
Saat ini satu toko tengah digemparkan dengan keberadaan dua orang pria tampan, para pelanggan yang semula melirik toko seakan tertarik umpan. Pesona yang diberikan kedua pria berbaju formal itu benar-benar memikat, bahkan tatapan tajam keduanya membuat para gadis meleleh. Bahkan banyak pelayan yang terpesona dengan keduanya sampai sulit mengendalikan diri saat mengantar pesanannya, padahal mereka seharusnya tahu siapa mereka.
"Eh, tuan Liam pergi dengan seseorang. Mereka berdua terlihat sangat hot.." Bisik seorang pelayan yang tengah menjaga kasir.
"Kau benar, sudah satu jam mereka duduk. Apa mereka menunggu seseorang?"
"Heh, kudengar tuan Liam jomblo kaya raya. Tidak mungkin dia punya pacar yang ditunggu.. apa jangan-jangan mereka.."
"Hush! Sembarangan, bukan begitu maksudku. Dia kan punya adik perempuan, siapa tau mereka menunggunya."
"... Kudengar dari Bu manager adiknya sangat cantik, apa secantik itu? Aku tidak percaya karena belum melihatnya."
"Cantik banget, aku pernah lihat sekali. Kamu akan tahu nanti. Mau bagaimanapun juga gen mereka pasti kental."
Mereka terus bergosip sembari mengurusi pelanggan yang terus berdatangan, meskipun hanya sekedar membeli kopi atau memesan air. Mereka terus berdatangan melihat arah kedua pria yang tengah mengobrol. Kedua pria itu dengan santai tak memedulikan keadaan sekitar dan terus mengobrol, sesekali mereka tertawa dan membuat banyak gadis meleleh salah tingkah.
"Liam, bagaimana bisa kau terseleo di depan umum hahaha."
"Jeon-san kau harus tau kalau jalanan penuh salju sangat licin, saat itu aku benar-benar panik akhirnya aku memakai sandal rumah yang licin."
Mereka mengobrol tanpa menyadari seorang gadis memasuki toko dengan pakaian mencolok layaknya model, kepalanya ditutupi hijab pasmina yang dimodel sedemikian rupa sehingga terlihat menakjubkan. Meskipun demikian tetap menutup leher hingga bagian dadanya, ia berjalan dengan anggun menuju meja kedua pria tampan yang menjadi sorotan publik.
"Permisi." Ucap gadis itu duduk di kursi kosong tepat di tengah kedua pria itu. Kursi itu memang sengaja dikosongkan untuknya.
"Hallo paman Jeon. Apa kabar paman?" Tanya gadis itu akrab.
"Baik~ aku selalu menanti kabarmu Misako. Kalau kamu?" Balas Jeon santai sembari menikmati kopinya.
"Hm, aku baik. Tapi akhir-akhir ini sekolah sangat sibuk, mungkin aku luang akhir pekan di akhir bulan." Ungkap Misako yang dibalas anggukan paham Jeon.
"Kau masih mengunjungi makamnya?"
"Iyalah.."
__ADS_1
Liam yang merasa atmosfer sedikit tegang pun mencoba mencairkan suasana dengan pelukan kasih sayang.
"Apa-apaan ini!" Bentak Misako menolak pelukan kakaknya.
"Padahal kakak menyangimu, kenapa~?" Tanya manja sang kakak yang membuat Misako jijik.
"Diam kak, aku kan lagi ngobrol sama paman Jeon."
"Hilih~"
Jeon tertawa melihat tingkah laku dua orang yang tampak dekat itu. "Makanlah kue ini, semua dipesan untukmu karena dari kami tidak terlalu menyukai makanan manis. Kau tau itu kan?" Ucap Jeon tersenyum ramah.
"Iya paman, terimakasih. Ini banyak ya."
Melihat hubungan mereka bertiga membuat banyak pelanggan merasa iri bahkan ada yang membayangkan posisi Misako, berbeda dengan kedua pria yang masa bodoh, perasaan Misako jauh lebih peka dan cepat risih.
"Kenapa pilih tempat ini? Memang tidak ada tempat yang lebih sepi dan nyaman?" Ungkap jujur Misako yang sedikit kesal melihat perhatian tertuju pada mereka.
