Misako-chan, kau juga ikut makan bersama kami." Ajak ibu Tanaka yang dituruti oleh Misako.

__ADS_1


Mereka makan bersama diselingi obrolan ringan, Misako menceritakan tentang kucingnya yang sempat menggemparkan ruangan dengan teriakan kedua adik Tanaka. Kedua adik Tanaka yang sudah meninggal tempat makan pun tidak menghilangkan suasana hangat yang ada.


"Tanaka~! Jangan melamun dan ajak Misako-chan berbicara." Ungkap ibu Tanaka.


"Jadi kenapa Misako ada di toko?" Tanya Tanaka to the point.


"Tanaka.."


"Oh aku tadinya hanya ingin berkunjung tapi disatu waktu aku juga ingin memasak hehe~" Balas Misako santai sembari menyantap makanannya.


"Pasti bukan begitu kan?" Ucap Tanaka dingin.


"Ah~ ibu aku ingin ke kamar kecil. Nanti aku saja yang cuci piring ya?" Ucap Misako tersenyum lebar.


"A-ah iya~"


Disaat Misako pergi, barulah ibu Tanaka menjelaskan saat Misako datang ke toko ia hanya menulis buku. Namun kedua adik Tanaka yang baru pulang sekolah rewel meminta makan roti padahal itu dagangan mereka. Misako sempat mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tas dan memberikan jajan kepada adik Tanaka, ia juga menawarkan diri untuk memasak bersama. Misako juga mengetahui keadaan toko yang sepi tanpa pelanggan.


"Jadi dia hanya merasa kasihan? Dia merendahkan kita?"


"T-tidak begitu, dia baik. Dia sangat baik pada kita.."


"Semua orang kaya punya alasan dibalik kebaikannya, aku tidak percaya padanya Bu. Lebih baik kita lunasi saja hutang, dia pasti mengiranya itu hutang yang harus lunas kan? Dia sama brengseknya dengan orang yang membuang ibu kan?--" Ucap Tanaka setengah berteriak.


"Tidak semua orang seperti ayahmu Hanji Tanaka. Jangan buat Misako tidak nyaman." Ucap ibu Tanaka hampir menangis.


"TAPI AKU YAKIN.." Tanaka berteriak di depan ibunya dan itu membuat seseorang kehilangan kesabarannya.


"Diam!" Bentak Misako marah.


Misako memeluk ibu Tanaka, wajahnya tampak begitu tulus. Namun Tanaka yang dibutakan dengan perasaan bingung bercampur trauma membuatnya semakin tersulut emosi.


"Kau! Pasti ada yang ingin kau ambil kan?! Kau pasti tidak akan membiarkan kami hidup nyaman kan?! Kau sama seperti mereka! Kau manusia brengsek!" Teriak Tanaka marah.


Misako sempat merasa sedikit pahit namun ia menatap Tanaka tajam.


"Bu, bolehkah saya berbicara sebentar dengan Hanji-san setelah mencuci piring?" Tanya Misako tetap sopan mengabaikan amarah Tanaka.


"Y-ya.. jangan hiraukan piringnya." Ucap ibu Tanaka setengah berbisik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2