Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
2¹ Kenangan Berlinang Air Mata I


__ADS_3

Sekolah akan menyambut tahun ajaran baru yang ditandai dengan kakak-kakak senior yang purna dan akan melanjutkan jenjang pendidikan atau karier selanjutnya, banyaknya siswa-siswi yang menggantikan tempat kakak-kakak mereka dulu, juga rombongan siswa baru sebagai adik baru yang polos.


Terkadang bunga sekolah akan tampak di hari pertama mereka masuk yang tanpa memancarkan feromon yang keluar secara alami, dan secara tidak langsung mereka akan ditandai sebagai orang yang spesial. Begitulah hawa yang mengikuti datangnya siswa kelas satu dari luar negeri ini. Tatapan mata mengitari pasangan siswa-siswi itu seakan-akan sedang menonton film dengan artis yang membutakan, bahkan cara mereka berjalan tegak elegan pun mendapat banyak sorotan.


Disaat mereka tidak ada, koridor sekolah tampak sepi. Tetapi saat mereka berjalan betapa banyaknya siswa yang bergerombol baik itu laki-laki maupun perempuan, mereka memandang dengan mata berbinar. Meskipun demikian entah mengapa mereka tidak mendekati bunga sekolah itu sama sekali, bahkan menjauh.


"Eh, kepala sekolah ganggu saja..."


"Sstttt! Diam nanti si botak itu nargetin kita lagi!"


"...padahal aku mau jadi penggemar bocah cantik itu.."


"Aku pingin jadi pacar bocah ganteng itu woy.."


"Sadar bos, kalian kakak kelas.. tapi cukup mempesona sih.."


Terdengar suara bisik-bisik yang bahkan tak dihiraukan sama sekali oleh kedua anak yang menjadi sorotan satu sekolah, wajah cantik dan cara berjalan layaknya seorang bangsawan berhasil memikat banyak perhatian.


"Selamat datang, saya wali kelas kalian Ahn Yuya yang merupakan guru matematika. Semoga kita semua bisa menjalin hubungan yang baik dan mendapatkan nilai terbaik agar tidak tinggal kelas."


Kata-kata yang terlontarkan dari wali kelas tidak membuat banyak siswa terharu, melainkan mereka mulai mengatur strategi berperang sebelum waktu ujian. Wajar saja mereka memasang wajah serius penuh niat seperti itu, karena ini adalah kelas A tempat para siswa pintar berebut prestasi.


'Huh, baru pertama masuk saja sudah menaruh banyak beban. Apakah kelas lain juga seperti ini?' Batin salah satu siswi sedikit kesal dengan sambutan yang terlalu serius. 'Padahal masih awal tahun..'


"Baiklah, silahkan perkenalkan diri kalian. Silahkan dari depan." Perintah wali kelas, ternyata suaranya tidak lembek meskipun ia perempuan.


Sesi perkenalan pun dimulai dengan siswa yang hanya memamerkan prestasi sepanjang perjalanan mereka menuju kelas A, mereka dengan bangga memaparkan hal-hal hingga daftar lomba yang berlebihan.


"Selanjutnya.."


Sekarang giliran seseorang yang sudah menarik perhatian sejak awal masuk sekolah.


"Saya Nikle Amanda, panggil saya apapun. Saya tidak terlalu mengerti nama panggilan yang nyaman, saya rasa kalian mengerti apa maksud saya. Terimakasih." Ungkap seorang siswi yang menggemparkan satu kelas termasuk wali kelas mereka.


"Apakah tidak ada lagi? Tidak ada prestasi yang mau kau paparkan pada perkenalan yang ada dalam waktu sekali ini?" Tanya wali kelas ragu ingin melanjutkan ke siswa selanjutnya.

__ADS_1


"Tidak bu~ saya tidak sepintar itu untuk memamerkan prestasi.. nanti juga teman-teman tahu kalau mau berteman dengan saya hehe.." Ucap Amanda tanpa ragu.


Wali kelas tampak seakan tak percaya Amanda akan mengatakan hal yang begitu mengejutkannya.


"B-baiklah silahkan duduk, selanjutnya."


Pada akhirnya Amanda tidak mengatakan apapun selain perkenalan singkat itu, tentunya itu membuat teman sebelahnya semakin bersemangat.


"Hehe, nama saya Matler Andrew. Kalian boleh memanggilku Steven atau apapun yang kalian sukai karena aku juga tidak peduli. Dan saya juga tidak terlalu pintar dan ambil pusing dalam masalah prestasi, intinya saya pasti bisa kalau berusaha. Sekian, terimakasih." Ungkap satu orang siswa yang lagi-lagi menggemparkan satu kelas dengan perkenalan singkatnya.


