
..."Mau bagaimanapun sikap orang tua pada anaknya, tidak ada anak yang tidak menangis di hari kematiannya." @dokterhoki_...
Matahari sudah mulai muncul, cahayanya menembus gorden berwarna putih di ruangan yang hangat. Amanda yang masih terlelap pun perlahan sadar jika hari sudah dimulai, biasanya ia akan memasang alarm namun hari ini adalah hari libur nasional.
"Hmmm!" Erangan halus keluar dari mulutnya, matanya yang terpejam mulai terbuka.
Amanda menikmati cahaya hangat dari mentari kesukaannya, siapa yang tidak mencintai kehangatan? Terlebih untuk orang-orang yang memiliki mimpi untuk hidup di negara tropis.
"Hari ini libur, aku mau di rumah saja deh." Gumam Amanda setengah tertidur.
Ditengah-tengah pikirannya yang kusut khas bangun tidur, tiba-tiba ia terpikirkan pada tugasnya di hari itu.
"OH IYA, AKU HARUS PERGI!" Teriak Amanda, matanya membelalak lebar.
Setelah itu ia bangun dan meminum air dari gelas yang ia taruh di atas meja, barulah ia melipat selimut, membuka gorden, menyapu lantai, mengelap meja, dan berbagai aktivitas rutin lainnya. Hingga setengah jam berlalu, ruangan sudah bersih dari debu.
"Huft, sekarang saatnya mandi." Ucap Amanda tersenyum puas.
Ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi di dekat pintu kamarnya, sebelum itu ia tidak lupa untuk menyambut nyonya rumah.
"Selamat pagi Liana.." Sapa Amanda setelah melihat Liana yang tengah menyiapkan bekal untuknya.
"Selamat pagi Amanda~ apakah anda akan pergi ke taman hari ini?" Tanya Liana tampak bahagia melihat Amanda yang bersemangat.
"Iya, aku mau ke taman hari ini. Harusnya jangan repot-repot menyiapkan bekal untukku Liana.." Ucap Amanda tidak enak pada Liana.
"Tidak apa-apa, sudah sana mandi. Jangan sia-siakan air hangat yang kusiapkan di situ." Ucap Liana sembari membungkus kotak bekal.
"Ohh, terimakasih Liana.." Balas Amanda senang.
Liana hanya mengangguk sembari memamerkan senyumnya, ia melihat Amanda sampai masuk ke kamar mandi. Setelah itu entah apa yang membuatnya memudarkan sedikit senyumannya, ia tampak seperti orang yang tertekan.
"Nona.. huh.." Gumamnya sedikit tertawa kecil.
__ADS_1
__________
Namaku Nikle Amanda, hari ini adalah hari libur nasional yang diadakan setelah ujian akhir semester. Aku akan mengajak temanku bermain hari ini, namanya adalah Steven. Entah sejak kapan kami bersama-sama seakan akrab tanpa batas seperti ini.
Sebenarnya aku masih merasa penasaran akan kehidupan yang kujalani sekarang ini, aku bingung dengan kondisi yang sama dengan novel tetapi jalan ceritanya tidak sama. Seakan-akan aku dipindahkan bukan untuk mengubah nasib melainkan menjadi diriku sendiri, ditengah-tengah kebingungan selalu ada solusi yang tidak pernah kutulis.
Seperti yang sudah kupikirkan bertahun-tahun bahkan di umur lima tahun itu, aku menandai jika keluarga ini memang keren dan persis seperti novel tetapi jalan ceritanya tidak ada yang sama persis. Bahkan aku yang biasanya suka membaca buku seperti 'masuk kedalam novel' atau semacam dunia reinkarnasi pun tidak memercayai sepenuhnya keadaan seperti ini.
Masih menjadi pertanyaan bagiku tentang mengapa aku masuk kedalam dunia ini. Aku selalu saja memikirkannya ditengah aktivitasku. Contohnya saat sedang membaca atau belajar.
"Oy! Amanda!"
"E-ehh iya Steven!" Responku terkejut mengetahui Steven memanggilku.
"Kenapa bengong sih? Dari tadi kamu bahkan tidak menggambar apapun, apa yang akan kamu berikan pada guru nanti?" Tanya Steven terheran-heran dengan sikapku.
"I-iya." Balasku mulai fokus pada buku gambarku yang masih kosong.
"Hallo, kakak."
".. Kembalilah.."
"E-ehh apa maksudnya kak?"
