Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
8¹ Tanaka Hanji


__ADS_3

Melakukan segalanya untuk ibu dan adik-adikku adalah tugas seorang kakak terutama anak laki-laki. Aku melakukan segalanya demi mereka, bahkan mengorbankan waktu main yang seharusnya menjadi sebagian waktu berhargaku untuk mereka. Tanpa mengharapkan apapun, aku hanya ingin melakukan yang terbaik agar kehidupan adik dan ibuku lebih baik.


Aku hidup dengan dua adik perempuan serta satu ibu yang sakit-sakitan, aku melakukan pekerjaan paruh waktu di malam hingga pagi hari di sebuah toserba 24 jam. Ibuku mengurus toko kue kecil, terkadang aku pun membantu meski hanya sedikit. Toko kue ibuku terbilang cukup terpencil dan kecil, meskipun aku mengatakan jika itu sangat enak tetapi tidak ada pelanggan yang tertarik. Pada akhirnya aku mengharapkan penghasilan kecilku dari toserba dan melakukan berbagai pekerjaan berat lainnya untuk memenuhi biaya sekolah, tagihan listrik, tagihan air, dan berbagai tanggungan lainnya.


Hari ini adalah waktu ujian semester, dengan wajah lesu setengah mengantuk karena kurang tidur membuatku terlihat berantakan. Sebelum berangkat aku izin kepada ibuku yang masih sibuk membersihkan toko. "Ibu, aku berangkat sekolah dulu.."


"Nak.. kau terlihat lelah, apa kamu harus berangkat? Tidak bisakah kamu libur saja? Maafkan ibu yang terlalu lemah.." Raut wajah ibuku tampak khawatir padaku, padahal hal ini sudah biasa bagiku.


"Sstttt tidak apa-apa ibu, aku akan baik-baik saja. Hari ini aku harus ujian agar bisa lulus dan mendapatkan nilai baik agar dapat pekerjaan yang bagus.. hehe~" Ucapku menenangkannya sembari mengelus lembut tangannya.


"Baiklah.. hati-hati nak, jangan paksakan dirimu.."


"Baik.."


Aku berangkat sekolah dengan perasaan terombang-ambing, seperti ada sesuatu di atas kepalaku. Rasanya berat sekali menopang tubuh yang tidak mau mengikuti kata hatiku, mataku yang terpejam membuatku mulai menampar pipiku.


(Plak!)


"Sadarlah bodoh!" Gumamku.


Disaat aku tengah melakukan hal yang gila, tiba-tiba seorang gadis berjalan santai seakan-akan ia sudah lama berjalan di belakangku. Dia terlihat anggun tetapi juga aneh melihatnya memakai tudung yang menutupi kepalanya, dengan langkah bahagia dia berjalan. Melihat keanehan membuatku sedikit penasaran dan akhirnya rasa kantukku menghilang.


Saat sampai di depan gerbang sekolah, aku melihatnya berjalan. Tidak kusangka ia adalah murid sekolah ini, aku masih mengikutinya karena ia searah dengan jalan menuju kelasku. Melihatnya yang tampak asing di mataku membuatku mengira dia adalah siswi baru.


'Mengapa arah kami sama?' Batinku bingung karena arahnya berjalan sama dengan arah menuju kelasku.


Sampai saat dia berhenti dan membuka pintu kelas tujuh, kelasku masih jauh tetapi disitulah aku tahu jika dia junior yang ada di kelas penuh rumor itu.


Waktu berjalan begitu cepat, tanpa terasa aku telah menjalani ujian dengan lancar. Otakku menjadi lebih bersemangat saat melihat soal-soal yang tertera, terlebih saat menghitung atau menganalisa sesuatu yang berhubungan dengan fisika-kimia.

__ADS_1


"Arghhh ujianku kali ini berantakan! Bagaimana bisa soal-soal itu sangat sulit?" Keluh teman sebangku ku.


"Apa bisa disebut ujian kalau soalnya gampang? Kamu kira ini semudah menghitung jari kaki hah?" Balas seorang gadis yang hendak membagikan secarik kertas.


'Aku setuju, lagipula semua materi yang diberikan guru keluar jadi bukan salah soalnya.' Batinku penuh semangat.


"Apa ini? Kertas contekan?"


