
Cahaya matahari datang setelah bumi berbalik, Liam terbangun dengan perasaan segar yang akhirnya datang. Tangannya terasa berat karena keberadaan seorang anak kecil di sampingnya, matanya hanya menangkap Ryu dan Hikari. Ia tidak tahu dimana Misako tapi yang jelas dia sudah bangun dan pergi entah kemana, padahal ini hari minggu.
Liam menghela nafas panjang, ia menutup matanya dengan tangan kanannya. Liam merasa kurang sempurna untuk adiknya, ia tahu meskipun sekarang yang berada dalam tubuh Misako bukan yang sebenarnya. Tetap ada perasaan bersalah di dalam hatinya, ia tidak ingin kehilangan keluarganya untuk kesekian kalinya.
'Aneh, tadi malam tidak ada mimpi buruk. Apa karena ada Misako ya?' Batin Liam hingga seutas senyuman tertera di wajah tampannya.
Perlahan Liam bangun menyingkirkan Hikari yang masih tidur nyenyak, ia menyelimuti Hikari lalu pergi ke kamar mandi. Liam mencuci mukanya dan menggosok giginya, setelah beberapa kegiatan kamar mandi dilakukan ia menuju dapur. Betapa terkejutnya ia melihat sarapan yang disiapkan untuk mereka.
"Lucunya adikku... Ngomong-ngomong dimana kucing lucu miliknya itu? Apa Misako mengajaknya berjalan-jalan?" Gumam Liam sambil menikmati makanannya.
Liam menikmati secangkir susu original kesukaannya, diantara susu yang disiapkan Misako terdapat susu stroberi dan pisang. Ia sempat berpikir Misako memiliki teman yang baik, sambil melihat pemandangan lewat jendela.
'Maafkan aku belum menjadi kakak yang baik untukmu..' Batin Liam.
Di sisi lain, Misako berdiri di depan makam seseorang. Lonceng kucing yang terus mengeluarkan suara karena tertiup angin, ditambah bunga sakura yang bermekaran. Tangannya memegang satu buket bunga berwarna putih, wajahnya tersenyum lebar.
"Ini hari minggu, aku senang bulan ini bisa cepat kesini... Alan, bagaimana kabarmu? Apa kamu tidak mau dengar ceritaku?"
Misako meletakkan bunga di atas batu nisan bertuliskan nama sahabatnya, wajahnya hampir menitikkan air mata tetapi ia masih menahannya meskipun rasa sakit menjadi berkali lipat.
"... Sudah dua tahun berlalu ya, padahal dulu kita janji kan bersama hingga rambut kita menjadi putih. Kita bahkan belum bertemu Glen, Sehun, dan Ryan. Bahkan sekarang aku punya teman baru, dia baik dan sifatnya persis sepertimu. Aku merasakanmu versi lain Alan... Hiks..."
Air mata yang sedari tadi ia tahan pun keluar, meskipun suaranya tak terdengar jelas. Hatinya menjerit keras, hancurnya benteng pertahanan yang selama ini dia bangun hanya karena kunjungan hari ini.
"A-aku ingin melupakanmu tapi tidak bisa... Kamu adalah orang pertama yang menyambutku di dunia baru ini hiks, kamu berharga... Kenapa kamu begitu menghancurkanku Alan?... Kamu menghancurkanku! Hiks... Aku hanya ingin bersamamu, hanya kamu yang bisa... Hiks kenapa kau meninggalkanku duluan di hari ulang tahunku..."
Misako menangis tersedu-sedu, ia berteriak di depan batu nisan. Padahal di hari Alan meninggalkannya tidak ada satupun air mata yang keluar, selama dua tahun Misako tidak menangis meskipun selalu memikirkannya. Pikirannya menolak realita dan membuang bongkahan kaca pecah yang menusuk hatinya, tetapi hari ini dia baru menangis setelah memikirkan bahwa Alan tidak akan pernah kembali.
"... Aku mencintaimu bodoh..." Ungkap Misako tersenyum lebar kearah batu itu.
__ADS_1
Misako bangun lalu menyeka air matanya, ia tersenyum dan berkata dengan lembut. "Tapi sekarang aku sudah menghapusnya... Tapi tenang karena aku sekarang sudah baik-baik saja... Sampai jumpa tahun depan, jangan lupa tenang ya Alan, nikmati musim semi milikmu sebaik mungkin."
