
Terlihat lima anak tengah menikmati udara segar di atap sekolah setelah acara wisuda selesai dan seluruh tamu undangan di pulangkan, sembari menunggu datangnya wali mereka. Diantara kelima anak ini, tidak ada yang memulai pembicaraan dan hanya diam.
"Ngomong-ngomong kalian setelah ini mau kemana?" Tanya anak bernama Glen.
"Pulang ke rumah." Balas Sehun singkat.
"Bukan, maksudnya mau ke sekolah kejuruan atau sekolah menengah atas?" Jelas Glen sedikit sebal mendengar jawaban dari Sehun.
"Aku ingin ikut kakak perempuanku ke Korea, mungkin aku akan mengambil studi afirmasi? Entahlah pokoknya berhubungan dengan kedokteran." Ucap Ryan serius.
"Kalau aku ke universitas bergengsi di Amerika, mungkin akan sangat lama karena aku juga harus bekerja. Jadi aku kemungkinan besar ke sekolah menengah atas." Ucap Sehun.
"Aku akan ke Tokyo bersama Amanda. Kami memilih sekolah menengah atas." Singkat Alan dibalas anggukan kecil dari Amanda.
"Lah kalian kok masih bersama?" Tanya Glen heran melihat kedua temannya yang seperti permen karet itu.
"Oh, aku tidak heran." Respon serempak dari Sehun dan Ryan.
"Aku malah heran kalau mereka terpisah, selain hubungan keluarga yang lengket juga mereka itu teman sejak kecil. Jadi kalau berpisah pasti akan sulit." Tambah Ryan sedikit menghela nafas.
"Aku setuju, memangnya kenapa Glen?" Tanya Sehun.
"Cih, aku iri dengan Alan. Dia bisa bersama dengan Amanda tapi aku tidak.. aku akan pergi ke Busan, malas! Aku harus bertemu dengan Ryan!" Ucap Glen sebal.
"Cih, memangnya kenapa? Kamu sendiri yang minta studi bersama kakakku, sudah tau dia guru di sekolah kejuruan itu." Ucap Ryan dengan nada menyindir.
"Kan aku gak tau dia kakakmu! Aku juga udah bilang paman kalau mau sekolah di sekolah kejuruan di Korea dan sudah didaftarkan, membatalkan adalah hal yang kuhindari jika sudah memutuskan." Ucap Glen yang dibalas tawa renyah dari Ryan.
"Ya, tidak apa-apa. Toh sudah terlanjur."
Mereka berbicara ringan sembari menikmati angin sepoi-sepoi, hijaunya pepohonan di bawah bangunan sekolah membuat mereka nyaman.
'Aku kira kami akan terpisah jauh, ini sangat disayangkan.. padahal ini pertama kalinya aku mempunyai teman yang tetap bertahan sampai waktu kelulusanku. Dulu di kehidupanku saat menjadi Elena Letopia aku sering terlibat pertengkaran, terlebih rumor-rumor yang menyatakan aku anak haram menyebar begitu saja. Aku selalu sendiri dan kesepian, pernah sekali aku berpacaran tapi ternyata itu hanyalah tantangan truth or dare semata.' Batin Amanda dengan ekspresi diam.
"Ada apa Amanda? Dari tadi kamu diam, sampai-sampai tidak sadar aku memanggilmu. Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Glen, anak yang tidak pernah peka itu selalu membuat trio bebek jantan kesal.
"Hm, dia sedih karena akan berpisah dengan kalian semua." Ucap Sehun sempat dipandang tajam oleh Amanda.
__ADS_1
"Huh, sebenarnya aku hanya merasa sayang teman-teman yang menemaniku akan pergi jauh." Balas Amanda dengan nada datarnya.
Semuannya terdiam sejenak, sekali-kali memandang satu sama lain lalu tersenyum.
"Bagaimana kalau kita membuat janji?" Tanya Sehun.
"Maksudnya apa?" Tanya Alan yang tidak paham.
"Jadi kita membuat janji pertemuan enam sampai sepuluh tahun lagi, bagaimana?" Ungkap Sehun sedikit memijat keningnya.
"Boleh juga, disaat-saat itu kemungkinan besar kita sudah memiliki banyak waktu luang. Atau ada yang mungkin berniat Nika duluan?" Ungkap Glen sedikit menggoda.
"Paling si Alan dan Amanda akan menikah duluan~" Goda Ryan senang.
"Mana mungkin? Jadi kita buat nih janji kayak gini?" Tanya Amanda dibalas anggukan kecil dari keempat temannya.
"Aku setuju, kita akan tetap berkomunikasi lewat KakaoTalk untuk jarak jauh. Meskipun jarak membatasi kita semua, aku yakin itu tidak akan menghapuskan kebenaran jika kita adalah sahabat." Ucap Ryan dengan nada meyakinkan.
