Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
4¹ Tetanggaku Teman Sekelasku


__ADS_3

Acara pelepasan siswa sekolah diadakan setiap tahunnya untuk merayakan lepas lelah kakak senior yang telah menyelesaikan ujian akhir, juga untuk menambah tugas baru bagi siswa-siswi junior yang baru selesai melepas penat.


"Uh, memangnya guru mau kita melakukan apa sih?" Keluh Hana yang sedang menulis pengeluaran kelas.


"Kan katanya tema wisuda kali ini harus ditentukan oleh masing-masing kelas dan dipilih melalui voting, jadi kita harus menulis pengeluaran layaknya mengeluarkan sampah. Harus ada hadiah lah, harus ada ini itu.. aaahh bukankah ini sangat berat wakil ketua?" Ungkap Haneul yang berada di sampin Misako.


Misako tidak menghiraukan keluhan dari kedua pengurus kelas itu, ia terfokus pada buku arsip dan absensi yang ada di tangannya.


"Tidak. Meskipun ini berat, ketua kelas sudah memutuskan jadi apa boleh buat? Sekarang yang mencatat pengeluaran itu tugas bendahara dan sekertaris satu dan untuk jadwal belanja, dekorasi, dan lainnya diurus bendahara dan sekertaris dua. Nanti kalau sudah selesai, berikan padaku. Jika ketua tidak setuju, aku akan meminta kalian untuk membuat ulang sampai ketua setuju. Paham?" Jelas Misako tegas yang direspon tegas oleh anggotanya.


"Paham!"


Mendengar jawaban serentak dari teman-temannya membuat Misako sedikit lega.


"Baiklah teman-teman mohon bantuannya, aku permisi untuk menyerahkan absensi dan buku arsip kepada ketua kelas. Kalian silahkan lanjutkan, besok pagi berikan tugas kalian padaku. Terimakasih." Misako menundukkan setengah badannya.


"Baiklah ketua, mohon kerjasamanya. Hati-hati di jalan."


Misako keluar dari kelasnya, teman-teman yang semula diam pun mulai berbicara pelan.


"Eh, wakil ketua m-maksudku Misako akhir-akhir ini agak tenang ya?" Tanya Haneul membuka pembicaraan.


Mereka semua tidak berkata namun itu terlihat jelas. "Aku setuju, akhir-akhir ini Misaki sepertinya sedang menemukan sesuatu. Biasanya dia kan berdiam diri di perpustakaan, tapi anehnya mulai satu bulan lalu dia selalu pulang ke rumahnya."


Semua orang yang ada di kelas itu setuju. Hana yang melihat teman-temannya mulai membicarakan orang lain pun ikut masuk. "Tapi dia masih suka memerintah, ya.. meskipun dia memerintahkan atas dasar tugas, tapi bukankah dia terlalu kaku pada kita? Dia bahkan tidak pernah tertawa bebas dan selalu menahan diri, dia seolah-olah tak pernah ingin dekat dengan kita dan mengurus kita hanya kewajiban baginya. Aku tidak menyalahkannya tapi harusnya dia bisa sedikit diajak main."


"Aku setuju!"


"Ehh, dia kan seperti itu karena masa lalunya bersama orang itu.."


"Ohh, orang itu kan yang sudah bersamanya sejak awal masuk sekolah?.."


"Iya.. kurasa namanya.. Matler Andrew kan? Dih padahal dia sudah janji mau makan bersamaku.. tapi dia malah meninggal.."


"Apa itu ada hubungannya dengan Misako?.."


"Kurasa iya.."

__ADS_1


'Mereka senang ya, membicarakan orang lain dibelakangnya. Aku tidak menyangka setelah orangnya pergi kelas akan jadi berisik dengan omong kosong.' Batin seseorang yang sebelumnya berniat untuk membuka pintu namun mendengar sesuatu dari dalam kelas.


["Halo! Jangan tenggelam dalam pikiranmu penulis Ahn Siwon! Tolong cepat temui aku setelah pulang sekolah-!"]


'Suara kicauan manusia dari earphone memang yang terburuk..'


"Baiklah aku tutup." Ucap anak itu membuka pintu kelasnya.


Seorang anak remaja dengan rambut berwarna hitam berkilau dan wajah tampan yang tertutup masker, tinggi badan itu adalah sesuatu. Melihat sesosok manusia berwujud sempurna, bukankah aneh jika tidak ada perempuan yang ingin menempel?


"... Kak, kakak tidak ingin main bersama kami?" Rayu anak perempuan dengan nada imut yang dibuat-buat.


"Kakak sangat tampan, apa kami boleh bermain bersama kakak~?"


"Hah!"


"Apa kakak baru saja menghela nafas?" Ucap anak perempuan itu yang membuat risih.


"Namaku Ryu, aku sepantaran kalian. Aku tidak suka bermain jadi jangan ganggu aku. Permisi." Ucap anak itu meninggalkan anak perempuan yang mengganggunya.