Misako meninggalkan makam itu dengan membawa kucing dalam dekapannya, meskipun ia menangis. Wajahnya tersenyum, perasaan lega memenuhi pikirannya.
'Akhirnya aku bisa mengatakannya hehe.'
Tepat setelah Misako pergi, suasana makam itu menjadi cerah. Seseorang keluar dibalik semak-semak, ia memandang arah Misako berjalan dengan tawa kecil.
"Misako sudah rela kau pergi, jadi tidurlah dengan nyaman adikku. Ini hadiah untukmu." Ucap Jeon meletakkan satu tangkai bunga mawar putih.
Jeon tersenyum lebar, angin menyapu hatinya yang semula khawatir akan Misako.
"Dari dulu kau selalu dingin pada anak perempuan, tapi sikapmu aneh saat bersama Misako. Bagaimana rasanya dicintai dan ditolak secara bersamaan? Hahahaha, sayang sekali karena dia akan direbut seseorang."
Jeon hanya tertawa lalu meninggalkan makam adiknya.
["Teletubbies~ a'auuw!...."]
Lima belas menit kemudian air sudah mendidih, ia menuangkannya di dalam teko berisi teh. Ia menikmati momen sendiri yang terasa kosong, rasanya sepi karena ia biasa menghabiskan hari-harinya dengan Ryu atau Hikari di musim semi.
"Aku ingin memberi makan kucing jalanan." Ungkap Misako meletakkan teh dan membawa sekantung makanan kucing.
Di jalanan banyak sekali kucing terlantar, bahkan tidak jarang diantara mereka yang mati kelaparan atau tersiksa. Misako tidak pernah tega melihat kucing yang dianiaya, ia merasa harus menolong meski hanya sedikit. Ia dengan tulus memberi mereka makanan yang dibeli dengan uang sakunya, entah berapa banyak makanan bernutrisi ia berikan. Terkadang ia membawa beberapa kucing sakit ke rumah sakit hewan untuk diperiksa.
Tidak hanya kucing, ia juga merawat hewan-hewan yang ditemuinya, bahkan anjing sekalipun. Meskipun ia harus pindah rumah karena diikuti beberapa anjing, tetapi ia senang dapat membantu mereka. Burung gereja yang penakut pun akrab dengannya, Misako tidak pernah mempermasalahkan hewan-hewan itu. Ia selalu ingin membantu jika mampu, karena menyakitkan ketika kita sakit tidak ada yang peduli.
"... Ayo makan yang banyak, aku sengaja membeli banyak untuk kalian loh... Ayo makan lagi."
"Misako...?" Di sela waktunya tiba-tiba terdengar suara seseorang.
__ADS_1
"Uh?... Hanji Tanaka-san?"
Tanaka menghampiri Misako yang masih sibuk memberi makan kucing, ia melihat Misako tersenyum lalu memberi tanda agar Tanaka duduk sambil melihat kucing-kucing itu.
"Lihat, lucu banget kan?" Tanya Misako senang.
"Iya, lucu." Balas Tanaka jujur melihat kucing-kucing itu lahap.
Melihat kucing-kucing itu gemuk padahal mereka hanya kucing jalanan membuatnya bingung.
"Ngomong-ngomong kenapa kucing ini gemuk padahal hanya kucing jalanan?"
"Aku sering memberi makan kucing-kucing ini jadi tidak kelaparan meskipun mereka kucing jalanan." Balas Misako senang.
"Oh..."
Mereka berdua berjalan-jalan sembari sesekali mengobrol soal kucing, Tanaka hanya mengikuti langkah kaki Misako. Melihat hal baru dalam diri Misako membuatnya bahagia, hingga waktu menjelang sore mereka sudah menghabiskan banyak waktu di luar rumah.
"Wah aku puas memberi makan banyak kucing, ngomong-ngomong Hanji Tanaka-san bisa saja pulang tapi kok ikut aku terus? Kan jadi capek.." Ungkap Misako sedikit merenggangkan pinggangnya yang pegal.
"Misako.. ada yang ingin kubicarakan denganmu.." Ungkap Tanaka tiba-tiba.
"Apa itu?"
Angin berhembus kuat dengan sakura yang terus berjatuhan memenuhi jalanan dan menghias dinding udara tak kasat mata. Suasananya hangat namun menegangkan, udara dingin tidak melepaskan Hanji Tanaka dari keringat akibat rasa gugup.
"A-aku menyukaimu... Maukah kamu jadi pacarku?.."
Bersambung...
__ADS_1