Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
10¹ Aku Adalah Aku


__ADS_3

Di depan toko terdapat tempat duduk besar yang terbuat dari kayu, Misako dengan santai duduk sembari menikmati hembusan angin malam. Tanaka yang melihat Misako yang baginya tidak tahu malu hanya berdecih kesal.


"Kenapa tidak duduk?" Tanya Misako sembari menatap langit-langit.


"Katakan apa tujuanmu?"


"Ah~ kakak tidak bisa diajak bicara baik-baik ya? Kak, sebenarnya tadi aku sempat terpana melihat kakak yang baik kepada adik perempuan kakak tapi aku kecewa karena kakak membuat ibu kakak menangis." Ungkap Misako dengan tenang.


"Apa kaitannya kau dengan itu? Aku tahu kau pasti punya maksud lain."


"Kak. Terserah kakak mau bicara apa, aku tulus membantu kakak tadi. Kalau kakak tidak terima bantuan dariku, aku akan katakan dengan jujur kalau aku hanya ingin membantu ibu kakak."


"APA MAKSUDNYA ITU? SUDAH KUDUGA KAMU PUNYA MAKSUD TERTENTU! KAMU PASTI SAMA DENGAN PARA BRENGSEK ITU KAN?! KAMU AKAN MENGHANCURKAN AKU BAHKAN SEKARANG KAMU PASTI BENCI AKU!"


Misako tampak pasrah, ia tersenyum pahit layaknya seseorang yang kecewa akan sesuatu. Ia melangkahkan kakinya kearah Tanaka dan menatapnya dengan tatapan penuh ketulusan.


"Kakak lihat mataku ini? Aku tidak benci kakak, kalau tidak suka maka mulai detik ini jangan hiraukan bantuanku. Anggap aku melakukan semuanya hanya untuk ibu dan adik kakak. Aku pulang ya, kuharap kita tidak bertemu kalau kakak masih kesal." Ucap Misako.


"Apa maksudnya itu?"


"Hahahaha, kudengar kakak pintar jadi kakak pasti akan mengerti. Aku tidak melakukannya untuk kakak kok dan aku bersumpah untuk tidak mengungkit apapun! Ampuni aku yang merupakan bocah brengse* ini.."


Misako meninggalkan Tanaka yang terdiam seribu bahasa, melihat tingkah Misako membuatkannya merasa beban yang dipikul oleh Misako lebih berat darinya. Bahkan mungkin pengalaman hidup miliknya tidak sebanding dengan kehidupan Misako yang masih bisa tersenyum saat dicaci-maki olehnya, tatapan yang lembut layaknya seorang ibu.


'Kenapa seperti orang dewasa sih.' Pikir Tanaka kesal lalu masuk.


Misako masih sempat mengobrol, ia merasa senang dekat dengan ibu Tanaka. Ia memperlakukan layaknya ibunya sendiri, Misako memandang matanya penuh kasih sayang. Tanaka yang melihatnya hanya diam, setelah beberapa saat ia baru menyadari ketulusan Misako.


"Apa kamu tidak dimarahi orang tuamu hm?" Tanya Ibu Tanaka tanpa sadar Misako menitikkan air mata.


"E-ehh.."


"Ibu dan ayah saya sudah meninggal.. loh kok saya menangis?"


Ibu Tanaka memeluk erat tubuh Misako yang tiba-tiba menjadi lemas, Misako berusaha menahan tangis yang menyakiti hatinya. Tanaka yang mendengar pernyataan Misako pun meninggalkan tempat dimana ia diam-diam mendengar pembicaraan mereka. Tanaka berniat untuk menyelesaikan buku bacaannya untuk mempersiapkan ulangan besok, saat sedang membaca buku ibunya memanggil.


"Tanaka, tolong temani Misako pulang." Perintah sang ibu.


"Ibu~ tidak perlu repot-repot. Saya akan baik-baik saja." Balas Misaki berbisik di telinga sang ibu.


"Aku akan menemaninya. Ayo!" Tegas Tanaka memakai jaket lalu keluar.


Misako hanya melihat sekilas lalu meminta izin kepada ibu Tanaka untuk pulang, ia tersenyum.


"Ibu, jangan lupa suratnya dibuka saat aku sudah pergi ya?"


"Hayoyo~ baiklah akan kubaca. Pulanglah, katanya kakakmu menunggu sendirian di rumah."

__ADS_1


Misako tersenyum lalu pergi bersama Tanaka sembari melambaikan tangannya, Tanaka melirik Misako yang masih tersenyum padahal sudah jauh dari rumah. Ia terheran-heran dengan sikapnya yang tidak seperti anak-anak pada umumnya, Misako terlihat dewasa dan dapat dengan mudah mengendalikan sikapnya. Penuturannya terhadap yang lebih tua sangat lembut dan sopan, seakan-akan ia sudah menjadi golongan tua itu.


"Kak, wajahku akan berlubang." Ucap Misako merasakan tatapan tajam itu.


"Uhm--"


"Maafkan aku.." Ungkap tiba-tiba dari Tanaka.


"Hah? Untuk apa?"


"Aku banyak mencaci-maki dirimu yang sebenarnya berniat baik pada kami, aku sangat minta maaf. Mengetahui yang sebenarnya membuatku sadar jika kamu tidak meminta apapun dari kami." Ucapan Tanaka langsung ditolak oleh Misako.


"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Aku ke rumah kakak juga bukan karena tidak minta apapun. Sepertinya aku melakukan sesuatu yang besar, maaf ya kak karena sebenarnya aku menginginkan sesuatu hehe."


