
..."Angin yang dingin, pohon yang gundul, gundukan salju putih. Ketika hal menyedihkan menerpamu, jangan menahan tangismu dan tumpahan dalam sujudmu. Ubahlah suasana yang membuatmu sedih dengan membuatnya menjadi hangat." ...
Namaku Raiden Ryu, seorang pelajar berumur 17 tahun. Sebelumnya aku tinggal bersama kedua orang tuaku, tetapi karena pikiranku mulai berantakan karena selalu berada di zona nyaman akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari zona nyaman menuju kehidupan yang sebenarnya. Aku adalah penulis naskah yang baru-baru ini buming karena buku bertajuk 'Berani mengungkap rasa', padahal aku menulis hanya sebagai hiburan di waktu luang tetapi malah jadi pekerjaan.
Sebelumnya aku tidak bersekolah di bangunan yang disebut sekolah melainkan mengikuti program homeschooling, saat aku angkat kaki dari rumah barulah aku mendapati kakak iparku yang mendaftarkanku sekolah. Sekolah itu cukup bergengsi dan mendapatkan banyak penghargaan sekolah terbaik sepanjang tahun, aku ditaruh di kelas dimana para siswa ambisius berkumpul. Kukira ini akan baik-baik saja, semuannya pasti ramah dan baik hati. Tapi ternyata itu tidak akan terjadi karena di zaman sekarang ini gosip tidak akan bisa dihindari.
Saat aku ingin ke kelas setelah mengurus administrasi kesiswaan tiba-tiba aku mendengar anak-anak di dalamnya tengah bergosip.
..........
"Ehh, dia kan seperti itu karena masa lalunya bersama orang itu.."
"Ohh, orang itu kan yang sudah bersamanya sejak awal masuk sekolah?.."
"Iya.. kurasa namanya.. Matler Andrew kan? Dih padahal dia sudah janji mau makan bersamaku.. tapi dia malah meninggal.."
"Apa itu ada hubungannya dengan Misaki?.."
"Kurasa iya.."
Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi itu membuatku kesal. Belum lagi earphone yang tersumpal di telingaku ini juga membuatku kesal. Setelah mengakhiri teleponku, aku masuk kelas untuk mengambilkan beberapa barang yang ada di atas meja. Aku merasa mereka melihatku dengan tatapan tajam seperti sedang mendeteksi sesuatu, sampai ada beberapa anak perempuan yang datang menghampiriku.
Disitulah aku mulai merasa tidak nyaman dan kepalaku mulai berdenging, padahal aku sudah minum obat. Anehnya gejala ini selalu terjadi saat aku berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai niat tertentu denganku, aku merasa pusing dan melihat orang-orang di depanku sebagai tikus pengganggu dan ingin memukulinya.
"Kakak sangat tampan, apa kami boleh bermain bersama kakak~?"
Aku menghela nafas panjang berusaha sebisa mungkin untuk bersabar. "Hah!"
"Apa kakak baru saja menghela nafas?" Ucap anak perempuan itu yang membuatku semakin risih.
__ADS_1
"Namaku Ryu, aku sepantaran kalian. Aku tidak suka bermain jadi jangan ganggu aku. Permisi." Jawabku tegas, tanpa rasa bersalah aku meninggalkan mereka yang terlihat akan mengutukku.
Bagiku sekolah ini tidak lebih dari sekolah biasa tetapi kehidupan damai yang aku idamkan kurasa akan sulit tercapai setelah masuk sekolah ini, aku merasa putus asa padahal belum belajar sesungguhnya. Disaat kakiku melangkah tiba-tiba mataku tertuju pada toko serba ada yang biasanya menjadi tempat tujuanku dan Hikari, sepertinya akhir-akhir ini Hikari banyak menghabiskan waktu dengan Misako. Padahal kami hanya tetangga tetapi kami bisa merasa nyaman berada di sekitarnya, biasanya Hikari akan menolak orang luar tetapi kali ini ia menerima dengan lapang dada terlebih perlakuan Misako yang biasanya terkesan disiplin dan menyebalkan. Aku juga anehnya mulai membuka hatiku untuknya padahal selama ini aku selalu merasa manusia akan baik jika ada sesuatu, tetapi baru kali ini aku merasa nyaman terhadap Misako.
Tanpa sadar tanganku bergerak mengambil ponsel dari saku celana dan menghubungi Misaki.
["Hallo Ryu ada apa? Aku sedang bermain dengan Hikari, kenapa kau mendadak telepon? Hikari jangan sampai jatuh ya."]
Saat aku mendengar suaranya detak jantungku mulai tidak normal, ini sudah terjadi sejak pertama kali aku melihatnya terus mengunjungi kami atau tidak sengaja berpapasan denganku. Aku ingin sekali pulang disambut oleh Hikari dan Misako, entah perasaan apa ini tetapi ini terasa begitu berarti bagiku.