"Huh pasti rasanya aneh bertemu teman-teman banyak." Gumam Amanda sembari memandang langit-langit yang menyilaukan.
"Hahahaha aku pasti sudah punya banyak teman, lihat saja nanti hoho." Ucap Ryan menyombongkan diri.
"Dihhhh! Kucubit ya!" Teriak Ryan mengejar Alan yang kabur.
"Tolong ada penculik!" Teriak Alan menambah suasana.
Mereka tertawa dengan candaan-candaan kecil yang mungkin akan jarang mereka dengar, dengan banyak cara mereka menghidupkan suasana. Mulai dari menceritakan penderitaan masing-masing anak saat mengerjakan tugas, hingga permainan-permainan yang terpaksa mereka adakan di rumah Alan karena keadaan fisik Amanda. Semuannya menceritakan kesan yang mereka alami selama bersama, bahkan sekertaris Kim yang sedari tadi mengamati mereka pun tidak ingin mengganggu mereka. Tetapi ia harus mengantar Alan dan Amanda untuk segera pulang.
"Anak-" Belum sempat ia berucap, tiba-tiba Amanda mencela ucapannya.
"Teman-teman, maaf kalau selama ini aku merepotkan kalian ya. Selama ini kondisi tubuhku tidak baik sehingga sulit bagi kalian untuk bermain denganku, bahkan kalian harus menyemprotkan cairan sanitizer setiap kali ke kamar mandi.." Ucap Amanda sedikit menunduk.
"Itu bukan salahmu.." Ucap Alan.
"Lagipula kami bersenang-senang meskipun alan sangat menyebalkan~" Ucap Glen dibalas tatapan tajam dari Alan.
"Aku menikmatinya.." Singkat Sehun.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku merasa itu bukan salahmu Amanda. Tenang saja~ karena berkatmu aku menjadi anak yang rajin membereskan kamar.." Ungkap jujur Ryan yang dibalas tawa renyah dari kawan-kawannya.
"Kau memang jorok! Dari awal anak seperti Ryan tidak pernah steril hahahaha!" Goda Alan dengan raut wajah menyebalkan.
"Hahahaha lucu sekali~ jadi alasanmu bangun setiap pagi adalah untuk membereskan kamar sampahmu!" Tambah Glen.
"Huhuhuh.." Sehun hanya menahan tawanya agar tidak menyakiti hati Ryan, begitupula Amanda.
"OY! KALIAN BERDUA MALAH TAMBAH MENYAKITI HATIKU DENGAN MENAHAN TAWA SEPERTI ITU!" Teriak Ryan dengan wajah bersemu merah karena malu.
"Maaf.. aku tidak tahu karena belum sempat ke rumahmu, katanya semua sudah ke rumahmu kecuali aku. Aku jadi tidak tahu bagaimana kamarmu karena aku selalu di rumah hehe." Ungkap Amanda dengan wajah polosnya.
"Cih, kamu tidak salah. Yang salah tu anak-anak yang mengunjungi kamar orang secara tiba-tiba. Sudah kubilang kamarku sedang tidak baik." Ucap Ryan kesal.
"Hahahaha aku bahkan baru membuka pintu tapi langsung terpental karena bajumu memenuhinya!!" Teriak Alan puas menggoda temannya.
"Hahahaha!" Glen hanya tertawa terbahak-bahak hingga tak bisa bernafas.
"... Aku tidak tahu kenapa pelayan mengabaikan ruangan sihir itu..." Ucap Sehun dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Woi kamarku bukan tempat sihir!"
Sekertaris Kim yang mulai kesal melihat keharmonisan mulai pupus pun melerai anak-anak sehingga tak terjadi pertumpahan air ludah, karena mereka akan terus beradu sampai lelah.
"Anak-anak, wali kalian sudah menanti di kantor. Ayo cepat, mereka sudah menunggu lama." Ucap sekertaris Kim melihat jam di tangannya.
Pada akhirnya mereka menurut karena hari memang sudah terlalu sore, dan itu hampir menjelang matahari terbenam.
"Kurasa kita harus segera berpisah." Ucap Glen bangkit dari duduknya.
"Iya, jangan lupakan janji kita!" Ucap Ryan dengan senyuman khasnya yang terkadang membuat siapapun merasa bersemangat.
"Ya! Bertemu sepuluh tahun lagi! TOS!"
Mereka melakukan tos khas sebagai salam perpisahan.
Bersambung
__ADS_1
..."Perpisahan memang selalu ada, akan tetapi perpisahan bukanlah penghapus yang dapat dengan mudah menghilangkan jejak bagi siapapun yang melewatinya." @dokterhoki_...