
Tiga tahun setelah kepergian ayah, aku menjadi anak yang tidak banyak bicara. Meskipun aku tahu ini adalah kehidupan dimana aku sebagai kelinci percobaan metempsikosisdan jantungku didonorkan, seharusnya aku yang meninggal dunia bukan bocah yang ada di tubuh ini. Entah apa yang membuatku menjadi bocah ini, padahal tubuhku sudah lama meninggal.
Setelah memastikan bahwa adikku yang dulu masih hidup dan sekarang aku tinggal dengan tuan Jeon yang menyebalkan, ternyata aku masih hidup. Aku kurang mengerti dan percaya tentang keajaiban, tetapi inilah keajaiban sesungguhnya. Siapa yang percaya jika kehidupan kedua itu ada, tapi sebenarnya ini bukan kehidupan kedua karena aku memang seharusnya belum benar-benar meninggal tetapi anak yang asli seharusnya memang sudah meninggal.
"Meong~"
Suara kucing yang menggemaskan selalu membuatku merasa lebih baik ditengah pikiran burukku, rasanya nyaman ketika kulitku bertemu dengan bulu lembut mereka. Matanya besar menambah pesonanya, setiap kali melihatnya aku ingin mereka terus tubuh dengan sehat.
"Nona, ini aku Bu Indah." Ucap seseorang dibalik pintu kamarku.
Segeralah aku menutup jendela dan menyuruh kucingku untuk keluar agar tidak mengganggu sesi belajarku.
"Masuklah Bu Guru.." Ucapku mempersilahkan.
Sebenarnya kondisi tubuhku tidak baik akhir-akhir ini, banyak penyakit yang tiba-tiba menyerangku. Katanya ini efek samping dari uji coba yang terlambat datang, seharusnya ini terjadi seminggu setelah penyuntikan obat-obatan tetapi karena tubuhku yang lamban membuat efek sampingnya juga lamban. Kondisi ini akan bertahan sekitar dua setengah tahun, dan aku harus berada di ruangan steril untuk menjaga tubuhku tetap sehat.
"Maaf ya Bu, ibu jadi kerepotan karena harus membagi waktu dua kali. Seharusnya saya tidak sakit agar bisa masuk sekolah seperti biasanya, padahal niat awal saya ke negara ini adalah untuk menjadi anak yang mandiri." Ucapku sembari menulis materi yang tertera di papan tulis.
Bu Indah sempat menghela nafas, lingkaran matanya yang tebal membuatku tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa." Ucapnya menahan kantuk sesaat.
"Ibu, aku sudah mempelajari materi yang akan ibu ajarkan sekitar dua minggu kedepan. Karena sebentar lagi ujian akan segera tiba, saya ingin ibu istirahat dan saya akan mengirim materi yang dipelajari pada ibu." Ungkapku santai sambil memperhatikan wajah guruku.
"Tapi nanti tuan Jeon memarahiku dan kau juga kena, jangan membuat keputusan yang aneh nona." Ucapnya membuatku sedikit tertawa.
"Bu, saya ingin ibu istirahat. Nanti biar saya yang bujuk ayah, ibu kan harus mengurus anak ibu di rumah kan? Nanti saya akan mengirim hadiah." Ucapku membuatnya sedikit menyerngitkan dahinya.
"Kau ini seperti sudah mengenalku saja, kita kan jarang mengobrol selain mata pelajaran. Mengapa tiba-tiba begitu perhatian?" Tanyanya heran padaku yang masih menahan senyumanku.
__ADS_1
"Hmm, karena ayah bilang saya sudah mulai bebas keluar masuk rumah. Ini sudah dua tahun dan saya hanya butuh perawatan ringan tak seperti tahun-tahun sebelumnya." Ungkapku jujur yang dibalas anggukan kecil darinya.
"Terserah anda nona, aku sepertinya tidak bisa menentang keputusanmu. Kau persis seperti orang yang kukenal." Balasnya sedikit menundukkan kepalanya.
"Bu Lili.." Gumamku mengagetkannya.
"Dari mana kamu tau namaku?" Tanyanya setengah menahan matanya yang ingin tertutup.
"Hmm, ayah yang bicara. Makanya saya tahu ibu punya anak bernama Liam dan anak itu adalah anak laki-laki yang lucu." Ucapku membuatnya terheran-heran.
"Kenapa orang itu membuat banyak keputusan yang tidak kuketahui." Ucapnya setengah bergumam.
