Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
18² Aku Mau Mencintai Tanpa Paksaan


__ADS_3

(Tring! Tring! Tring!)


Alarm ponselku berbunyi tepat pukul 3:00 am, aku meraihnya dengan asal hingga terjatuh ke lantai.


"Hnghhh!" Erangan keras keluar dari mulutku, tanganku berusaha meraih ponsel yang jatuh lalu mematikan alarm itu.


Setelah itu aku bangun untuk menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal, melakukan ibadah, dan joging pagi. Melihat hidupku damai sejahtera membuatku berpikir seperti ada yang kurang, biasanya di pagi hari ia selalu diganggu dua orang tak biasa.


Aku berlari mengelilingi taman umum sebanyak lima kali, lalu aku melanjutkannya dengan jalan cepat menaiki anak tangga menuju rumahku diikuti Mia, kucingku. Tidak lupa aku membawa beberapa makanan untuk diberikan kepada kucing jalanan, entah apa yang membuatku senang padahal uang jajanku terkuras habis untuk mereka. Melihat mereka senang juga membuatku senang, karena hanya mereka yang mampu mengatasi kesepian saat tidak ada siapapun di sampingku.


"Katanya kakak mau mengajakku jalan sepulang sekolah, apa aku harus bermain-main dengan kakak sebelum berpisah nanti? Kurasa kakak lumayan tampan, pasti kalau ayah masih hidup kakak sudah dijodohkan dengan banyak gadis muda."


Aku senang mengeluarkan keluh kesahku pada kucing, meskipun banyak yang bilang mereka tidak bisa membantuku. Tetapi bagiku mereka adalah bagian dari hatiku, setelah pukul 6:00 am aku langsung mandi dan membereskan rumah. Saat itu aku terpikirkan sesuatu. "Aku kok tidak melihat Ryu ya? Kusamperin ke rumahnya aja ah~"


Biasanya Ryu ikut joging bersamaku, tetapi akhir-akhir ini kami jarang bersama semenjak kakakku datang dan beberapa peristiwa menerpaku. Kami jadi menyibukkan diri dengan banyak hal, Ryu yang menulis naskah dan aku yang sibuk dengan drama kehidupanku. Hikari juga pergi dengan ibunya sehingga kami berpencar sendiri-sendiri.


"Mia~ aku kangen banyak orang... Gimana ini?" Gumamku bersama kucingku.


Aku pergi ke rumah sebelah, terlihat sunyi tanpa suara. Kuketuk pintu kayu beberapa kali tetapi tidak ada respon, biasanya Ryu akan membukakan pintu setelah tiga kali ketukan. Akhirnya aku menekan bel namun masih belum ada respon. "Apa mereka semua pergi?"


Karena rasa khawatir menjalar pikiranku, aku memutuskan untuk menelponnya.


["Ah! Hallo, ada apa Misako... Ini masih pagi."]


"Ah, aku hanya khawatir karena pagi ini hariku damai sekali... Kau dimana?"


["Ahahah apa kamu rindu kami hmm... Aku lagi di hotel, ada sesuatu yang harus kulakukan. Nanti kita bertemu di sekolah."]


"Baiklah~ sampai bertemu di sekolah Ryuu."


["Iya, hati-hati di jalan."]

__ADS_1


"Iya kau juga..."


Panggilan pun berakhir, rasanya hatiku lega mengetahui dia baik-baik saja. Namun sedikit mengganjal pikiranku, mengapa aku khawatir dengannya ya? Batinku. Dalam beberapa waktu lalu aku memang selalu bersama Ryu dan Hikari tetapi aku merasa seperti kita sudah lama dekat. Seperti keluarga? Ah tidak mungkin!  Ini hanya karena dia temanku yakan..


...__________...


Mansion keluarga Raiden, Ryu meletakan ponselnya sembari tersenyum. Hatinya berdebar kencang begitu mengakhiri panggilan dengan Misako, ia memandang luar jendela.


"Apa yang kau tertawakan?" Tanya seseorang dibalik tubuhnya, ia tampak seperti seorang putri yang cantik.


"Tidak." Jawab singkat Ryu.


Ryu meninggalkan gadis itu langsung menuju kamar mandi, sebelumnya ia ada niat membolos. Tetapi begitu Misako menelponnya, niat itu langsung pupus, ia merasa mood baiknya kembali. Aku ingin bertemu Misako, setidaknya menghabiskan waktu sebelum...


Ryu menghela nafas seakan terdapat beban di atasnya, ia berharap dapat lebih lama bersama Misako di Jepang. Andai ayah tidak terburu-buru, maafkan aku... Misako...


Di kamar Ryu, gadis bernama Airin berdiri menghadap jendela. Matanya yang besar memandang luar dengan takjub, gadis polos itu tampak nyaman namun hatinya sakit.