".. Ayah.."
*Menyerngitkan dahinya*
"Kak! Ayah kenapa?!"
"Ayah meninggal kita hiks... Maaf.."
*Menutup telepon*
__ADS_1
"Eh? Apa?.."
Mataku membelalak lebar seakan-akan tidak percaya, seketika air matanya jatuh membasahi pipiku.
"Kenapa?"
Aku merasa kepalaku berputar kuat hingga mengaduk perasaan di dalam hatiku, terdapat rasa penasaran akan rasa sedih ini. Mengapa aku yang berasal dari luar bisa merasa sedih seakan-akan orang itu begitu berharga?
"Hiks.. hik, kenapa..? A-ayah hiks, ayah.. aku hanya punya ayah.. hiks"
Tanpa sadar mulutku mengucapkan kata-kata itu, pikiranku melayang memikirkan kematiannya. Seakan-akan hatiku begitu tulus menyayanginya, tanganku mengepal kuat, gigi-gigiku mengigit kuat bibirku mencoba menahan sesuatu dari dalam diriku.
Hingga terasa perih dari bibir dan tanganku juga pedihnya ditinggalkan dari dalam hatiku, entah apa yang membuatku merasakan kesedihan yang mendalam seperti ini. Entahlah mungkin karena aku sudah terlalu lama masuk kedalam jiwa anak ini, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai seorang Ayah yang baik sepertinya. Padahal aku selalu menyimpan dendam pada ayahku yang meninggalkan kedua anaknya dan satu istrinya sendirian, meskipun demikian aku tetap menjaganya hingga hari kematianku?
"Brengse*! Gua gak guna! Gak ada yang bisa gua jaga! Gua manusia penghancur! Siala*! Gua orang gak diuntung bahkan sebelum aku lahir! Hiks... Aku.. memang tidak berguna.." Teriakku sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sakit.
Aku menangis tersedu-sedu tanpa mengeluarkan suara, berada di bawah pohon rindang dengan beribu kesunyian. Aku bersyukur sekarang aku berada di bawahnya tanpa ada seorangpun, aku bersyukur hari ini aku memutuskan untuk mengikuti kelas menggambar di tengah hutan. Batinku masih terasa perih, otakku merasakan beribu kebingungan. Ketahuilah jika aku sedang tidak baik-baik saja, dan yang aku lakukan ketika merasa setress adalah berdoa sembari menangis.
"Huft! Huft! Hiks!"
Batinku terus bertempur, rasa sesak di sekujur tubuhku ditambah dengan rasa panas yang membara. Jeritan hati ternyata sangat menyakitkan.
"Amanda.. Amanda.." Aku mendengar suara panggilan yang lembut dari seorang pria dengan ekspresi khawatir.
Dia datang menghampiriku sembari mengucapkan kata "Tenangkan dirimu, ada aku disini." Ia terus mengucapkannya. Ia masih menghargaiku dengan tetap menjaga jarak tanpa memelukku padahal matanya seperti ingin memelukku, entahlah rasanya aku hanya ingin menangis.
Tanpa sadar rasanya pandanganku mulai kabur, kepalaku terasa berat dengan tubuh yang hampir terjatuh. Dan pada akhirnya aku jatuh didekapannya, samar-samar ia langsung bertindak dan mengangkatku dengan ekspresi wajah ketakutan yang baru pertama kali kulihat.
Ia berteriak pada dirinya seakan mengutuk dirinya sendiri, tangannya bergetar hebat tetapi ia masih berusaha untuk mengontrol setor mobil. Matanya bergetar sembari sekali-kali melirikku, ia juga beberapa kali memukul kepalanya.
Kulihat ia mengangkatku ke depan pintu utama rumah sakit dan berteriak kepada orang-orang, bahkan suster dibuat bingung olehnya. Rasanya baru untuk melihatnya terkejut, seakan-akan ia begitu peduli pada keadaanku. Padahal sebenarnya ia bisa saja membiarkan diriku mati ditelan di tengah hutan, kenapa ia tidak membiarkan aku membusuk selamanya di tempat itu? Lagipula siapa yang akan peduli jika aku mati? Apakah ada orang yang peduli pada hari kematianku bahkan di kehidupan sebelumnya? Aku tidak mengerti kenapa, tapi aku tidak kuat menanggung tangisan hati ini. Jeritannya terlalu kuat.
Bersambung
__ADS_1