..........
["Jangan begitu, ayo cepat selesaikan. Kami akan menanti dengan sabar, sudahlah aku akan mengajak Hikari masuk karena cuacanya semakin dingin. Jangan lupa bawakan ayam goreng yang ada di dekat gedung lama kalau lewat."]
"Baiklah, jaga Hikari baik-baik."
Di gedung direktur aku hanya diberikan beberapa masukan yang mereka pikir akan berguna, beberapa kata motivasi yang bersifat memaksa agar aku segera menyelesaikan naskah dikerahkan begitu saja. Aku hanya menanggapi dengan anggukan kecil sembari sesekali meminta ide agar tidak terkesan sekedar masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku memberikan beberapa naskah yang kubuat di hari sebelum direktur memanggilku. Pada akhirnya kami selesai berbicara setelah dua jam berlalu dengan obrolan-obrolan panjang yang harus bisa kusimpulkan dengan segenap raga dan jiwaku.
'Intinya aku harus bisa memberikan naskah besok sore kan?' Batinku tertawa.
Aku berjalan kaki karena tertinggal bus, karena merasa terlalu lama menunggu akhirnya aku berjalan sembari memandang sekeliling. Aku memang orang aneh yang berjalan di musim salju, tetapi ini lebih waras karena biasanya aku hanya memakai baju tipis dan berakhir dimarahi habis-habisan oleh kakakku.
'Akhir-akhir ini Misako melakukan banyak hal yang tidak berguna.. bagaimana bisa dia kepikiran untuk menyiapkan syal dan jaket tebal ini?'
Di sekitar gedung tua ada pedagang ayam goreng yang terkenal enak dengan ranting tinggi, tempat yang direkomendasikan oleh Misaki untukku dulu saat kami bingung mau makan apa. Tak kusangka ini tempat yang bagus, padahal aku sering lewat tetapi tidak menyadari ada yang menjual ayam goreng seenak ini. Antrian yang panjang tidak membuatku menyerah untuk tetap berdiri meskipun kaki terasa pegal.
"Eh Ryu, sudah lama kamu tidak kemari. Biasanya Misako dan Hikari yang kemari, bagaimana kabarmu?" Tanya seorang pekerja paruh waktu yang ternyata teman kakakku.
"Paman Ino, aku kesini karena pesanan bocah itu. Seperti biasa ya.."
__ADS_1
"Oke, satu paket jumbo dominan paha ayam saus keju akan segera datang! Silahkan tunggu antrianmu ya hehe. Sampai nanti Ryu."
"Ya, terimakasih paman."
Paman Ino adalah sahabat setia kakakku yang telah meninggal dunia, entahlah tetapi aku tidak merasakan hawa berbahaya saat bersama dengannya.
"Ini pesananmu Ryu~"
"Terimakasih paman, semoga harimu menyenangkan."
"Yap, datang lagi~"
Aku pergi ke toko serba ada di sekitar rumahku untuk membeli dua susu stroberi milikku dan Misako juga satu susu pisang untuk Hikari, barulah aku menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk berjalan hingga tiba di depan pintu apartemenku. Pada saat itu semuannya sunyi tanpa ada sambutan apapun, biasanya Misako akan memaksa Hikari untuk menyambutku saat pulang. Bahkan pesanku tak dibaca oleh Misako.
".. aku pulang.."
Aku meletakan ayam goreng dan susu di atas meja makan, melepas jaket lalu mencuci tangan. Karena penasaran aku melihat kamarku yang masih kosong tetapi sudah rapih tak seperti tadi pagi, lalu di balkon juga tidak ada orang begitupun di kamar atas, dan ternyata orang yang kucari ada di kamar Hikari.
"Oh pantas saja.. pftt.. bikin khawatir saja."
Kulihat Misako tertidur sembari memeluk Hikari yang memegang erat pinggangnya, sejak kapan mereka jadi sedekat itu? Melihat mereka tidur nyenyak membuatku tak tega membangunkannya, aku memasang selimut dan mematikan lampu.
Saat aku hendak memasukkan ayam goreng ke dalam lemari es, kulihat mangkuk berisi lauk pauk yang dibungkus rapi. Terdapat kertas di atasnya.
'Makanlah, jangan pura-pura tidak lapar. Kalau tidak habis, aku tidak akan memasak untukmu lagi. SE-LA-MA-NYA. Jangan lupa dipanasi ya.'
"Pft-- inikah yang dinamakan surat ancaman yang tidak terelakkan? Ini pemaksaan, sudah tau aku tidak bisa.. terpaksa makan deh." Ucapku sambil tersenyum lalu memanaskan makanan.
Bersambung...
__ADS_1