"T-tidak ada lagi?"


"Ya bu."


"B-baiklah silahkan selanjutnya."


Alan dengan bangga duduk, Amanda hanya memandanginya dengan tatapan kesal.


"Ada apa?" Bisik Alan merasakan panggilan dari tatapan maut sahabatnya itu.


".. hihi.. aku senantiasa mengikuti ratuku, lagipula aku juga tidak berniat sombong kan? Siapa yang bisa menandingi juara olimpiade tingkat dunia ini kan hahah.." bisik Alan mendekatkan dirinya pada Amanda.


Amanda hanya dapat menghela nafas panjang, ia tidak peduli dengan Alan dan hanya memandang guru yang baru mengakhiri sesi perkenalan. Tidak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi, ternyata kelas kali ini dipenuhi dengan sesi perkenalan yang panjang. Bahkan satu anak bisa menghabiskan waktu 15 menit hanya untuk dirinya sendiri.


'Betapa egoisnya.. padahal sekarang kan tidak seharusnya kita hanya menghabiskan waktu untuk perkenalan. Bukankah itu sudah saat pengenalan lingkungan sekolah yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut?' Batin Amanda kesal.


"Kenapa kesal sih? Mau makan bersama?" Tanya Alan yang sedang mengambil kotak makan dari dalam tas.


Amanda yang sudah mengambil bekalnya hanya mengangguk setuju, mereka menghabiskan waktu di kelas untuk mengobrol, berbagi minum, bertukar lauk dan tertawa layaknya dua orang yang dekat. Ditengah waktu mereka, tiba-tiba mereka dihampiri siswi-siswi yang terdiri dari empat orang.


'Kayaknya orang-orang ini populer?' Batin Amanda berusaha mengabaikan.


"Kakak~" Panggil salah satu anak perempuan dari keempat anak itu dengan nada manja.


'Huh, bahkan mereka berada di tingkatan yang sama. Kalau aku mungkin sudah kubentak dan mempertegas namaku dengan spidol agar mereka tahu, padahal teman sekelas. Aku saja tahu nama anak ini karena baru perkenalan.' Batin Amanda berusaha untuk tetap mengabaikan meskipun hatinya meronta-ronta.

__ADS_1


"Ada apa?" Respon Alan santai.


Amanda yang terkejut dengan nada Alan yang biasa-biasa saja padahal anak itu lumayan menyebalkan mengingat mereka selalu mengejek orang-orang yang sengaja bernada imut.


"Kak~ kenapa kakak tidak makan bersama kami saja? Kami juga akan menemani kakak agar tidak kesepian~"


"Aku tidak bisa, aku sedang menemani temanku. Jadi jangan ganggu aku ya, nanti aku makan bersama kalian kapan-kapan~" Balas Alan yang membuat Amanda tak habis pikir.


"Kya~ baiklah kak. Terimakasih~! Kami pergi dulu."


Mereka melangkahkan kakinya menjauh dari meja tetapi Amanda langsung sadar ketika anak itu memandang wajahnya sinis.


"Ugh.. menyebalkan..." Gumam Amanda menggertak giginya.


"Kenapa? Kau cemburu?" Tanya Alan dengan nada yang bagi Amanda luar biasa 'song-ngong'.


"Song-ngong (kurang ajar) bener ini anak! Aku begitu karena anak itu cukup banyak sekali menyebalkannya, bahkan cara meliriknya seolah aku merebut kesukaannya hah? Dia serius? Sudahlah aku tidak peduli.. nyam! T@k0y@ki inyi enyak!" Ucap Amanda penuh kelucuan bagi Alan.


"Ahahahahahahah!" Tawa renyah Alan mengagetkan siapapun yang ada di sekitarnya.


Amanda hanya diam mengabaikan ledekan dari Alan dan memilih untuk diam menikmati makanannya.


"Ngomong-ngomong besok kamu ada waktu?" Tanya Alan tiba-tiba.


"Hmm ya.. mau ke rumah?" Balas Amanda melemparkan pertanyaan.


"Iya.. nanti aku ke rumah kamu pukul 19.00 tepat oke?"


"Hmm, aku akan pergi kalau terlambat sedetik saja." Ungkap Amanda dengan sendok mengarah ke wajah Alan.


"Baiklah~ kali ini aku berjanji.."


"Yayaya~"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2