
Setelah melewati seharian penuh dengan Arista, akhirnya kami bisa bersantai di padang rumput di belakang mansion. Aku terkejut ketika mengetahui ternyata selama ini seluruh hiburan seperti yang kami mainkan saat ini sebenarnya sudah dibangun di hari pertama aku kesini.
Ini kejutan bagiku, kejutan dengan cubitan menggelitik di hatiku. Ditambah teman yang biasanya banyak oceh di sampingku tiba-tiba terdiam setelah membisikkan sesuatu yang membingungkan, ia hanya diam sembari sesekali menghela nafas. Rambutnya yang tergerai indah membuatku terpukau, biasanya ia hanya akan mengikatnya. Hari ini seolah-olah ia akan meninggalkanku dalam waktu yang lama.
"Jangan pergi terlalu lama." Ucapku dengan nada rendah membuatnya terkejut, matanya membelalak lebar menatap tajam kearah wajahku.
"Bisa-bisa wajahku berlubang karena tatapanmu." Timpalku melihat eskpresinya.
Setelah beberapa menit ia masih menatapku tajam, ia akhirnya bisa melepaskan pandangannya dengan lembut. Seutas senyuman tulus menghiasi wajah cantiknya, giginya tertampil rapih pun mengeluarkan pesona luar biasa dari seorang gadis polos.
"Hehe, maaf tapi aku harus pergi dalam waktu yang lama sekali.. tapi aku janji akan menjaga kalian meskipun dari jauh, jangan pedulikan aku. Tenang saja hehe." Mulutnya berucap seakan ini adalah pertemuan terakhir kita.
"A-ah.. baiklah." Balasku sedikit terbata-bata, melihat ekspresi lega dari wajahnya.
Setelah itu kami mengobrol dalam waktu yang lama, ia menceritakan banyak hal yang tidak kuketahui. Pengalamannya sangat keras karena sedari ia kecil sudah diajarkan bagaimana cara menjadi seorang ahli pedang, tangannya yang kasar membuktikan segalanya.
Satu, dua, tiga jam kami lewati (?) Kami menikmati hamparan rumput hijau dengan beberapa bunga lavender berwarna ungu, disaat aku tengah memejamkan mataku tiba-tiba angin bertiup kencang.
"Ugh, dingin..." Gumamku sedikit membuka mataku.
Kulihat Arista tiba-tiba menghilang dari pandanganku, kukira ia hanya pergi sebentar. Tapi sudah sekitar dua jam aku menunggunya, ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Amanda?.."
Suara itu adalah suara yang tidak kudengar sangat lama, suara yang kukenal meskipun samar. Disaat aku membalikkan badan, benar saja jika ia adalah Nikle Liam, melihatnya membuatku ingin menumpahkan rasa berkecamuk di hatiku. Entah apa yang membuatku ingin memeluknya, tetapi kakiku melangkah sendiri dan tubuhku dengan cepat mendekap erat tubuh kurus yang terlihat depresi.
"Kakak... Hiks, apa kabar?" Ucapku didalam dekapan hangat darinya.
Sesaat ia membatu dan akhirnya ia membalas pelukanku, ia membuatku nyaman dengan segala kasih sayang yang selama ini ia berikan.
__ADS_1
".. aku baik-baik saja hanya dengan melihatmu sehat.. Amanda.." Balas Liam penuh makna, ia seakan-akan mempersiapkan dirinya untuk bertemu denganku.
Rasanya meskipun aku adalah jiwa yang tersesat di tubuh orang lain, tetapi aku merasa ia adalah orang yang malang.
Tiba-tiba Liam melepas pelukannya dan memegang kedua pundakku "Amanda.. ada yang harus kukatakan padamu." Ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
"Oh kalian disini?" Steven datang dengan pakaian formal, kurasa itu bukan pakaian sekolah tetapi lebih seperti pakaian kantoran.
"Aku habis menggantikan ayah meeting, jadi baru bisa melihatmu Liam. Maafkan aku karena terlalu sibuk akhir-akhir ini." Ungkap Steven seraya bersalaman dengan kakakku.
"Tidak apa-apa, lagipula hanya kau anak satu-satunya yang akan mewarisi perusahaan itu. Berusahalah." Ucap Liam diselingi dengan senyuman.
"Oh, tentu tidak. Aku lebih ingin membangun sendiri daripada mengandalkan sebuah warisan keluarga." Balas Steven penuh percaya diri.
"Hahahaha itulah dirimu." Balas Liam santai.
Kami melewati beberapa taman dan akhirnya sampai di ruangan berventilasi baik, banyak jendela yang memamerkan pemandangan pohon bunga anggrek. Kami duduk di atas sofa sederhana yang antik, rasanya menyenangkan menikmati keindahan bunga anggrek dan udara di sore hari.