'Kenapa kakak menyuruhku untuk sekolah di tempat ini sih? Memang benar kalau sekolah di luar adalah hal yang bagus untukku, tapi aku lebih suka homeschooling.' Batin Ryu malas.


"Apasih sok banget."


"..iya sok cool banget!"


"Tapi ganteng...pasti kalau ada ceweknya dia manja, biasanya gitu.."


"Iya juga, tapi malas mau deketin."


"..tapi wajahnya lumayan.."


"Iya! Lumayan bikinsetress-!"


Syal biru tua yang terpasang menutupi leher, jaket tebal berwarna cokelat kehitaman menutupi tubuh Ryu. Baru saja ia mendapatkan kabar dari agensinya jika ia harus segera memantapkan naskah drama buatannya, tetapi akhir-akhir ini ia sibuk mengurus adik kecilnya.


"Aku rindu Hikari, dia lagi ngapain ya?" Gumam Ryu sembari memandang toko serba langganan dia dan adiknya.

__ADS_1


Misako menjaga adiknya di waktu ia sibuk seperti saat ini, meskipun baru satu bulan berlalu mereka sudah seperti keluarga layaknya saudara. Saat hatinya tak tahu harus bagaimana, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Hikari.


["Hallo Ryu ada apa? Aku sedang bermain dengan Hikari, kenapa kau mendadak telepon? Hikari jangan sampai jatuh ya."]


"Aku merindukan Hikari, ngomong-ngomong kalian sedang bermain apa?" Tanya Ryu setengah tertawa.


["Oh, kau merindukan Hikari. Kami sedang bermain di taman, katanya Hikari merindukan taman di belakang perumahan karena sudah lama tidak kesini. Kau selalu sibuk dan mengurungnya di rumah sih."]


Ryu tertawa dan mengatakan jika ia memang sibuk belakangan ini.


"Maafkan aku, kau jadi repot ya?"


["Oh tentu saja iya, tapi kalau anaknya lucu dan menggemaskan seperti ini kayaknya kuculik saja ya hahaha. Dan apa pekerjaanmu sudah selesai?"]


"Belum, aku merasa malas ke kantor direktur."


["Jangan begitu, ayo cepat selesaikan. Kami akan menanti dengan sabar, sudahlah aku akan mengajak Hikari masuk karena cuacanya semakin dingin. Jangan lupa bawakan ayam goreng ya di dekat gedung lama kalau lewat."]


"Baiklah, jaga Hikari baik-baik."


Telepon terputus dari kedua pihak, Ryu menahan rasa yang terus membuat jantungnya berpacu kencang. Ia merasa bersemangat di waktu bersamaan padahal sebelumnya ia benar-benar ingin pulang, ia tidak pernah berbicara nyaman dengan siapapun bahkan keluarganya. Tetapi berbeda dengan Misako yang selalu membuatnya tanpa sadar mengatakan semuannya.


'Sepertinya aku harus konsultasi lagi ke dokter.' Batin Ryu berjalan meninggalkan tempatnya.


Di sisi lain, tempat Misako dan Hikari berada. Misako dengan sabar mengurus Hikari layaknya adik kandung, ia menyiapkan makan malam, membersihkan rumah dua kali, memberi makan kucing, membantu mengerjakan tugas sekolah Hikari dan mengerjakan tugasnya. Semua rutinitas yang dilakukan tanpa istirahat membuat Hikari takjub pada semangatnya.


"Kak.. apa tidak lelah?" Tanya Hikari yang sedari tadi membaca buku karena sudah menyelesaikan tugas sekolahnya.


Misako menjawabnya dengan jujur dan sepenuh hati. "Kakak lelah pun tidak ada gunanya, kalau memang itu pekerjaan kakak bagaimana bisa kakak menghindarinya."


"Bukan itu.. kakak seperti mengalami sesuatu yang tidak bisa kakak katakan padaku dan kak Ryu kan?" Ucap Hikari serius.


Hikari terkadang bisa terlihat seperti orang dewasa ketika ia memberikan pendapat maupun bermain, ia tidak seperti anak-anak pada umumnya yang akan menangis ketika sesuatu yang diinginkan tidak didapatkan. Ia hanya akan menerima dan menertawakan keadaannya, ia tidak mengeluh dan tidak suka hal yang berantakan.


"Tidak kok, kakak hanya belajar dan tidak berpikir jika hidup itu berat kok.. kakak hanya melakukan apa yang bisa dilakukan hehe."


Hikari dengan cepat memeluk Misako lembut, tangan kecilnya mengelus lembut kepala Misaki. "Kakak boleh bersandar padaku atau kak Ryu kalau hidup mulai terasa berat. Jangan lampiaskan pada pekerjaan berat yang membebani, nanti bisa sakit."

__ADS_1


Misako tersenyum manis membalas pelukan Hikari yang terasa tulus. "Tentu.."


Bersambung...


__ADS_2