Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
PENGUMUMAN + BONUS


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu


Hallo para pembaca yang terhormat, perkenalkan saya Candy Cat (Caca). Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada para pembaca yang menikmati cerita saya, ini pertama kalinya saya menyelesaikan 20 chapter dalam kurun waktu 2 minggu.


Jujur, keadaan dimana kedua orang tua saya kesulitan membelikan kuota atau sekedar memberi saku membuat saya jarang update. Saya memilih untuk menyelesaikannya dengan cepat agar tidak ada yang namanya menggantung-digantung, sebenarnya cerita ini diperkirakan kurang lebih hanya sampai 40 chapter, namun ternyata bisa lebih.


Saya sedikit bersemangat untuk membuat adegan romantis tetapi ternyata sulitnya bukan main😁 saya merasa orang yang tidak merasakan keromantisan memang tidak tahu apa-apa, benar kan?🤣 Saya contohnya🤣🤣


Para pembaca harus sabar menunggu update dari saya ya, karena sedari awal saya tidak berniat membuat pembaca tergantung di atas langit. Akan saya buat anda sekalian turun dengan segera,tapi nikmati perputaran di antariksa dulu ya.


Oh ya, untuk revisi akan dilakukan segera setelah penerimaan siswa baru di daerah saya dilakukan, melihat banyaknya kesalahan kata yang perlu dikoreksi 🙏🏻😓


Saya kurang tidur akhir-akhir ini karena chapter-chapter bermasalah itu😴 TAPI TIDAK APA-APA, INI BUKAN MASALAH BESAR! SAYA HANYA HARUS MEMINUM TABLET TAMBAH DARAH🥴💉


Just info : SAYA AKAN MENGAMBIL LIBUR SELAMA BEBERAPA HARI SAJA! TAPI TOLONG SHARE CERITA INI YA, NANTIKAN SAJA KARENA SUATU KEADAAN PASTI MEMILIKI WAKTU DI ATAS AIR DAN WAKTU TENGGELAM DI BAWAH AIR. PAHAM MAKSUDNYA? GAK? YAUDAH SAMA🤣🙏🏻


...BONUS 🌟 (Tidak Termasuk Dalam Karya Bukan Ustadz)...


...Judul : Bintang Merah...


...Karya : Cece...


...Revisi 1...


...WARNING! MENGANDUNG KEKERASAN!...


...Note : Isi di dalam cerita hanya karangan fiksi baik secara materi maupun sejarah....


Suatu daerah dimana terdapat bangunan tua berdiri kokoh, disana banyak sekali pohon hilang daun yang banyak dikata mistis. Meskipun tempat itu memiliki sensasi aneh, masih banyak penduduk yang menduduki daerah tersebut. Mereka berkata untuk tidak pergi dari wilayah nenek moyang mereka.


Di depan rumah besar dan kuno, berdirilah seorang pria berjubah hitam mencurigakan. Ia terlihat seperti tengah mengamati sesuatu namun tubuhnya diam membeku seperti batu, matanya tertutup oleh penutup kepala seakan-akan ia tidak melihat apapun. Namun, mulutnya tersenyum lebar layaknya psikopat.


"I want you now."


Disisi lain, di dalam ruangan gelap. Samar-samar terdengar suara jeritan yang berasal dari pintu besar, letaknya berada jauh di bawah tanah melewati tangga. Terlihat seorang wanita tengah diikat pada satu kasur dipan, wajahnya dipenuhi darah dengan mulut dipenuhi segumpal kain. Tiga anak perempuan yang tampak sekarat karena tangan dan kaki mereka diikat di gantungan besi. Sungguh tempat itu dapat dikatakan sebagai tempat penyiksaan.


"Kalian semua adalah orang-orang yang menghancurkan hidupku, tanpa kalian sadari hidupku mulai berantakan sejak memulai hidup bersama kalian sampai saat ini." Ucap seorang pria yang memegang tongkat besi.


Dia memukul wanita yang berada di kasur itu hingga tidak lagi bernyawa. Selanjutnya ia menuju tempat anak-anaknya dan memukuli mereka secara brutal, dirasa cukup ia pun segera mengambil satu bilah pisau di sampingnya.


"Aku melakukan ini demi kehidupanku di surga. Aku cinta keluargaku dan tidak akan membuat mereka merasakan pahitnya kehidupan selanjutnya. Kami mati karena Mu."


Sebuah kalimat beruntun yang ia ucapkan dengan penuh kesungguhan. Lalu tangannya dengan cepat menusuk bagian jantungnya sebanyak tiga kali. Pada akhirnya pria itu pun meninggal dengan darah disisinya. Semuannya yang ada di ruangan itu sudah tidak bernyawa.

__ADS_1


Terlihat seorang gadis cantik yang tampak seperti manekin tak bernyawa diantara tiga gadis malang itu, pandangannya kosong namun air mata perlahan membasahi pipinya.


Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan seorang pria dengan satu anak laki-laki yang masing-masing memakai jubah hitam. Gadis itu memandang mereka dengan pandangan penuh kebencian, lalu pria besar itu mendatangi gadis itu.


"Seperti yang kuharapkan, dia masih hidup." Ucap pria itu mengelus pipi sang gadis.


Pria itu mengeluarkan pisau dari dalam jubahnya.


"Pilihan ada di tanganmu gadis kecil, apa kamu mau mati disini mengikuti keluargamu? Atau ikuti aku dan hidup dengan marga yang berbeda?" Tanya pria itu dengan mengarahkan pisau di samping leher sang gadis.