"Apa ada yang ingin kakak bicarakan denganku?" Tanyaku pada kakakku yang sempat melirikku tajam.
"A-aku.. ingin bicara.."
Dia meresponku dengan terbata-bata, wajahnya gugup dan pandangannya menghindari tatapanku.
"Kak, aku akan ke kamar jika tidak ada yang dibicarakan. Sepertinya Steven juga punya banyak urusan dengan kakak bukan?" Ungkapku.
"Tidak, tetap disini." Ucap kakakku memandang mataku dengan tatapan memelas.
"Baiklah.." Balasku sedikit merendahkan suaraku.
__ADS_1
Dari situ aku mengetahui segalanya, kakakku yang ternyata sudah lama mengetahui keberadaanku yang sebenarnya bukan Amanda melainkan Elena. Setelah mendengar semuannya aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, aku menangis entah perasaan apa yang membuat hatiku sakit.
__________
"Kemarin aku hanya meminta persetujuan keluarga Nyonya untuk mendonorkan jantung Nyonya Elena untuk kepentingan keluarga Nikle, apakah anda yakin untuk melakukan transplantasi jantung dan semacam percobaan metempsikosis di Jerman Nyonya Elena?" Ucap sang dokter dengan wajah khawatir padaku, aku yang merasa hidup tak lagi ada gunanya pun merasa lebih baik aku melakukan amal tak terlupakan.
"Saya tidak masalah, lagipula ibu saya sudah meninggal dan adik saya sudah tidak lagi membutuhkan saya. Berikan uang yang adik saya minta untuknya agar bisa bertahan hidup." Ungkapku menghindari tatapan iba sang dokter.
Sebenarnya ia adalah dokter yang selama ini menolongku, dia selalu pengertian akan diriku yang terkadang terlambat membayar uang cuci darah ibuku. Namanya adalah Alex Ultaliar, dia dokter sekaligus teman yang sering mengawasi adikku lalu mengabariku. Sekarang ini dia sedang merencanakan acara pertunangan dan sebentar lagi akan menikah, rasanya sesak mengetahui ia akan menikah padahal dia adalah orang yang kucintai. Kurasa tidak ada gunanya menyukai seseorang sekarang, karena sebentar lagi aku akan mati.
"Huh, aku mengerti. Tapi, bisakah kamu memikirkannya lagi?" Tanyanya membuatku sedikit tertawa.
"Tidak, aku sudah memutuskannya. Lagipula hutang-hutangku pada rumah sakit sudah habis, dan biaya rumah semuannya sudah kubayar seminggu yang lalu. Tagihan air, sampah, listrik, hutang bank semuannya lunas beberapa hari yang lalu. Sekarang aku ingin pergi dengan tenang. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) adikku juga sudah terbayar, lega rasanya! Hahahaha." Jelasku panjang lebar, rasanya lega sekali. Mungkin setelah ini aku tidak akan selelah hari ini.
"Baik, apa kata-kata terakhir darimu Elena?" Tanya Alex yang kubalas senyuman tulus.
"Hihi, teruntuk orang-orang yang pernah kutemui. Semoga kalian bahagia di dunia dan akhirat, sehat selalu. Dan khusus untukmu, selamat atas pernikahanmu ya. Hehe!" Ucapku yang membuatnya mengeluarkan ekspresi wajah yang aneh.
"Hiks, maafkan aku.. Elena, aku sebenarnya tahu semua perasaan yang kau pendam untukku. Maaf, aku tidak bisa membalasnya." Dia berkata seolah-olah berat untuknya melepaskanku.
Bohong jika aku tidak kecewa, kukira selama ini dia benar-benar membenci perasaan spesialku untuknya. Tapi ternyata ia hanya mengabaikan dan melakukan hal yang ingin ia lakukan.
"T-tidak apa-apa.. aku ikhlas.. bisakah kau pergi?" Tanyaku padanya dengan menahan keinginanku untuk menangis.
Sesaat ia memandangku dengan tatapan yang menyebalkan, seperti rasa kasihan yang berlebihan. Pada akhirnya ia pergi meninggalkanku.
"Huh, Ya Allah.. kudengar ada pasien yang datang dan dia kaya, tetapi ia membutuhkan donor jantung? Kudengar ia kecelakaan, kakaknya yang gila pun ingin melakukan percobaan dengan menjadikan aku kelinci percobaan metempsikosis di Jerman.. dia sepertinya dicintai, jika boleh aku ingin menjadi dia..."
Bersambung.
__ADS_1