Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
13. Kekosongan II


__ADS_3

Kematian_ sesuatu yang tidak dapat dihindarkan setelah kehidupan, karena setelah kehidupan pasti akan ada kematian. Saat hari itu terjadi, maka ekspresi orang-orang disekitar kita akan terlihat. Ada yang baik tetapi ia ternyata adalah seorang penghianat, ada yang buruk tetapi ternyata ia berusaha untuk melindungi kita. Tetapi disaat kematian menerpa, tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berbaring tak berdaya menunggu kebusukan menghampiri.


Di depan sebuah peti mati, berdirilah seorang pria dengan baju berdasi berwarna hitam. Matanya memandang tajam kearah jasad yang membeku, ia menunduk untuk memberi hormat.


"Saya akan menjaganya tuan Nikle Havard Sharga, selamat jalan." Ucapnya sembari memejamkan matanya.


Proses pemakaman berjalan dengan lancar, hujan turun seakan ikut berduka atas kematian seorang bapak dari rumah panti. Kematian dari seorang pengusaha sukses yang tetap memeluk anak-anak di jalanan dengan dalih untuk menjaga yang tidak beruntung, berusaha untuk mewujudkan keberuntungan atas apa yang mereka alami. Sampai-sampai beliau meninggal dalam keadaan dikhianati oleh seseorang.


Di pemakaman itu terdapat banyak anak-anak kecil hingga orang dewasa, mereka menangis tersedu-sedu membuat keadaan di pemakaman itu penuh dengan kesedihan.


"Tuan Jeon Victoria, apakah ini baik-baik saja?" Tanya Liam tiba-tiba.


Jeon, pria yang merupakan teman sekaligus sahabat setia Havard pun melihat anak sahabatnya dengan tatapan kosong.


"Amanda?" Tanya Jeon pada Liam yang dibalas anggukan kecil dari Liam.


"Dia pasti akan merasakan hawa yang menyedihkan seakan-akan hancur di dalam hatinya." Ungkap Liam sambil menarik rambutnya.


"Apa kau merasa bersalah padanya?" Tanya Jeon memandang arah langit yang gelap.


Liam yang terkejut pun hanya membelalak lebar layaknya orang kebingungan "Apa?"


"Aku tahu kau merasa bersalah dan kehilangan, makanya kau begitu bersemangat saat hari itu." Ungkap Jeon, tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil rokok.


"Apa maksudmu?"


Jeon memandang wajah penasaran sekaligus wajah gelisah dari Liam, ia memasang seringai di wajahnya.


"Hm? Aku tahu jika kau melakukan semacam penyuntikan DNA dan mencoba penelitian dari profesor terkenal di Jerman. Kau menemui profesor Kalehen yang mengasingkan diri dari Arab untuk melakukan semacam percobaan, dan kau orang pertama yang mencobanya dengan manusia sungguhan sebagai kelinci percobaan. Tapi sayangnya hanya nyawa gadis itu yang bisa selamat, nyawa adikmu tetap melayang kan?" Jelas Jeon panjang lebar.


Liam hanya diam, ia tidak dapat mengelak perkataan Jeon. Sebenarnya di tahun Amanda berumur 4 tahun ia telah melakukan sebuah dosa yang tidak termaafkan.


__________


Flashback

__ADS_1


Taman perumahan Moon black adalah salah satu tempat favorit bagi Amanda, meskipun wahana mainnya tidak sebanyak perumahan lainnya di kota. Tetapi ia menikmatinya, Amanda adalah anak yang menyukai kesejukan.


Di sore hari ia selalu menyempatkan waktunya untuk bermain di taman, tangannya memegang satu buku tugas untuk dikerjakan jika memang ada tugas. Terkadang ia juga membawa hewan peliharaannya yang bernama Bubyul, si kucing manis berwarna putih. Ia menikmati waktunya ditengah keadaannya yang rentan terhadap lingkungan yang kotor, kulitnya juga sensitif terhadap matahari. Ia adalah anak yang lemah.


"AMANDA!" Ditengah-tengah suasana yang sunyi, terdengar suara teriakan dari kakaknya.


"Ah, kakak ada apa? Kenapa kakak mencariku?" Tanya Amanda dengan nada lembut mengiringi suaranya.


"Ayah mencarimu! Dasar! Sudah kubilang tetap di rumah! Kenapa kamu selalu bertindak seenak jidat hah? Kau pikir siapa yang akan dimarahi jika kamu hilang?" Teriak Liam penuh amarah.


Amanda hanya tersenyum lebar, ia tahu persis bagaimana kakaknya mencintainya meskipun tindakannya bertentangan dengan hal itu. Ia tahu kakaknya selalu cemas dan peka terhadap penyakitnya, ia mengetahui hal tersebut dilihat dari kakaknya yang tidak pernah menghentikannya untuk bermain fisik meskipun membuatnya marah, bahkan Liam akan absen kelas ketika tahu adiknya sakit.


