Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
9. Perbedaan bukanlah pemecah


__ADS_3

..."Aku percaya dengan tulus tanpa pertimbangan untuk apa yang kupercayai, pertemanan selalu membutuhkan perbedaan sebagai warna yang bersatu seperti seni." @dokterhoki_...


Suasana ruangan yang tadinya penuh tawa tiba-tiba menjadi canggung.


"Apa kalian tahu jika kepercayaan seperti ini bisa memecahkan segalanya? Lagipula mengapa jika aku memiliki keyakinan yang berbeda dengan kalian? Kudengar tempat ini memiliki toleransi yang kuat terhadap paham orang lain, jadi jangan menanyakan sesuatu yang mustahil untukku." Ungkapku lalu pergi meninggalkan ketiga teman laki-lakiku.


Aku setuju untuk berteman dengan anak-anak ini karena kupikir mereka tau jika perbedaan bukanlah penghalang untuk berteman, lagipula sesuatu paham seseorang jika didebatkan dengan suatu paham lain tidak akan ada jalan keluarnya dan akan menimbulkan perang. Layaknya sosial media, ketika seseorang tiba-tiba mengungkapkan pahamnya dan merendahkan paham orang lain pasti akan timbul perasaan tidak enak.


Sekarang aku tengah menenangkan diri di balkon belakang rumah Steven sembari menghembuskan karbondioksida melalui mulutku dan menghirup oksigen melalui hidungku, kesegaran yang baik untuk pikiranku.


"Mengapa tiba-tiba ia meminta dalil yang menjelaskan tentang keyakinanku? Terlebih sejarahnya? Memangnya aku sepintar itu, baiklah aku akan belajar lebih banyak lagi." Gumamku sedikit kesal dengan kejadian yang terjadi baru-baru ini.


(Ceklek!)


Terdengar suara pintu balkon terbuka, kulihat sekilas itu adalah Sabila. Ia tersenyum sambil membuka kemasan rokok yang tampak seperti baru. 


"Kau marah karena pikiran Ryan ya?" Tanyanya, kupikir kepekaan itu memang diperlukan.


"Sedikit, ini membuatku merasa dia meremehkanku. Aku memang tidak sepintar itu, bahkan peragaanku tidak seperti orang beriman tapi setidaknya jangan mencoba menghancurkan kepercayaanku." Ucapku sambil menutup mata seolah-olah mengikuti hembusan angin sepoi-sepoi.


"Hm, aku paham apa yang kamu rasakan. Ryan memang seperti itu anaknya, sebenarnya tidak ada bedanya dengan Steven ataupun Sehun. Dulu aku juga pernah berbeda pendapat tentang mata pelajaran, dan mereka tidak mengalah dengan itu. Tapi kurasa sikap mereka berbeda denganmu, karena begitu kau membentak, mereka bahkan tidak berani menatap matamu. Mungkin sekarang mereka tengah merenungkan apa yang mereka lakukan." Ungkap Sabila membuatku sedikit tertawa, aku sedikit tidak percaya mereka akan mendengarkan aku.


Ini semua bermula ketika aku tengah membaca sholawat.


Flashback


[Amanda POV]


"Ya Rasulullah... Aku mencintaimu..." Gumamku sedikit bernada, aku benar-benar jatuh cinta saat menyanyikan lagu yang kubuat sendiri.


"Aku bingung bagaimana bisa kau mencintai orang yang sudah meninggal." Ucap Ryan tiba-tiba ditengah kesenanganku.


"Tidak apa-apa, memangnya salah jika aku mencintai orang itu layaknya idol yang didambakan orang banyak?" Ungkapku sedikit heran dengan pertanyaannya.


"Kau percaya?" Tanya Sehun yang kubalas anggukan kecil.


"Tapi mengapa kamu tidak menjaga kepalamu layaknya orang-orang kebanyakan? Kudengar mereka mengenakan itu untuk menutupi seluruh tubuhnya agar terhindar dari bahaya." Ungkap Ryan sedikit membuatku terkejut.

__ADS_1


"Ya memang seharusnya aku menutup bagian yang seharusnya ditutup, tapi aku masih belum bisa. Entahlah, aku merasa jika melakukannya setengah-setengah suatu hari aku akan meremehkannya dan meninggalkannya. Aku ingin bersungguh-sungguh dengan ini, jadi aku menunggu supaya aku bisa tetap istiqamah hingga akhir." Ungkapku sedikit menekannya agar tidak lagi membahasnya.


"Kamu mencintai orang mulia yang sudah meninggal, tapi dengan bodohnya kamu tidak bisa tetap berpegang teguh pada prinsipmu." Gumam Ryan yang membuatku terkejut.