"Otakmu penuh dengan hal yang jelek ya! Ini adalah keputusan pak kepala sekolah yang sedang memilih siswa yang ingin menjadi ketua OSIS karena ketua OSIS kita pindah. Jadi nanti akan diadakan ujian khusus setelah ujian semester." Jelas gadis itu sembari menunjukkan isi kertas itu.


"Wow, siapa yang mau ujian setelah ujian. Mana-mana game oy! Game!"


"Aku setuju, jujur kepala sekolah baru kita benar-benar punya pikiran yang unik ya."


Meskipun jawaban itu tidak tepat, benar juga siapa yang akan mau menjadi ketua OSIS. Bukankah kewajiban mereka banyak dan harus selalu siap memilih organisasi dibandingkan pekerjaan paruh waktu yang berharga ini.


Gadis itu tiba-tiba mendekt kearah mejaku dan menaruh kertas itu. "Ngomong-ngomong Hanji-san, apa kau tidak ingin ikut? Kulihat nilai akademik mu kan bagus, kurasa ini akan baik bagimu."


Kurasa inilah sifat burukku yang tidak ingin dekat dengan siapapun, bahkan rasanya sangat sulit untuk mengobrol dengan satu orang sekalipun itu adikku. Aku mempunyai satu tempat dimana hanya aku yang berada di sana, tidak ada siswa yang ingin karena tempat itu dirumorkan berhantu. Tangga menuju gedung lama, tempat barang-barang lama ditinggal begitu saja. Aku suka sekali bersantai sembari menikmati angin sepoi-sepoi dari jendela yang berlubang, suara bel masuk pun terdengar jelas dari atas sini.


"Aku ingin tidur.." Gumamku menaiki tangga, tetapi pada saat aku sampai di tempat itu, kulihat seorang siswi tengah membaca manga.


Saat itu mata kami bertemu, dia memandangku dengan tatapan terkejut begitupun aku yang tidak menyangka tempat suci ini akan diketahui orang lain.


"Ah kukira tidak ada orang, kakak mau istirahat ya? Yasudah duduk sini aja kak hehehe.." Ucapnya dengan percaya diri menyungging senyum manisnya kearahku.


Aku hanya diam dan duduk pada anak tangga yang berada di bawahnya, aku merasa ia sedikit tersentak. "A-aku tidak bermaksud menyuruh kakak untuk duduk di bawahku, tapi permisi.."


Aku menghela nafas panjang, rasa bersalah membuatku lemah dan akhirnya aku terpaksa menjawab pertanyaannya. "Tidak. Aku biasa duduk di sini."

__ADS_1


"B-baiklah.."


Aneh, rasanya aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Perasaan nyaman didekat orang lain padahal dia orang asing, terdengar suara tangan membalikkan halaman kertas yang tipis. Terkadang suara lembut tawa mengiringinya seakan terisi keseruan di dalamnya, biasanya aku akan marah hanya dengan suara nafas orang lain tetapi kali ini menghanyutkan pikiranku.


"Kak.. ayo masuk kelas. Bel masuk sudah berbunyi.."


Suara lembut itu terasa memanggilku, perlahan kubuka mataku. Pandangan pertamaku adalah,


"... Tangan? Hua!"


"Kya!"


Kami berteriak, aku menampar tangan itu yang kupikir suatu penampakan tapi ternyata itu hanya tangan anak itu.


"Hua maaf aku mengagetkan kakak ya?" Ucapnya membuatku bingung, padahal tangannya kupukul tapi ia malah tersenyum padaku.


"T-tidak, tanganmu baik-baik saja?"


"Ahh, ini tidak apa-apa.. hanya sedikit kok."


"Apanya yang sedikit? Apakah sakit?"


"Hahahaha kak jangan khawatir, sekarang ujian. Ayo masuk cepat!" Ucapnya setengah berteriak, lalu berlari yang senantiasa kuikuti.


Aku melihat tangannya yang memerah karena pukulanku, meskipun ia berkata itu akan baik-baik saja tapi aku yakin sangat perih. Mungkin warna merah itu akan menjadi biru jika tidak diatasi.


"Dah kak, aku hampir sampai.. sampai ketemu lagi hehe.. Dah!" Ucapnya meleset ke dalam kelasnya.


Padahal aku ingin mengantarkannya ke UKS, tetapi saat melihatnya menggelengkan kepala dari jendela membuatku hanya membalas dengan lambaian tangan.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab adik kecil.."


Bersambung...


__ADS_2