
..."Cinta hanyalah ungkapan, rasa nyaman adalah pembuktian." ...
Kelima orang *ABG* berkumpul dengan perasaan campur aduk antara canggung dan geli. Mereka meminum kopi mereka tanpa pembicaraan sedikitpun, namun kedua orang bucin akut membuat mereka merinding.
"Sayang~ aku ingin makan ini boleh?"
"Tidak. Nanti sakit."
"Sayang kalau ini?"
"Tidak. Terlalu banyak."
"Sayang aku harus makan apa?"
"Kamu harus makan yang bisa kamu habiskan. Aku tidak mau makan banyak karenamu. Tidak lagi."
"Ayolah~"
"Tidak."
Melihat interaksi mereka membuat Misako terdiam, kurasa aku salah mengkhawatirkan hubungan mereka. Sekilas Misako melirik Ryan yang tampak terkejut seperti baru pertama kali melihatnya, Misako menyipitkan matanya.
"Apa kita baru bertemu kali ini? Maksudnya, apa kalian tidak pernah bertemu tanpa aku?" Tanya Misako memiringkan kepalanya bingung.
"Tidak!" Jawab serentak teman-temannya memandang Misako.
Misako hanya mengangguk sembari menikmati minumannya. "Kukira kalian semua sering bertemu, ternyata aku salah."
Glen menghela nafas panjang, ia memandang lembut Misako. "Kami selalu menunggumu, bahkan sering membicarakanmu di grub begitu kamu keluar. Kukira kamu benar-benar menghilang dari dunia, untung kita semua sudah bertemu."
"Sayang~ kata-katamu manis sekali~"
"Hentikan Sion!"
Misako tersenyum lebar, ia mengaduk minuman yang hampir habis. Sesekali ia mengigit bawah bibirnya, ia menahan air matanya. "Maafkan aku semua..."
"Sudahlah. Kita semua baru bertemu setelah sekian lama, membicarakan hal menyedihkan tidak menarik. Karena kami mengerti kamu." Ryan dengan senyuman memamerkan deretan giginya.
Sehun yang sedari tadi hanya diam pun mengetuk meja. "Kami tidak ingin ada yang menangis karena hal yang terlalu sedih, tapi... Tidak apa jika hanya sedikit."
Ryan membalas dengan ledekan, ia tidak menyangka temannya akan lebih pendiam. "Hahahaha apa maksudnya itu?"
__ADS_1
Misako tersenyum lebar. "Terimakasih teman-teman, aku senang kita bertemu hari ini. Kalian hebat bisa menjadi temanku, padahal aku punya banyak kekurangan."
Glen memegang pundak Misako. "Jangan lari lagi..."
Ryan mendekatkan kursinya di dekat Misako. "Karena kami akan mengejarmu..."
Sehun bangkit dari duduknya, tangannya mengetuk kepala Misako. "Sampai kamu kembali lagi di depan kami..."
Misako terdiam melihat aksi teman-temannya, ia tertawa. "Apa kalian latihan hahahaha! Kompaknya.."
Glen menutup wajahnya yang malu begitupun Ryan, sedangkan Sehun diam dengan wajah memerah. Mereka kembali ke tempat semula, meminum kopi masing-masing.
"Sebenarnya kami latihan..." Bisik Ryan malu.
Wajah Glen bertambah merah. "Kami hanya ingin terlihat keren kau tau..."
"B-benar! T-tidak! Ini hanya... Agar keren..." Sehun terlihat gugup, suaranya tidak tertahankan. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya.
Sion menikmati siaran langsung di depannya. "Kalian pasti dekat." Gumam Sion dibalas tatapan tajam mereka berempat. "A-apa aku salah? Eeh!?"
Misako menggeleng diikuti Ryan dan Sehun. "Kamu tidak salah, tapi kami tidak sedekat itu..." Ucap Misako dibalas anggukan kecil dari Sion.
"Ngomong-ngomong kalian tidak lama di sini?"
"Ada kerjaan ya?"
"Iya, sekalian kuliah. Kau mau kemana Ryan?"
"Aku juga ke Korea, biasalah kontrak. Kau Sehun?"
"Aku ada urusan di Korea."
Misako tertawa kecil yang dibalas tatapan bingung dari semuanya. "Jadi kita semua akan ke Korea? Hihihi, takdir yang lucu."
Glen terkejut. "Kamu mau ke Korea juga? Kapan? Mau bareng sama aku?"
Dengan cepat Misako menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku lulus dulu. Mungkin tahun depan."
"Kenapa kamu mau kesana?" Tanya Ryan bingung.
