Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
19² Diakah orangnya


__ADS_3

Hari ini matahari terasa hangat, disepanjang perjalanan menuju sekolah mataku memandang pohon bunga sakura yang bertebaran. Mereka mekar dengan indahnya, sangat cantik.


"Tuan muda, apa anda yakin ingin berjalan dari depan toko bunga itu?" Tanya supirku saat kami hampir sampai.


Aku menganggukkan kepalaku. Aku berhenti di depan pintu toko bunga, tempat itu sering aku kunjungi bersama Hikari. Terkadang ia membawanya pulang untuk diberikan kepada tetangga, sayangnya Hikari harus ikut dengan ibuku.


"Eh lihat, so sweet banget!"


"Seperti artis-artis, mereka tinggi dan cantik."


"Aku ingin meminta tanda tangannya oy!"


"Dia benar artis?"


Terdengar suara orang berteriak histeris, entah apa yang mereka bicarakan. Saat aku menoleh, kulihat sekilas sesosok pria memakai topi dan masker hitam dengan jaket tebal berjalan dengan seorang anak SMA berseragam sekolahku. Saat mereka hampir dekat, ternyata itu adalah Misako, tangannya merangkul akrab lengan pria itu. Wajah manisnya tertawa bahagia, tawa yang selama ini tidak pernah ia lihat tampak di depan matanya.


Apakah dia? Dia laki-laki yang kau inginkan?


Aku memalingkan wajahku mengurungkan niat untuk membeli sebuket bunga.


__________


Misako tiba di depan gerbang sekolah, sudah banyak siswa yang masuk. Ia melirik pria bertopi hitam mencurigakan di sampingnya, ******* lelah keluar dari mulutnya.


"Kenapa kau menghela nafas? Apakah aku merepotkanmu?" Tanya orang itu tampak khawatir.


Misako hanya diam, ia mengeluarkan ekspresi wajah sabar. "Ryan, aku gak nyangka kamu bakalan jadi terkenal begini.  Harusnya kamu mengunjungiku saat belum jadi apa-apa, huh. Tapi gak papa deh, temanku jadi keren gini."


"Hehe, maaf... Lagipula kamu juga sudah  lama memutus hubungan dengan teman-temanmu ini... Padahal kami bisa mengerti kalau kamu bilang masalahnya dari awal. Tapi gak papa, aku kangen banget sama kamu soalnya. Mau marah gak jadi." Ryan tersenyum, tampak melalui matanya yang menyipit.


Misako menunduk, matanya hampir menangis. "... Maafkan aku..."


Ryan mulai gelisah, ingin mengelus pundak temannya tapi ragu. Akhirnya dia hanya menenangkan dengan kata-kata. "Tenang, sudah san masuk! Nanti terlambat..."


Misako tersadar jika waktu masuk mulai dekat. "Yasudah bye! Aku masuk dulu ya."

__ADS_1


Ryan tersenyum melambaikan tangannya, banyak mata memandang dirinya. Namun diabaikan, hati Ryan berbunga-bunga.


"Ahh~ aku harus beritahu Sehun dan Glen nih... Oh jadwal pemotretanku setelah ini! Nanti aja deh." Gumam Ryan berlari.


__


Misako membuka lembaran bukunya sembari melirik Ryu yang tidak menyapanya sama sekali, bahkan menghindari tatapannya. Kenapa ni anak ayam? Tadi pagi ramai, kok sekarang sepi.


Misako tidak mengerti perubahan sikap Ryu karena selama ini Ryu selali tersenyum padanya, tetapi kali ini ia mengabaikan Misako. Di waktu kerja kelompok bersama Ryu, Misako mengajukan pertanyaan dan dibalas anggukan kecil tanpa menatap matanya. Di waktu pelajaran seni lukis, mereka mendapatkan undian berpasangan. Guru memerintahkan mereka melukis pasangan mereka, biasanya Ryu akan senang berpasangan dengan Misako namun hari ini dia meminta bertukar kelompok.


(TING TONG! SAATNYA ISTIRAHAT...)


Misako menyerahkan tugasnya dengan baik. Setelah guru pergi, ia berjalan menuju meja Ryu tanpa memandang wajahnya. Seutas senyuman mengancam tertera di wajahnya. "Aku bukan penerawang hatimu, jangan paksa aku mengerti kamu. Kalau benci. Katakan. Aku tidak memaksa." Bisik Misako pergi meninggalkan Ryu yang diam mematung.


Misako bukanlah anak kecil, ia hidup cukup lama. Tetapi berapapun lamanya, ia tidak bisa menerawang hati manusia. Meskipun ia percaya pada Ryu, ia tidak menyangka pertemanan mereka berakhir begitu saja. Misako pergi ke kantin, ia membeli satu susu stroberi dan roti sandwich.