Aku tidak membalas ucapannya dan hanya melanjutkan tugas yang diberikan oleh guruku. Tidak kusangka ternyata aku akan diajari oleh manager Lili yang dulu bertanggung jawab untukku sebagai penulis Elena Letopia, pasti pekerjaannya sekarang lebih berat karena anaknya yang mulai bersekolah. Aku ingin sekali bertemu anaknya setelah sekian lama tidak mengelus pipi gembulnya, selama ini aku menjalani program home schooling dengannya.
Pada akhirnya dia tertidur tepat di waktu istirahat, aku tidak tega melihatnya mengenakan pakaian pendek. Itu pasti dingin, pada akhirnya aku mengambilnya selimut untuk menutupi kaki dan tangannya.
"Aku kangen Trio bebek itu, main dulu deh.. toh sudah selesai semua tugasku.." gumamku mempersiapkan diri untuk ketiga teman yang mungkin menungguku.
"Kau mau kemana bocah kecil?" Tanyanya dengan nada dingin.
"Aku mau bertemu Alan, Sehun, Ryan. Tugasku selesai tadi dan sekarang aku mau main karena biasanya Bu Lili akan membiarkan aku bermain jika pekerjaanku selesai." Jelasku sedikit menggaruk tengkukku.
"Hmm, sudah waktunya makan siang. Ajak gurumu makan siang dan ayo makan siang bersama." Ajaknya sedikit membuatku terkejut.
"Ehh, tidak~ ibu guru Lili sedang tidur dan hari ini aku luang.. apakah ayah ingin aku makan bersama hmm?" Tanyaku yang dibalas tawa renyah darinya.
"Hahahaha baik-baik ayo makan." Balasnya membuatku sedikit malu.
'Aku kan gak pernah bilang ayah secara langsung, duh keceplosan.' batinku malu.
__ADS_1
"Ayo anakku, ayah akan makan siang bersamamu hihi." Ucapnya membuatku semakin malu.
"I-iya.."
Dan pada akhirnya aku hanya bisa menjawab dengan terbata-bata karena malu. Ini karena aku kebiasaan mengucapkan ayah di depan orang selain tuan Jeon sendiri. Sebenarnya orang ini tipe dingin yang tidak peduli dan suka mengintimidasi orang lain, aku merasa takut pada awal aku bertemu dengannya. Tetapi seiring berjalannya waktu, dia adalah orang yang paling perhatian denganku bahkan para pelayan merasa tuan Jeon lunak hanya padaku. Padahal aku tidak melakukan apa-apa dan tuan Jeon adalah orang yang tidak dingin melainkan menyebalkan juga sangat berisik.
"Apa pelajarannya mudah? Aku ingin tahu kemampuanmu sampai mana, nanti jika sudah SMA kamu akan tumbuh besar. Kenapa anak-anak begitu cepat.." Ucap Jeon panjang lebar tanpa berhenti begitu kami masuk mobil.
"Aku baik, ini semua berkat ayah yang selalu menemaniku disaat aku tidak baik-baik saja.." Balasku yang dibalas tatapan mata yang setengah terkejut.
'Ugh.. apa aku seharusnya tidak memujinya?' batinku sedikit kesal.
"Oy paman, jangan tatap aku seolah aku anak kecil!" Ucapku sedikit meninggikan suaraku, kurasa itu sedikit menyadarkannya.
"Hmm, kamu memanggilku paman setelah memanggilku ayah? Nak~ cobalah untuk tetap konsisten ya. Itu semua demi masa depanmu." Godannya membuatku ingin memukul wajah menyebalkan itu.
"Kumohon jangan buat aku kesal." Ucapku sedikit menekan kata-kataku.
"Baik nyonya kecil, tapi berikan ciuman kecilmu hmm~~" Godannya lagi.
Tiba-tiba dia memelukku, itu sangat menyebalkan.
"Lepaskan orang tua jelek! Arghhh! Aku bilangin Alan nanti! Pasti!" Teriakku mencoba memberontak.
"Kyaaaa! Alan tolong aku!"
Tanpa kusadari orang yang sedari tadi memandang kami, dia terlihat seperti orang yang bercucuran keringat dingin.
'MAAFKAN AKU SEKERTARIS KIM! TAPI BISAKAH ANDA MENOLONGKU?!' batinku menjerit keras.
__ADS_1
Bersambung