"Kerjaan kakak ada di sana, aku malas jauh-jauh darinya..."
__ADS_1
"Memangnya kau sudah menemuinya tujuanmu di universitas Korsel?" Tanya Sehun.
"Sudah, aku akan mengambil jurusan yang sudah kutentukan tahun lalu."
Mendengar jawaban mantap dari Misako membuat teman-temannya merasa lega, sedari dulu Misako memang memiliki tujuan yang kuat. Namun dirinya terlalu terikat dengan keluarganya, teman-temannya takut keterpurukan Misako menghancurkan mentalnya dan memperkeruh masa depannya.
'Dia masih sekuat dulu ya..' Batin Glen, ia tersenyum manis.
Ryan menopang dagunya memandang gelas kopinya. 'Dia masih seperti dulu, bahkan lebih. Steven, dia menjadi semakin kuat.'
Sehun meminum kopinya hingga titik terakhir. 'Dia anak yang kuat, Steven kuharap kau juga melihatnya menjadi lebih baik.'
Mereka menghabiskan waktunya mengobrol banyak hal dalam hidup mereka selama dua tahun belakangan. Terkadang Sion ikut mengimbangi topik namun juga menciptakan suasana geli atas sikapnya yang bucin, disitulah rumor Sion terbukti salah karena dirinya lemah terhadap Glen. Misako tersenyum, dirinya banyak tertawa hari ini. Disisi lain ia bangga menunjukan dirinya yang sekarang, ia ingin membuktikan meskipun Alan tidak ada disisinya, ia tetap akan menjadi dirinya sendiri.
"Wah aku puas mengobrol dengan kalian hihi! Kita harus sering main kalau sudah di Korea ya!" Ungkap Glen, Ryan dan Sehun hanya mengangguk. Mereka mengucapkan salam perpisahan atas pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.
Misako pulang dengan tumpangan Sehun karena Ryan harus bekerja, begitupun Sion dan Glen yang harus bersiap.
"Terimakasih banyak Sehun..."
Sehun mengangguk sembari memamerkan senyumnya, Misako terkejut melihatnya. "Jangan buat dirimu terpuruk, semua manusia masih punya harapan tuk bertemu di alam akhirat. Semangat."
Misako hanya diam, Sehun meninggalkan Misako, sesekali ia melambaikan tangannya. Misako tersadar dan membalasnya.
Hingga kini ia sendirian, melangkah menuju tempatnya. Ia sedikit bingung karena suasana yang sunyi, tidak ada sambutan yang biasa ia dengar. Dimana dia? , batinnya resah. Misako berlari menuju depan pintu rumah Ryu yang terkunci, ia melihat lampunya mati.
"Ryu! Kamu dimana?"
Misako dengan raut berantakan memandang pintu dingin tak bernyawa, ia mengetuk tanpa balasan. Saat menekan bel pun tidak ada yang menjawabnya.
"Kenapa kau bersikap seperti ini? Kau mau menghilang sepertinya?"
Punggungnya bersandar pada dinding dingin, malam ini dingin dan ia mengenakan pakaian tipis. Hidungnya memerah, helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Kenapa kalian seenaknya? Sepertinya dosaku terlalu banyak, kalian kabur karena aku merepotkan ya? Atau... Apa kalian sudah menemukan tempatmu... Ryu... Kamu... Dasar bocah kangkung...
Ia mengecek ponselnya, terdapat satu pesan suara yang dari Ryu. Misako mengunduh pesan panjang itu.
"Misako... Ini aku Ryu, mungkin saat kamu pulang ini akan menjadi sambutan terakhirku. Aku akan pergi keluar negeri, memang cepat karena aku baru saja mempublikasikan diriku di sekolah. Sebenarnya ini hanya tempat pelarianku dari keluarga yang terus memaksaku untuk bertunangan, aku sudah memantapkan tekadku untuk tinggal lebih lama. Tapi... Wanita yang kucintai kurasa lebih nyaman tanpaku, tapi aku akan tetap menunggu... Sebelum itu aku harus mempersiapkan banyak hal untuknya, aku siap setelah aku sukses. Aku akan kembali... Misako... Selamat datang..."
Misako langsung menekan tombol balas. "Aku tidak akan mencarimu ayam kecil hehe. Semoga lancar."
Pesan itu terkirim tanpa balasan dan tidak akan pernah terbalas, Misako tersenyum pahit, matanya menatap langit gelap.
__ADS_1
"Aku tidak akan menunggumu, tapi akan mencarimu. Ada yang perlu kukatakan padamu." Tegas Misako.
^S2 END