"Jangan salahkan kami, pada awalnya toko memang sedang sepi mungkin karena belum jam malam siang. Tetapi mendadak ramai sekitar lima menit setelah kami masuk, bahkan jam makan siang datang membuatnya tambah ramai. Ini juga karena kau lama datangnya pasti merias wajahmu ya.." Ucap Liam diselingi ledekan.
Misako merasa setiap ada kesempatan pasti ada saja yang menggangu. "Tidak, aku langsung kemari setelah tugas sekolahku selesai. Kan aku bilang dari awal, lebih baik kita kumpul di tempat yang lebih sepi."
"Silahkan anda ke kuburan saja nyonya~" Goda Liam yang dibalas decihan sebal Misako.
"Oh iya, katanya kakak sedang mempersiapkan bisnis di luar negeri. Apa kakak akan semakin jarang bertemu denganku?"
Liam terdiam sejenak lalu mengangguk, dirinya memang akan melaksanakan bisnis di Korea Selatan. Rasanya tidak rela meninggalkan negara adiknya tinggal, bahkan di dalam satu negara mereka masih jarang bertemu apalagi di luar negeri.
"Aku akan melakukan bisnis ini di prediksi selama beberapa tahun, mungkin aku bisa pulang setahun dua sampai lima kali. Tenang, aku pasti akan menyempatkan diri untuk bertemu adikku." Ungkap Liam dengan nada lembut.
Misako hanya diam sambil menikmati makanannya, sesekali ia memandang kearah jendela atau melihat jam tangannya.
"Kenapa kau tidak menjawab?" Tanya Liam khawatir.
__ADS_1
"... Aku sebenarnya masih tidak rela, tapi kemarin aku tanya sekertaris kakak dan ternyata dia juga kesulitan. Terlebih dia harus meninggalkan anaknya di rumah, tahun depan mungkin dia akan membawa anaknya. Menurutku tidak masalah asalkan masih berkomunikasi dan saling memberi kabar..." Ungkap Misako santai.
Meskipun tampak tenang seakan tak terjadi apapun, Misako tetaplah anak berhati lembut. Jeon dapat melihat raut wajah Misako yang sedih, Misako mengalihkan perhatiannya dengan makan banyak. Jeon tahu karena pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama, dan Misako bukan tipe yang menutup kepribadiannya terutama terhadap orang terdekat seperti keluarga atau saudara.
"Hei, aku bisa memasukkanmu ke universitas Korea Selatan. Kau mau?" Tanya Jeon yang langsung direspon Misako.
"Tidak. Daripada masuk jalur hitam lebih baik aku masuk dengan caraku yang murni, meskipun tidak terlalu bisa bahasa Korea kan aku bisa belajar."
Liam yang mendengarnya langsung tersenyum girang. "Apa kau ke Korea karena aku?.."
"Gak. Aku ke Korea karena katanya ada banyak hal menyenangkan di sana. Kenapa tidak?"
"Uhh~"
Jeon hanya tertawa kecil melihat mereka bertengkar kata demi kata, meskipun pertengkaran terjadi pada akhirnya mereka akan tertawa. Wajah yang bahagia dan segar adalah niat awal mengapa Jeon mampir dari Indonesia ke Jepang, ia ingin Misako melupakan adik laki-lakinya.
'Berbahagialah kumohon, adikku tidak pernah suka kamu menangis Misako..'
"Paman Jeon, apa boleh aku memesan satu cangkir kopi susu dengan krim ekstra?" Tanya Misako mengejutkan Jeon.
"Ya. Kenapa kamu izin? Kan aku tidak pernah melarang memesan semaumu bahkan kalau kamu mau membuang pesananmu sekalipun." Balas Jeon.
Misako menatap Jeon tajam. "Tidak ada yang namanya buang-buang, aku minta paman karena siapa tau bisa dapat krim ekstra banyak dengan toping keju premium di atasnya."
Jeon tertawa mendengar alasan itu. "Aku hanya bercanda." Ucap Jeon, lalu ia melambaikan tangannya kearah pelayan.
"Saya pesan satu kopi susu ekstra krim susu dan toping keju premium di atasnya, terimakasih."
"Baik, pesanan akan kami buat." Balas pelayan itu seraya menundukkan kepala lalu pergi.
"Makasih paman~"
Bersambung...
__ADS_1