"Memangnya dengan aku menutup segalanya, aku akan dicap sebagai seorang wanita yang taat di mata Tuhanku? Seperti ******* atau orang-orang sampul tertutup yang melakukan kejahatan. Ketahuilah menjadi menyampul lebih mudah dibandingkan menjaga dalamnya untuk tetap bersih. Mata orang lain mungkin menatapku kotor, karena mereka tidak tau apapun tentangku." Jelasku dengan tetap tersenyum, aku tau kata-kataku terdengar bodoh tapi aku mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan.


"Terserahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu." Ungkap Ryan membuatku menggertak gigiku.


'Jika aku memperpanjang masalah aku akan terlihat seperti orang bodoh yang membela diriku sendiri.'


"Jika aku memang salah, tapi prinsipku adalah sampai matipun aku tetap berpegang teguh pada keyakinanku, aku akan terus belajar hingga akhir." Ungkapku penuh keyakinan, pandangan mataku penuh semangat. Tidak akan ada yang bisa membandingkan keyakinanku dengan perkataan yang baru matang kecuali jika dia memang guru.


"Bisakah kau menjelaskan dalil yang ada di kitabmu.."


(Ck!)


Belum sempat ia mengatakannya aku langsung meninggalkannya karena aku merasa ia akan membantah setiap kata yang keluar dari mulutku.


....


Flashback End


"Aku senggang, lagipula hari ini aku bisa duduk di rumah juga karena pekerjaan yang tidak berat." Balasnya ringan, hembusan angin berasap yang dihasilkannya membuat wajahnya tampak dingin.


Angin menjelang sore hari memang menyegarkan, rasanya lebih nikmat dibandingkan angin Kanada yang dingin.


(Tring!)


Suara dering ponsel yang berasal dari kantongku, kulihat sekilas itu adalah ayah.


"Sebentar kak, ayah menghubungiku." Izinku dibalas anggukan kecil dari Sabila.


"Hallo ayah, apa kabar?"


"Hallo putri kecil ayah, kabar ayah baik dan juga kakakmu. Hari ini bukannya kamu libur?"


"Betul, apa Liana yang memberi tahu ayah?"

__ADS_1


"Iya, Liana bilang kau menginap di rumah temanmu yang bernama Steven. Apa di sana membuatmu bahagia atau malah menyengsarakanmu?"


"Aku bahagia sekali ayah, di Indonesia aku bisa banyak belajar hal-hal mandiri. Aku suka udaranya juga hutannya, meskipun sedikit seram."


"Iya, syukurlah. Kalau begitu besok paket pagi datang ke kediaman Liana, kamu buka dan pakai untuk seterusnya. Bukankah kamu yang memilih untuk mengikuti jejak ibumu, jadi ikutilah dan belajar yang baik ya nak."


"Iya ayah, aku akan lihat apa isinya. Ngomong-ngomong kakak mana? Kok daritadi aku hanya mendengar suara ayah?"


"Kakakmu lembur semalaman, jadi sekarang ia tampak seperti anak yang sedang sekarat. Nanti dia akan menghubungi ketika sudah sadar."


"Baiklah, kutunggu. Sudah dulu ya ayah, aku akan pergi bermain dengan teman-temanku. Babay."


"Selamat bersenang-senang."


(Clik!)


Akhirnya panggilan pun berakhir, aku merasa sedikit bersalah kepada ayah. Seperti biasa ia tidak sepeka kakak laki-lakiku.


"Amanda.." Suara lirih dari seseorang yang kukenal.


"Apa?" Jawabku ketus dan dingin.


"Aku minta maaf.." Ucap Ryan dengan tatapan memelas kearah Amanda.


"Sudahlah, aku lelah. Mari masuk dan lupakan semuannya, tapi aku akan mencoba untuk merubah sikapku." Balasku mencoba berbicara dengan suara yang lembut.


Aku melihatnya masih terdiam tanpa kata-kata seakan terbebani dengan kata-kataku.


"Sudahlah, aku bukan seseorang yang mudah menyimpan dendam tapi aku bisa mengolah kata-kata atau masukan dari orang lain untuk pelajaran hidupku. Aku mengambil apa yang bisa kuambil hehe, jadi jangan merasa terbebani seakan kamu akan masuk neraka karena ku." Ucapku berusaha menenangkannya, aku memang bukan tipe orang pecinta permusuhan.


"B-baiklah.." Balas Ryan dengan nada rendah.


Akhirnya aku makan bersama dengan mereka, berbicara seolah-olah tidak terjadi apapun. Padahal tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok.


Bersambung


・⁠ω⁠・☞ "Please Vote and Coment🌟"

__ADS_1


^^^-Thx^^^


__ADS_2