Dirasa tangannya tak cukup panjang  tuk meraih bunga itu, membuatnya menyerah. Matanya memandang headphone Ryu yang tergeletak di atas meja, lagi-lagi hatinya terasa sakit.


"Siapa itu Misako, apa dia lebih cantik dariku? Kenapa kamu tersenyum saat bersamanya?"


Wajah manisnya terlihat lemas, ia memegang pipinya dengan mata terpejam. Mulutnya terutas seringai, kepolosan wajah tidak menutupi hati kejam didalamnya. Tidak akan kubiarkan siapapun mendekati Ryu! Hanya aku yang boleh! Hanya aku yang bisa berada disisinya!


"Airin... Airin!"


Airin tersentak mendengar Ryu memanggilnya dan berada di depannya, ia membuka matanya. "A-ada apa Ryu?"


Ryu berdecih kesal. "Keluar dari kamarku, lebih baik kau menjilat ayah ibuku tapi jangan harap kau dapat menjilat diriku."


Airin memandang Ryu dengan ekspresi imut yang dibuat-buat. "Ryu, apa yang kamu katakan? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud~"

__ADS_1


Ryu lagi-lagi berdecih kesal. "Kau menyelinap ke kamarku seperti tikus, pergilah. Aku tidak pernah menyetujui untuk bertunangan bersamamu, tikus."


Airin memasang ekspresi kesal. "Tapi jika tidak bertunangan denganku perusahaan ayahmu akan..."


Ryu tersenyum dingin. "Aku tidak peduli... Jika aku mau, aku bisa saja menyingkirkan perusahaanmu dan meningkatkan perusahaan ayahku. Kau tau, untuk sekarang mungkin aku masih bersabar tapi tidak ada yang tau kedepannya. Keluar dari kamarku."


Airin terdiam, ia tidak dapat mengelak karena karakter keluarga Raiden yang terkenal gila. Mereka dapat menghabisi satu perusahaan bahkan organisasi yang berani bertindak seenaknya, semacam Yakuza Jepang tetapi lebih seperti mafia yang tenang. Keluarga Raiden tidak dapat diatasi berkat keturunan dengan pikiran menakjubkan yang dapat menjaga martabat hingga saat ini.


Setelah Airin pergi meninggalkan kamarnya, Ryu merasa nyaman. Ia membersihkan kamarnya dan menyemprotkan parfum aroma jeruk nipis, ia berpikir aroma yang dibawakan Airin sangat menggangu.


Ryu keluar dari kamarnya dan disambut beberapa pelayan, ia mencium pipi sang ibu yang tengah nyaman di dapur. "Ibu selamat pagi..."


Sang ibu dengan senang hati menyambut putra bungsunya, ia membalas ciuman itu dengan belaian kasih sayang. "Selamat pagi putraku, apa tidurmu nyenyak malam ini."


Ryu tersenyum lebar. "Tentu, tapi aku kangen apartemen kecilku. Misako membangunkan aku pukul tiga setiap harinya dengan suara ribut yang tidak bisa kudengar di mansion ini."


"Ibu jadi ingin bertemu dengannya Ryu, maafkan ibu untuk pertunangan ini..."


Ryu menggeleng kecil. "Tidak bu, untuk pernikahan memang keputusanku. Aku akan menanti saat-saat itu, barulah jika tidak ada hal baik aku akan menikah dengan pilihan kalian berdua."


Sang ibu mengangguk paham. Tiba-tiba ayah Ryu muncul dengan pakaian rapih berdasi, meskipun sudah berumur wajahnya terlihat memiliki harga diri tinggi.


"Bukankah tidak baik menggantung perasaan seorang wanita? Kalau bisa menikahlah dengan anak yang ayah pilihkan Ryu, aku tahu yang terbaik untukmu. Ingat itu." Tegas sang ayah.


Ryu tersenyum lebar, ia memeluk ibunya yang sedang memasak. "Tidak mau wlee! Salahnya dia kan? Bukannya ayah sendiri menikahi ibu dengan cara memberontak hahaha!"


Ayah Ryu tak dapat mengelak ucapan anaknya. "Tapi kamu tidak boleh menggantungkan perasaan wanita yang mencintaimu Ryu." Ucap sang ibu membelai rambut anaknya.


"Tapi apa perasaanku tidak penting, lagipula pernikahan tanpa cinta akan terasa suram bukan? Aku tidak mau hidup seperti paman dan bibi yang menikah atas dasar paksaan. Lagipula Airin yang datang tiba-tiba meminta pertunangan dengan embel-embel kerja sama atas perusahaan, padahal meskipun aku mati perusahaan kita tidak akan roboh cepat bukan?"


Kedua orang tua Ryu terdiam. Ryu melepas pelukannya dari sang ibu, lalu duduk di kursinya. "Karena aku ingin mencoba saran kakak... Mencintai meskipun kematian "

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2