"Maafkan aku kakak." Ucap Amanda sedikit menunduk.


Liam menghela nafas panjang, ia memungut buku dan alat tulis milik adiknya.


"Sudahlah, ayo pulang! Bawa Byul bersamamu, ayah menunggu." Ajak Liam meninggalkan Amanda jauh di belakang punggungnya.


"Kak~ tunggu aku hehe." Teriak Amanda sembari tertawa kecil.


Disaat melewati jalan yang biasanya dilewati kendaraan, Liam tidak begitu memikirkannya dan langsung menyebrang tanpa memerhatikan Amanda. Ia berfikir tidak apa-apa karena biasanya jalan itu jarang dilintasi kendaraan, bahkan tidak ada yang melintas karena jalan itu hanya jalur yang berputar pada titik yang sama.


"Amanda-!"


Belum sempat Liam berbalik badan dengan niat meneriaki sang adik, matanya membelalak lebar melihat sesuatu yang tak terduga di depan matanya.


(Tinnnn!)


"Kakak.." Suara pelan itu membutakan, ditambah dengan suara hantaman dari lempengan besi yang melaju cepat kearah tubuh lemah tanpa pertahanan.


Suara yang menyakiti telinga Amanda tidak lagi keluar dari mulut Liam, mulutnya seakan dipaku dengan mata yang bergetar dan tak berkedip. Darah mengalir begitu saja membasahi aspal hitam dingin yang berubah menjadi warna merah pekat dan terangnya darah segar, aroma khas yang keluar dari mayat baru yang tertiup angin. Dengan cepat aroma itu melewati hidung Liam hingga mematikan indra perasa lainnya yang masih berfungsi, sungguh pemandangan yang mengerikan hingga mata tidak akan bergeming sekali mata memandang tubuh tak berdaya itu.


Di dalam film horor biasanya ketika ada seorang yang dicintai tertabrak truk atau mobil, mereka akan cepat menghampiri sembari menangis. Nyatanya itu tidak akan terjadi, karena perasaan pertama yang dirasakan adalah "Apakah ini benar-benar berakhir?"


Kaki Liam terasa lemas, matanya yang semula tajam dihadapan sang adik pun mulai mengeluarkan air mata. Suaranya terdengar lirih seakan-akan tidak ada udara yang keluar dari hidungnya, kepalanya terasa berat.

__ADS_1


Jalanan sepi karena sang supir yang menabrak adiknya kabur begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun, Liam perlahan melangkahkan kakinya mendekati Jasad Amanda. Ia sekilas mengecek nadi sang adik, betapa derasnya air mata yang ia keluarkan mengetahui adiknya tak lagi bernyawa.


"Meskipun begitu kau tetap cantik adikku.."  Gumam Liam mengelus lembut pipi lembut adik perempuan satu-satunya.


Hati Liam berkecamuk dan akhirnya ia berteriak keras, langit menjadi saksi penyesalannya.


"AAAAAAAAAAAA!!!! KENAPA!!!!!!!!!"


Langkah kaki darinya memberikan kesan mengerikan, jalan yang semula bersih pun mulai dipenuhi darah. Tetes demi tetes mulai berjatuhan, ia menangis namun tetap berjalan.


Setelah beberapa jam melangkah, Liam sampai di depan rumahnya. Membayangkan kehadirannya pasti akan  mengejutkan siapapun yang ada di depan rumahnya, tetapi kali ini hanya ada seseorang di rumahnya. Yaitu ayahnya.


(Plakk! Bhuagh!!)


"Brengse* dasar kau anak tidak tau diuntung! Anak siala*!"


Pukulan kejam terlampiaskan begitu saja di tubuh seorang anak muda yang mulai sekarat, ia tidak mengelak atau mengindari pukulan dari sang ayah yang mengamuk dan mengutuknya.


__________


Flashback End


"Hmm, pada akhirnya kau dan ayahmu putus asa lalu mendatanginya kan?" Ucap Jeon yang membuat Liam marah lalu menggenggam erat kerah baju Jeon.


"Apa hubunganmu dengan itu?!" Tanya Liam penuh penekanan, matanya yang tajam membuat siapapun mungkin akan terpojokkan olehnya.


Jeon tersenyum lebar, mulutnya berucap dengan enteng sembari berbisik tegas. Ekspresinya meyakinkan hingga membuat Liam terduduk di atas tanah yang kotor.


"Tenang saja, karena aku akan menjaganya." Ucap Jeon meninggalkan Liam sendirian.


Ditengah perasaannya, Liam akhirnya melepaskan air matanya.


"Hiks, aku memang orang yang buruk! Aku tidak pantas hidup!" Ucapnya diselingi tangisan penuh perasaan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2