Misako ke tempat dimana biasanya ia menghabiskan waktu istirahat, yaitu atap sekolah. Langkah kakinya menggema karena jarang siswa yang mau ke atap, rumornya ada hantu di situ.


'Aku merasakan keberadaan orang lain di tempat ini.' pikirnya, matanya melihat sekeliling dan tidak ada siapapun.


Misako memakan rotinya, tangannya merogoh ponsel di saku seragamnya. Beberapa panggilan tak terjawab bertuliskan nama sahabatnya, segera ia menelpon balik.


["Hallo?"]


"... Kenapa telepon hm? Aku baru istirahat." Misako sembari memakan rotinya.


["Oh ini aku mau kita ketemuan di cafe hari ini."] 


"Cafe? Jam berapa?"


["Sepulang sekolah aja, sekitar jam 16.00 usahain udah di cafe XX"]


"Hmm, oke nanti aku ke sana. Yaudah aku mau makan dulu ya. Bye..."


["Iya, makan yang banyak. Nanti aku traktir di cafe."]

__ADS_1


"Bhuagh! Kek kencan Haha! Gak perlu!"


["Udah deh nurut, sekali-kali. Lagian dulu aku pernah hutang rambutan sama kau."]


"Oke tuan rambutan!"


["Yaudah bye"]


Mereka mengakhiri panggilan dengan serempak, Misako tertawa terbahak-bahak. Tanpa ia sadari seseorang diam-diam mendengarkannya, ia tersenyum pahit sembari menutup matanya.


Jam istirahat berakhir kelas pun dimulai, hingga jam pulang tiba. Seluruh siswa tampak bahagia mendengar bel pulang berbunyi, wajah para guru juga terlihat segar. Misako tersenyum sembari mengecek ponselnya, ia menelpon Ryan melewati bangku Ryu.


Ryu sedikit menguping pembicaraan Misako dari dalam telepon. "Apa sayangku juga ada di sana?" Ucap Misako diselingi tawa kecil. Ryu tersenyum, ia bangkit dari duduknya meninggalkan kelas.


Misako menutup teleponnya lalu pergi meninggalkan kelas, ia masih saja fokus pada ponselnya. Teman-temannya sudah tiba di cafe, hanya dia yang belum tiba.


'Duh, tadi ada tambahan kelas sih. Aku kangen mereka semua, huh. Alan, aku mau bertemu teman-teman dulu ya.' Batin Misako.


Gerbang sekolah sudah mulai sepi karena Misaki berjalan begitu lamban, ia membalas pesan satu persatu. Kakinya hampir tersandung, untung saja seseorang menangkapnya.


"Aduh, maaf... Loh Ryan, katanya kamu ada jadwal pemotretan hari ini, ga jadi?" Kata Misako begitu mengetahui Ryan menangkapnya.


Ryan tersenyum di balik masker hitamnya. "Sudah selesai, tadi aku cepat-cepat kemari. Pemotretanku berjalan lancar,  managerku juga heran, katanya aku kesurupan apa karena tidak ada kesalahan sama sekali dengan pemotretan hari ini hehe."


Misako tertawa hingga keluar air matanya. "... Kau hebat, dari dulu memang king fashion. Eh katanya Glen sekarang punya pacar?"


"Iya, Glen bertunangan sejak SMA dengannya. Nanti setelah lulus kuliah dia langsung menikah."


"Kalau tidak salah namanya Sion kan? Bukannya dia pemilik perusahaan besar VERONICA yang bekerjasama dengan perusahaan UNA? Aku kaget loh, kakakku saja ditolak saat mengajukan kerjasama antar perusahaan."


Ryan mengangguk, jujur ia juga terkejut Glen bertunangan dengan Sion. Pengusaha muda yang kehilangan keluarganya akibat insiden kecelakaan, Sion diangkat menjadi kepala keluarga VERONICA begitu kedua orang tuanya meninggal. Ia terkenal akan ketegasannya, dan juga kemampuannya memikat banyak wanita, namun selama ini dia tidak pernah berkencan dengan wanita. Bahkan rumor mengatakan ia adalah orang abnormal.


Beberapa tahun terakhir, terungkap jika Sion akan bertunangan dengan Glen teman masa kecilnya yang menghilang. Sion memiliki banyak rumor jahat tentangnya, wataknya keras dan suka mencari masalah. Tak jarang para netizen menyebarkan rumor disertai foto bukti, Sion adalah orang yang suka bermain perempuan.


"... Bagaimana bisa Glen bertemu orang seperti itu sih..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2