Tanaka terkejut dengan pernyataan tiba-tiba dari Misako, ia memandang dengan tatapan kebingungan.


"Wah aku sudah sampai rumah~ kakak sampai menunggu di depan rumah. Dah!"


Ucapan singkat dari Misako yang langsung berlari meninggalkan Tanaka sendirian, ia Tanaka memandang tubuh kecil itu berlari memeluk sang kakak. Kakaknya langsung mengecup kepala Misako, terdapat tatapan khawatir darinya.


"Dia tampak kesepian, ah aku jadi rindu adik-adikku." Ucap Tanaka meninggalkan tempat.


Meskipun Misako mengucapkan beberapa kata yang membingungkan, saat melihat bagaimana cara Misako mengucapkannya membuat Tanaka berpikir betapa bodohnya dia.


"Huh! Padahal ekspresinya mudah dibaca begitu, kenapa aku mengutuk dan berburuk sangka pada anak itu sih dasar bodoh! Hihihi, kejutan apa yang mau dia katakan sampai ngelantur begitu." Gumam Tanaka diselingi tawa kecil.


Jalan menanjak yang membuatnya membeku karena dorongan angin dingin menerpa tubuh berlapis jaket tipis, mulutnya bergumam hafalan materi ujian. Matanya memandang sekeliling guna menghilangkan rasa bosan, hingga sampai di depan pintu rumah yang dinantikan.


(Cklak)


"Ibu aku pulang."


"Hiks! Hiks!"


Terdengar suara tangisan dari dapur, Tanaka langsung berlari menuju arah dapur dan mendapati ibunya yang menangis saat membaca secarik kertas berwarna merah muda.


"Ibu, ada apa?" Tanya Tanaka cemas.


"Uhhhhhh~ Tanaka, lihat ini hiks.. kita tidak akan kekurangan makan dan kamu bisa sekolah dengan baik hiks! D-dia benar anak baik hiks.." Ucap sang ibu membuatnya kebingungan.


"Apa maksudnya Bu?" Tanya Tanaka.


"Baca ini.."


Tanaka membaca surat yang berisi tentang ajakan kerja sama atas nama Nikle Amanda untuk membuka toko roti cabang kelima yang diketuai oleh ibu Tanaka, jaminan yang diberikan berupa tempat tinggal dan gaji tinggi membuat Tanaka menitikkan air mata.


"Misako-chan juga memberikan surat pribadi ini untukmu, ibu dimintai tolong untuk memberikannya saat kau pulang." Ucap sang ibu.

__ADS_1


Tanaka dengan cepat membuka surat itu, melihat kata-kata yang tertulis membuatnya menangis tersedu-sedu. Pipi tirusya dibasahi air mata, ia tak sanggup menahan perasaan dari dalam hatinya hingga menyandar pada ibunya.


"Ibu maafkan aku belum bisa menjadi yang terbaik.." Gumamnya dengan suara sesenggukan.


Ia tak menyangka jika seorang gadis yang dikutuk adalah seorang pahlawan yang tulus membantunya, merubah nasibnya, menegakkan semangatnya.


"T-terimakasih.."


Di sisi lain, tempat Misako bersama dengan kakaknya. Di ruang tv Liam tengah menyetel dengan volume kecil dan Misako sedang belajar di sebelahnya.


"Apa kau tidak terganggu belajar di sini hm?" Tanya Liam khawatir melihat adiknya yang belajar di depan tv.


"Tidak. Ini lebih baik karena aku ingin bersama kakakku yang tampan."


"Hmm."


Liam langsung mematikan tv dan memperbaiki posisi duduknya menghadap fokus Misako.


"Ada apa?" Tanya Liam tanpa aba-aba, ia tahu akan ada permintaan.


"Kakak, aku ingin bantuannya sedikit boleh?" Tanya Misako sembari menatap lemah Liam.


'Wah betul dugaanku..' Batin Liam tersenyum, mengetahui adiknya yang jarang meminta bantuannya.


"Bantuan apa? Aku akan membantu semaksimal mungkin."


"Kak, aku ingin kakak mengangkat satu cabang toko roti lagi boleh?"


"Hah? Apa maksudnya itu?" Liam terkejut bukan main melihat permintaan tak biasa dari adiknya.


"Ini tentang teman yang aku ceritakan, aku juga sudah mengetes rasa roti ibunya. Rasanya enak! Aku juga suka kue keringnya!"


'Kalau dia bicara tentang kue, aku sepertinya tidak bisa mengelak. Bahkan Jeon siala* itu memuji kemampuannya.'


"Baiklah akan kubiarkan dengan tuan Jeon, sekarang lanjutkan belajarmu meskipun besok adalah hari terakhir ujian oke?"


"Oke kak!"


Bersambung...


...__________...


Dari Misako (Nikle Amanda)


Untuk Hanji Tanaka


...Kak, sebenarnya aku sudah lama melihat kakak yang bekerja keras di toko bahkan toserba ada di dekat rumahku. Maaf karena aku mengawasi kakak diam-diam, tapi aku sudah melihat kakak yang berjuang untuk ibu dan adik-adik kakak. Kakak orang yan yang luar biasa, kakak hebat karena mampu menopang tanggung jawab yang besar. Karena itu aku hadiahkan pada kakak kartu beasiswa kedokteran, kakak bisa mendatangi kantor dan memberikan beberapa persyaratannya, salah satunya harus menjadi ketua OSIS loh. Mudah kok, semangat ya. Mulai hari ini, detik ini, jangan bekerja berlebihan karena itu bisa menyakiti tubuh kakak. Jadilah ketua OSIS yang baik kak. Semoga beruntung....

__ADS_1


__ADS_2