Ritual Carla _ Merupakan ritual disaat anggota keluarga mulai merasakan kesialan berlebih, maka kepala keluarga akan mengeksekusi anak istrinya yang katanya dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Ini adalah ritual gelap yang sudah ada di desa ini. Biasanya mereka mengatakan jika ada keluarga yang masih hidup atau berusaha kabur, maka mereka yang mati akan sengsara jadi semuannya harus mati.


"A-aku mau.." terdengar suara yang samar dari mulut gadis itu.


"Luar biasa, apa alasan yang membuatmu ingin ikut denganku?"


"A-aku b-bukan anak kandung mereka, aku hanya anak tiri." Ucapnya terbata-bata karena luka pada mulutnya.


"Baiklah."


Pria itu menyayat tangan gadis itu hingga darah menetes mengenai tangannya, ia pun melihatnya dengan mata berwarna emas.


"Hmm, kau benar. Kau bukan anak keluarga ini, jadi tidak ada gunanya aku membawamu." Ucapnya pergi.


"Tidak ada anggota keluarga lain yang hidup tuan." Ucap anak laki-laki kecil itu di samping pria berbadan besar.


"Tidak, lihat itu!" Ucap anak laki-laki itu menunjuk arah gadis manekin.


Matanya terfokus pada tanda yang ada pada pundaknya, tanda yang menunjukkan keanggotaan keluarga Wolf.


"Mengapa ada keluarga Wolf disini? Bukan. Lebih tepatnya mengapa ada budak disini?" Ucap pria itu sembari mendekati gadis manekin itu.


Tangannya dengan kasar menarik pipinya, lalu mata itu yang semula berwarna biru berubah menjadi warna emas. Matanya memandang fokus wajah manekin yang tampak tak bernyawa itu seolah-olah mengambil sesuatu darinya.


"Tenaga ini, jangan-jangan gadis ini." Timpal bocah laki-laki mendekati gadis itu.


"Bebaskan dia, bawa ke kereta!" Perintah pria itu lalu pergi dengan senyuman di wajahnya.


"Baik!"


Anak laki-laki itu memandang serius gadis manekin itu yang dibalas tatapan.


"Ada apa?" Tanya gadis itu.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja kamu luar biasa membuat Arkan tersenyum." Ucap anak laki-laki itu melepaskan ikatan tali pada tangan si gadis manekin.


"Itu bukan apa-apa."


Anak itu menopang tubuh gadis itu karena masih belum bisa seimbang di atas tanah.


"Pelan-pelan saja, ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya anak laki-laki itu sedikit menoleh.


"Namaku Olivia Morgan, tapi kudengar ini adalah nama palsu karena sebelumnya namaku hanyalah Nike yang katanya pasaran." Ucap sang gadis.


"Oh, Oliv. Namaku Arvind Leothnia, aku tengah membantu kakekku bekerja."


Mereka akhirnya sampai di luar ruangan gelap itu, jalannya cukup panjang dan menanjak.


"Rumah ini sangat besar, awalnya aku bingung dengan apa yang menggangu keluargamu tetapi setelah Arkan memberitahuku jika ayah tirimu terkena penyakit mental. Aku tersadar jika ini adalah kasus yang gila." Ungkap Arvind.


"Hmm.. bagaimana pun juga, ini salahnya karena tidak teliti dan membiarkanku hidup sedangkan yang lainnya mati." Balas Olivia.


"Apa yang kalian tunggu, cepat!" Teriak Arkan dari pintu luar.


"Sebaiknya kita lari, karena warga desa akan mengamuk dan mengejar sampai mati jika mengetahui ada ritual yang gagal." Ucap Olivia melepas topangan Arvind dan beralih untuk menggandeng tangannya lalu berlari.


Mereka pun bergegas keluar, di depan pintu memang sudah dapat dipastikan para warga tengah berlari. Arvind mengangkat Olivia masuk ke dalam kereta kuda, setelah seluruhnya masuk barulah kuda mulai berpacu. Meskipun warga mengejar kuda tetap berlari, banyak tombak yang dilemparkan namun itu tidak akan dapat menembus tameng.


"Namamu siapa?" Tanya seorang pria tua yang tampak seperti kakek kejam panjang umur.


"Olivia Morgan." Balas Olivia yang merasa dirinya diberi pertanyaan.


"Olivia, kamu cantik sekali, mengingatkanku pada cucuku yang sudah meninggal." Ucap sang kakek membuat Arvind menatapnya tajam.


"Kakek, jangan berkata seperti itu.."


"Maaf, jika saya mengingatkan anda pada cucu yang mungkin sudah tenang di alam akhirat." Ucap Olivia setengah menunduk.


"Tidak apa-apa, namun kenapa harus menggunakan kata mungkin?" Tanya sang kakek tersenyum.


"Apa tidak apa-apa jika saya menjawabnya dengan jujur?" Tanya Olivia dengan wajah datarnya.


"Katakan." Tegas sang kakek.


"Saya berucap demikian, karena manusia tidak akan pernah tahu apakah keluarga yang sudah meninggal akan tenang di alam akhirat. Bagi saya hanya tuhan yang tahu, selebihnya kita hanya dapat menebak ataupun mendoakannya." Jelas Olivia.


"Hahahaha, lalu apakah kau tidak akan mendoakan keluargamu yang sudah mati di sana?" Ucap sang kakek menunjuk pintu keluar seakan memberi isyarat rumah lama Olivia.

__ADS_1


"Tidak. Lagipula sedari awal mereka tidak percaya akan adanya Tuhan." Balas Olivia dibalas tawa renyah dari sang kakek.


^To Be Continued


__ADS_2